بسم الله الرحمن الرحيم

Keutamaan Zakat, Infak dan Sedekah

Sesungguhnya seluruh ibadah yang Allah Subhanahu wata'ala syariatkan untuk hamba-hamba-Nya, pasti dan tentu ada keutamaan yang terkandung didalamnya, baik kita semua ketahui hal tersebut ataupun masih tersembunyi dan hanya diketahui oleh orang-orang tertentu saja, oleh karena itu keutamaan atau keistimewaan dan keunggulan serta hikmah suatu ibadah bukanlah tujuan utama dalam pelaksanaan ibadah tersebut, namun hanya sebagai salah satu faktor pendorong untuk melaksanakan ibadah tersebut dengan sebaik-baiknya hanya karena Allah, secara terus menerus istiqomah di jalan-Nya.

Definisi Zakat, Infaq dan Sedekah

Zakat, infak dan sedekah hakekatnya adalah satu namun dengan ungkapan dan hukum yang berbeda, karena zakat itu juga adalah sedekah sebagaimana firman Allah Subhanahu wata'ala :
{خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا} [التوبة: 103]
Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, [Attaubah (9):103]

Dari ayat diatas nampak jelas bagi kita bahwa kata "Shodaqoh" diungkapkan dalam terjemahan dengan istilah zakat.

Demikian pula zakat atau sedekah juga terkadang diungkapkan dengan istilah infak/nafkah sebagaimana dalam firman Allah Subhanahu wata'ala :
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ} [البقرة: 267]
Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah-infakkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. [Al Baqoroh (2):267]

Kata-kata "nafkahkanlah-infakkanlah" dalam ayat diatas digunakan sebagai perintah untuk mengeluarkan zakat atau sedekah baik yang hukumnya wajib ataupun yang sunnah.

Keutamaan Zakat, Infak dan Sedekah

Ganjaran Berlipat Ganda
Allah -Subhanahu wa Ta’ala- berfirman:
{مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرَةً وَاللَّهُ يَقْبِضُ وَيَبْسُطُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ} [البقرة: 245]
Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan. [Al Baqoroh (2):245]

Tanda Ketaqwaan
Allah -Ta’ala- berfirman:
{{ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ (2) الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ (3)} [البقرة: 2، 3]
Kitab (Al Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka, [Al Baqoroh (2):2&3]

Bekal Menuju Akhirat
Allah Ta’ala berfirman:
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِمَّا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ يَوْمٌ لَا بَيْعٌ فِيهِ وَلَا خُلَّةٌ وَلَا شَفَاعَةٌ وَالْكَافِرُونَ هُمُ الظَّالِمُونَ} [البقرة: 254]
Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezeki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi persahabatan yang akrab dan tidak ada lagi syafa`at. Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang lalim. [Al Baqoroh (2):254]

Perisai Dari Neraka
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"لِيتَّقِ أحدُكم وجهَه النارَ ولو بِشِق تمرة"
“Hendaknya salah seorang diantara kalian melindungi wajahnya dari neraka, sekalipun dengan sebelah biji korma”. [HR. Ahmad. Hadits ini di-shohih-kan oleh Al-Albaniy dalam Shohih At-Targhib (864)]

Shadaqah Penghapus Kesalahan
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
وَالصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ
“Shadaqah itu memadamkan (menghapuskan) kesalahan sebagaimana air memadamkan api” [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (3/321), dan Abu Ya’laa. Lihat Shohih At-Targhib (1/519)]

Pelindung di Padang Mahsyar
Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:
"كلُّ امْرِىءٍ فِي ظِلِّ صَدقَتِهِ حَتَّى يُقْضَى بَيْنَ النَّاسِ"
“Setiap orang berada dalam naungan shadaqahnya hingga diputuskan perkara di antara manusia“. [HR. Ahmad, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim. Hadits ini shohih sebagaimana yang dinyatakan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Shohih At-Targhib wa At-Tarhib (872)]

Pemadam Panas Di Alam Kubur
Rasulullah yang sangat sayang kepada umatnya telah memberikan tuntunan yang bisa menyelamatkan umatnya dari panasnya api neraka yaitu bershadaqah. Beliau bersabda:
إِنَّ الصَّدَقَةَ لَتُطْفِئُ عَنْ أَهْلِهَا حَرَّ الْقُبُورِ
“Sesungguhnya shadaqah akan memadamkan panasnya kubur bagi pemilik shadaqah”. [HR. Ath-Thobroniy dalam Al-Kabir, dan Al-Baihaqiy. Syaikh Al-Albaniy meng-hasan-kan hadits ini dalam Ash-Shohihah (3484)]

Mendapat Do'a dari Malaikat
Rasululullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:
" مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ العِبَادُ فِيهِ، إِلَّا مَلَكَانِ يَنْزِلاَنِ، فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا: اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا، وَيَقُولُ الآخَرُ: اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا "
“Tak ada suatu hari pun seorang hamba berada di dalamnya, kecuali ada dua orang malaikat akan turun; seorang diantaranya berdo’a, “Ya Allah berikanlah ganti bagi orang yang berinfaq”. Yang lainnya berdo’a, “Ya Allah, berikanlah kehancuran bagi orang yang menahan infaq”.”. [HR. Al-Bukhoriy dan Muslim ]

Golongan Yang Allah Naungi di Hari Kiamat
Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:
" سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ، يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: الإِمَامُ العَادِلُ، وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ رَبِّهِ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي المَسَاجِدِ، وَرَجُلاَنِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ، وَرَجُلٌ طَلَبَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ، فَقَالَ: إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ، أَخْفَى حَتَّى لاَ تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ "
“Ada tujuh golongan manusia yang akan mendapat naungan Allah pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: Pemimpin yang adil; Pemuda yang tumbuh di atas kebiasaan ‘ibadah kepada Rabbnya; Lelaki yang hatinya terpaut dengan masjid;  Dua orang yang saling mencintai karena Allah, sehingga mereka tidak bertemu dan tidak juga berpisah kecuali karena Allah; Lelaki yang diajak (berzina) oleh seorang wanita yang mempunyai kedudukan lagi cantik lalu dia berkata, ‘Aku takut kepada Allah’; Orang yang bersedekah dengan sembunyi-sembunyi, hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya; Orang yang berdzikir kepada Allah dalam keadaan sendiri hingga kedua matanya basah karena menangis.”
(HR. Al-Bukhari no. 620 dan Muslim no. 1712)


Keutamaan dan Hikmah Zakat Fitri

Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, ia berkata:
فَرَضَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنْ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِيْنِ
“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitrah sebagai penyuci bagi orang yang berpuasa dari perbuatan yang sia-sia dan kata-kata kotor serta sebagai pemberian makanan untuk orang-orang miskin.” (Hasan, HR. Abu Dawud Kitabul Zakat Bab. Zakatul Fitr: 17 no. 1609 Ibnu Majah: 2/395 K. Zakat Bab Shadaqah Fitri: 21 no: 1827 dihasankan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud)

Berdasarkan hadits diatas dapat disimpulkan bahwa diantara keutamaan dan hikmah diwajibkannya mengeluarkan zakat khususnya zakat fitrah adalah sebagai penyuci dan pembersih serta memasukkan kegembiraan kepada faqir miskin dengan bentuk pemberian makanan untuk mereka.

Sungguh agung dan besar keutamaan zakat, infak dan sedekah akan tetapi suatu amalan tidak akan menjadi agung, tanpa disertai dengan niat yang ikhlas dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Semoga Allah memudahkan kita untuk menunaikan zakat, infak dan sedekah baik sedekah berupa materi, tenaga, pikiran maupun berupa ucapan. Amin…


_______

Inspirasi :
بسم الله الرحمن الرحيم

Posisi yang Tepat dalam Menyikapi Perbedaan Pendapat Para Ulama Berkaitan dengan Jarh dan Ta'dil

Fadhilah Asy-Syaikh Ubaid bin Abdillah Al Jabiriy -Hafidzhohulloh-

الحمد لله رب العالمين، وصلى الله وسلم على نبينا محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين، أما بعد

Berikut ini jawaban atas seorang penanya yang mengatakan :

Apabila saya mendengar perkataan seorang ulama dalam satu kaset rekaman atau saya membacanya dalam satu kitab -berbicara- tentang seseorang bahwasanya orang tersebut adalah mubtadi' namun saya tidak mendapati darinya satu dalilpun atas hal itu, apakah saya harus berhati-hati dari orang tersebut dan mencukupkan diri bahwa dia memang seorang mubtadi' ataukah saya bersikap pelan-pelan -lambat- tidak terburu-buru sampai saya dapatkan dalil atas hal itu?

Saya jawab :

Sesungguhnya Ahlussunnah tidaklah menetapkan seseorang itu mubtadi' kecuali setelah mengetahui -hakekatnya- dan mengukur serta menguji apa yang ada padanya secara sempurna serta mengetahui manhajnya secara sempurna, baik secara global ataupun terperinci. Berangkat dari sini maka persoalan ini menuntut kita berada pada dua pisisi :

Posisi yang Pertama :

Berkaitan dengan orang yang seorang ulama atau banyak ulama' telah menetapkan bahwa dia adalah seorang mubtadi' dan tidak ada ulama lain dari kalangan ahlussunnah yang semisal dengan mereka menyelisihi -hukum tersebut-, kalian pahami sedikit, saya katakan : tidak ada ulama lain dari kalangan ahlussunnah yang menyelisihi mereka, maka kita terima jarh mereka terhadap orang tersebut, kita terima perkataan mereka dan berhati-hati terhadap orang tersebut, selama 'ulama sunniy telah menetapkan hukum padanya dan telah men-jarh-nya, dan tidak nampak -adanya perbedaan dari- ulama ahlusunnah lainnya yang mereka semasa dengan ulama yang telah men-jarh tersebut dari saudara-saudara dan anak-anaknya dari kalangan para ulama', maka harus menerima jarh-nya, karena ulama sunniy ini yang telah men-jarh seseorang : Sesungguhnya dia tidaklah men-jarh kecuali dengan -dasar- perkara yang jelas baginya dan telah tegak padanya dalil terhadap orang tersebut, karena ini merupakan bagian dari Agama Allah, dan orang yang men-jarh atau men-ta'dil mengetahui bahwasanya dia bertanggung jawab dari apa yang dia katakan dan dia fatwakan atau dari hukum yang dia tetapkan, dia mengetahui bahwasanya dia akan ditanya oleh Allah sebelum makhluk -manusia- bertanya kepadanya.

