بسم الله الرحمن الرحيم

Jagalah Jadwal Sholat Wajib Tepat Waktu..!!!

Berikut ini dalil-dalil yang menunjukkan wajibnya menunaikan sholat lima waktu tepat pada waktunya :

Pertama
Allah Subhanahu wata'ala berfirman :
{حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَى} [البقرة: 238]
Peliharalah segala shalat (mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa. [Al Baqarah (2):238]

Memelihara sholat berarti mengerjakannya tepat waktu, karena sebab turunnya ayat ini adalah tertundanya pelaksanaan sholat pada saat perang Khandaq, bukan karena meninggalkan pelaksanaannya. Seperti itulah penafsiran Ulama Salaf.

Memelihara sholat kebalikannya adalah menelantarkan dan menyia-nyiakannya, maka barangsiapa yang menunda pelaksanaannya keluar dari waktunya berarti telah menelantarkannya dan tidak memeliharanya.

Kedua
Allah Subhanahu wata'ala berfirman :
{فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ} [مريم: 59]
Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, [Maryam (19):59]

Menyia-nyiakan shalat maksudnya adalah menundanya hingga keluar dari waktunya, demikian penafsiran Ibnu Mas'ud, Ibrahim, Al Qosim bin Muhammad dan Adh-Dhoh-hak serta ulama lainnya, tanpa ada yang menyelisihi mereka.

Ketiga
Allah Subhanahu wata'ala berfirman :
{فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ * الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ} [الماعون: 4، 5]
Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, [Al Maa'uun (107):4 & 5]

Penafsiran yang populer dari ayat diatas diantaranya adalah : menyia-nyiakan waktu sholat, demikian penafsiran mayoritas Shahabat dan Tabi'in.

Keempat
Allah Subhanahu wata'ala berfirman :
{إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا} [النساء: 103]
Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman. [Annisa' (4):103]

Ini menunjukkan keagungan sholat, bahwasanya sholat merupakan kewajiban melekat, yang tidak terlepas bagi seorang muslim bagaimanapun keadaannya.

Sholat merupakan kewajiban yang ditentukan waktunya. Allah Subhanahu wata'ala wajibkan bagi orang-orang yang beriman, dan menetapkan bagi tiap-tiap sholat tersebut waktunya, yang menjadi tempat dan waktu pelaksanaan bagi tiap sholat tersebut.

Berdasarkan hal ini, sebagian Ahli Fiqih -Fuqoha- berpendapat bahwa "sesungguhnya sholat apabila tidak dikerjakan pada waktunya, maka tidak mungkin mengganti sholat yang ketinggalan tersebut dengan cara mengulanginya pada waktu yang lain -di luar waktunya- sebagaimana ibadah haji yang tidak dikerjakan kecuali pada waktu yang telah ditentukan.

Abdullah bin Mas'ud Radhiallohu 'anhu berkata :
«إِنَّ لِلصَّلَاةِ وَقْتًا كَوَقْتِ الْحَجِّ»
Sesungguhnya sholat itu memiliki waktu sebagaimana waktu ibadah haji

Kelima
Sesungguhnya Allah Subhanahu wata'ala memerintahkan kepada orang yang dalam keadaan takut (dalam keadaan perang) untuk tetap menegakkan sholat (sholat khauf) meskipun banyak dari rukun-rukun sholat yang tidak terpenuhi, demikian pula diperintahkan bagi orang yang tayammum -sudah masuk waktu shalat namun tidak mendapatkan air untuk bersuci- dan semisalnya untuk menegakkan sholat, sekiranya boleh menunda pelaksanaannya, maka tentu tidak butuh sedikitpun dari hal yang demikian itu -sholat khauf, tayammum dan sebagainya-

Keenam
Banyak ayat yang menunjukkan wajibnya mengerjakan sholat pada waktu yang telah ditentukan, seperti firman Allah Subhanahu wata'ala :
{وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ الْغُرُوبِ} [ق: 39]
dan bertasbihlah -sholatlah- sambil memuji Tuhanmu sebelum terbit matahari (sholat subuh) dan sebelum terbenam(nya) (sholat ashar). [Qoof (50):39]

dan firman Allah Subhanahu wata'ala :
{أَقِمِ الصَّلَاةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ} [الإسراء: 78]
Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir [Al-Isro'(17):78]

