بسم الله الرحمن الرحيم

Syaikh Robi' || Hizbiyy..?!?!?

APA MAKNA HIZBIYYAH?
::: APA MAKNA HIZBIYYAH? :::

Oleh: Asy-Syaikh Al-'Allamah Robi' bin Hadi Al-Madkholi hafizhohulloh ta'ala

✲✹✲

P E R T A N Y A A N:

Apa makna hizbiyyah? Dan apa makna bahwa fulan padanya ada hizbiyyah? Dan siapakah mereka hizbiyyun? Dan apakah dakwah mereka? Dan apakah manhaj mereka?


J A W A B A N:
كل من خالف منهج النبي وسنته فهو من أحزاب الضلال، والحزبية ليس لها شروط
Setiap yang menyelisihi Manhaj Nabi dan sunnah nya maka dia termasuk dari kelompok-kelompok sesat, dan hizbiyyah tidak memiliki persyaratan..

Alloh Ta'ala menamakan ummat-ummat terdahulu sebagai ahzab (kelompok-kelompok), dan menamakan kaum Quraisy tatkala mereka berkumpul dan bergabungnya golongan-golongan kepada mereka sebagai ahzab, TIDAK ADA pada mereka struktur organisasi dan tidak ada pada mereka sesuatu pun, maka BUKAN MERUPAKAN SYARAT HIZBIYYAH HARUS adanya organisasi.
فإذا نظم هذا الحزب زاد سوء، فالتعصب لفكر معين يخالف كتاب الله وسنة الرسول والموالاة والمعادات عليه هذا تحزب
Namun apabila ada yang mengorganisir kelompok ini maka menjadi bertambah jelek, sehingga fanatisme kepada suatu pemikiran tertentu yang menyelisihi Kitabulloh dan Sunnah Rosul serta melakukan loyalitas dan kebencian di atas dasar kelompok maka ini adalah sikap hizbiyyah..
هذا التحزب ولو لم ينظم، تبنى فكرا منحرفا وجمع عليه أناسا هذا حزب سواء نظمه أو لم ينظمه،
Hizbiyyah ini sekalipun tidak terorganisir, DIBANGUN diatas sebuah pemikiran yang menyimpang dan dia mengumpulkan diatas kelompok tersebut orang-orang, maka ini adalah HIZBIYYAH sama saja apakah ada yang mengorganisir ATAUPUN tidak ada yang mengorganisir nya..

Selama mereka bersatu untuk suatu hal yang bertentangan dengan Alkitab dan As-sunnah ini adalah hizbiyyah, orang-orang kafir yang mereka dahulu memerangi Rosul mereka tidak memiliki organisasi yang ada seperti sekarang, namun dengan itu Alloh namakan mereka sebagai ahzab (kelompok-kelompok), bagaimana bisa?

Karena mereka berkelompok demi suatu kebatilan dan mereka memerangi Al-Haq :
﴿ كَذَّبَتْ قَبْلَهُمْ قَوْمُ نُوحٍ وَالْأَحْزَابُ مِنْ بَعْدِهِمْ ۖ وَهَمَّتْ كُلُّ أُمَّةٍ بِرَسُولِهِمْ لِيَأْخُذُوهُ ۖ وَجَادَلُوا بِالْبَاطِلِ لِيُدْحِضُوا بِهِ الْحَقَّ ﴾ [سورة غافر 5]
“Sebelum mereka, kaum Nuh dan golongan-golongan yang bersekutu sesudah mereka telah mendustakan (rasul) dan tiap-tiap umat telah merencanakan makar terhadap rasul mereka untuk menawannya dan mereka membantah dengan (alasan) yang batil untuk melenyapkan kebenaran dengan yang batil itu.” [QS. Ghofir: 5]

Alloh namakan mereka sebagai ahzab, mereka berbuat sebagai ahzab, kaum Quraisy mengumpulkan Bani Ghothofan dan Bani Quraidhoh serta beberapa kelompok dari kabilah-kabilah yang mereka tidak terorganisir dengan struktur ini mereka berkumpul maka Alloh menamakan mereka sebagai ahzab dan suratnya dinamakan "surat Al-Ahzab" apakah ahzab tersebut terorganisir?
فليس من شرط الحزب أن يكون منظما، إذا آمن بفكرة باطلة وخاصم من أجلها وجادل من أجلها ووالى...، هذا حزب
Maka BUKAN MERUPAKAN SYARAT hizbiyyah haruslah terorganisir, apabila mereka aman dengan sebuah pemikiran batil dan dia bertikai demi membelanya serta berdebat karenanya dan berloyalitas..., ini adalah hizbiyyah.

Dan apabila dia tambahkan hal itu menjadi sebuah organisasi -barokallohu fik- dan mengkoordinir harta-harta dan seterusnya, -tentunya- bersikap berlebihan dalam hizbiyyah dan menjadi termasuk dari ahzab kesesatan na'udzu billah.

Kaset berjudul: Rof'us sitar (menguak tabir)

----
الشيخ العلامة ربيع بن هادي المدخلي حفظه الله تعالى

السؤال:

ما معنى الحزبية؟ وما معنى أن فلان عنده حزبية؟ ومن هم الحزبيون؟ وما هي دعوتهم؟ وما هو منهجهم؟

الجواب:

كل من خالف منهج النبي وسنته فهو من أحزاب الضلال، والحزبية ليس لها شروط، الله سمى الأمم الماضية أحزابا، وسمى قريشا لما تجمعوا وانضم إليهم من [الفرق] أحزابا، ما عندهم تنظيم ولا عندهم شيء، فليس من شرط الحزب أن يكون منظم،

فإذا نظم هذا الحزب زاد سوء، فالتعصب لفكر معين يخالف كتاب الله وسنة الرسول والموالاة والمعادات عليه هذا تحزب، هذا التحزب ولو لم ينظم، تبنى فكرا منحرفا وجمع عليه أناسا هذا حزب سواء نظمه أو لم ينظمه، ما دام [يجتمعون] لواحد يخالف الكتاب والسنة هذا حزب، الكفار الذين كانوا يحاربون الرسول ما كان عندهم التنظيم الموجود الآن، ومع ذلك أطلق الله عليهم أحزابا، كيف؟

لأنهم تحزبوا للباطل وحاربوا الحق ((كذبت قبلهم قوم نوح والأحزاب من بعدهم وهمت كل أمة برسولهم ليأخذوه وجادلوا بالباطل ليدحضوا به الحق)) سماهم أحزابا، عملوا أحزاب، جمّعت قريش غطفان وقريظة وأصناف من القبائل ما هم منظمين هذا التنظيم تجمعوا سماهم الله أحزابا وسميت السورة "سورة الأحزاب" هل الأحزاب منظمون؟

فليس من شرط الحزب أن يكون منظما، إذا آمن بفكرة باطلة وخاصم من أجلها وجادل من أجلها ووالى...، هذا حزب، فإذا زاد ذلك تنظيما -بارك الله فيك- وجند الأموال وإلى آخره، -طبعا- أمعن في الحزبية وصار من أحزاب الضلال والعياذ بالله.

[شريط بعنوان: رفع الستار]

Sumber: http://www.rabee.net/ar/questions.php?cat=31&id=662

Alih Bahasa: Al Ustadz Muhammad Sholehuddin Abu 'Abduh (Karawang) حفظه الله - [FBF 2]

__________________
مجموعـــــــة توزيع الفــــــــوائد
❂ WA Forum Berbagi Faidah [FBF] | www.alfawaaid.net

_______________________________________________________

Copas dari : Apa Makna Hizbiyyah?
بسم الله الرحمن الرحيم

Kaidah Nahwu 001 || Klasifikasi Kata

اَلْكَلِمَةُ وَأَنْوَاعُهَا
اَلْجُمْلَةُاَلْكَلِمَةُنَوْعُهَااَلسَّبَبُ
1. خَرَجَ سَعِيْدٌ فِي الصَّبَاحِخَرَجَفِعْلٌلِأَنَّهَا كَلِمَةٌ تَدُلُّ عَلَى عَمَلٍ حَدَثَ فِي الزَّمَنِ الْمَاضِي
سَعِيْدٌاِسْمٌلِأَنَّهَا كَلِمَةٌ سُمِّيَ بِهَا شَخْصٌ
2. وَ فِي الْمَعْهَدِ كَثِيْرٌ مِنَ الطَّلَبَةِوَحَرْفٌلِأَنَّهَا كَلِمَةٌ لاَ يَظْهَرُ مَعْنَاهَا إِلاَّ إِذَا كَانَتْ مَعَ غَيْرِهَا
فِيحَرْفٌلِأَنَّهَا كَلِمَةٌ لاَ يَظْهَرُ مَعْنَاهَا إِلاَّ إِذَا كَانَتْ مَعَ غَيْرِهَا