Posisi yang Kedua :

Apabila orang tersebut yang seorang ulama atau banyak ulama telah men-jarh-nya, mereka menetapkan hukum yang menjatuhkannya dan mengharuskan untuk berhati-hati darinya -di lain sisi- ulama lain menyelisihi mereka dan menetapkan adaalah-nya bahwasanya orang tersebut di atas Sunnah atau ahkaam selain itu yang berbeda dengan ahkaam ulama lain yang telah men-jarh-nya, maka selama mereka -yang men-jarh diatas Sunnah dan mereka -yang men-ta'dil juga diatas Sunnah, mereka semua adalah orang-orang yang terpercaya dan orang-orang yang memegang amanah, maka dalan keadaan seperti ini, kita lihat pada dalilnya, oleh karena itu para ulama mengatakan :
«من عَلِمَ حُجَّة على من لم يَعْلَم»
«Orang yang mengetahui adalah hujjah atas orang yang tidak mengetahui»

-Apabila- Seorang ulama yang men-jarh berkata tentang si fulan dari kalangan manusia bahwasanya dia adalah mubtadi', jalannya menyimpang, dan -disertai dengan- mendatangkan dalil-dalil -bukti- dari kitab-kitab orang yang di-jarh tersebut, atau dari kaset-kaset rekamannya atau nukilan dari orang-orang yang terpercaya tentang orang tersebut, maka wajib bagi kita menerima perkataannya dan meninggalkan orang-orang yang men-ta'dil-nya yang menyelisihi ulama yang telah men-jarh-nya, karena mereka yang telah men-jarh orang tersebut, membawakan dalil-dalil -sebagai bukti- yang tersembunyi bagi ulama lain karena satu sebab dari berbagai sebab yang ada, atau orang yang men-ta'dil belum membaca dan belum mendengar dari ulama yang men-jarh, dia hanya membangun -ta'dilnya- berdasarkan pengetahuannya dahulu berkaitan dengan orang tersebut, bahwasanya orang tersebut dulunya di atas Sunnah. -Jika seperti itu keadaannya- maka orang yang di-jarh tersebut, yang telah tegak dalil atas jarh-nya berubah menjadi majruh -ter-jarh- dan hujjah bersama dengan orang-orang yang menegakkan dalil, dan wajib bagi yang mencari kebenaran untuk mengikuti dalil dan tidak mencari-cari jalan-jalan kecil ke kanan dan ke kiri, atau mengatakan "saya berdiri sendiri", karena -hal seperti- ini tidak pernah kita jumpai disisi As-Salaf, dan perkara-perkara ini -berupa penyimpangan- terdapat pada hal-hal yang tidak diperbolehkan ber-ijtihad didalamnya, dalam pokok-pokok aqidah dan pokok-pokok ibadah, maka menerima -pendapat- ulama yang telah menegakkan dalil adalah wajib tidak boleh tidak.

Adapun ulama sunniy yang menyelisihi para ulama yang men-jarh tadi, maka dia memiliki udzur, kedudukan dan kehormatannya tetap ada disisi kita, dan kita merasa tetap baginya insya Allah diatas kemuliaan sebagaimana dahulu, serta kedudukan yang mulia, hal ini bisa terjadi baginya, karena seorang Alim dari Ahlussunnah, salafy adalah manusia biasa, bisa lupa dan tidak ingat, bahkan bisa menjadi obyek penipuan dari orang-orang dekatnya yang buruk, atau dia terlanjur percaya terhadap orang yang ter-jarh tadi lalu dia-pun menipunya. Contoh penguat dalam kasus seperti ini sangat banyak, kebanyakan orang yang gugur dan orang-orang yang mereka pada hekekatnya adalah musuh sunnah dan musuh ahlussunnah, membawa beberapa sample dari kitab-kitabnya, mereka bacakan dihadapan ulama' yang mulia, yang dikenal dengan keutamaan dan imamah-nya dalam agama, namun orang yang main-main dan pembuat makar itu menyembunyikan dari sang alim, imam, yang tiada duanya dan benar-benar ahli dalam mengkritik ini baik atau buruk, -namun- orang yang main-main dan pembuat makar itu menyembunyikan apa yang sekiranya beliau -ulama' tadi- ketahui pasti orang ini jatuh darinya. Sang Alim ini tentu hanya memberi rekomendasi berdasarkan apa yang didengarnya, sehingga apabila kitabnya telah dicetak dan tersebar, berpindah dari tangan ke tangan, dan tersiar kepopulerannya, maka mereka akan mengatakan kepada orang yang membantahnya : telah diberi rekomendasi oleh si fulan, si fulan itu Al-Albaniy -Rahimahullan- atau Ibnu Baz -Rahimahullan- atau Ibnu Utsaimin -Rahimahullan- telah merekomendasi kitab ini.

Para ulama -yang disebutkan tersebut- Rahmatullahi alaihim memiliki udzur, dan mereka selamat dari pertanggung jawaban -insya Allah- di dunia dan di akhirat, hanya saja -masalahnya ada pada- si la'ab -orang yang suka bermain ini telah menyembunyikan dan menyamarkan -keadaannya- terhadap ulama tersebut. Jadi jika seperti itu keadaannya apalagi yang tersisa..??? kita tegakkan atas si pemalsu - Mulabbis (الملبِّس) yang suka bermain - La'aab (اللعاب), penipu - Dassaas (الدساس) lagi pembuat makar - Maakir (الماكر) ditegakkan bukti-bukti yang nyata atas penyimpangan-nya dari kitab-kitabnya sendiri, maka siapa saja yang membantah kita terkait dengan orang tersebut, kita katakan "ambil" ini pendapat orang tersebut, apakah Anda menyangka bahwa dia memaparkan pendapatnya ini sesuai dengan gambaran yang sebenarnya ini kepada orang-orang yang telah kita sebutkan tadi dari para ulama dan orang-orang yang se-manhaj lalu akhirnya mereka mengakui -kebenaran pendapat-nya itu? Jawabannya "tentu tidak", jika seperti itu -keadaannya- maka wajib bagi Anda untuk menjadi orang yang adil, lepas dari rasa simpati yang berlebihan dan dari hawa nafsu yang membutakan, dan wajib bagi Anda untuk menjadikan pencarian-mu hanyalah kebenaran. Na'am...

Sumber : الجابري : الموقف الصحيح من اختلاف العلماء في الجرح والتعديل
بسم الله الرحمن الرحيم

Hukum Makmum Mendapati Imam Sementara Rukuk

Hukum Makmum Mendapati Imam Sementara RukukDari Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz kepada Saudara yang Mulia "M.I.S", semoga Allah senantiasa memberikan taufiq kepada-ku dan kepada-nya di dalam memahami Assunnah dan Al-Qur'an, Amien.

سلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Tulisan -surat-mu yang mulia telah sampai dan beberapa permasalahan yang terkandung didalamnya telah diketahui, berikut ini teks pertanyaan beserta jawabannya :[1]

Apa pendapat anda berkaitan dengan seseorang yang mendapati imam dalam keadaan rukuk lalu masuk -melaksanakan sholat- bersama imam pada posisi rukuk, apakah hal tersebut terhitung satu raka'at atau tidak?

Para Ulama Rahimahumullah sungguh telah berbeda dalam masalah ini diatas dua pendapat :

Pendapat Pertama :
-Hal itu- tidak terhitung satu raka'at; karena membaca Al-Fatihah adalah fardhu, sementara makmum tadi tidak melakukannya. Pendapat ini diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiallohu 'anhu, -pendapat ini juga- dipandang kuat oleh Al Imam Al Bukhari dalam kitabnya "Juz Al Qiro'ah", beliau menyebutkan -pendapat ini- dari setiap ulama yang memandang wajibnya makmum membaca Al Fatihah, demikian disebutkan dalam kitab "Aun Al Ma'bud". Pendapat ini juga disebutkan dari Ibnu Khuzaimah dan banyak -jama'ah- dari ulama Syafi'iyah, serta dipandang kuat oleh Al Imam Asy-Syaukaniy dalam kitabnya " An-Nayl" dan beliau memaparkan panjang lebar dalil-dalilnya.

Pendapat Kedua :
-Hal itu- terhitung satu raka'at; Al Hafidz Ibnu Abdil Bar menyebutkan pendapat ini dari Ali, Ibnu Mas'ud, Zaid bin Tsabit, dan Ibnu Umar Radhiallohu Ta'ala Anhum, beliau juga menyebutkan pendapat ini dari mayoritas ulama', diantaranya adalah Imam Empat, Al Auza'i, Ats-Tsauriy, Ishaq dan Abu Tsaur. Al Imam Asy-Syaukaniy juga memandang kuatnya pendapat ini dalam satu risalah tersendiri yang dinukil oleh penyusun kitab "Aun Al Ma'bud".

Menurut saya pendapat kedua ini merupakan pendapat yang lebih kuat; berdasarkan hadits Abu Bakrah yang terdapat dalam Shohih Al Bukhariy, -dimana- Nabi Shollallahu 'alaihi wasallam tidak memerintahkannya untuk mengganti raka'at yang ketinggalan, sekiranya -mengganti raka'at yang ketinggalan- itu merupakan kewajiban, tentu Nabi akan memerintahkannya; karena tidak boleh menunda penjelasan pada waktu penjelasan itu sudah dibutuhkan.

Sabda Nabi dalam hadits tersebut :
((زادك الله حرصاً ولا تعد))
((Semoga Allah menambahkan semangatmu dan jangan kamu ulangi lagi))[2]

Maksudnya adalah jangan ulangi lagi perbuatanmu "langsung rukuk sebelum masuk di dalam shof"; karena seorang muslim diperintahkan untuk masuk bersama imam dalam menegakkan sholat pada keadaan -gerakan- apapun yang dia dapati imam lakukan. Diantara dalil yang juga digunakan oleh jumhur ulama' atas pendapat ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud, Ibnu Khuzaimah, Ad Daraqutniy dan Al Bayhaqiy Rahimahumullah dari Abu Hurairah Radiallohu 'anhu "secara Marfu'" :
((إذا جئتم إلى الصلاة ونحن سجود فاسجدوا ولا تعدوها شيئاً ومن أدرك الركعة فقد أدرك الصلاة))
((Jika kalian mendatangi shalat dan kami sedang sujud, maka sujudlah, namun hal itu janganlah dihitung. Barang siapa mendapati rukuk -dalam satu raka'at- maka sungguh dia telah mendapati -satu raka'at- shalat))[3]

Dalam lafadz yang lain dari Ibnu Khuzaimah, Ad-Daraqutniy dan Al Bayhaqiy Rahimahumullah :
((ومن أدرك ركعة من الصلاة فقد أدركها قبل أن يقيم الإمام صلبه))
((Barang siapa mendapati rukuk -dalam satu raka'at- dari sholat maka sungguh dia telah mendapati -satu raka'at- shalat tersebut, sebelum imam meluruskan tulang sulbinya -punggungnya-))[4]

Hadits ini merupakan nash yang tegas dan jelas lagi gamblang pendalilannya mendukung pendapat jumhur ulama' ditinjau dari beberapa sisi :

Sisi Pertama :
Sabda Nabi Shollallahu 'alaihi wasallam berkaitan dengan sujud:
((ولا تعدوها شيئاً))
((namun -sujud- itu janganlah dihitung))

Sesungguhnya dapat dipahami dari -potongan hadits tersebut diatas- bahwa barang siapa yang mendapati -imam- rukuk maka dia menghitungnya -satu raka'at.