Ketujuh
Dari Abu Dzar Radhiallohu 'anhu, sesungguhnya Rasulullah Shollallahu 'alaihi wasallam bersabda :
" يا أبا ذر إنها ستكون عليكم أئمة يميتون الصلاة فان ادركتموهم فصلوا الصلاة لوقتها واجعلوا صلاتكم معهم نافلة "
"Wahai Abu Dzar, sesungguhnya akan ada nanti pemimpin-pemimpin yang mematikan sholat, maka apabila kalian mendapati mereka, tegakkanlah sholat tepat pada waktunya dan jadikanlah sholat kalian bersama mereka sebagai nafilah" [HR. Muslim No. 648]

Kedelapan
Dari Abu Qotadah Radhiallohu 'anhu, beliau berkata : Rasulullah Shollallahu 'alaihi wasallam bersabda :
«أَمَا إِنَّهُ لَيْسَ فِيَّ النَّوْمِ تَفْرِيطٌ، إِنَّمَا التَّفْرِيطُ عَلَى مَنْ لَمْ يُصَلِّ الصَّلَاةَ حَتَّى يَجِيءَ وَقْتُ الصَّلَاةَ الْأُخْرَى،...»
Ketahuilah, sesungguhnya tidak ada di dalam tidur itu bentuk kelalaian, sesungguhnya kelalaian itu hanyalah bagi orang yang tidak melaksanakan sholat hingga datang waktu sholat berikutnya... [HR. Muslim No. 681]

Kesembilan
عَنْ أَبِي مُوسَى، عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، أَنَّهُ " أَتَاهُ سَائِلٌ يَسْأَلُهُ عَنْ مَوَاقِيتِ الصَّلَاةِ، فَلَمْ يَرُدَّ عَلَيْهِ شَيْئًا، قَالَ: فَأَقَامَ الْفَجْرَ حِينَ انْشَقَّ الْفَجْرُ، وَالنَّاسُ لَا يَكَادُ يَعْرِفُ بَعْضُهُمْ بَعْضًا، ثُمَّ أَمَرَهُ فَأَقَامَ بِالظُّهْرِ، حِينَ زَالَتِ الشَّمْسُ، وَالْقَائِلُ يَقُولُ قَدِ انْتَصَفَ النَّهَارُ، وَهُوَ كَانَ أَعْلَمَ مِنْهُمْ، ثُمَّ أَمَرَهُ فَأَقَامَ بِالْعَصْرِ وَالشَّمْسُ مُرْتَفِعَةٌ، ثُمَّ أَمَرَهُ فَأَقَامَ بِالْمَغْرِبِ حِينَ وَقَعَتِ الشَّمْسُ، ثُمَّ أَمَرَهُ فَأَقَامَ الْعِشَاءَ حِينَ غَابَ الشَّفَقُ، ثُمَّ أَخَّرَ الْفَجْرَ مِنَ الْغَدِ حَتَّى انْصَرَفَ مِنْهَا، وَالْقَائِلُ يَقُولُ قَدْ طَلَعَتِ الشَّمْسُ، أَوْ كَادَتْ، ثُمَّ أَخَّرَ الظُّهْرَ حَتَّى كَانَ قَرِيبًا مِنْ وَقْتِ الْعَصْرِ بِالْأَمْسِ، ثُمَّ أَخَّرَ الْعَصْرَ حَتَّى انْصَرَفَ مِنْهَا، وَالْقَائِلُ يَقُولُ قَدِ احْمَرَّتِ الشَّمْسُ، ثُمَّ أَخَّرَ الْمَغْرِبَ حَتَّى كَانَ عِنْدَ سُقُوطِ الشَّفَقِ، ثُمَّ أَخَّرَ الْعِشَاءَ حَتَّى كَانَ ثُلُثُ اللَّيْلِ الْأَوَّلُ، ثُمَّ أَصْبَحَ فَدَعَا السَّائِلَ، فَقَالَ: الْوَقْتُ بَيْنَ هَذَيْنِ "