اَلْقَاعِدَةُ :
  1. اَلْكَلِمَةُ لَفْظٌ يَتَأَلَّفُ مِنْ بَعْضِ حُرُوْفِ الْهِجَاءِ، مِثْلُ : خَرَجَ - سَعِيْدٌ - فِي؛ وَأَحْيَانًا تَكُوْنُ اَلْكَلِمَةُ حَرْفَا وَاحِدًا، مِثْلُ : الْوَاوِ.
  2. اَلْكَلِمَةُ ثَلاَثَةُ أَنْوَاعٍ : اِسْمٌ، وَفِعْلٌ، وَحَرْفٌ.
  3. الاِسْمُ كَلِمَةٌ يُسَمَّى بِهَا شَخْصٌ أَوْ شَيْءٌ آخَرُ، مِثْلُ : سَعِيْد - بَيْت - حَدِيْقَة.
  4. الفِعْلُ كَلِمَةٌ تَدُلُّ عَلَى عَمَلٍ حَدَثَ فِي الزَّمَنِ الْمَاضِي أَوِ الْحَاضِرِ أَوْ الْمُسْتَقْبَلِ، مِثْلُ : خَرَجَ - ذَهَبَ - يَتَعَلَّمُ.
  5. الْحَرْفُ كَلِمَةٌ يَظْهَرُ مَعْنَاهَا مَعَ غَيْرِهَا مِنَ الْكَلِمَاتِ، مِثْلُ : إِلَى - وَ - فِي.
_________________________________________________________

Download Kitab Rujukan : النحو - المستوى الثاني - سلسلة تعليم اللغة العربية
بسم الله الرحمن الرحيم

Dampak Negatif -Politik- Adu Domba [Devide Et Impera]


الحَمدُ للهِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُولِ اللهِ، وَأَشهَدُ أَن لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبدُهُ وَرَسُولُهُ، وَبَعدُ:
Sesungguhnya "adu domba" termasuk dosa besar yang sangat besar, yang Allah Subhanahu wata'ala dan Rasul-Nya Shollallahu 'alaihi wasallam telah berikan peringatan darinya. "Adu domba" adalah penyakit yang sulit diobati dan merupakan penyakit berbahaya, yang dapat membuat kerusakan di tengah-tengah masyarakat dan melahirkan permusuhan serta kebencian. Allah Subhanahu wata'ala berfirman :
{وَلَا تُطِعْ كُلَّ حَلَّافٍ مَهِينٍ (10) هَمَّازٍ مَشَّاءٍ بِنَمِيمٍ} [القلم: 10، 11]
"Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kian ke mari menghambur fitnah, [Al Qolam : 10-11]

Al Imam Ibnu Katsir berkata : [مَشَّاءٍ بِنَمِيمٍ : yang kian ke mari menghambur fitnah] : yang berjalan diantara manusia dan mengadu-domba diantara mereka, serta menyebarkan kabar angin untuk merusak hubungan persahabatan dan hal itu berupa perkataan yang keji.[1]

Adu Domba, sebagaimana penjelasan Nabi Shollallahu 'alaihi wasallam adalah menyebarkan perkataan manusia, sebagian mereka kepada sebagian yang lain dengan tujuan merusak. Al Imam Muslim meriwayatkan dalam Shohih-nya, dari hadits Abdullah bin Mas'ud Radhiallohu 'anhu, beliau berkata : Sesungguhnya Muhammad Shollallahu 'alaihi wasallam bersabda :
"أَلَا أُنَبِّئُكُمْ مَا الْعَضْهُ؟[2] هِيَ النَّمِيمَةُ الْقَالَةُ بَيْنَ النَّاسِ"[3].
Maukah kalian saya beritahukan tentang sesuatu yang sangat keji..??? Dia adalah "adu domba" menyebar ucapan diantara manusia.

Berkata Abus Sa'adat : "الْقَالَةُ بَيْنَ النَّاسِ" / "menyebar ucapan diantara manusia" maksudnya adalah "banyak berbicara dan membangkitkan permusuhan diantara sesama manusia."

Ibnu Abdil Bar menyebutkan dari Yahya bin Abi Katsir, beliau berkata :
يفسد النمام والكذاب في ساعة ما لا يفسد الساحر في سنة
Tukang Adu domba dan pendusta melakukan kerusakan dalam beberapa detik sebesar kerusakan yang tidak mampu dilakukan tukang sihir dalam waktu setahun.[4]

Tukang adu domba diancam dengan tidak dimasukkan ke dalam surga, Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dalam kitab shohihnya dari hadits Hammam bin Harits, beliau berkata : Dulu kami pernah duduk-duduk bersama Hudzaifah Radhiallohu 'anhu di masjid, kemudian datang seseorang sehingga diapun duduk bersama kami, maka disampaikan kepada Hudzaifah : "Sesungguhnya orang ini menyampaikan kepada penguasa beberapa perkara, lalu Hudzaifah berkata -dia hendak memperdengarkan kepadanya- : "saya pernah mendengar Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam bersabda" :
"لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَتَّاتٌ"
Tidak akan masuk surga "tukang fitnah"[5]

Berkata Ibnu Hajar : "القَتَّاتُ هو النَّمَّامُ "tukang fitnah" itu adalah "tukang adu domba", dan diriwayatkan dengan lafadz النَّمَّامُ/"tukang adu domba" pada hadits Abu Wa'il dari Hudzaifah yang terdapat di Shohih Muslim[6], ada yang berpendapat : Perbedaan antara القَتَّاتُ/"tukang fitnah" dengan النَّمَّامُ/"tukang adu domba" bahwa "tukang adu domba" itu adalah orang yang ada ketika kejadian lalu menyebarkan berita tentangnya, sedangkan "tukang fitnah" adalah orang yang mencuri dengar dari tempat yang tidak diketahui kemudian menyebarkan apa yang didengarnya"[7]

Tukang adu domba akan diazab dikuburannya sebelum hari kiamat, Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dalam kitab Shohihnya dari hadits Ibnu Abbas Radhiallohu 'anhuma, bahwasanya beliau berkata : Rasulullah Shollallahu 'alaihi wasallam melewati dua kuburan, lalu bersabda :
"إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ وَمَا يُعَذَّبَانِ مِنْ كَبِيرٍ"
"Sesungguhnya keduanya sedang diazab, dan tidaklah keduanya diazab karena sesuatu yang besar"

Kemudian beliau bersabda :
"بَلَى، أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ يَسْعَى بِالنَّمِيمَةِ، وَأَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ لَا يَسْتَتِرُ مِنْ بَوْلِهِ"
"Ya, Adapun salah seorang dari keduanya dahulu berusaha mengadu domba, dan adapun yang satunya lagi dahulu tidak berlindung dari kencingnya"

Ibnu Abbas Radhialllohu 'anhuma berkata : kemudian beliau Sholallahu 'alaihi wasallam mengambil dahan basah lalu membelahnya menjadi dua, kemudian menancapkan masing-masing dari kedua dahan tersebut diatas kuburan, kemudian beliau bersabda :
"لَعَلَّهُ يُخَفَّفُ عَنْهُمَا مَا لَمْ يَيْبَسَا"
"semoga diringankan azab dari keduanya, selama kedua dahan ini belum kering"[8]

Tukang adu domba adalah hamba Allah yang paling buruk, Imam Ahmad meriwayatkan dalam Musnadnya dari hadits Abdurrahman bin Ghanam Radhiallohu 'anhu, bahwasanya Nabi Shollallahu 'alaihi wasallam bersabda :
"خِيَارُ عِبَادِ اللهِ الَّذِينَ إِذَا رُؤُوا ذُكِرَ اللهُ، وَشِرَارُ عِبَادِ اللهِ الْمَشَّاؤُونَ بِالنَّمِيمَةِ، الْمُفَرِّقُونَ بَيْنَ الْأَحِبَّةِ، الْبَاغُونَ الْبُرَآءَ الْعَنَتَ"
"Sebaik-baik hamba Allah adalah orang yang apabila dilihat, Allah diingat; dan seburuk-buruk hamba Allah adalah yang selalu berjalan mengadu domba, memisahkan antara orang yang saling mencintai, yang mencari dosa dan kesalahan orang-orang yang dikenal kebaikannya"[9]

Perbedaan antara ghibah dan adu domba; Ghibah adalah berbicara di belakang seseorang dengan sembunyi-sembunyi tentang keadaannya yang dia tidak senangi, adapun adu domba adalah menyebarkan pembicaraan yang bersumber dari orang lain dengan tujuan membuat kerusakan, berdasarkan hal ini maka ghibah asalnya merupakan pembicaraan yang bersumber dari orang yang melakukan ghibah adapun, adu domba maka dia merupakan pembicaraan yang bersumber dari orang lain. Perbedaan lainnya, ghibah terkadang dibolehkan dalam beberapa keadaan karena ada tujuan yang dibenarkan syari'at, adapun adu domba maka tidak ada seorangpun yang menyebutkan tentang bolehnya.