Sisi Kedua :
Sesungguhnya lafadz (ركعة) raka'at jika disebutkan bersama dengan lafdz (سجود) sujud, maka yang dimaksud adalah (ركوع) rukuk, sebagaimana datang lafadz seperti itu dalam banyak hadits, diantaranya hadits Al Barro' :
رمقت الصلاة مع محمد صلى الله عليه وسلم، فوجدت قيامه فركعته فاعتداله بعد ركوعه فسجدته...
Saya perhatikan sholat bersama Muhammad Shollallahu 'alaihi wasallam, maka saya dapati berdirinya, rukuknya (فركعته), i'tidalnya setelah rukuk, sujudnya...
Diantara hadits yang menyebutkan kata (ركعة) raka'at dengan maksud rukuk (ركوع) adalah hadits-hadits tentang sholat gerhana, dan perkataan shohabat di dalam hadits-hadits tersebut :
صلى النبي صلى الله عليه وسلم أربع ركعات في أربع سجدات
Nabi Shollallahu 'alaihi wasallam sholat -gerhana- empat raka'at dalam empat kali sujud

Maksud mereka -dengan empat raka'at- adalah empat kali rukuk.

Sisi Ketiga :
Sabda Nabi Shollallahu 'alaihi wasallam dalam riwayat Ibnu Khuzaimah, Addaraquthniy dan Al-Baihaqiy :
((قبل أن يقيم الإمام صلبه))
((sebelum imam meluruskan tulang sulbinya -punggungnya-))

-Potongan hadits diatas- merupakan nash yang jelas menunjukkan bahwa yang beliau Shollallahu 'alaihi wasallam maksud dengan raka'at (ركعة) adalah rukuk (ركوع).

Hadits Abu Hurairah Radiallohu 'anhu yang disebutkan diatas, datang dari dua jalur periwayatan yang saling menguatkan satu sama lain. Hadits yang semisal dengannya bisa menjadi hujjah sebagaimana yang telah ditetapkan dalam ilmu mustholah hadits. Hadits ini juga menjadi kuat dengan amalan dari para shohabat terhadap kandungannya. Al Imam An-Nawawiy Rahimahullah berkata dalam Syarah Al Muhadz-dzab hal. 215 Jilid ke-4 setelah memberikan beberapa penjelasan, berikut ini redaksi perkataan beliau :
(وهذا الذي ذكرناه في إدراك الركعة بإدراك الركوع هو الصواب الذي نص عليه الشافعي، وقاله جماهير الأصحاب وجماهير العلماء، وتظاهرت به الأحاديث وأطبق عليه الناس، وفيه وجهٌ ضعيف مزيف أنه لا يدرك الركعة، حكاه صاحب التتمة عن إمام الأئمة محمد بن إسحاق بن خزيمة من أكبر أصحابنا الفقهاء المحدثين، وحكاه الرافعي عنه وعن أبي بكر الصبغي من أصحابنا، وقال صاحب التتمة: هذا ليس بصحيح؛ لأن أهل الأعصار اتفقوا على الإدراك به، فخلاف من بعدهم لا يعتد به)
Dan yang kami sebutkan ini tentang "didapatkannya satu raka'at dengan didapatkannya rukuk" merupakan pendapat yang benar, yang ditegaskan oleh Asy-Syafi'i Rahimahullah, dan juga pendapat jumhur -mayoritas- shohabat dan jumhur ulama' rahimahumullah. Hadits-Hadits yang berkaitan dengan hal ini saling menguatkan serta telah dipraktekkan oleh kaum muslimin, dalam -masalah- ini ada satu sisi pendapat yang lemah dan tidak sesuai hakekat bahwasanya "tidak didapatkan satu raka'at", pendapat ini disebutkan oleh penyusun kitab "At Tatimmah" dari Imamnya para Imam Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah termasuk pembesar dari kalangan shahabat kami -madzhab syfi'i- fuqoha' -ahli fiqh- lagi muhadditsin. Ar-Rofi'i juga menyebutkan pendapat tersebut dari beliau dan dari Abu Bakar Ash-Shibgiy dari kalangan shahabat kami -madzhab syfi'i-. Penyusun kitab "At Tatimmah" berkata : -Pendapat- ini tidak benar; karena -ulama- dari berbagai zaman telah sepakat atas didapatkannya satu raka'at dengan mendapatkan rukuk, maka penyelisihan orang yang datang setelahnya tidaklah dianggap.

Ibnu Hajar Rahimahullah sungguh telah menyebutkan dalam kitab "At-Talkhish" dari Ibnu Khuzaimah riwayat yang menunjukkan atas kesepakatannya terhadap pendapat jumhur ulama' bahwasanya satu raka'at itu bisa didapatkan dengan mendapati rukuk.
والله أعلم
________

[1]Jawaban berasal dari Asy-Syaikh pada tanggal 10/6/1365 H
[2]HR. Bukhariy, Kitab Al Adzan, Bab Apabila Seseorang Rukuk Sebelum Masuk Shof, No. 783
[3]HR. Abu Daud, Kitab Ash-Sholah, Bab Tentang Seseorang yang Mendapati Imam Sementara Sujud, Apa yang Dia Lakukan, No. 893
[4]HR. Ibnu Khuzaimah dalam Kitab Shohihnya Juz 3, Bab Penyebutan Waktu yang Terjadi Padanya Seorang Makmum Mendapatkan Satu Raka'at Jika Imamnya Rukuk, No. 1595
__________________

Sumber : حكم من أدرك الإمام وهو راكع
_____________________________

Faidah :
بسم الله الرحمن الرحيم

Al-Quran On-Line

Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur`an dan mengajarkannya.Saudara kita yang tidak ingin disebutkan namanya dalam artikel ini, yang ber-profesi sebagai programmer, telah mendevelop sebuah web aplikasi http://tartil.me. Web yang dikembangkannya ini berisi tentang Al-Quran On-Line dengan terjemahan perkata dan berbagai fitur lainnya.

Tujuan dari pengembangan web aplikasi ini adalah untuk ikut ambil bagian dalam dakwah dengan tidak mengkomersilkan web tersebut. Semoga web aplikasi-nya ini bisa tersebar sehingga semakin banyak orang yang tahu, dan bisa bermanfaat untuk Dakwah Islamiyah.

Fitur - fitur yang telah ada atau akan ada*) di http://tartil.me Insya Allah adalah :

Fitur standar :
  1. Text alquran
  2. Terjemah dalam Bahasa Indonesia
    • Hover mouse pada ayat tertentu (on mouseover di check)
    • Terjemah per ayat (per Ayat di check)
    • Terjemah per kata (Per Kata di check)
  3. Quote of the day
  4. Recitation
    • Autoplay ayat selanjutnya ((autoplay di check))
    • Bisa memilih reciter sendiri
    • Repeat per ayat
    • Repeat setiap beberapa ayat
  5. Terintegrasi dengan Facebook dan Twitter

Fitur member :
  1. Include fitur standar
  2. Register member (Gratis/Free)
  3. Login
  4. Bookmark ayat
  5. Khatam Alquran
    • Membantu program khatam Al-Quran dalam satu minggu atau satu bulan atau n hari
  6. Hafalan Alquran
    • Pengulangan hafalan+reciter untuk n kali
    • Soal n jawaban pilihan ganda
    • Pencatatan yang sudah dihafal
  7. Download Al-Quran
    • Membuat aplikasi ini dijalankan offline di komputer member
  8. Print
    • Mencetak halaman Al-Quran (+terjemahan)

Semoga pengembang diberikan taufiq dan hidayah agar selalu konsisten mendevelop http://tartil.me, Amin Ya Robbal Alamin...
_________

*) Warna merah sedang di-develop
بسم الله الرحمن الرحيم

Masbuq; Duduk Tawarruk Mengikuti Imam atau Iftirasy..???

Fatwa Syaikh Abdullah bin Abdul Aziz Al ‘Aqil
السؤال: ما تقولون -أثابكم الله- في المأموم إذا دخل مع الإمام في صلاة المغرب، وقد سبقه الإمام بركعة، فهل إذا جلس الإمام للتشهد الأخير متوركا، يتابعه المأموم ويتورك معه أم يجلس مفترشا؛ لأن هذا التشهد يعتبر هو التشهد الأول بالنسبة للمأموم؟
Soal:
Bagaimana pendapat anda sekalian –semoga Allah memberikan ganjaran kepada anda sekalian-, tentang seorang ma'mum apabila ikut shalat maghrib bersama imam, dimana ia telah tertinggal satu raka’at. Apakah jika imam duduk tawarruk pada tasyahud akhir, ma'mum mengikuti imam dengan duduk tawarruk, ataukah duduk iftirasy? karena duduk tasyahud akhirnya imam ini adalah tasyahud awal bagi ma'mum.

الإجابة: الذي نص عليه فقهاؤنا رحمهم الله أن المأموم إذا دخل مع الإمام في صلاة رباعية، أو ثلاثية، وقد سبقه الإمام ببعض الصلاة، ثم جلس معه للتشهد الأخير أنه يتورك معه ولا يفترش؛ وذلك متابعة منه للإمام، لمراعاة عدم الاختلاف عليه، ولحديث: "إنما جعل الإمام ليؤتم به، فلا تختلفوا عليه"
Jawab (Fatwa Asy-Syaikh Abdullah bin Abdul Aziz Al ‘Aqil):
Yang ditegaskan oleh para ulama fikih kita -Rahimahumullah-, bahwasanya seorang ma'mum apabila ikut bersama imam mendirikan sholat yang jumlah raka’atnya empat atau tiga raka'at, dimana imam telah mendahuluinya beberapa raka’at, kemudian duduk tasyahud akhir mengikuti imam, maka ma'mum tersebut duduk tawarruk mengikuti imam, bukan iftirasy. Hal itu merupakan bentuk "mengikuti imam" yang dilakukan ma'mum tadi, untuk menjaga agar tidak terjadi penyelisihan terhadap imam, berdasarkan hadits,

"إنما جعل الإمام ليؤتم به، فلا تختلفوا عليه"

“Sesungguhnya Imam itu diangkat untuk di-ikuti, maka janganlah kalian menyelisihinya”[1]

قال في (الإقناع) وشرحه (كشاف القناع): ويتورك المسبوق مع إمامه في موضع توركه؛ لأنه آخر صلاته، وإن لم يعتد به، كما يتورك المسبوق فيما يقضيه للتشهد الثاني. فعلى هذا، لو أدرك ركعتين من رباعية، جلس مع الإمام متوركا؛ متابعة له في التشهد الأول، وجلس بعد قضاء الركعتين أيضا متوركا؛ لأنه يعقبه سلامه. انتهى.
Disebutkan dalam Al-Iqna’ dan syarahnya Kasyful Qina’: “Ma'mum yang masbuq duduk tawarruk bersama imam ketika imam tawarruk; Karena -bagi imam- itu merupakan akhir dari shalat, walaupun -bagi si ma'mum- tidak dianggap sebagai akhir shalat, sebagaimana ma'mum yang masbuq tersebut juga duduk tawarruk pada saat menyelesaikan tasyahud kedua. Maka berdasarkan hal ini, seandainya ma'mum mendapatkan dua raka’at dari ruba’iyyah (shalat yang jumlahnya empat raka’at), maka dia duduk bersama imam dalam keadaan tawarruk, dalam rangka mengikuti imam, pada saat tasyahud awal -bagi ma'mum-. Kemudian duduk tawarruk lagi setelah menyelesaikan sisa dua raka’at lainnya, karena itu merupakan duduk tasyahud yang diakhiri salam”.