Dari Abu Musa Radhiallohu 'anhu, dari Rasulullah Shollallahu 'alaihi wasallam bahwasanya telah datang kepada beliau seseorang yang bertanya tentang waktu-waktu sholat, namun beliau tidak menjawabnya sedikitpun ~dengan kata-kata namun dengan perbuatan~.
Abu Musa Radhiallohu 'anhu berkata :
Maka beliau mendirikan sholat subuh ketika terbit fajar, sementara orang-orang hampir tidak saling mengenal antara sebagian mereka dengan sebagian lainnya. Kemudian Nabi Shollallahu 'alaihi wasallam memerintahkannya -melakukan seperti itu-.
Setelah itu Nabi Shollallahu 'alaihi wasallam menegakkan sholat dhuhur, ketika matahari tergelincir. Sipenanya mengatakan : "Sudah tengah hari.", padahal Nabi Shollallahu 'alaihi wasallam lebih mengetahui -itu- dibanding mereka. Kemudian Nabi Shollallahu 'alaihi wasallam memerintahkannya -melakukan seperti itu-.
Kemudian Nabi Shollallahu 'alaihi wasallam menegakkan sholat ashar, pada waktu matahari sudah tinggi. Lalu Nabi Shollallahu 'alaihi wasallam memerintahkannya -melakukan seperti itu-
Setelah itu Nabi Shollallahu 'alaihi wasallam menegakkan sholat maghrib, ketika matahari terbenam, setelah itu Nabi Shollallahu 'alaihi wasallam memerintahkannya -melakukan seperti itu-.
Kemudian Nabi Shollallahu 'alaihi wasallam menegakkan sholat 'isya, ketika syafaq -sinar merah matahari setelah terbenam- telah hilang.
Pada keesokan harinya Nabi Shollallahu 'alaihi wasallam memperlambat pelaksanaan sholat subuh, hingga setelah selesai, Sipenanya mengatakan : "Matahari sudah terbit atau hampir terbit.".
Kemudian Nabi Shollallahu 'alaihi wasallam memperlambat pelaksanaan sholat dhuhur sampai hampir masuk waktu ashar seperti kemarin.
Setelah itu Nabi Shollallahu 'alaihi wasallam memperlambat pelaksanaan sholat ashar, hingga setelah selesai, Sipenanya mengatakan : "Sinar matahari sudah memerah.".
Kemudian Nabi Shollallahu 'alaihi wasallam memperlambat pelaksanaan sholat maghrib sampai syafaq -sinar merah matahari setelah terbenam- mulai hilang.
Setelah itu Nabi Shollallahu 'alaihi wasallam memperlambat pelaksanaan sholat 'isya sampai sepertiga malam yang pertama berlalu.
Kemudian, di pagi hari beliau memanggil Sipenanya, lalu bersabda : "Waktu Sholat adalah diantara dua waktu ini" [HR. Muslim No. 614]

Kesepuluh
عَنْ بُرَيْدَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، أَنَّ رَجُلًا سَأَلَهُ عَنْ وَقْتِ الصَّلَاةِ، فَقَالَ لَهُ: «صَلِّ مَعَنَا هَذَيْنِ - يَعْنِي الْيَوْمَيْنِ - فَلَمَّا زَالَتِ الشَّمْسُ أَمَرَ بِلَالًا فَأَذَّنَ، ثُمَّ أَمَرَهُ، فَأَقَامَ الظُّهْرَ، ثُمَّ أَمَرَهُ، فَأَقَامَ الْعَصْرَ وَالشَّمْسُ مُرْتَفِعَةٌ بَيْضَاءُ نَقِيَّةٌ، ثُمَّ أَمَرَهُ فَأَقَامَ الْمَغْرِبَ حِينَ غَابَتِ الشَّمْسُ، ثُمَّ أَمَرَهُ فَأَقَامَ الْعِشَاءَ حِينَ غَابَ الشَّفَقُ، ثُمَّ أَمَرَهُ فَأَقَامَ الْفَجْرَ حِينَ طَلَعَ الْفَجْرَ، فَلَمَّا أَنْ كَانَ الْيَوْمُ الثَّانِي أَمَرَهُ فَأَبْرَدَ بِالظُّهْرِ، فَأَبْرَدَ بِهَا، فَأَنْعَمَ أَنْ يُبْرِدَ بِهَا، وَصَلَّى الْعَصْرَ وَالشَّمْسُ مُرْتَفِعَةٌ أَخَّرَهَا فَوْقَ الَّذِي كَانَ، وَصَلَّى الْمَغْرِبَ قَبْلَ أَنْ يَغِيبَ الشَّفَقُ، وَصَلَّى الْعِشَاءَ بَعْدَمَا ذَهَبَ ثُلُثُ اللَّيْلِ، وَصَلَّى الْفَجْرَ فَأَسْفَرَ بِهَا»، ثُمَّ قَالَ: «أَيْنَ السَّائِلُ عَنْ وَقْتِ الصَّلَاةِ؟» فَقَالَ الرَّجُلُ: أَنَا، يَا رَسُولَ اللهِ، قَالَ: «وَقْتُ صَلَاتِكُمْ بَيْنَ مَا رَأَيْتُمْ»