Berkata Imam Adz-Dzahabiy Rahimahullah : "Adu domba termasuk dosa besar, dan hukumnya haram berdasarkan ijma' kaum muslimin, serta tampak dengan jelas dalil-dalil syar'i dari Al Qur'an dan Sunnah yang menunjukkan atas pengharamannya. Telah terjawab pula sangkaan bahwa "adu domba" termasuk dosa kecil berdasarkan sabda Nabi Shollallahu 'alaihi wasallam :
"وَمَا يُعَذَّبَانِ مِنْ كَبِيرٍ"
"dan tidaklah keduanya diazab karena sesuatu yang besar"

bahwa yang dimaksud dengan "bukan sesuatu yang besar" adalah dalam hal meninggalkan dua perkara tersebut, atau "bukan sesuatu yang besar" menurut sangkaan mereka berdua, oleh karena itu disebutkan dalam riwayat yang lain :
"بَلَى إِنَّهُ كَبِيرٌ"
"ya, sesungguhnya itu adalah dosa besar"[10]

Ibnu Hajar berkata :
"وجه كونه أي (النم) كبيرة ما فيه من الإفساد، وما يترتب عليه من المضار، والحكم على ما هو كذلك بأنه كبير ظاهر جلي"
"Kondisi yang menyebabkannya yaitu (adu domba) menjadi dosa besar adalah hal-hal yang terkandung didalamnya berupa kerusakan dan hal-hal yang diakibatkannya berupa mudharat. Maka hukumnya sesuai dengan keadaannya juga demikian bahwa dia merupakan dosa besar yang nampak jelas[11]

Ibnu Hazm berkata :
"اتفقوا على تحريم الغيبة، والنميمة في غير النصيحة الواجبة وفيه دليل على أنها من الكبائر"
"Mereka sepakat atas haramnya ghibah dan namimah "adu domba" kecuali jika terdapat pada nasehat yang hukumnya wajib. Hal ini menjadi dalil bahwasanya dia [ghibah dan namimah] termasuk dosa besar"[12]

Imam Adz-Dzahabiy Rahimahullah berkata :
Setiap orang yang dibawakan kepadanya berita "adu domba", dikatakan kepadanya bahwa : "Si Fulan telah berbicara tentang kamu : "begini dan begitu"; maka dia harus tetap berada pada enam keadaan :
Pertama : Hendaknya tidak membenarkannya karena dia adalah tukang adu domba, fasiq dan tidak bisa diterima beritanya.
Kedua : Hendaknya melarang orang tersebut berbuat demikian, menasehatinya dan mencela perbuatannya.
Ketiga : Hendaknya membencinya karena Allah Azza wajalla, karena dia termasuk orang yang dibenci disisi Allah, sementara benci karena Allah itu hukunya wajib.
Keempat : Hendaknya tidak berprasangka buruk terhadap berita yang disebarkan tentangnya, karena Allah Ta'ala berfirman :
{اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ} [الحجرات: 12]
"Jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa." [Al Hujurat : 12]

Kelima : Hendaknya cerita tentang dirinya tersebut tidak membawanya kepada sikap memata-matai dan menyelidiki kebenaran berita itu, sebegai bentuk pembenaran terhadap firman Allah Ta'ala :
{وَلَا تَجَسَّسُوا} [الحجرات: 12]
"Dan janganlah mencari-cari keburukan orang" [Al Hujurat : 12]

Keenam : Hendaknya tidak ridho ada pada diri sendiri keburukan tukang adu domba yang dia telah larang, maka hendaknya tidak ikut menceritakan berita adu dombanya.

Keburukan yang dibawa tukang "adu domba" sangat mudah memberikan pengaruh karena kehati-hatian terhadapnya kurang, sebab dia datang dengan wajah layaknya seorang penasehat yang penuh simpati. Sehingga jika engkau membenarkannya maka terwujudlah kerusakan yang diinginkan oleh tukang adu domba tersebut. Ibnu Hazm berkata : "Barangsiapa yang membawakanmu kebatilan maka dia akan pergi dari sisimu membawa kebenaran, hal itu terjadi karena orang yang memberimu berita dusta tentang seseorang yang mengusik aibmu, kemudian kamu menerimanya begitu saja, maka itu artinya dia pergi dari sisimu membawa kebenaran -atas penerimaanmu terhadap berita dustanya-. Oleh karena itu berhati-hatilah terhadap hal seperti ini, jangan jawab/terima kecuali perkataan yang menurutmu betul-betul benar bersumber dari orang yang mengucapkannya.[13]

Tukang adu domba itu banyak macamnya, dan diantara yang paling parah bahayanya adalah : Kelompok yang menjadikan profesinya sebagai pengobar fitnah antara ulama dan penguasa. Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dalam kitab shohihnya dari hadits Abdullah Radhiallohu 'anhu, beliau berkata : Tatkala selesai perang Hunain, Rasulullah Shollallahu 'alaihi wasallam mengutamakan beberapa orang dalam pembagian rampasan perang, beliau memberikan Al Aqro' bin Habis seratus ekor unta, dan memberikan Uyainah sebanyak itu pula, beliau juga memberi beberapa orang dari pembesar Arab dan mengutamakan mereka pada waktu itu dalam pembagian harta rampasan perang. Kemudian ada seseorang yang berkata : Demi Allah, sesungguhnya pembagian ini tidak ada keadilan didalamnya, dan tidak diinginkan padanya wajah Allah. Abdullah berkata : maka saya berkata : Demi Allah akan kusampaikan berita ini kepada Rasulullah Shollallahu 'alaihi wasallam. Abdullah berkata : Maka saya datangi dan sampaikan kepadanya apa yang orang tersebut katakan. Abdullah berkata : Rona wajahnya berubah sampai-sampai kelihatannya seperti pewarna pakaian merah, kemudian beliau bersabda :
"فَمَنْ يَعْدِلُ إِنْ لَمْ يَعْدِلِ اللهُ وَرَسُولُهُ؟!"
"Maka siapa lagi yang akan berbuat adil jika Allah dan Rasul-Nya tidak berbuat adil?!"

Abdullah berkata : Kemudian Beliau bersabda :
"يَرْحَمُ اللهُ مُوسَى، قَدْ أُوذِيَ بِأَكْثَرَ مِنْ هَذَا فَصَبَرَ"
"Semoga Allah senantiasa merahmati Musa, sungguh dia telah disakiti lebih dari ini, lalu tetap bersabar"

Abdullah berkata : Saya berkata : Tidak boleh tidak, saya tidak akan menyampaikan kepadanya setelah kejadian ini, satu beritapun.[14]

Dan makna ini -tidak asal menyampaikan berita- yang Ibnu Mas'ud lebih menyukai untuk menjadikannya sikap rujukan terakhir; datang dalam sebuah hadits yang di-dho'ifkan sebagian ulama, terdapat dalam hadits tersebut :
"لَا يُبَلِّغْنِي أَحَدٌ مِنْ أَصْحَابِي عَنْ أَحَدٍ شَيْئًا، فَإِنِّي أُحِبُّ أَنْ أَخْرُجَ إِلَيْكُمْ وَأَنَا سَلِيمُ الصَّدْرِ"
"Jangan ada seorangpun dari shahabatku yang menyampaikan kepadaku berita apapun tentang seseorang, karena sesungguhnya saya senang keluar kepada kalian dalam keadaan lapang dada"[15]

Kelompok "tukang adu domba" yang berikutnya adalah yang telah termakan hatinya oleh hasad, maka hampir-hampir setiap melihat pasangan atau dua shahabat yang saling mengasihi kecuali berusaha untuk memisahkan antara keduanya dengan jalan adu domba. Semua itu dilakukannya dibalik pakaian nasehat dan kasih sayang.

Diriwayatkan dari Umar bin Abdil Aziz Rahimahullah : Bahwasanya ada seseorang masuk menghadap beliau, kemudian menyebutkan kepadanya suatu berita tentang seseorang, maka Umar berkata kepada orang tersebut : Jika engkau mau, kita teliti masalahmu itu, maka jika engkau dusta berarti engkau masuk dalam ayat ini :
{يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا} [الحجرات: 6]
"Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti" [Al Hujurat : 12]

dan jika engkau jujur, berarti engkau masuk dalam ayat ini :
{هَمَّازٍ مَشَّاءٍ بِنَمِيمٍ} [القلم:11]
"yang banyak mencela, yang kian ke mari menghambur fitnah, [Al Qolam : 11]

dan jika engkau mau, kita berikan ampun kepadamu, lalu orang tersebut berkata : Ampun wahai Amirul Mu'minin, saya tidak akan mengulangi perbuatan itu lagi selama-lamanya.[16]

Al Hasan Al Bashriy berkata :
من نَمَّ إِلَيكَ نَمَّ عَلَيكَ
Barangsiapa yang membawa berita adu domba kepadamu maka dia pasti menyebar berita adu domba tentangmu

Terapi mengobati penyakit "adu domba" : Hendaknya tukang adu domba mengetahui bahwa dia telah menawarkan dirinya untuk mendapatkan kemurkaan Allah dan siksa-Nya, demikian pula adu domba itu menghapuskan kebaikan-kebaikannya. Hendaknya setiap orang memikirkan segala aibnya dan berusaha dengan sungguh-sungguh untuk membersihkannya. Hendaknya dia ketahui bahwa menyakiti orang lain dengan ghibah dan adu domba sama halnya dengan menyakiti dirinya dengan hal yang sama, maka bagaimana mungkin dia senang jika orang lain mendapatkan sesuatu yang membuat dirinya sendiri tersakiti dengan hal tersebut. Seorang penyair berkata :
تَنَحَّ عَنِ النَّمِيمَةِ وَاجْتَنِبْهَا - فَإِنَّ النَّمَّ يُحْبِطُ كُلَّ أَجْرِ
يُثِيرُ أَخُو النَّمِيمَةِ كُلَّ شَرٍّ - وَيَكْشِفُ لِلخَلَائِقِ كُلَّ سِرِّ
وَيَقْتُلُ نَفْسَهُ وَسِوَاهُ ظُلْمًا - وَلَيْسَ النَّمُّ مِنْ أَفْعَالِ حُرِّ
Menyingkirlah dari adu domba dan jauhilah - Karena adu domba itu menghapus segala balasan kebaikan
Tukang adu domba mengobarkan semua bentuk keburukan - dan menyingkap dihadapan makhluk setiap rahasia
dia membunuh dirinya dan orang lain dengan kezholiman - dan adu domba itu tidaklah termasuk perbuatan orang mulia


وَالحَمدُ للهِ رَبِّ العَالَمِينَ، وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحبِهِ أَجمَعِينَ.