وقال في (المنتهى) و(شرحه): ويتورك مسبوق معه في تشهد أخير من رباعية ومغرب تبعا له. انتهى.
Disebutkan dalam Al-Muntaha dan syarahnya[2]: “Seorang ma'mum yang masbuk duduk tawarruk bersama imam pada saat tasyahud akhir ketika mendirikan shalat yang empat raka'at dan shalat maghrib, dalam rangka mengikuti imam”.

وقال في (مطالب أولي النهى في شرح غاية المنتهى): ويتورك المسبوق فيه -أي في تشهده الذي أدركه مع إمامه-؛ لأنه آخر صلاته، وإن لم يعتد به، كما يتورك للتشهد الثاني فيما يقضيه، فلو أدرك ركعتين من رباعية، جلس مع الإمام متوركا للتشهد الأول؛ متابعه له، وجلس بعد قضاء الركعتين أيضا متوركا؛ لأنه يعقبه سلامه. انتهى، والله أعلم.
Disebutkan dalam Mathalib Ulin Nuhaa fi Syarhi Ghayatil Muntaha: “Seorang ma'mum yang masbuk duduk tawarruk bersama imam dalam duduk tasyahud yang ia dapatkan bersama imam disebabkan karena itu akhir shalat bagi si imam, walaupun bukan bagi si ma'mum. Sebagaimana ia juga duduk tawarruk pada tasyahud kedua pada saat menyelesaikan rakaat sisanya. Oleh karena itu, seandainya ma'mum mendapatkan dua raka’at dari ruba’iyyah (shalat yang jumlahnya empat raka’at), maka dia duduk bersama imam dalam keadaan tawarruk, pada saat tasyahud awal -bagi ma'mum- dalam rangka mengikuti imam. Kemudian duduk tawarruk lagi setelah menyelesaikan sisa dua raka’at lainnya, karena itu duduk tasyahud yang diakhiri salam”. Wallahu A’lam.

_______

[1]Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (722), dengan lafazh hadits Abu Hurairah (414) tanpa kata “diangkat”
[2](1/248)
_______________

Sumber :
بسم الله الرحمن الرحيم

Adab Sopan Santun bagi Penuntut Ilmu [5]

Siapa yang tak pernah salah…?
MAAFKAN BILA DIA TAK SEMPURNA
Menghormati Ulama' tanpa Mengkultuskan, dan Mengikutinya tanpa Taqlid Buta
Wajib bagi para penuntut ilmu untuk menghormati para ulama dan menghargai mereka, serta berlapang dada terhadap perbedaan pendapat yang terjadi diantara ulama' dan selain mereka. Para penuntut ilmu hendaknya menerima hal tersebut dengan memberikan udzur kepada orang yang keliru dalam menempuh satu jalan menurut keyakinannya. Ini merupakan poin yang sangat penting, karena sebagian orang, ada yang suka mencari-cari kesalahan orang lain, untuk dijadikan sebagai -celaan- sesuatu yang hakekatnya tidak layak disandarkan bagi mereka, lalu membuat kekacauan dengan merusak reputasi mereka di tengah-tengah manusia. Ini merupakan kesalahan besar, apabila ghibah terhadap orang awam dari kalangan manusia biasa, termasuk dosa besar, maka sesungguhnya ghibah terhadap orang alim merupakan dosa besar yang sangat besar, karena ghibah terhadap orang alim, dampak negatifnya tidak hanya terbatas menimpa pribadi orang alim itu saja akan tetapi mudhorotnya menimpa yang bersangkutan serta ilmu syar'i yang dipikulnya.[1]

Berkata Amirul Mu'minin Ali bin Abi Tholib Radhiallohu 'anhu :
(من حقّ العالم عليك إذا أتيته أن تسلِّم عليه خاصَّة، وعلى القوم عامّة، وتجلس قُدَّامه، ولا تشِر بيديك، ولا تغمِز بعينَيك، ولا تقُل: قال فلان خلافَ قولك، ولا تأخذ بثوبِه، ولا تُلحَّ عليه في السؤال، فإنّه بمنزلة النخلة المُرطبة التي لا يزال يسقط عليك منها شيء)
diantara Hak seorang Alim yang wajib engkau tunaikan adalah apabila engkau mendatanginya hendaknya mengucapkan salam kepadanya secara khusus, kemudian kepada orang-orang secara umum, duduklah dihadapannya, jangan menunjuk memberi isyarat dengan kedua tanganmu, jangan pula memberi isyarat dengan kedua matamu, jangan pernah mengatakan : Si Fulan mengatakan sesuatu yang berbeda dengan pendapatmu; jangan pegang bajunya, jangan pula mendesaknya dalam mengajukan pertanyaan; karena sesungguhnya dia memiliki kedudukan sama seperti pohon kurma yang buahnya sudah matang, yang terus menerus jatuh darinya sesuatu untukmu.[2]

Lapang Dada dalam Masalah-Masalah Khilaf
Hendaknya seorang penuntut ilmu lapang dada dalam medan perbedaan pendapat yang bersumber dari sebuah ijtihad, karena masalah-masalah khilaf yang terjadi diantara para ulama', adakalanya terjadi dari perkara-perkara yang sebenarnya tidak ada ruang bagi ijtihad di dalam masalah tersebut, dan juga adakalanya terjadi dari perkara-perkara yang memang ada ruang untuk ijtihad di dalam masalah tersebut, maka untuk yang seperti ini, orang yang berbeda pendapat dalam masalah tersebut masih diberikan udzur -toleransi-.[3]

Beradab terhadap Guru
-Telah kita ketahui bersama- bahwa ilmu itu tidaklah diambil pertama kali dari buku, akan tetapi harus dari bimbingan seorang guru, yang anda peroleh dengan sempurna darinya kunci-kunci dalam menuntut ilmu, agar anda aman dari ketergelinciran, oleh karena itu wajib bagi anda untuk ber-adab ketika bersamanya, karena hal tersebut merupakan alamat kemenangan dan kelulusan serta alamat keberhasilan dan Kesuksesan. Maka hendaknya guru-mu menjadi tempat curahan penghormatan darimu, pemuliaan, penghargaan dan kelemahlembutan, ambillah dan terapkan seluruh adab sopan santun bersama guru; ketika engkau duduk bersamanya, ketika berbicara kepadanya, ketika mengajukan pertanyaan yang baik dan bermanfaat, ketika duduk mendengar, perbaikilah adab dalam membuka lembaran-lembaran buku ketika berada dihadapannya, jauhi sikap congkak dan suka berdebat dihadapannya, -dan hendaknya- tidak mendahuluinya ketika berbicara atau ketika berjalan, -dan hendaknya tidak- banyak bicara disisinya, atau turut nimbrung dalam obrolannya atau di dalam pelajarannya dengan komentar darimu, -dan hendaknya tidak- terus mendesaknya untuk memberikan suatu jawaban. Jauhi banyak bertanya terlebih jika dihadapan orang banyak, karena hal seperti itu akan membuatmu menjadi sosok yang bangga -tertipu- dengan diri sendiri dan membuat guru-mu menjadi jenuh. Hendaknya engkau tidak memanggilnya dengan hanya menyebut namanya saja, atau bersama dengan gelarnya, akan tetapi panggillah dengan mengatakan : wahai guru-ku, atau wahai guru kami.

Apabila nampak padamu kekeliruan dari seorang guru, atau suatu kesalahan, maka jangan dengan adanya hal tersebut gurumu jatuh dari matamu, karena itu bisa menjadi sebab, anda akan terhalangi dari mendapatkan ilmu yang ada padanya. Siapa disana orang yang terlepas dan selamat dari kesalahan..!?!?!?[4]

Mengulang dan Menghafal Pelajaran Serta Mencatat Setiap Faidah yang Diperoleh
Dalam satu bait sya'ir dikatakan :
إحياء العلم مذاكرته ** فأدم للعلم مذاكرته
Menghidupkan ilmu itu dengan mudzakaroh -mengulang-ulang dan menghafalnya-
Maka teruslah mudzakarah terhadap ilmu tersebut


Sesungguhnya para ulama salaf kita terdahulu yang sholeh, saling berwasiat agar senantiasa mengulang dan menghafal pelajaran -mudzakarah-, berkata salah seorang diantara mereka : Mengulang dan menghafal pelajaran -mudzakarah- di malam hari lebih saya senangi dibandingkan dengan menghidupkan malam. Maksudnya : Duduk-ku di malam hari, mengingat-ingat ilmu dan mengingat-ingat apa yang telah saya hafal, hal itu lebih saya senangi dibandingkan dengan menghidupkan malam dengan qiro'ah, tahajjud, sholat, ruku' dan sujud.

Seyogyanya bagi seorang penuntut ilmu, setiap kali mendapatkan suatu faidah agar mengokohkan faidah tersebut pada dirinya, dengan cara mencatatnya di buku catatan atau di secarik kertas lalu membacanya ber-ulang-ulang sampai dia bisa menghafalnya. Para Ulama mengatakan :
" إن ما حفظ فر وما كتب قر "
Sesungguhnya apa saja yang dihafal pasti akan lari -menghilang- dan apa saja yang dicatat pasti akan tetap -kokoh-

Maksudnya adalah : apa saja yang anda catat pasti akan anda dapatkan nanti dikesempatan berikutnya. Para ulama juga menyerupakan ilmu itu dengan binatang buruan, sebagian mereka mengatakan :
العلم صيد والكتابة قيده ** فاحفظ لصيدك قيده أن يفلت
ilmu itu binatang buruan dan mencatat itu adalah pengikatnya
maka jaga pengikat binatang buruanmu jangan sampai lepas


Dakwah di Jalan Allah Ta'ala dan Bersungguh-Sungguh dalam Menyebarkan Ilmu
Ilmu syar'i ini diberikan tugas di dalam dakwah kepada Allah Ta'ala sebagai hidayah petunjuk dan bashirah, Allah Ta'ala berfirman :
{قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ} [يوسف: 108]
Katakanlah: "Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik". [Yusuf (12):108]

Oleh karena itu para da'i -juru dakwah- harus sibuk dalam setiap kesempatan, berdakwah kepada Allah ta'ala di pelbagai medan, baik di masjid, sekolah, pondok pesantren, pasar, dan di hari-hari raya serta di setiap waktu dan tempat yang tepat. Rasulullah Shollallahu 'alaihi wasallam sungguh telah memberikan dorongan untuk menyebarkan ilmu dan memberikan motivasi kepada kita di dalam menyebarkan ilmu, -berdasarkan riwayat- dari Anas bin Malik Radhiallohu 'anhu beliau berkata : Rasulullah Shollallahu 'alaihi wasallam bersabda :
"نَضَّرَ اللَّهُ عَبْدًا سَمِعَ مَقَالَتِي فَوَعَاهَا، ثُمَّ بَلَّغَهَا عَنِّي فَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ غَيْرِ فَقِيهٍ، وَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ إِلَى مَنْ هُوَ أَفْقَهُ مِنْهُ"
Semoga Allah menjadikan bercahaya dan berseri-seri seorang hamba yang mendengar hadits-ku lalu menjaganya -dengan hafalan dan catatan-, kemudian menyampaikan hadits tersebut dari-ku, maka betapa banyak orang yang membawa ilmu, orang yang tidak faqih dan betapa banyak orang yang membawa ilmu kepada orang yang lebih faqih dari dirinya, -akan tetapi dia mendapatkan pahala karena manfaat dari ilmu yang dibawanya- [HR. Ibnu Majah][5]