Dari Buraidah Radhiallohu 'anhu, dari Nabi Shollallahu 'alaihi wasallam, bahwasanya ada seseorang bertanya kepada beliau tentang waktu sholat, maka Nabi Shollallahu 'alaihi wasallam mengatakan padanya : "Sholatlah bersama kami dua hari ini!", ketika matahari tergelincir, beliau memerintahkan Bilal , lalu Bilal-pun adzan, lalu memerintahnya lagi ~untuk iqomah~, kemudian beliau menegakkan sholat dhuhur.
Setelah itu beliau memerintahnya ~untuk adzan dan iqomah~, kemudian sholat ashar, sementara matahari pada waktu itu sudah tinggi dengan sinarnya yang putih bersih.
Kemudian beliau memerintahnya ~untuk adzan dan iqomah~, lalu sholat maghrib, ketika matahari telah tenggelam.
Setelah itu beliau memerintahnya ~untuk adzan dan iqomah~, kemudian sholat 'isya, ketika syafaq -sinar merah matahari setelah terbenam- telah hilang.
Kemudian beliau memerintahnya ~untuk adzan dan iqomah~, lalu sholat subuh, ketika fajar telah terbit.
Ketika memasuki hari kedua, beliau memerintahnya agar menunda sampai cuaca agak dingin lalu sholat dhuhur, maka ~Bilal~ menunda untuk sholat dhuhur sampai cuaca agak dingin, dengan demikian ~Nabi Shollallahu 'alaihi wasallam~ telah memberikan kenyamanan dengan menunggu cuaca agak dingin lalu sholat dhuhur.
Setelah itu Nabi mengundurkan sholat ashar, pada waktu itu matahari sudah lebih tinggi dibandingkan hari sebelumnya.
Lalu sholat maghrib sebelum syafaq -sinar merah matahari setelah terbenam- hilang.
Setelah itu Nabi sholat 'isya, setelah lewat sepertiga malam.
Lalu sholat subuh pada saat langit mulai menguning, kemudian Nabi bersabda : "Mana orang yang bertanya tentang waktu sholat?", orang tersebut mengatakan : "Saya, wahai Rasulullah,". Nabi Shollallahu 'alaihi wasallam bersabda : "Waktu sholat kalian adalah apa yang telah kalian saksikan" [HR. Muslim No. 613]

Kesebelas
Konsensus (baca:ijma') para ulama atas pembatasan waktu-waktu sholat, tidak boleh bagi seorang muslim mempercepat atau memperlambatnya kecuali ada udzur.
Al Imam Ibnu Qudamah Rahimahullah berkata dalam kitabnya Al Mughniy (1/269):
أَجْمَعَ الْمُسْلِمُونَ عَلَى أَنَّ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسَ مُؤَقَّتَةٌ بِمَوَاقِيتَ مَعْلُومَةٍ مَحْدُودَةٍ، وَقَدْ وَرَدَ فِي ذَلِكَ أَحَادِيثُ صِحَاحٌ جِيَادٌ...
Para ulama kaum muslimin telah ijma' bahwasanya sholat wajib lima ~kali sehari semalam~ ditetapkan berdasarkan waktu, dengan waktu-waktu yang telah diketahui bersama dan sifatnya terbatas, dan sungguh telah datang dalam masalah ini hadits-hadits yang shohih lagi baik...