_______________________________________________________

[1] Tafsir Ibnu Katsir 14/89
[2] العضة : Lafadz ini diriwayatkan dalam dua bentuk, yang pertama : العضة dengan mengkasrah 'ain dan menfat-hah dhod wazannya sama dengan العِدَة dan ini populer di kitab-kitab bahasa, yang kedua : العَضْه dengan menfat-hah 'ain dan men-sukun dhod wazannya sama dengan الوجه dan ini populer di kitab-kitab hadits. Makna dari "أَلَا أُنَبِّئُكُمْ مَا الْعَضْهُ؟" : adalah "Sesuatu yang keji, yang keharamannya luar biasa"
[3] Shohih Riwayat Muslim No. 2606
[4] Fathul Majid Syarah Kitab Tauhid H. 320
[5] Shohih Bukhari No. 6056 dan Shohih Muslim No. 105
[6] Shohih Muslim No. 105
[7] Fathul Bariy 10/473
[8] Shohih Bukhari No. 1378 dan Shohih Muslim No. 292
[9] Musnad Imam Ahmad 29/521 No. 17998, Muhaqqiq berkata : Derajatnya Hasan karena beberapa syawahid.
[10] Al Kaba'ir Hal. 160, dengan sedikit perubahan.
[11] Azzawajir 2/572
[12] Maratib Al Ijma' Hal. 156
[13] Al Akhlaq Wassiyar fie Mudawatinnufus Karya Ibnu Hazm Hal. 37
[14] Shohih Bukhari No. 3150 dan Shohih Muslim No. 1062, dan Lafadz ini miliknya.
[15] Sunan Abi Daud No. 4860
[16] Al Kaba'ir Karya Adz-Dzahabiy Hal. 160

_______________________________________________________

Sumber :
بسم الله الرحمن الرحيم

Salaf & Tawakkal yang Sebenarnya

Tawakkal Salaf
عن أبي حازم سلمة بن دينار قال: "وجدت الدنيا شيئين: فشيء هو لي، وشيء لغيري، فأما ما كان لي: فلو طلبته قبل أجله لم أقدر عليه، وأما الذي هو لغيري فلم أصبه فيما مضى، ولا أرجوه فيما بقي، إن رزقي يُمنع من غيري، كما يُمنع رزق غيري مني، ففي أي هذين أفني عمري؟".
Dari Abu Hazim Salamah bin Dinar beliau berkata : Aku mendapati dunia itu ada dua bagian, yang pertama adalah bagianku dan yang kedua adalah bagian orang lain; Adapun yang menjadi bagianku, sekiranya aku cari sebelum waktu -yang ditentukan untuk mendapatkan-nya maka aku tidak akan mampu -mendapatkannya-. Adapun bagian orang lain, maka aku tidak akan mendapatkannya pada waktu yang telah berlalu, dan juga aku tidak berharap untuk mendapatkannya pada waktu yang akan datang. Sesungguhnya rezkiku terhalang bagi orang lain untuk mendapatkannya, sebagaimana rezki orang lain juga terhalang bagiku untuk mendapatkannya, maka dari dua hal ini dimanakah aku akan habiskan umurku..???

وقيل له: ما مالُك؟ فقال: "ثقتي بالله، وإياسي مما في أيدي الناس".
Abu Hazim Salamah bin Dinar pernah ditanya : Apa hartamu..??? Beliau menjawab : Kepercayaanku kepada Allah dan Keputusasaanku terhadap apa yang ada ditangan manusia.

وقيل عن محمد بن كعب أنه كانت له أملاك بالمدينة، وحصّل مالا مرّة فقيل له: "ادّخر لولدك"، قال: "لا، ولكن أدّخره لنفسي عند ربي، وأدّخر ربي لولدي".
Diceritakan dari Muhammad bin Ka'ab bahwasanya dia memiliki harta kekayaan di Madinah, dan dia berhasil mendapatkan harta lagi, maka dikatakan kepadanya : "simpan untuk anakmu!", dia menjawab :"tidak, akan tetapi aku akan simpan untuk diriku sendiri di sisi Rob-ku, dan aku simpan Rob-ku untuk anakku".

عن أبي قدامة الرملي قال: "قرأ رجل هذه الآية: {وتوكل على الحي الذي لا يموت وسبح بحمده وكفى به بذنوب عباده خبيرا} (الفرقان:58)، فأقبل عليّ سليمان الخوّاص، فقال: يا أبا قدامة! ما ينبغي لعبد بعد هذه الآية أن يلجأ إلى أحد بعد الله في أمره، انظر كيف قال الله تبارك وتعالى: {وتوكل على الحي الذي لا يموت} ، فأخبرك أنه لا يموت، وأن جميع خلقه يموتون، ثم أمرك بعبادته، فقال: {وسبح بحمده}، ثم أتبعها بقوله: {وكفى به بذنوب عباده خبيرا}، فأخبرك بأنه خبير بصير. ثم قال سليمان: والله يا أبا قدامة! لو عامل عبدٌ ربه بحسن التوكل وصدق النية له بطاعته، لاحتاجت إليه الأمراء فمن دونهم، فكيف يكون هذا محتاجاً، وملجؤه إلى الغني الحميد؟!".
Dari Ibnu Qudamah Arromliy, beliau berkata : Ada Seseorang membaca ayat ini : {Dan bertawakkallah kepada Allah yang hidup (kekal) Yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan memuji-Nya. Dan cukuplah Dia Maha Mengetahui dosa-dosa hamba-hamba-Nya.} [TQS. Al Furqon (25):58], Kemudian datang kepadaku Sulaiman Al Khowwash, lalu berkata : Wahai Abu Qudamah! tidak pantas bagi seorang hamba setelah turunnya ayat ini untuk menyandarkan urusannya kepada seorangpun setelah Allah, perhatikan bagaimana Allah tabaaroka wata'ala berfirman : {Dan bertawakkallah kepada Allah yang hidup (kekal) Yang tidak mati}, maka Dia telah memberitahukanmu bahwa Dia tidak mati, dan sesungguhnya seluruh makhluknya akan mati. Lalu Dia perintahkan kepadamu untuk menyembahnya, Allah berfirman : {dan bertasbihlah dengan memuji-Nya}, kemudian melanjutkan ayat ini dengan firman-Nya : {Dan cukuplah Dia Maha Mengetahui dosa-dosa hamba-hamba-Nya.}, maka Dia telah memberitahukanmu bahwa Dia Maha Mengetahui lagi Maha Melihat. Kemudian Sulaiman bersumpah : Demi Allah! wahai Abu Qudamah, sekiranya seorang hamba berinteraksi bersama Rob-nya dengan tawakkal yang baik dan niat yang benar hanya karena Allah, dengan melaksanakan ketaatan kepada-Nya, maka sungguh para penguasa dan orang yang dibawah kekuasaannya akan butuh kepadanya, bagaimana mungkin hamba ini yang butuh -kepada mereka- sementara tempat bersandarnya kepada yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji?

قيل لحاتم الأصم: "على ما بنيت أمرك في التوكل؟"، قال: "على خصال أربعة: علمت أن رزقي لا يأكله غيري، فاطمأنت به نفسي، وعلمت أن عملي لا يعمله غيري، فأنا مشغول به، وعلمت أن الموت يأتي بغتة فأنا أبادره، وعلمت أني لا أخلو من عين الله، فأنا مستح منه".
Hatim Al 'Ashom pernah ditanya : Engkau bangun atas dasar apa urusanmu dalam kaitannya dengan tawakkal..???, beliau menjawab : "Atas dasar empat sifat; Aku mengetahui bahwa rezkiku tidak akan dimakan orang lain, maka hatiku tenang karenanya; Aku mengetahui bahwa amalku tidak akan diamalkan orang lain maka aku menyibukkan diri dengannya; dan aku mengetahui bahwa kematian itu datangnya tiba-tiba maka aku mendahuluinya; serta aku mengetahui bahwa aku tidak luput dari pandangan mata Allah, maka aku malu dari-Nya.