_______

[1]Kitab Al 'Ilmi karya Asy-Syaikh Muhammad bin Utsaimin [Hal. 41]
[2]Kitab Al 'Ilmi karya Asy-Syaikh Muhammad bin Utsaimin [Hal. 28]
[3]Lihat : Jami' Bayan Al 'Ilmi wa Fadhlih [1/580] no. 992 dan Al Jami' li Akhlaaq Arrowiy wa Aadaab Assaami' karya Al Khotib [1/199]
[4]Lihat : Hilyah Tholib Al 'Ilmi karya Asy-Syaikh Bakr Abu Zaid
[5]Sunan Ibnu Majah no. 236

_____________

Sumber : آداب طالب العلم
بسم الله الرحمن الرحيم

Adab Sopan Santun bagi Penuntut Ilmu [4]

Obat Penyakit Futur
Foto : Mari Belajar Agama Islam
Tidak Pantas Rasa Malu yang ada pada Seorang Penuntut Ilmu, Mencegahnya untuk Bertanya

Oleh karena itu sebagian Ulama' Salaf berkata :
" لا يتعلم العلم مستحٍ ولا مستكبر "
"Tidak akan pernah mendapatkan ilmu, orang yang pemalu dan tidak pula orang yang sombong"

Sifat sombong yang ada pada dirinya, membawanya untuk ta'ajub, kagum pada dirinya sendiri, dan tetap diatas kejahilannya. Demikian pula sifat malu membawanya untuk tidak menuntut ilmu atau tidak mengambil faedah dari orang-orang yang memiliki ilmu, sehingga tetap berada diatas kejahilannya.

Al-Imam Muslim meriwayatkan dalam kitab shohihnya, dari Zainab binti Abu Salamah, dari Ummu Salamah, beliau berkata :
جاءت أم سليم إلى النبي صلى الله عليه وسلم فقالت: يا رسول الله صلى الله عليه وسلم! إن الله لا يستحي من الحق فهل على المرأة من غسل إذا احتلمت؟ فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: " نعم، إذا رأت الماء" فقالت أم سلمة: يا رسول الله! وتحتلم المرأة؟ فقال: "تربت يداك. فبم يشبهها ولدها ".
Ummu Sulaim pernah datang kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, lalu bertanya, “Wahai Rosulullah, sesungguhnya Allah tidak malu dari kebenaran, maka apakah bagi wanita itu ada kewajiban mandi apabila ia bermimpi?”. Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam menjawab, “Ya, apabila ia melihat air (mani)”. Berkata Ummu Salamah, “Wahai Rosulullah, apakah wanita itu bermimpi?”. Beliau menjawab, “Mudah-mudahan kedua tanganmu penuh berkah, maka dengan apakah anaknya menyerupai ibunya?”.

Perhatikan ini! Ibnu Abbas Rodhiallohu 'anhuma, dengan semangatnya untuk mulazamah -senantiasa belajar- bersama Nabi Shollallahu 'alaihi wasallam, sebelum beliau wafat, serta do'a Nabi Shollallahu 'alaihi wasallam untuknya, dia tetap bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu dari fuqoha' ~orang-orang~ dikalangan Sahabat setelah wafatnya Nabi Shollallahu 'alaihi wasallam. -Berdasarkan riwayat- dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas Rodhiallohu 'anhuma, beliau berkata :
" لما قبض رسول الله صلى الله عليه وسلم قلت لرجل من الأنصار: هلم فلنسأل أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم فإنهم اليوم كثير قال: فقال: واعجبا لك أترى الناس يفتقرون إليك؟ قال: فترك ذلك وأقبلت أسأل، فإن كان ليبلغني الحديث عن رجل فآتي بابه وهو قائل فأتوسد ردائي على بابه تسفي الريح علي من التراب فيخرج فيراني فيقول: يا ابن عم رسول الله ما جاء بك هلا أرسلت إلي فآتيك ؟ فأقول: لا أنا أحق أن آتيك فأسأله عن الحديث فعاش الرجل الأنصاري حتى رآني وقد اجتمع الناس حولي ليسألوني فقال: هذا الفتى كان أعقل مني "
Ketika Rasulullah Shollallahu 'alaihi wasallam telah wafat, saya berkata kepada salah seorang dari kaum Anshor : Kemarilah, mari kita bertanya kepada para sahabat Nabi sallallahu 'alaihi wasallam, jumlah mereka sekarang banyak.
Ibnu Abbas berkata, lalu orang tadi berkata: 'Aneh sekali kamu ini, Tidakkah kamu tahu bahwa justru merekalah yg membutuhkan kamu. Ibnu Abbas berkata : Maka orang tersebut membiarkan panggilanku, sementara saya selalu bertanya dan bertanya. Jika saya memperoleh informasi bahwa ada suatu hadits pada seseorang, maka segera saya datangi pintu rumahnya. Kata Ibnu'Abbas : '-Suatu saat- pernah saya menjadikan selendangku untuk bantal di depan pintu rumahnya, angin berhembus sampai debu mengenai wajahku, kemudian ia keluar dan melihatku' , lalu berkata:
'Wahai Anak Paman Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, apa yg membuatmu datang (kesini)?
Mengapa tidak kamu utus seseorang lalu saya yang menemuimu?', saya menjawab: 'Tidak, saya lebih layak untuk menemuimu lalu saya menanyakannya tentang suatu hadits. 'Orang Anshor -yang pernah saya ajak- tersebut masih hidup hingga ia melihatku dalam keadaan orang banyak berkumpul disekitarku untuk bertanya -menggali ilmu-', maka orang tersebut berkata:
'Pemuda ini memang lebih cerdas dibandingkan saya'.
[1]

Tawadhu' -Rendah Hati-, dan Sakinah -Ketenangan- serta Membuang Jauh-Jauh Kesombongan dan Kecongkakan serta Arogansi

Umar bin Khottob Radhiallohu 'anhu berkata :
تعلّموا العلم، وتعلّموا له السكينةَ والوقار، وتواضعوا لمن تعلّمون، وليتواضع لكم من تعلِّمون، ولا تكونوا جبابرة العلماء، ولا يقوم علمكم مع جهلكم
"Tuntutlah ilmu, pelajarilah -bahwa- bagi ilmu itu ada ketenangan dan harga diri, rendah dirilah kepada orang yang mengajarimu maka akan merendah diri pula kepadamu orang-orang yang kalian ajari, janganlah kalian menjadi ulama yang otoriter, tidak akan kokoh ilmu kalian bersama dengan kejahilan kalian"[2]

Imam Malik menulis kepada Ar-Rasyid :
"إذا علمت علماً فليُرَ عليك أثره وسكينته وسمته ووقاره وحلمه"
"Apabila engkau telah mengetahui suatu ilmu, maka hendaknya terlihat padamu : pengaruhnya, ketenangan karenanya, keindahannya dan kehormatannya serta kemurahan hati -yang dilahirkannya-"[3]

Al Imam Asy-Syafi'i berkata :
"لا يطلب أحد هذا العلم بالملك وعز النفس فيفلح، ولكن من طلبه بذلّ النفس وضيق العَيش وخدمة العلماء أفلح"
"Tidaklah seseorang menuntut ilmu agama ini dengan kekuasaan dan kedudukan dirinya lalu berhasil -mendapatkannya-, akan tetapi barangsiapa yang mencarinya dengan merendahkan diri dan kesempitan hidup serta menjadi pelayan ulama maka dia akan berhasil -mendapatkan apa yang dia cari-"[4]

Semangat dalam Menuntut Ilmu

Hendaknya engkau memiliki cita-cita yang tinggi dalam menuntut ilmu; jangan merasa cukup dengan ilmu yang sedikit padahal masih sangat mungkin untuk menambah dan memperbanyaknya, jangan merasa puas dari warisan para Nabi -Sholawatullahi alaihim- meski karena telah mendapatkannya sedikit, jangan condong pada sifat malas, lamban dan menunda-nunda, jadikanlah panutanmu para ulama yang aktif, yang senantiasa bersungguh-sungguh dan berlomba-lomba dalam medan ilmu ini. jangan menunda mendapatkan faidah yang mungkin bagimu mendapatkannya, jangan sampai angan-angan yang panjang dan sifat suka menunda-nunda menyibukkanmu dari mendapatkan faidah tersebut, karena sesungguhnya sifat menunda-nunda itu punya hal-hal yang bisa merusak, dan juga apabila engkau telah berhasil mendapatkan faidah ilmu tersebut sekarang, maka bisa jadi lain lagi faidah yang ada -yang bisa didapatkan- di kesempatan berikutnya.

Manfaatkan sebaik-baiknya waktu luang dan semangatmu selagi ada, serta masa sehatmu, selagi masih muda dan otak masih mudah mencerna serta kesibukan masih sangat sedikit. Sebelum datangnya hal-hal yang membuatmu tidak mampu beraktifitas atau karena banyaknya penghalang yang harus diurus dan diselesaikan.

Seyogyanya bagi anda "wahai-penuntut ilmu" untuk memberi perhatian terhadap pengumpulan kitab-kitab yang dibutuhkan sesuai kemanpuanmu, karena kitab-kitab tersebut merupakan sarana dalam mendapatkan ilmu, namun jangan jadikan pengumpulan kitab dan banyaknya kitab (tapi tanpa mengambil faidahnya) sebagai tanda kesuksesanmu dalam menuntut ilmu, dan jangan jadikan pula pengumpulan kitab tersebut sebagai tanda dalamnya pemahamanmu, akan tetapi wajib bagimu untuk mengambil faidah dari kitab-kitab tersebut sesuai dengan kemampuanmu.

Ibnu Jama'ah Al Kinaniy berkata :
"الذي ينبغي لطالب العلم أن لا يخالط إلا من يفيده أو يستفيد منه... فإن شرع أو تعرض لصحبة من يضيع عمره معه ولا يفيده ولا يستفيد منه ولا يعينه على ما هو بصدده فليتلطّف في قطع عشرته من أول الأمر قبل تمكّنها، فإن الأمور إذا تمكّنت عسرت إزالتها"
"Hal yang sebaiknya dilakukan oleh penuntut ilmu adalah hendaknya tidak bergaul kecuali dengan orang-orang yang memberi faidah kepadanya atau yang mengambil faidah darinya, apabila ada orang yang memulai atau mengajak untuk bersahabat dengannya, orang yang bisa menyia-nyiakan umurnya, tidak memberinya faidah dan tidak pula mengambil faidah darinya serta tidak membantunya atas apa yang digelutinya sekarang, maka hendaknya dia berlaku lemah lembut dalam memutuskan pergaulan dengannya di awal kali, sebelum semakin erat, karena sesungguhnya segala perkara jika semakin erat maka akan semakin sulit melepaskannya"[5]

Memilah-milih Sahabat

Berusahalah untuk memilih sahabat yang sholeh yang baik keadaannya, banyak menyibukkan diri dengan ilmu, bagus perangainya, bisa membantumu dalam menggapai tujuan dan cita-citamu, menolongmu dalam menyempurnakan faidah yang engkau dapatkan, memberimu semangat untuk lebih giat dalam menuntut ilmu, meringankan rasa jemu dan capek yang engkau rasakan, terpercaya dan teguh memegang agamanya, amanah dan punya akhlak yang mulia, menjadi penasehat bagimu karena Allah bukan sekedar main-main dan senda gurau. Silahkan rujuk kitab "Tadzkirah Assaami'" karya Ibnu Jama'ah.