Al Imam Ibnu Abdil Bar Rahimahullah berkata dalam kitabnya At-Tamhid (8/69-70):
(وفي هذا الحديث _ يقصد حديث عروة مع عمر بن عبد العزيز _ دليل على أن وقت الصلاة لا تجزىء قبل وقتها وهذا لا خلاف فيه بين العلماء إلا شيئا روى عن أبي موسى الأشعري وعن بعض التابعين أجمع العلماء على خلافه فلم أر لذكره وجها لأنه لا يصح عنهم وقد صح عن أبي موسى خلافه مما وافق الجماعة فصار اتفاقا صحيحا)
(dan di dalam hadits ini ~maksudnya hadits Urwah bersama Umar bin Abdul Aziz~ ada dalil bahwasanya waktu sholat, tidaklah sah sebelum waktunya. Hal ini tidak ada silang pendapat diantara ulama', kecuali satu riwayat dari Abu Musa Al-Asy'ariy dan sebagian tabi'in yang mana ulama sepakat menyelisihi riwayat tersebut, oleh karena itu saya tidak melihat ~pentingnya~ menyebutkan poin tersebut, sebab tidak shohih ~riwayat~ dari mereka, dan sungguh telah shohih ~riwayat lain~ dari Abu Musa ~sendiri~ yang menyelisihinya, ~riwayat yang shohih ini~ termasuk ~riwayat~ yang sesuai dengan pendapat jama'ah, sehingga ~ijma' atas tidak sahnya sholat sebelum waktunya~ menjadi kesepakatan yang shohih) [Lihat: Al-Istidzkar (1/23)]

Berkata Al-'Ainiy dalam Umdah Al Qori' (5/5):
(فيه _ أي قصة عروة مع عمر بن عبد العزيز _ دليل على أن وقت الصلاة من فرائضها وأنها لا تجزي قبل وقتها وهذا لا خلاف فيه بين العلماء)
(di dalamnya ~yaitu di dalam kisah Urwah bersama Umar bin Abdul Aziz~ ada dalil yang menunjukkan bahwasanya waktu sholat diantaranya sholat-sholat yang fardhu tidaklah sah ~jika dikerjakan~ sebelum waktunya. Hal ini tidak ada silang pendapat diantara ulama')

_____________________________________________________

Sumber Rujukan :
بسم الله الرحمن الرحيم

Kumpulan Link Artikel Islamy [Up To Date]

بسم الله الرحمن الرحيم

Urgensi Tauhid bagi Seorang Muslim

Tauhid dalam artian "Ikhlas" Memurnikan Ketaatan Kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, tidak diragukan lagi akan pentingnya, mengapa..???

Tauhid adalah Perintah Pertama dan Terbesar dalam Al-Qur'an
Tauhid merupakan perintah pertama kali di dalam Al Qur’an, sebaliknya lawannya yaitu syirik merupakan larangan pertama kali di dalam Al Qur’an, sebagaimana dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala pada surat Al-Baqarah ayat 21-22 :
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (21) الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ (22) [البقرة/21، 22]
“Wahai sekalian manusia, ibadahilah oleh kalian Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian agar kalian menjadi orang-orang yang bertaqwa. Yang telah menjadikan untuk kalian bumi sebagai hamparan, langit sebagai bangunan, dan menurunkan air dari langit, lalu Allah mengeluarkan dengan air tersebut buah-buahan, sebagai rizki bagi kalian. Maka janganlah kalian menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah padahal kalian mengetahui.” (Al-Baqarah: 21-22)

Dalam ayat ini terdapat perintah Allah “ibadahilah Rabb kalian” dan larangan Allah “janganlah kalian menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah”.

Perintah untuk beribadah kepada Allah dan larangan berbuat syirik, Allah letakkan sebelum perintah-perintah lainnya. Ini menunjukkan bahwa perintah terbesar adalah Tauhid, dan larangan terbesar adalah syirik.