عن شقيق البلخي قال: "لكل واحد مقام: فمتوكل على نفسه، ومتوكل على لسانه، و متوكل على سيفه، ومتوكل على سلطانه، ومتوكل على الله، فأما المتوكل على الله عزوجل فقد وجد الراحة، فإن الله عزوجل يقول: {وتوكل على الحي الذي لا يموت} (الفرقان:58)، وأما من كان مستروحاً إلى غيره، فيوشك أن ينقطع به فيشقى، وإنما التوكل طمأنينة القلب بموعود الله عزوجل".
Dari Syaqiq Al Bal-khiy, beliau berkata : Setiap orang memiliki tempat berpijak; ada yang tawakkal kepada dirinya sendiri, ada yang tawakkal kepada lisannya, ada yang tawakkal kepada senjatanya, dan ada yang tawakkal kepada penguasanya serta ada yang tawakkal kepada Allah. Adapun orang yang tawakkal kepada Allah Azza wajalla maka sungguh telah mendapatkan ketenangan, karena sesungguhnya Allah Azza wajalla berfirman : {Dan bertawakkallah kepada Allah yang hidup (kekal) Yang tidak mati,} [TQS. Al Furqon (25):58], dan adapun orang yang merasa tenang bersandar kepada selain-Nya, maka dikhawatirkan putus hubungan dengan-Nya maka diapun celaka, dan sesungguhnya tawakkal itu adalah ketenangan hati terhadap janji Allah Azza wajalla.

عن يحيى بن معاذ الرازي قال: "من طلب الفضل من غير ذي الفضل غرم وخسر، وإن ذا الفضل هو الله عزوجل: {إن الله لذو فضل على الناس ولكن أكثر الناس لا يشكرون} (البقرة:243)".
Dari Yahya bin Muads Arroziy, beliau berkata : "Barangsiapa yang mencari keutamaan kepada sesuatu yang tidak mempunyai keutamaan maka dia telah rugi dan bangkrut, dan sesungguhnya pemilik keutamaan itu adalah Allah Azza wajalla : {Sesungguhnya Allah mempunyai karunia terhadap manusia tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur.} [TQS. Al Baqarah (2):243]

وقال الإمام ابن رجب الحنبلي في تعريف التوكل: "هو صدق اعتماد القلب على الله عز وجل في استجلاب المصالح، ودفع المضار من أمور الدنيا والآخرة كلها".
Berkata Al Imam Ibnu Rajab Al Hanbaliy dalam mendefinisikan tawakkal : "Tawakkal adalah kejujuran penyandaran hati kepada Allah Azza wajalla dalam meraih maslahat dan menolak mudharat, dari perkara dunia dan akhirat seluruhnya"


_______________________________________

Sumber : مع السلف في التوكل
بسم الله الرحمن الرحيم

Kewajiban Taat kepada Allah dan Rasul-Nya serta Ancaman bagi yang tidak Patuh

Taat kepada Allah Subhanahu wata'ala adalah dengan mengikuti kitab-Nya (Al Qur'an) dan taat kepada Rasulullah Shollallahu 'alaihi wasallam adalah dengan mengikuti sunnah-nya (Al Hadits).

Allah Subhanahu wata'ala berfirman :
{يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا} [النساء: 59]
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. [Annisa : 59]

{وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا لِيُطَاعَ بِإِذْنِ اللَّهِ وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ جَاءُوكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللَّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللَّهَ تَوَّابًا رَحِيمًا * فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا} [النساء: 64، 65]
Dan Kami tidak mengutus seseorang rasul melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. [Annisa : 64 & 65]

{وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا} [النساء: 69]
Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. [Annisa : 69]

{تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ * وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَتَعَدَّ حُدُودَهُ يُدْخِلْهُ نَارًا خَالِدًا فِيهَا وَلَهُ عَذَابٌ مُهِينٌ} [النساء: 13، 14]
(Hukum-hukum tersebut) itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah. Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya kedalam surga yang mengalir didalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar. Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan. [Annisa : 13 & 14]

{وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا} [الأحزاب: 36]
Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. [Al Ahzab : 36]

{وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَإِنَّ لَهُ نَارَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا} [الجن: 23]
Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya baginyalah neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. [Al Jin : 23]

{وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا} [النساء: 115]
Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. [Annisa : 115]

{إِنَّ الَّذِينَ يُحَادُّونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ كُبِتُوا كَمَا كُبِتَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ} [المجادلة: 5]
Sesungguhnya orang-orang yang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, pasti mendapat kehinaan sebagaimana orang-orang yang sebelum mereka telah mendapat kehinaan. [Al Mujadilah : 5]

{إِنَّ الَّذِينَ يُحَادُّونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ فِي الْأَذَلِّينَ} [المجادلة: 20]
Sesungguhnya orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, mereka termasuk orang-orang yang sangat hina. [Al Mujadilah : 20]

{وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا} [الأحزاب: 71]
Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar. [Al Ahzab : 71]

{وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَخْشَ اللَّهَ وَيَتَّقْهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ} [النور: 52]
Dan barang siapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan. [Annur : 52]

{وَإِنْ تُطِيعُوهُ تَهْتَدُوا} [النور: 54]
Dan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. [Annur : 54]

{وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ} [آل عمران: 132]
Dan taatilah Allah dan Rasul, supaya kamu diberi rahmat. [Ali Imron : 132]

{وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ وَمَنْ يَتَوَلَّ يُعَذِّبْهُ عَذَابًا أَلِيمًا} [الفتح: 17]
Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya; niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai dan barang siapa yang berpaling niscaya akan diazab-Nya dengan azab yang pedih. [Al Fath : 17]

{وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ فَإِنْ تَوَلَّيْتُمْ فَإِنَّمَا عَلَى رَسُولِنَا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ} [التغابن: 12]
Dan taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul-Nya, jika kamu berpaling sesungguhnya kewajiban Rasul Kami hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang. [At Taghabun : 12]

{يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَلَا تُبْطِلُوا أَعْمَالَكُمْ} [محمد: 33]
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul dan janganlah kamu merusakkan (pahala) amal-amalmu. [Muhammad : 33]

{وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ} [الحشر: 7]
Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya. [Al Hasyr : 7]

______________________________________________

Sumber : السنن والمبتدعات المتعلقة بالأذكار والصلوات - فصل فِي وجوب طَاعَة الله وَطَاعَة رَسُوله، ووعيد الْمُخَالفين
بسم الله الرحمن الرحيم

Bisnis Ala Nabi Shollallahu 'alaihi wasallam

Bisnis Nabi shollallahu alaihi wasallam
Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata :
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ عَلَى صُبْرَةِ طَعَامٍ فَأَدْخَلَ يَدَهُ فِيهَا فَنَالَتْ أَصَابِعُهُ بَلَلًا فَقَالَ مَا هَذَا يَا صَاحِبَ الطَّعَامِ قَالَ أَصَابَتْهُ السَّمَاءُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ أَفَلَا جَعَلْتَهُ فَوْقَ الطَّعَامِ كَيْ يَرَاهُ النَّاسُ مَنْ غَشَّ فَلَيْسَ مِنِّي
“Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah melewati setumpuk makanan, lalu beliau memasukkan tangannya ke dalamnya, kemudian tangan beliau menyentuh sesuatu yang basah. Maka beliaupun bertanya, “Apa ini wahai pemilik makanan?” Dia menjawab, “Makanan tersebut terkena air hujan wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Mengapa kamu tidak meletakkannya di bagian atas agar manusia dapat melihatnya?! Barangsiapa yang menipu maka dia bukan dari golonganku.” (HR. Muslim no. 102)

Dari Hakim bin Hizam radhiallahu anhu dari Nabi Shallallu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda:
الْبَيِّعَانِ بِالْخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا فَإِنْ صَدَقَا وَبَيَّنَا بُورِكَ لَهُمَا فِي بَيْعِهِمَا وَإِنْ كَذَبَا وَكَتَمَا مُحِقَ بَرَكَةُ بَيْعِهِمَا
“Kedua orang yang bertransaksi jual beli berhak melakukan khiyar selama keduanya belum berpisah. Jika keduanya jujur dan terbuka, maka keduanya akan mendapatkan keberkahan dalam jual beli. Tapi jika keduanya berdusta dan tidak terbuka, maka keberkahan jual beli antara keduanya akan dihapus.” (HR. Al-Bukhari no. 1937 dan Muslim no. 1532)

Khiyar adalah hak untuk membatalkan transaksi jual beli.

Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
الْحَلِفُ مُنَفِّقَةٌ لِلسِّلْعَةِ مُمْحِقَةٌ لِلْبَرَكَةِ
“Sumpah itu (memang biasanya) melariskan dagangan jual beli namun bisa menghilangkan berkahnya”. (HR. Al-Bukhari no. 1945 dan Muslim no. 1606)

Dari Abu Qatadah Al-Anshari radhiallahu anhu, bahwa dia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إِيَّاكُمْ وَكَثْرَةَ الْحَلِفِ فِي الْبَيْعِ فَإِنَّهُ يُنَفِّقُ ثُمَّ يَمْحَقُ
“Jauhilah oleh kalian banyak bersumpah dalam berdagang, karena dia (memang biasanya) dapat melariskan dagangan tapi kemudian menghapuskan (keberkahannya).” (HR. Muslim no. 1607)

Penjelasan ringkas:

Salah satu profesi yang dianjurkan dalam Islam bahkan sering tersebut dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah adalah profesi petani dan pedagang. Karenanya banyak sekali sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berprofesi menjadi petani atau pedagang. Hanya saja, di dalam Islam setiap profesi yang dibenarkan untuk ditempuh, tujuannya bukan semata-mata untuk menghasilkan uang atau meraih kekayaan. Akan tetapi yang jauh lebih penting daripada itu adalah untuk mendapatkan keberkahan dari hasil jerih payahnya. Dan keberkahan dari harta bukan dinilai dari kuantitasnya akan tetapi dinilai dari kualitas harta tersebut, darimana dia peroleh dan kemana dia belanjakan.