Jauhilah teman-teman yang buruk!, karena sesungguhnya akhlak buruk itu bisa menular, dan pembawaan manusia bisa membawa apa saja serta tabiatnya suka menjiplak. Manusia itu ibaratnya sekawanan burung yang wataknya bisa ditempa untuk saling mencontoh satu sama lain. Oleh karena itu berhati-hatilah bergaul dengan orang-orang seperti itu -yang buruk- karena sesungguhnya teman yang seperti itu adalah penyakit. Menolak -sesuatu yang belum melekat- lebih mudah daripada melepasnya.

_______

[1]Il Ishobah Karya Ibnu Hajar, Biografi Abdullah bin Abbas (4/90)
[2]Lihat : Az Zuhd Karya Al Waki' (275)
[3]Lihat : Tadzkiroh Assaami' wal Mutakallim (h. 15-16)
[4]Lihat : Tadzkiroh Assaami' wal Mutakallim (h. 71-72)
[5]Lihat : Tadzkiroh Assaami' wal Mutakallim (h. 83)
______________

Sumber : آداب طلب العلم
_____________________

Istifaadah : KEUTAMAAN MENUNTUT ILMU SYAR’IY
بسم الله الرحمن الرحيم

Pesta Demokrasi [PEMILihan Umum-PEMILU]

Tanya:
Bolehkah kita ikut nyoblos pemilu ini?

Dijawab Oleh Ustadz Abu Muawiyah Askari hafizhahulloh

Hari-hari ini hari-hari pilgub, pilkada. Apa hukumnya mengikuti pemilihan itu?

Ma’asyaral ikhwah rahimakumullah, suatu hal yang tentunya kita tidak mengingkari bahwa (الانتخابات) atau pemilihan, itu termasuk dari bagian demokrasi. Yang kita sudah mengetahui borok-boroknya. Yang tentu para ikhwah sekalian sudah membaca sedikit banyak tentang masalah demokrasi. Yang prinsipnya sudah bertentangan dengan Islam.
أَفَنَجْعَلُ الْمُسْلِمِينَ كَالْمُجْرِمِينَ مَا لَكُمْ كَيْفَ تَحْكُمُونَ
Maka apakah patut Kami menjadikan orang-orang Islam itu sama dengan orang-orang yang berdosa (orang kafir)? Atau adakah kamu (berbuat demikian): bagaimanakah kamu mengambil keputusan? (QS Al-Qalam: 35-36)

Dari sisi ini saja sudah jelas penyimpangannya, belum lagi yang lainnya. Dampak-dampak buruk, al intikhabat termasuk diantaranya. Siapa saja suaranya sama, yang kafir, yang muslim, sama. Yang shahibul maksiat dengan seorang mukmin, sama. Yang shalat, yang tidak shalat, sama. Yang jahil, yang alim, sama. Disamakan, intikhabat, dari sini saja menunjukkan sangat bertentangan. Maka asal hukumnya ikut serta dalam perkara-perkara yang seperti ini, seakan-akan kita ikut meramaikan. Memperbanyak jumlah mereka, dan ini tentunya hal yang tidak diperbolehkan.

Akan tetapi para ulama, memberikan satu pengecualian dalam permasalahan ini. Yaitu dalam perkara akhaff al-dhararain’, atau min bab taklili syar, meminimalisir sebuah kejahatan, sebuah keburukan. Misalnya, ada dua orang yang dipilih, yang satu muslim, kita tahu dia baik secara dhahir dia baik, tidak dzalim kepada rakyat, misalnya. Yang satunya lagi, muslim tapi bejat. Kita tahu, kalau dia yang dipilih, maka prostitusi dilancarkan, kemudian tempat-tempat maksiat itu akan ditebar di berbagai tempat. Kalau keikut sertaan kita dalam hal menyoblos itu memberikan faidah min bab akhaff al-dhararain’. Dalam artian ada faidahnya itu, memberikan pengaruh, maka kata para ulama la ba’tsa, tidak mengapa, boleh, termasuk dalam kaidah min bab akhaff al-dhararain’.

Bahkan kata Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad, bahkan kalau antum tinggal di sebuah negara kafir, misalnya. Lalu dua-duanya yang dipilih, itu dua-duanya kafir, tapi yang satu kafirnya kafir mendingan. Ada kafir tapi dalam hal menyikapi rakyatnya, lebih baik daripada yang kedua misalnya. Yang satu ini kita kenal suka menindas kaum muslimin, suka menindas yang betentangan dengan agamanya dia, misalnya. Maka boleh min bab akhaff al-dhararain’. Ini, kata para ulama, kalau memberi pengaruh. Tapi kalau لَا يُسْمِنُ وَلَا يُغْنِي مِن جُوعٍ tidak mengenyangkan, tidak memberikan pengaruh sama sekali, maka asal hukumnya tidak diperbolehkan.

Ini dalam hal mencoblos, bukan dalam hal mendukung. Misalnya ikut mensosialisasi, datang seorang yang akan dipilih, misalnya. Dia datang, “Kamu saya lihat ini punya bakat untuk jadi tim sukses, nih uang untuk kamu, sekian juta, nih tolong baju ambil, bagi-bagikan kepada teman-temanmu itu, bagi-bagi!” Ini berarti dia telah termasuk dalam orang yang ikut meramaikan pesta demokrasi, itu hukumnya haram, tidak diperbolehkan. Jadi diperhatikan, kalau memang diketahui. Kalau misalnya orang-orang yang terpilih itu antum tidak tahu. Ini yang calon pertama, kedua, ketiga, keempat, sama saja, ya sudah tidak usah ikut-ikutan. Sama, tidak usah ikut-ikutan.

Nah ini ma’asyaral ikhwah rahimakumullah, kadang-kadang ada sebagian itu memudah-mudahkan masalah ini. Nah, Syaikh Albany membolehkan, kebetulan dapat fatwa. Nah buktinya Syaikh Albany membolehkan, ini fatwanya. Padahal beliau dalam permasalahan ini khusus, seperti yang kita sebutkan tadi, min bab taklili syar. Untuk meminimalisir kejahatan yang terjadi. Sekarang antum tahu tidak, apakah dengan datangnya salah seorang yang terpilih itu kemudian memberikan kepada antum uang, ataukah memberikan kepada antum pakaian, berarti berkesimpulan wah berarti orang ini baik. Buktinya yang lain tidak pernah datang ke ana, tidak pernah memberikan duit ke ana. Berarti antum sudah terpengaruh.

Nah ini ma’asyaral ikhwah rahimakumullah, tolong dipahami dengan baik pernyataan para ulama. Jangan sampai kemudian dimanfaatkan, kebetulan dia sudah punya hawa nafsu, tambah lagi kebetulan dia ingin numpang di fatwa Syaikh Albany, maka yang seperti ini bathil, tidak diperbolehkan, asal hukumnya haram. Sekali lagi para ulama hanya membolehkan min bab akhaff al-dhararain’. Kalau betul-betul diterapkan kaidah yang seperti ini, boleh silahkan. Dengan tidak ikut meramaikan pesta demokrasi. Kemudian juga nampak seperti yang dijelaskan oleh para ulama, bahwa ada diantara mereka dikhawatirkan, ada diantara mereka yang dikhawatirkan kalau dia yang naik, maka dia dzalim misalnya, maka dia pilih yang lain. Itupun kalau memberikan pengaruh, kalau tidak maka tidak ada gunanya. Allahul musta’an, wallahu ta’ala a’lam.

Download Audio JAWABAN USTADZ ASKARY DIATAS disini

SUMBER : http://tanyajawabringkas.blogspot.com/2013/09/bolehkah-kita-ikut-nyoblos-pemilu.html

_______

Co-Pas dari : Bolehkah kita ikut nyoblos pemilu ?

_______________

Faidah :
بسم الله الرحمن الرحيم

Adab Sopan Santun bagi Penuntut Ilmu [3]

Adab Sopan Santun bagi Penuntut Ilmu
Menjadikan Waktunya "Seluruhnya" untuk Ilmu dan Menjaga serta Memperhatikan Waktu

Hal itu dilakukan supaya seorang penuntut ilmu tidak menyia-nyialan sedikitpun detik demi detik umurnya dalam kegiatan lain bukan dalam rangka mencari ilmu atau mengamalkan ilmu, kecuali sesuai kadar kebutuhan itupun kalau memang mendesak. Sungguh sebagian ulama terdahulu tidak pernah meninggalkan kesibukannya dalam menuntut ilmu hanya karena ditimpa penyakit yang tidak parah atau merasakan sakit yang ringan, akan tetapi mereka meminta kesembuhan dengan ilmu, dan tetap menyibukkan diri dengan ilmu sesuai batas kemampuannya.

Al Imam Asy-Syafi'i berkata :
لو كلفت شراءَ بصلة لما فهمت مسألة
"Jika sekiranya saya memaksakan diri untuk jualan bawang, maka sungguh saya tidak akan memahami persoalan ilmu sedikitpun"[1]

Sebagian ulama mengatakan :
"لا يَنال هذا العلم إلا من عطّل دكّانه، وخرّب بستانه، وهجر إخوانَه، ومات أقرب أهله فلم يشهد جنازته".
"Tidak ada yang bisa memperoleh ilmu ini kecuali orang yang menutup kiosnya, menelantarkan kebunnya, meninggalkan saudara-saudarinya, serta meninggal keluarga terdekatnya sementara itu dia tidak menyaksikan jenazahnya"[2]

Waktu merupakan nikmat ilahi yang wajib kita syukuri, Allah Subhanahu wata'ala berfirman dalam surah Ibrahim :
{...وَسَخَّرَ لَكُمُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ}{وَآتَاكُمْ مِنْ كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا إِنَّ الْإِنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ} [إبراهيم: 33-34]
...dan telah menundukkan bagimu malam dan siang. Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat lalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah). [Ibrahim (14):33-34]

Didalam ayat yang mulia diatas, Allah Subhanahu Wata'ala menganugerahkan kepada para hamba-Nya sejumlah nikmat yang tak terhitung, diantara nikmat tersebut adalah nikmat adanya siang dan malam, dimana waktu berputar dan tegak padanya. Namun kebanyakan manusia lalai dari nikmat ini meski begitu berharga. Allah Subhanahu wata'ala berfirman dalam surah An-Nahl :
{وَسَخَّرَ لَكُمُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومُ مُسَخَّرَاتٌ بِأَمْرِهِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ} [النحل: 12]
Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahami (nya), [An-Nahl (16):12]

Dari sini nampak dengan jelas bagi kita nikmat ilahi -yaitu waktu- yang lalai dari mensyukurinya para orang-orang yang lalai, dan berlomba untuk membuang-buang dan menyia-nyiakannya para penyembah perut dan pelaku kebathilan. Telah benar Rasululullah Shollallahu 'alaihi wasallam dimana beliau bersabda :
"نِعمتانِ مغْبونٌ فيهما كَثيرٌ مِن النّاس: الصِّحَّةُ والفَراغُ".
“Ada dua nikmat yang kebanyakan manusia tertipu pada keduanya : Kesehatan dan Kesempatan” [HR. Bukhari dari Ibnu Abbas Radhiallohu 'anhuma]

Sabda Nabi : مغْبونٌ (yang tertipu) asal katanya adalah الغبن (tipuan) semakna dengan النقص (kekurangan), pendapat lain mengatakan bahwa الغبن (tipuan) semakna dengan ضعف الرأي (lemah akal pikiran).