Tauhid adalah Inti Kandungan Al-Qur'an
Sebagaimana yang telah kita ketahui bersama bahwa surah Al Fatihah memiliki banyak nama, diantaranya adalah Ummu Al-Kitab (induk al-kitab), Ummu Al-Qur`an dan As-Sab’ul Matsani (tujuh ayat yang berulang) serta Al-Qur`an Al-Azhim, berdasarkan hadits yang shahih riwayat At-Tirmizi -dan dia menyatakannya shahih- dari Abu Hurairah dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعالَمِيْنَ: أُمُّ الْقُرْآنِ وَأُمُّ الْكِتابِ وَالسَّبْعُ الْمَثانِي وَالْقُرْآنُ الْعَظِيْمُ
“Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin (al-fatihah) adalah induk Al-Qur`an, induk al-kitab, tujuh ayat yang berulang, dan Al-Qur`an Al-Azhim.”

Kenapa dinamakan dengan Ummu Al-Kitab (induk al-kitab) atau Ummu Al-Qur`an..??? karena makna-makna Al-Qur`an semuanya kembali kepada kandungan surah Al-Fatihah ini.

Selanjutnya jika kita perhatikan dengan seksama maka kita dapatkan salah satu ayat dari surah Al Fatihah yang kandungan makna Al Qur'an semuanya kembali kepada kandungan surah al-fatihah ini, ada ayat yang menunjukkan tentang Tauhid dalam artian "Ikhlas" Memurnikan Ketaatan Kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala yaitu ayat :
{إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ} [الفاتحة: 5]
“Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami mohon pertolongan.”

Secara kaidah etimologi (bahasa) Arab, di dalam ayat ini terdapat uslub (kaidah) yang berfungsi memberikan penekanan dan penegasan. Yaitu bahwa tiada yang berhak diibadahi dan dimintai pertolongan kecuali hanya Allah subhanahu wata’ala semata. Sesembahan-sesembahan selain Allah itu adalah batil. Maka sembahlah Allah subhanahu wata’ala semata.

Oleh karena itu dapat kita simpulkan bahwa Tauhid merupakan salah satu inti dari kandungan surah Al Fatihah yang kandungan makna Al Qur'an semuanya kembali kepada kandungan surah al-fatihah ini.

Tauhid adalah Hikmah Penciptaan Jin dan Manusia
Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
{وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ (56) مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ (57) إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ} [الذاريات: 56 - 58]
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi Aku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.” (adz-Dzaariyaat: 56-58)

Ayat diatas secara global menjelaskan bahwa : Allah Subhanahu wata’ala mengabarkan bahwasanya Dialah yang menciptakan jin dan manusia. Dan bahwasanya hikmah dari penciptaan mereka adalah untuk mengesakan-Nya dengan ibadah dan mengingkari peribadatan kepada selain-Nya. Dan sesungguhnya diciptakannya mereka hanya untuk ibadah dan Allah akan cukupkan rezeki mereka. Dia Maha Benar janji-Nya, Maha Berkuasa kehendak-Nya karena Dia al-Qowiyyul Matin (Maha Kuat lagi Maha Kokoh).

Tauhid adalah Dakwah Para Nabi dan Rasul
Inti dakwah Para Nabi dan Rasul adalah tauhid. Yaitu memerintahkan kepada kaumnya agar beribadah kepada Allah saja.
{وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ} [النحل: 36]
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus para rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Beribadahlah kepada Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”… (an-Nahl: 36).

Allah menjelaskan dakwah para rasul-Nya dengan rinci pada berbagai firman-Nya, di antaranya tentang nabi Nuh alaihis sallam:
{وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ فَقَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ أَفَلَا تَتَّقُونَ} [المؤمنون: 23]
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu ia berkata: "Hai kaumku, beribadahlah kepada Allah (karena) sekali-kali tidak ada sesembahan bagi-mu selain-Nya. Maka mengapa kamu tidak bertaqwa (kepada-Nya)?" (al-Mu’minun: 23)

Kemudian nabi Ibrahim, bapak para Nabi alaihis sallam:
{وَإِبْرَاهِيمَ إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاتَّقُوهُ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ} [العنكبوت: 16]
Dan (ingatlah) Ibrahim, ketika ia berkata kepada kaumnya: "Beribadahlah kepada Allah dan bertaqwalah kepada-Nya. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui”. (al-Ankabut: 16)

Sedangkan tentang nabi Isa alaihis salam Allah berfirman:
{لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ} [المائدة: 72]
Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam", padahal Al-Masih (sendiri) berkata: "Hai Bani Israil, beribadahlah kepada Allah Rabb-ku dan Rabb-mu". Sesungguhnya orang yang memperse-kutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka. Dan tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. (al-Maidah: 72)