Karenanya, dalam perdagangan dan jual beli, Islam menuntunkan beberapa etika di antaranya:
  1. Tidak boleh curang dalam jual beli.
  2. Tidak boleh menutupi cacat barang dagangan dari para pembeli.
  3. Menjelaskan dengan sejelas-jelasnya kebaikan dan kekurangan barang yang dia jual.
  4. Tidak boleh terlalu banyak bersumpah -walaupun sumpahnya benar- dengan tujuan melariskan dagangannya. Karena terlalu sering menyebut nama Allah pada jual beli atau pada hal-hal sepele menunjukkan kurangnya pengagungan dia kepada Allah.
  5. Haramnya bersumpah dengan sumpah dusta, hanya untuk melariskan dagangannya.

___________________________________________________

Sumber : Etika Dalam Berdagang
بسم الله الرحمن الرحيم

200 Soal Jawab Dalam Bidang Aqidah Islamiyah

Kajian Kitab Rutin Tiap Ahad Malam Antara Maghrib & Isya
Masjid Baiturrahman Kantor Kementerian Agama
Kabupaten Kepulauan Selayar
Berkata Asy-Syaikh Hafidz bin Ahmad bin Ali Al Hakamiy dalam Muqaddimah Kitabnya "أعلام السنة المنشورة لاعتقاد الطائفة الناجية المنصورة" :

Kitab ini adalah kitab yang ringkas penuh manfaat, besar faidahnya serta melimpah kebaikannya, mencakup kaidah-kaidah agama dan mengandung dasar-dasar tauhid yang didakwahkan oleh para Rasul dan yang diturunkan kitab-kitab Allah karenanya, dan yang tidak ada keselamatan bagi orang yang beragama dengan selainnya.

-Kitab ini juga- menunjukkan dan memberikan bimbingan menempuh jalan yang putih bersih dan manhaj yang haq lagi jelas. Saya jelaskan didalamnya perkara-perkara iman dan cabang-cabangnya, dan apa saja yang bisa menghapusnya secara keseluruhan atau apa saja yang bisa mengurangi kesempurnaannya.

Saya sebutkan didalamnya setiap permasalahan disertai dengan dalilnya, agar jelas perkaranya, dan nampak hakekatnya serta terang jalannya. Saya mencukupkan diri padanya diatas mazhab Ahlusunnah wal Ittiba', dan Saya tidak menggunakan pendapat-pendapat Ahlul Ahwa' wal Ibtida'; karena pendapat mereka tidaklah diucapkan kecuali untuk membantahnya dan melepaskan panah sunnah kearahnya, dan sungguh telah bangkit membela para Imam yang Mulia untuk membongkar keburukan-keburukannya, mereka menyusun tulisan-tulisan tersendiri dalam membantah dan menjauhkannya -dari ummat-. Meski sesungguhnya sesuatu yang bertentangan itu dapat diketahui melalui lawannya, namun juga akan jelas maksudnya dengan mendefinisikan batasan-batasannya secara tersendiri -tanpa menyebutkan lawannya-, oleh karena itu apabila matahari telah terbit maka "siang" tidak butuh lagi dicarikan dalil, dan apabila telah jelas dan terang kebenaran, maka tidak ada lagi setelahnya kecuali kesesatan.

Saya menyusun -kitab ini- dengan metode pertanyaan agar para santri terbangun sadar dan memperhatikan, kemudian saya gandengkan dengan jawaban yang dengannya akan menjadi jelas persoalannya dan tidak menjadi samar.

Saya namakan -kitab ini- dengan : "أعلام السنة المنشورة لاعتقاد الطائفة الناجية المنصورة"

Hanya kepada Allah saya meminta agar menjadikannya semata-mata mengharapkan Wajah-Nya yang Maha Tinggi, dan memberikan manfaat kepada kita dengan sebab ilmu yang kita miliki serta mengajarkan kepada kita apa saja yang bermanfaat bagi kita, -semua itu merupakan- nikmat dan karunia dari-Nya, sesungguhnya Dia Maha Berkuasa atas segala sesuatu dan Maha Lembut lagi Maha Mengetahui terhadap hamba-hamba-Nya, hanya kepada-Nya tempat ruju' dan kembali, Dia-lah Maula kita, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.

________________________________________

Download
أعلام السنة المنشورة لاعتقاد الطائفة الناجية المنصورة (الكتاب نشر - أيضا - بعنوان: 200 سؤال وجواب في العقيدة الاسلامية)

بسم الله الرحمن الرحيم

Sholat Sunnah Sebelum Maghrib, Adakah..???

Fatwa Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin -rahimahullah-.

Pertanyaan :
Mengenai hadits :
(( ﺻﻠﻮﺍ ﻗﺒﻞ ﺍﻟﻤﻐﺮﺏ ﺻﻠﻮﺍ ﻗﺒﻞ ﺍﻟﻤﻐﺮﺏ ﻗﺎﻝ ﻓﻲ ﺍﻟﺜﺎﻟﺜﺔ ﻟﻤﻦ ﺷﺎﺀ ))
"Shalatlah kalian sebelum maghrib !! Shalatlah kalian sebelum maghrib, (dan pada yang ketiganya) beliau shallallahu 'alaihi wassalam mengatakan, "bagi yang menghendaki."
Apakah maknanya di sana ada shalat sunnah qabliyyah maghrib ?

Jawaban :
Iya, di sana ada shalat sunnah sebelum maghrib akan tetapi setelah adzan maghrib. Dikarenakan shalat sebelum adzan (maghrib) termasuk waktu terlarang untuk shalat.
Akan tetapi ini sunnah, yang mana Nabi shallallahu 'alaihi wassalam memerintahkannya bahkan beliau mengulanginya sampai 3 kali.
Maka ada yang salah memahami bahwa sunnah ini bermakna wajib, atau minimalnya termasuk sunnah rawatib seperti shalat ba'diyah maghrib.
Oleh karena ini, Rasulullah shallallahu 'alaihi wassalam bersabda: "bagi yang menghendaki", agar supaya tidak dipahami sebagai kewajiban atau sunnah rawatib.
Oleh karena ini sang rawi mengatakan: "Dikarenakan khawatir manusia akan menjadikannya sebagai sunnah, yakni sunnah rawatib."

--Silsilah Fatawa Nur 'ala ad-Darb (kaset 226)--

[via Anndri Maadsa]

>>> Tambahan (dari kami) :

Sunnah ini juga diamalkan oleh para sahabat Nabi, bahkan mereka -radhiyallaahu 'anhum- sangat bersemangat dalam mengamalkannya, sebagaimana dalam riwayat berikut:
◆◆◆ Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, dia berkata:
ﻛﻨﺎ ﻧﺼﻠﻲ ﻋﻠﻰ ﻋﻬﺪ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺭﻛﻌﺘﻴﻦ ﺑﻌﺪ ﻏﺮﻭﺏ ﺍﻟﺸﻤﺲ ﻗﺒﻞ ﺻﻼﺓ ﺍﻟﻤﻐﺮﺏ
“Dahulu kami pada masa Rasulullah shallahu 'alaihi wa sallam melaksanakan shalat dua rakaat setelah terbenam matahari sebelum shalat magrib.”
~[HR Muslim (836)]~

◆◆◆ Masih Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, dia berkata:
ﻛﻨﺎ ﺑﺎﻟﻤﺪﻳﻨﺔ، ﻓﺈﺫﺍ ﺃﺫﻥ ﺍﻟﻤﺆﺫﻥ ﻟﺼﻼﺓ ﺍﻟﻤﻐﺮﺏ ﺍﺑﺘﺪﺭﻭﺍ ﺍﻟﺴﻮﺍﺭﻱ ﻓﻴﺮﻛﻌﻮﻥ ﺭﻛﻌﺘﻴﻦ
“Dahulu kami ketika di Madinah, apabila muazzin mengumandangkan azan untuk shalat magrib, mereka (para sahabat Nabi) bersegera mencari tiang-tiang mesjid lalu mereka shalat dua rakaat.”
~[HR Muslim (837)]~

Dan ada juga dalil umum berkaita dengan amalan ini, sebagaimana dala hadits berikut:
◆◆◆ Dari Abdullah bin Mughaffal radhiallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
ﺑَﻴْﻦَ ﻛُﻞِّ ﺃَﺫَﺍﻧَﻴْﻦِ ﺻَﻠَﺎﺓٌ، ﺑَﻴْﻦَ ﻛُﻞِّ ﺃَﺫَﺍﻧَﻴْﻦِ ﺻَﻠَﺎﺓٌ، ﺛُﻢَّ ﻗَﺎﻝَ ﻓِﻲ ﺍﻟﺜَّﺎﻟِﺜَﺔِ: ﻟِﻤَﻦْ ﺷَﺎﺀَ
“Di antara setiap azan dan iqamah ada shalat. Di antara setiap azan dan iqamah ada shalat.” Kemudian beliau berkata pada kali yang ketiga: “Bagi siapa yang mau.”
~[HR. Al-Bukhari (627) dan Muslim (838)]~

Hadits ini menunjukkan bahwa setiap shalat fardhu yang lima waktu memiliki shalat sunnah qabliyah, termasuk di dalam hal ini adalah shalat magrib.