-Sabda Nabi- : الصِّحَّةُ (Kesehatan) : berkaitan dengan badan

-Sabda Nabi- : الفَراغُ (Kesempatan) : Tidak ada perkara-perkara duniawi yang menyibukkannya

Oleh karena itu, wajib bagi setiap Muslim yang berakal untuk bersungguh-sungguh dalam men-syukuri Maha Pemberi Nikmat atas nikmat waktu -yang diberikan ini- dan mempergunakannya dalam setiap perkara yang mendatangkan faidah dan manfaat.

Waktu adalah amanah yang akan dipertanggungjawabkan, manusia akan ditanya tentang waktunya pada saat menghadap Allah Subhanahu wata'ala, Nabi Shollallahu 'alaihi wasallam bersabda :
لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ القِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ، وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَ فَعَلَ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ، وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَ أَبْلاَهُ.
“Tidak akan bergeser telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat, hingga dia ditanya tentang: Umurnya (waktu), dalam urusan apa dia gunakan. Tentang ilmu, bagaimana dia mengamalkannya? Tentang hartanya, dari mana dia memperolehnya dan ke mana dia belanjakan? Juga tentang jasmani (kekuatan)nya dalam urusan apa dia habiskan?” [HR. At-Tirmidzi, Hasan Shohih]

Waktu merupakan sesuatu yang sangat berharga yang dimiliki oleh seseorang, karena waktu itu adalah kehidupan itu sendiri, waktu adalah modal seseorang, apabila dia menyia-nyiakannya maka tidak mungkin bisa untuk mengembalikannya bagaimanapun usahanya. Sebagian Orang cerdik pandai menyerupakannya dengan emas, akan tetapi waktu tetaplah lebih mahal dan lebih berharga dibandingkan dengan segala sesuatu yang berharga, karena waktu merupakan bagian dari wujud manusia itu sendiri, sebab waktu hakekatnya adalah hembusan nafas yang terbatas dalam kehidupan ini.

والوقت أنفس ما عُنيت بحفظه ** وأراه أيسرَ ما عليك يهون
Waktu adalah hembusan nafas yang seharusnya engkau sibuk menjaganya ** namun ternyata aku melihatnya sebagai sesuatu yang paling mudah engkau hinakan

Hanya Orang Mukminlah satu-satunya yang mengetahui betapa berharganya waktu, karena ma'rifah-nya terhadap suatu tujuan yang dengan sebab tujuan inilah dia diciptakan. Allah Azza wajalla berfirman :
{وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ (56) مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ (57) إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ (58) فَإِنَّ لِلَّذِينَ ظَلَمُوا ذَنُوبًا مِثْلَ ذَنُوبِ أَصْحَابِهِمْ فَلَا يَسْتَعْجِلُونِ (59)} [الذاريات: 56 - 59]
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi Aku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh. Maka sesungguhnya untuk orang-orang lalim ada bahagian (siksa) seperti bahagian teman-teman mereka (dahulu); maka janganlah mereka meminta kepada-Ku menyegerakannya. [Adz-Dzariat (51):56-59]

Dahulu para Ulama' Salaf kita yang Sholeh Ridhwanullahi 'alaihim sungguh mereka sangat semangat dalam memanfaatkan waktu, mencari faedah, dan keuntungan serta manfaat dengan waktu yang ada. Mereka berlomba dengan jam demi jam dan bersegera memanfaatkan kesempatan demi kesempatan karena keengganan mereka membuang-buang waktu dan semangat mereka jangan sampai kehilangan waktu dengan percuma.

Berkata Sahabat yang mulia Abdullah bin Mas'ud Radhiallohu 'anhu :
( ما ندمت على شيء ندمي على يوم غربت شمسه ، نقص فيه أجلي ، ولم يزد فيه عملي ).
Saya tidak pernah menyesal sebagaimana menyesalnya aku terhadap hari yang terbenam mataharinya, hari yang berkurang di hari itu ajal-ku namun tidak bertambah di hari tersebut amal ibadahku

Berkata Kholifah yang Sholeh, Umar bin Abdul Aziz Rodhiallohu 'anhu :
إن الليل والنهار يعملان فيك ، فاعمل فيهما
Sesungguhnya siang dan malam tidak henti-hentinya berlalu melewatimu, maka ber-amallah didalamnya

Berkata Al Hasan Al Bashri Rodhiallohu 'anhu :
يا ابن آدم إنما أنت أيام فإذا ذهب يوم ذهب بعضك ، ويوشك إذا ذهب بعضك أن يذهب كلك
Wahai Anak Cucu Adam, Sesungguhnya engkau hakekatnya adalah sejumlah hari, apabila berlalu satu hari maka sebagian dirimu telah tiada, dan dikhawatirkan jika sebagian dirimu telah tiada menyebabkan kepergian dirimu seluruhnya

Beliau juga berkata :
أدركـت أقوامـا كانـوا على أوقاتهـم أشـد منكـم حرصـاً على دراهمكم ودنانيركم
Aku pernah menjumpai beberapa orang yang mereka sangat semangat menjaga waktunya dibandingkan dengan semangat kalian menjaga dirham-dirham dan dinar-dinar kalian

Abu Hilal Al Askary, berkata : Adalah Kholil bin Ahmad -Al Farohidy Al Basry salah seorang cendikiawan di muka bumi ini- (w. 170 H.) berkata :
أثقل الساعات علي : ساعة آكل فيها
Waktu yang paling berat bagiku adalah waktu yang kupakai untuk makan[3]

Allahu Akbar, betapa dahsyatnya -jika- kehabisan waktu untuk menuntut ilmu bagi-nya, dan betapa membara semangat -dalam memanfaatkan- waktu pada dirinya.

Al Khotib Al Bagdadi meriwayatkan dari Abul Abbas Al Mubarrid, beliau berkata : Saya tidak melihat ada orang yang sangat semangat dalam menuntut ilmu dibandingkan dengan tiga orang berikut :
  1. Al Jahidz -Amru bin Bahr, Imam Ahli Adab ~Sastra~- (w. 255 H.)
  2. Al Fath bin Kho-qon -Sastrawan, Penyair, Seorang Cendikiawan- termasuk keturunan raja, Kholifah Al Mutawakkil Al Abbasy mengangkatnya menjadi menteri dan menjadikannya saudara, Lemari-lemari bukunya terkumpul penuh dengan buku, termasuk lemari buku yang sangat luar biasa. (w. 247 H.)
  3. Ismail bin Ishaq Al Qody -Seorang Imam yang Faqih, Al Maliky, Al Baghdady- (w. 282 H.)

Berkaitan dengan Al Jahidz, sesungguhnya beliau ketika ada buku yang dipegangnya, maka dia akan membacanya dari awal sampai akhir, buku apapun itu, sampai-sampai dia pernah menyewa beberapa toko buku dan alat tulis, lalu bermalam disitu untuk meneliti banyak buku.

Adapun Al Fath bin Kho-qon, sesungguhnya dia dahulu membawa satu kitab di lengan bajunya, apabila dia berdiri dihadapan Al Mutawakkil untuk pergi buang air kecil atau sholat, maka dia keluarkan buku tersebut, dibaca dan diperhatikannya dengan seksama sambil berjalan, sampai pada tempat yang dia tuju. Demikian pula dia lakukan hal yang sama ketika kembali, sampai ke tempat duduknya. Apabila Al Mutawakkil ingin berdiri, pergi menyelesaikan hajat tertentu, maka diapun keluarkan kitab yang ada di lengan bajunya tersebut, lalu dia baca di majelis Al Mutawakkil, sampai Al Mutawakkil datang kembali.

Adapun Ismail bin Ishaq Al Qody, sesungguhnya saya tidak pernah masuk bertemu dengannya sekalipun kecuali saya lihat di tangannya ada buku yang dia teliti, atau sementara membolak-balik beberapa buku untuk mencari buka mana yang akan dia teliti atau sedang membuka-buka beberapa buku.[4]

Berkata Ubaid bin Ya'isy :
أقمت ثلاثين سنة ما أكلت بيدي بالليل ، كانت أختي تلقمني وأنا أكتب الحديث
Saya pernah tinggal selama tiga puluh tahun, dimana Saya tidak pernah makan malam dengan tangan sendiri, saudarikulah yang menyuapiku sementara saya menulis Al Hadits[5]

Perhatikan! Al Imam Jamaluddin Al Qosimy Rahimahullah, sungguh dia telah hidup sekitar lima puluh tahun, dan menyusun lebih dari lima puluh buku, hidupnya penuh dihiasi dengan ilmu, dakwah dan perjuangan, bersamaan dengan itu dia pernah berkata :
يا ليت الوقت يباع فأشتريه.
Duhai sekiranya waktu itu dijual, maka saya pasti akan membelinya

Dengan sebab semangat menjaga waktu yang dimiliki para ulama' salaf kita yang sholeh, membuat kedudukan mereka menjadi tinggi, keadaan mereka menjadi mulia, nama dan peninggalan mereka kekal abadi. Adapun di zaman kita sekarang ini, sesungguhnya diantara sebab yang paling menonjol dari ketertinggalan kaum muslimin adalah sifat menunda-nunda dan membuang-buang waktu, dihabiskan dan disia-siakan di kafe ~warung-warung kopi-, tempat-tempat hiburan, di jalan-jalan, di depan televisi, di dapur rekaman di tempat syuting, dan lain sebagainya dari tempat-tempat yang tidak ada faedah di dalamnya serta tidak ada buah keuntungan dibelakangnya.

_______

[1]Lihat : Tadzkiroh Assami' wal mutakallim (h. 27)
[2]Lihat : Al Jami' Li-akhlaqirrowy karya Al Khotib (1534)
[3]Al Hats-ts 'ala Tholabil 'ilmi wal ijtihad fie jam'ihi karya Abu Hilal Al Azkary (h. 87)
[4]Taqyiid Al 'Ilmi karya Al Khotib Al Bagdady (h. 139)
[5]Al Jami' Li-akhlaqirrowy wa Aadab Assami' (2/178), Ubaid bin Ya'isy adalah Syaikh-nya Imam Al Bukhary dan Muslim, silahkan rujuk biografinya di Siyar A'lam An Nubala' karya Adz-Dzahaby (11/45).