Wallaahu Ta'ala A'lam bish shawab.

Semoga Bermanfaat ! Baarakallahufiykum.

_________________________________________________

Sumber : ●● SUNNAH NABI YANG TERLUPAKAN, SHALAT SUNNAT (2 RAKAAT) SETELAH ADZAN MAGHRIB (SEBELUM SHALAT MAGHRIB) ●●
بسم الله الرحمن الرحيم

Semua ini terjadi karena akibat Dosa dan Maksiat

Pengaruh Buruk Perbuatan Dosa
Al-Imam Al-’Allamah Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullahu menyebutkan secara panjang lebar dampak negatif dari dosa. Beberapa di antaranya bisa kita sebutkan di sini sebagai peringatan:

1. Terhalang dari ilmu yang haq. Karena ilmu merupakan cahaya yang dilemparkan ke dalam hati, sementara maksiat akan memadamkan cahaya.

Tatkala Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu belajar kepada Al-Imam Malik rahimahullahu, Al-Imam Malik terkagum-kagum dengan kecerdasan dan kesempurnaan pemahaman Asy-Syafi’i. Al-Imam Malik pun berpesan pada muridnya ini, “Aku memandang Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memasukkan cahaya ilmu di hatimu. Maka janganlah engkau padamkan cahaya tersebut dengan kegelapan maksiat.”

Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu pernah bersajak:
شَكَوْتُ إِلَى وَكِيْعٍ سُوْءَ حِفْظِي
فَأَرْشَدَنِي إِلَى تَرْكِ الْمَعَاصِي
وَقَالَ اعْلَمْ بِأَنَّ الْعِلْمَ فَضْلٌ
وَ فَضْلُ اللهِ لاَ يُؤْتاَهُ عَاصِ
“Aku mengeluhkan jeleknya hafalanku kepada Waki’
Maka ia memberi bimbingan kepadaku agar meninggalkan maksiat
Ia berkata, “Ketahuilah ilmu itu merupakan keutamaan
dan keutamaan Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak diberikan kepada orang yang berbuat maksiat.”
[1]

2. Terhalang dari beroleh rizki dan urusannya dipersulit.

Takwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mendatangkan rizki dan memudahkan urusan seorang hamba sebagaimana firman-Nya:
{وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا * وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ} [الطلاق: 2، 3]
“Siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan bagi orang tersebut jalan keluar (dari permasalahannya) dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (Ath-Thalaq: 2-3)

{وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا} [الطلاق: 4]
“Siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (Ath-Thalaq: 4)

Meninggalkan takwa berarti akan mendatangkan kefakiran dan membuat si hamba terbelit urusannya.

3. Hati terasa jauh dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan merasa asing dengan-Nya, sebagaimana jauhnya pelaku maksiat dari orang-orang baik dan dekatnya dia dengan setan.

4. Menggelapkan hati si hamba sebagaimana gelapnya malam. Karena ketaatan adalah cahaya, sedangkan maksiat adalah kegelapan. Bila kegelapan itu bertambah di dalam hati, akan bertambah pula kebingungan si hamba. Hingga ia jatuh ke dalam bid’ah, kesesatan, dan perkara yang membinasakan tanpa ia sadari. Sebagaimana orang buta yang keluar sendirian di malam yang gelap dengan berjalan kaki.

Bila kegelapan itu semakin pekat akan tampaklah tandanya di mata si hamba. Terus demikian, hingga tampak di wajahnya yang menghitam yang terlihat oleh semua orang.

5. Maksiat akan melemahkan hati dan tubuh, karena kekuatan seorang mukmin itu bersumber dari hatinya. Semakin kuat hatinya semakin kuat tubuhnya. Adapun orang fajir/pendosa, sekalipun badannya tampak kuat, namun sebenarnya ia selemah-lemah manusia.

6. Maksiat akan ‘memperpendek‘ umur dan menghilangkan keberkahannya, sementara perbuatan baik akan menambah umur dan keberkahannya. Mengapa demikian? Karena kehidupan yang hakiki dari seorang hamba diperoleh bila hatinya hidup. Sementara, orang yang hatinya mati walaupun masih berjalan di muka bumi, hakikatnya ia telah mati. Oleh karenanya Allah Subhanahu wa Ta’ala menyatakan orang kafir adalah mayat dalam keadaan mereka masih berkeliaran di muka bumi:
{أَمْوَاتٌ غَيْرُ أَحْيَاءٍ} [النحل: 21]
“Mereka itu adalah orang-orang mati yang tidak hidup.” (An-Nahl: 21)

Dengan demikian, kehidupan yang hakiki adalah kehidupan hati. Sedangkan umur manusia adalah hitungan kehidupannya. Berarti, umurnya tidak lain adalah waktu-waktu kehidupannya yang dijalani karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, menghadap kepada-Nya, mencintai-Nya, mengingat-Nya, dan mencari keridhaan-Nya. Di luar itu, tidaklah terhitung sebagai umurnya.

Bila seorang hamba berpaling dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menyibukkan diri dengan maksiat, berarti hilanglah hari-hari kehidupannya yang hakiki. Di mana suatu hari nanti akan jadi penyesalan baginya:
{يَالَيْتَنِي قَدَّمْتُ لِحَيَاتِي} [الفجر: 24]
“Aduhai kiranya dahulu aku mengerjakan amal shalih untuk hidupku ini.” (Al-Fajr: 24)

7. Satu maksiat akan mengundang maksiat lainnya, sehingga terasa berat bagi si hamba untuk meninggalkan kemaksiatan. Sebagaimana ucapan sebagian salaf:

“Termasuk hukuman perbuatan jelek adalah pelakunya akan jatuh ke dalam kejelekan yang lain. Dan termasuk balasan kebaikan adalah kebaikan yang lain. Seorang hamba bila berbuat satu kebaikan maka kebaikan yang lain akan berkata, ‘Lakukan pula aku.’ Bila si hamba melakukan kebaikan yang kedua tersebut, maka kebaikan ketiga akan berucap yang sama. Demikian seterusnya. Hingga menjadi berlipatgandalah keuntungannya, kian bertambahlah kebaikannya. Demikian pula kejelekan….”


8. Maksiat akan melemahkan hati dan secara perlahan akan melemahkan keinginan seorang hamba untuk bertaubat dari maksiat, hingga pada akhirnya keinginan taubat tersebut hilang sama sekali.

9. Orang yang sering berbuat dosa dan maksiat, hatinya tidak lagi merasakan jeleknya perbuatan dosa. Malah berbuat dosa telah menjadi kebiasaan. Dia tidak lagi peduli dengan pandangan manusia dan acuh dengan ucapan mereka. Bahkan ia bangga dengan maksiat yang dilakukannya.

Bila sudah seperti ini model seorang hamba, ia tidak akan dimaafkan, sebagaimana berita dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى إِلاَّ الْمُجَاهِرِيْنَ، وَإِنَّ مِنَ الْمُجَاهَرَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَََّيْلِ عَمَلاً ثُمَّ يُصْبِحَ وَقَدْ سَتَرَهُ اللهُ عَلَيْهِ فيَقُوْلُ: يَا فُلاَنُ، عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا. وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ، وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللهِ عَنْهُ
“Setiap umatku akan dimaafkan kesalahan/dosanya kecuali orang-orang yang berbuat dosa dengan terang-terangan. Dan termasuk berbuat dosa dengan terang-terangan adalah seseorang melakukan suatu dosa di waktu malam dan Allah menutup perbuatan jelek yang dilakukannya tersebut[2] namun di pagi harinya ia berkata pada orang lain, “Wahai Fulan, tadi malam aku telah melakukan perbuatan ini dan itu.” Padahal ia telah bermalam dalam keadaan Rabbnya menutupi kejelekan yang diperbuatnya. Namun ia berpagi hari menyingkap sendiri tutupan (tabir) Allah yang menutupi dirinya.” (HR. Al-Bukhari no. 6069 dan Muslim no. 7410)

10. Setiap maksiat yang dilakukan di muka bumi ini merupakan warisan dari umat terdahulu yang telah dibinasakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Perbuatan homoseksual adalah warisan kaum Luth.

Mengambil hak sendiri lebih dari yang semestinya dan memberi hak orang lain dengan menguranginya, adalah warisan kaum Syu’aib.

Berlaku sombong di muka bumi dan membuat kerusakan adalah warisan dari kaum Fir’aun.

Sombong dan tinggi hati adalah warisan kaum Hud.

11. Maksiat merupakan sebab dihinakannya seorang hamba oleh Rabbnya.

Bila Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menghinakan seorang hamba maka tak ada seorang pun yang akan memuliakannya.
{وَمَنْ يُهِنِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ مُكْرِمٍ} [الحج: 18]
“Siapa yang dihinakan Allah niscaya tak ada seorang pun yang akan memuliakannya.” (Al-Hajj: 18)

Walaupun mungkin secara zhahir manusia menghormatinya karena kebutuhan mereka terhadapnya atau mereka takut dari kejelekannya, namun di hati manusia ia dianggap sebagai sesuatu yang paling rendah dan hina.

12. Bila seorang hamba terus menerus berbuat dosa, pada akhirnya ia akan meremehkan dosa tersebut dan menganggapnya kecil. Ini merupakan tanda kebinasaan seorang hamba. Karena bila suatu dosa dianggap kecil maka akan semakin besar di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Al-Imam Al-Bukhari rahimahullahu dalam Shahih-nya (no. 6308) menyebutkan ucapan sahabat yang mulia Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu:
إِنَّ الْمُؤْمِنَ يَرَى ذُنُوْبَهُ كَأَنَّهُ قَاعِدٌ تَحْتَ جَبَلٍ يَخَافُ أَنْ يَقَعَ عَلَيْهِ، وَإِنَّ الْفَاجِرَ يَرَى ذُنُوْبَهُ كَذُبَابٍ مَرَّ عَلَى أَنْفِهِ فَقَالَ بِهِ هَكَذَا
“Seorang mukmin memandang dosa-dosanya seakan-akan ia duduk di bawah sebuah gunung yang ditakutkan akan jatuh menimpanya. Sementara seorang fajir/pendosa memandang dosa-dosanya seperti seekor lalat yang lewat di atas hidungnya, ia cukup mengibaskan tangan untuk mengusir lalat tersebut.”

13. Maksiat akan merusak akal. Karena akal memiliki cahaya, sementara maksiat pasti akan memadamkan cahaya akal. Bila cahayanya telah padam, akal menjadi lemah dan kurang.

Sebagian salaf berkata: “Tidaklah seseorang bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala hingga hilang akalnya.”

Hal ini jelas sekali, karena orang yang hadir akalnya tentunya akan menghalangi dirinya dari berbuat maksiat. Ia sadar sedang berada dalam pengawasan-Nya, di bawah kekuasaan-Nya, ia berada di bumi Allah Subhanahu wa Ta’ala, di bawah langit-Nya dan para malaikat Allah Subhanahu wa Ta’ala menyaksikan perbuatannya.

14. Bila dosa telah menumpuk, hatipun akan tertutup dan mati, hingga ia termasuk orang-orang yang lalai. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
{كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ} [المطففين: 14]
“Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka.” (Al-Muthaffifin: 14)

Al-Hasan Al-Bashri rahimahullahu berkata menafsirkan ayat di atas: “Itu adalah dosa di atas dosa (bertumpuk-tumpuk) hingga mati hatinya.”[3]

15. Bila si pelaku dosa enggan untuk bertaubat dari dosanya, ia akan terhalang dari mendapatkan doa para malaikat. Karena malaikat hanya mendoakan orang-orang yang beriman, yang suka bertaubat, yang selalu mengikuti Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
{الَّذِينَ يَحْمِلُونَ الْعَرْشَ وَمَنْ حَوْلَهُ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيُؤْمِنُونَ بِهِ وَيَسْتَغْفِرُونَ لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَحْمَةً وَعِلْمًا فَاغْفِرْ لِلَّذِينَ تَابُوا وَاتَّبَعُوا سَبِيلَكَ وَقِهِمْ عَذَابَ الْجَحِيمِ * رَبَّنَا وَأَدْخِلْهُمْ جَنَّاتِ عَدْنٍ الَّتِي وَعَدْتَهُمْ وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ * وَقِهِمُ السَّيِّئَاتِ وَمَنْ تَقِ السَّيِّئَاتِ يَوْمَئِذٍ فَقَدْ رَحِمْتَهُ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ} [غافر: 8، 9]
“Malaikat-malaikat yang memikul Arsy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Rabb mereka dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman, seraya berucap, ‘Wahai Rabb kami, rahmat dan ilmu-Mu meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan-Mu dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala-nyala. Wahai Rabb kami, masukkanlah mereka ke dalam surga Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang yang shalih di antara bapak-bapak mereka, istri-istri mereka, dan keturunan mereka semuanya. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha memiliki hikmah. Dan peliharalah mereka dari (balasan) kejahatan. Orang-orang yang Engkau pelihara dari pembalasan kejahatan pada hari itu maka sungguh telah Engkau anugerahkan rahmat kepadanya dan itulah kemenangan yang besar’.” (Ghafir: 7-9)

Demikian beberapa pengaruh negatif dari perbuatan dosa dan maksiat yang kami[4] ringkaskan dari kitab Ad-Da`u wad Dawa`, karya Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullahu hal. 85-99. Semoga dapat menjadi peringatan.

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

_____________________________________________________

[1]Lihat Diwan Asy-Syafi’i (45), Al-Fawa`id Al-Bahiyyah (223), dan Syarh Tsulatsiyyat Al-Musnad (1/769).
[2]Yakni tak ada seorang pun yang mengetahuinya.
[3]Jami’ul Bayan fi Ta`wilil Qur`an, 12/190.
[4]Penulis: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Al-Atsariyyah

Sumber : Pengaruh Buruk Perbuatan Dosa
بسم الله الرحمن الرحيم

SHOLAT TAHIYATUL MASJID WALAU IMAM SEDANG KHUTBAH

SHOLAT TAHIYATUL MASJID WALAU IMAM SEDANG KHUTBAHبِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Sahabat yang Mulia Jabir bin Abdillah radhiyallahu'anhuma berkata,
جَاءَ سُلَيْكٌ الْغَطَفَانِيُّ يَوْمَ الْجُمُعَةِ ، وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ فَجَلَسَ ، فَقَالَ لَهُ " يَا سُلَيْكُ قُمْ فَارْكَعْ رَكْعَتَيْنِ ، وَتَجَوَّزْ فِيهِمَا " ثُمَّ قَالَ : " إِذَا جَاءَ أَحَدُكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ وَلْيَتَجَوَّزْ فِيهِمَا "

"Sulaik Al-Ghothofani datang ke masjid pada hari Jum'at ketika Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam sedang berkhutbah, ia pun langsung duduk. Maka beliau bersabda kepadanya: Wahai Sulaik, berdirilah, lalu sholatlah dua raka'at dan ringankanlah sholatmu.

Kemudian beliau bersabda: Jika seorang dari kalian datang ke masjid pada hari Jum'at dan imam sedang berkhutbah maka hendaklah ia melakukan sholat (tahiyyatul masjid) dua raka'at, dan hendaklah ia meringankan sholatnya." [HR. Al-Bukhari dan Muslim, dan lafaz milik Muslim]

Beberapa Pelajaran:

1) Dianjurkan untuk menghadiri sholat Jum’at dengan bersegera sebelum khatib naik mimbar dan melakukan sholat tahiyyatul masjid ketika pertama tiba di masjid

2) Apabila seseorang datang terlambat setelah khatib naik mimbar, tetap disunnahkan baginya untuk sholat tahiyyatul masjid walau khatib sedang khutbah dan dimakruhkan baginya untuk duduk sebelum sholat dua raka’at

3) Dalam keadaan ini, disunnahkan sholat yang ringan, tidak memperpanjang bacaan agar dapat segera mendengarkan khutbah

4) Bolehnya khatib berbicara kepada jama’ah apabila ada suatu keperluan, dan jama’ah yang diajak berbicara boleh menjawab karena dalam riwayat lain, Sulaik ditanya terlebih dahulu oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam:
أَصَلَّيْتَ يَا فُلَانُ قَالَ لَا قَالَ قُمْ فَارْكَعْ

“Apakah engkau sudah sholat wahai Fulan? Beliau menjawab: Belum. Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: Bangkitlah lalu sholat.”

5) Anjuran untuk selalu memerintahkan yang ma’ruf dan melarang dari kemungkaran serta membimbing kepada kemaslahatan dalam setiap keadaan, tempat dan waktu

6) Sholat tahiyyatul masjid dikerjakan dua raka’at

7) Sholat sunnah di siang hari juga dua raka’at, dua raka’at

8) Sholat tahiyyatul masjid masih bisa dikerjakan walau seseorang sudah sempat duduk apabila ia belum mengetahui sebelumnya

9) Sholat tahiyyatul masjid tidak boleh ditinggalkan meski di waktu-waktu terlarang untuk sholat, karena pendapat yang kuat insya Allah bahwa sholat-sholat sunnah yang memiliki sebab boleh dikerjakan meski di waktu-waktu terlarang

10) Sholat sunnah tahiyyatul masjid termasuk sunnah mu’akkadah, namun apabila sudah dikumandangkan iqomah maka hendaklah segera memutuskan sholat sunnah apa pun dan ikut sholat berjama’ah.

[Disarikan dari Syarhu Muslim lin Nawawi rahimahullah, 6/164-165]
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

http://sofyanruray.info/
__________________________________

Sumber : Sofyan Chalid bin Idham Ruray - www.SofyanRuray.info