______________

Sumber : آداب طلب العلم

______________

Baca Sekilas :
Berbagi Kepada Ibu
بسم الله الرحمن الرحيم

Adab Sopan Santun bagi Penuntut Ilmu [2]

Menimba Ilmu Kerana Ingin Mengamalkannya
1. Mengamalkan Ilmu
Apabila ilmu tidak diterjemahkan dalam bentuk amal perbuatan maka tentu tidak ada faidahnya. Oleh karena itu wajib bagi penuntut ilmu untuk bersungguh-sungguh dalam beramal sebagaimana dia bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu. Dialah manusia yang paling layak untuk memetik buah ilmunya. Allah Subhanahu wata'ala sungguh memuji di dalam kitab-Nya yang mulia, orang-orang yang mengamalkan ilmunya, Allah Subhanahu wata'ala berfirman :
{وَالَّذِينَ اجْتَنَبُوا الطَّاغُوتَ أَنْ يَعْبُدُوهَا وَأَنَابُوا إِلَى اللَّهِ لَهُمُ الْبُشْرَى فَبَشِّرْ عِبَادِ (17) الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ أُولَئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللَّهُ وَأُولَئِكَ هُمْ أُولُو الْأَلْبَابِ (18)} [الزمر: 17، 18]
Dan orang-orang yang menjauhi thaghut (yaitu) tidak menyembahnya dan kembali kepada Allah, bagi mereka berita gembira; sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba-hamba-Ku, yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal. [Az-Zumar (39):17 & 18]

Sebaliknya Allah Subhanahu wata'ala mencela, orang-orang yang tidak mengambil manfaat dari ilmu yang dibawanya, Allah Azza wajalla meng-identikkan mereka dengan keledai yang memikul buku-buku tebal namun tidak mengetahui berapa harganya apatah lagi mutiara-mutiara ilmu yang terkandung didalamnya. Allah Subhanahu wata'ala berfirman dalam surah Al Jumu'ah :
{مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا بِئْسَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِ اللَّهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ} [الجمعة: 5]
Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang lalim. [Al-Jumu'ah (62):5]

Dalam Kitab Shohih Bukhari dan Muslim, dari Usamah bin Zaid Rodhiallohu 'anhu, beliau berkata : Aku mendengar Rasulullah Shollallahu 'alaihi wasallam bersabda :
يُجَاءُ بِالرَّجُلِ يَوْمَ القِيَامَةِ فَيُلْقَى فِي النَّارِ، فَتَنْدَلِقُ أَقْتَابُهُ فِي النَّارِ، فَيَدُورُ كَمَا يَدُورُ الحِمَارُ بِرَحَاهُ، فَيَجْتَمِعُ أَهْلُ النَّارِ عَلَيْهِ فَيَقُولُونَ: أَيْ فُلاَنُ مَا شَأْنُكَ؟ أَلَيْسَ كُنْتَ تَأْمُرُنَا بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَانَا عَنِ المُنْكَرِ؟ قَالَ: كُنْتُ آمُرُكُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَلاَ آتِيهِ، وَأَنْهَاكُمْ عَنِ المُنْكَرِ وَآتِيهِ
“Akan didatangkan seorang lelaki pada hari kiamat lalu dia dilemparkan ke dalam neraka. Usus-ususnya terburai di dalam neraka lalu dia berputar-putar seperti keledai memutari penggilingannya. Maka penghuni neraka berkumpul di sekitarnya lalu mereka bertanya, “Wahai fulan, ada apa denganmu? Bukankah kamu dahulu yang memerintahkan kami kepada yang ma’ruf dan yang melarang kami dari kemungkaran?” Dia menjawab, “Memang betul, aku dulu memerintahkan kalian kepada yang ma’ruf tapi aku sendiri tidak mengerjakannya. Dan aku dulu melarang kalian dari kemungkaran tapi aku sendiri yang mengerjakannya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Ali bin Abi Tholib Rodhiallohu 'anhu berkata :
هتف العلم بالعمل، فإن أجابه وإلا ارتحل
Ilmu itu berteriak memanggil Amal, apabila amal menjawab panggilannya -maka ilmu akan tetap- jika tidak maka ilmu akan pergi[1]

Al Imam Asy-Syafi'i Rahimahullah berkata :
ليس العلم ما حفِظ، العلم ما نفع
Ilmu itu bukan sekedar hafalan, tapi ilmu itu adalah yang bermanfaat[2]

Sebagian ulama salaf terdahulu berkata :
يا حملة العلم، اعملوا فإنما العالم من عمل بما علم، ووافق علمه عمله، وسيكون أقوام يحملون العلم لا يجاوز تراقِيَهم، يخالف عملهم علمهم، ويخالف سريرتهم علانيتهم، يجلسون حِلقاً يباهي بعضهم بعضاً، حتى إنّ الرجل ليغضب على جليسه أن يجلس إلى غيره ويدَعَه، أولئك لا يصعد أعمالهم في مجالسهم تلك إلى الله تعالى
Wahai para pembawa ilmu, beramallah kalian!, sesungguhnya orang yang berilmu itu adalah orang yang mengamalkan ilmunya dan amalnya sesuai dengan ilmunya. Suatu saat nanti akan ada orang-orang yang membawa ilmu namun tidak melewati kerongkongannya, amalnya kontradiksi dengan ilmunya, berbeda keadaannya ketika sendirian dan ketika di keramaian, mereka duduk di halaqoh-halaqoh saling memuji satu sama lain, sampai-sampai ada orang yang marah kepada orang lain yang sering duduk bersamanya, ketika orang tersebut duduk bermajelis dengan orang lain dan meninggalkan majelisnya. Mereka adalah orang-orang yang amal perbuatannya di dalam majelis-majelisnya tersebut, tidak akan naik kepada Allah Ta'ala[3]

Diantara bentuk -bermanfaatnya ilmu seseorang- adalah senantiasa merasa diawasi oleh Allah Ta'ala (Muroqobah) dalam sepi dan ramai, dan senantiasa merasa takut kepada Allah Subhanahu wata'ala. Al Imam Ahmad Rahimahullah berkata :
"أصل العلم الخشية "
Prinsip dasar ilmu itu adalah rasa takut (Al Khos-yah)

Berkata Al Imam Azzuhri Rahimahullah :
" إن للعلم غوائل، فمن غوائله أن يترك العمل به حتى يذهب ، ومن غوائله النسيان ، ومن غوائله الكذب فيه ، وهو شر غوائله "
Sesungguhnya ilmu itu punya banyak bencana -yang bisa menimpanya-, diantara bencana -yang menimpa- ilmu adalah tidak mengamalkannya sehingga ilmu itu hilang, termasuk bencana -yang menimpa- ilmu adalah lupa dan juga termasuk bencana -yang menimpa- ilmu adalah dusta padanya dan ini merupakan seburuk-buruk bencana -yang menimpa- ilmu.[4]

Sufyan Ats-Tsaury pernah ditanya : Mana yang lebih engkau senangi..? menuntut ilmu atau mengamalkan ilmu..? beliau menjawab :
" إنما يراد العلم للعمل، فلا تدع طلب العلم للعمل، ولا تدع العمل لطلب العلم "
Sesungguhnya ilmu itu dicari untuk di-amalkan, makanya jangan berhenti menuntut ilmu dengan alasan mau mengamalkan ilmu -yang sudah ada-, demikian pula jangan berhenti ber-amal dengan alasan mau menuntut ilmu[5]

2. Sabar dan siap memikul beban
Jalan menuntut ilmu itu tidaklah terhampar penuh dengan -cantiknya- bunga dan -sedapnya- bumbu, akan tetapi butuh kesabaran dan keyakinan serta tekad yang tak mudah bengkok, karena jalannya panjang, sementara nafsu senantiasa mengajak supaya jenuh -bosan-, maunya berlalu dengan cepat, tenang-tenang santai dan istirahat. Apabila seorang penuntut ilmu menuruti keinginan nafsunya tentu akan menggiringnya kepada penderitaan dan penyesalan, seorang penyair berkata :
وما النفس إلا حيث يجعلهــا الفتى فإن أطمعت تـاقت وإلا تسلتِ
dan tidaklah nafsu itu kecuali tergantung sejauh mana pemuda -pemiliknya- menempatkannya
Jika nafsu dibuat serakah maka akan rindu seperti itu terus jika tidak maka dia akan sembunyi dan tertahan


Seorang penyair yang lain berkata :
والنفس كالطفل إن تهمله شب على حب الرضاع وإن تفطمه ينفطم
dan nafsu itu seperti anak kecil jika engkau membiarkannya maka dia akan menjadi besar
dalam keadaan tetap senang menyusu, namun jika engkau menyapihnya maka dia akan berhenti menyusu


Lapangan sabar yang sangat luas adalah sabar dalam menuntut ilmu, tidak ada satu jalanpun untuk menuntut ilmu kecuali dibutuhkan kesabaran -untuk menempuhnya-, kesabaran akan menerangi jalan bagi penuntut ilmu, sabar merupakan bekal yang sangat dibutuhkan, demikian pula akhlak yang mulia tetap harus ada dan menjadi perhiasan bagi penuntut ilmu. -Penuntut Ilmu Butuh- Sabar dalam menghadapi sulitnya perjalanan menemui para ulama' -masyaikh-, dan sabar dengan lamanya waktu tinggal disisi mereka, serta -sabar- dalam menjaga adab sopan santun bersamanya. -Penuntut Ilmu Butuh- sabar dalam mengulang-ulangi pelajaran dan ketika menimba ilmu. Dalam kisah Nabi Musa dan Khidr, terjadi dialog antara Nabi Allah Musa dan Khidr Alaihimassalam, Allah Subhanahu wata'ala berfirman dalam Surah Al Kahfi :
{قَالَ لَهُ مُوسَى هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَى أَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا (66) قَالَ إِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيعَ مَعِيَ صَبْرًا (67) وَكَيْفَ تَصْبِرُ عَلَى مَا لَمْ تُحِطْ بِهِ خُبْرًا (68) قَالَ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ صَابِرًا وَلَا أَعْصِي لَكَ أَمْرًا (69)} [الكهف: 66 - 69]
Musa berkata kepada Khidhr: "Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?" Dia menjawab: "Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku. Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?" Musa berkata: "Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai seorang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusan pun". [Al-Kahfi (18):66-69]

Demikian pula sebaliknya bagi seorang guru sebaiknya berhias dengan keindahan sabar bersama murid-muridnya. Hendaknya berlapang dada terhadap pertanyaan-pertanyaan mereka, jangan menahan uluran tangan untuknya. Hendaknya -seorang guru- meringankan beban mereka ~murid-muridnya~, lemah lembut dan sayang kepada mereka, memberikan kemudahan-kemudahan kepadanya dalam memperoleh ilmu. -Semua ini- dalam rangka meneladani Nabi dan Guru serta Kekasih kita Muhammad Shollallahu 'alaihi wasallam, yang telah dipuji oleh Rob-nya -Allah Subhanahu wata'ala- dengan Firman-Nya :
{فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ} [آل عمران: 159]
Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya. [Ali Imron (3):159]
_______

[1]Iqtidho' Al Ilm Al Amal (35-36)
[2]Tadzkiroh Assami' wal Mutakallim (15)
[3]Haasyiah tadzkiroh Assami' (16-17)
[4]Jami' Bayan Al Ilm (1/107-108)
[5]Hilyah Al Auliya' (7/12)

Sumber : آداب طالب العلم

_______


Faidah : Inilah Sifat Penghuni Neraka