Dan tentang Nabi Hud alaihis sallam Allah berfirman:
{وَإِلَى عَادٍ أَخَاهُمْ هُودًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ أَفَلَا تَتَّقُونَ} [الأعراف: 65]
Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum 'Aad saudara mereka, Hud. Ia berkata: "Hai kaumku, beribadahlah kepada Allah, sekali-kali tidak ada sesembahan bagimu selain dari-Nya. Maka mengapa kamu tidak bertaqwa kepada-Nya ?" (al-A’raaf: 65)

Tentang Nabi Shalih diterangkan dalam ayat-Nya:
{وَإِلَى ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ قَدْ جَاءَتْكُمْ بَيِّنَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ هَذِهِ نَاقَةُ اللَّهِ لَكُمْ آيَةً فَذَرُوهَا تَأْكُلْ فِي أَرْضِ اللَّهِ وَلَا تَمَسُّوهَا بِسُوءٍ فَيَأْخُذَكُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ} [الأعراف: 73]
Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum Tsamud saudara mereka Shaleh. Ia berkata: "Hai kaumku, beribadahlah kepada Allah, sekali-kali tidak ada sesembahan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang bukti yang nyata kepadamu dari Rabb-mu. Unta betina Allah ini menjadi tanda bagimu, maka biarkanlah dia makan di bumi Allah, dan janganlah kalian mengganggunya biarkanlah dia makan di bumi Allah, dan janganlah kalian mengganggunya dengan gangguan apapun, (yang karenanya) kamu akan ditimpa siksaan yang pedih." (al-A’raaf: 73)

Dan Nabi Syu’aib Allah kisahkan juga dengan ucapan yang sama, yaitu: “beribadahlah kepa-da Allah dan tidak ada bagi kalian sesem-bahan kecuali Dia”.
{وَإِلَى مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ قَدْ جَاءَتْكُمْ بَيِّنَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ فَأَوْفُوا الْكَيْلَ وَالْمِيزَانَ وَلَا تَبْخَسُوا النَّاسَ أَشْيَاءَهُمْ وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ} [الأعراف: 85]
Dan (Kami telah mengutus) kepada pendu-duk Madyan saudara mereka, Syu’aib. Ia berkata: “Hai kaumku, beribadahlah kepada Allah, sekali-kali tidak ada sesembahan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Rabb-mu. Maka sempurnakanlah takaran dan timbangan dan janganlah kalian kurangkan bagi manusia barang-barang takaran dan timbangannya, dan janganlah kalian membuat kerusakan di muka bumi sesudah Rabbmu memperbaikinya. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika betul-betul kamu orang-orang yang beriman”. (al-A’raaf: 85)

Tauhid adalah Hak Allah yang Wajib atas Seluruh Hamba-Nya
Tauhid merupakan hak Allah yang paling besar atas hamba-hamba-Nya, sebagaimana dalam hadits yang terkenal dari shahabat yang mulia Mu’adz bin Jabal Radhiyallah ‘anhu ketika Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam bertanya kepadanya :
( يا معاذ ، أتدري ما حق الله على العباد وما حق العباد على الله ؟ ) قلت : الله ورسوله أعلم ؟ قال : ( حق الله على العباد أن يعبدوه ولا يشركوا به شيئا، وحق العباد على الله أن لا يعذب من لا يشرك به شيئا )
“Wahai Mu’adz, tahukah kamu apa hak Allah atas hamba-hamba-Nya dan hak hamba-hamba-Nya atas Allah?” Mu’adz menjawab: Allah dan rasul-Nya yang lebih mengetahui. Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : “hak Allah atas hamba-hamba-Nya adalah mereka beribada kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Tauhid adalah Salah Satu dari Rukun Islam
Tauhid merupakan salah satu dari rukun Islam yang menjadi pondasi utama dibangunnya segala amalan dalam agama ini. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan dari shahabat ‘Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa Sallam bersabda :
بُنِيَ الإِسْلامُ عَلَى خَمْسٍ : شَهَادَةِ أَنْ لا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ وحَجِّ بَيْتِ اللهِ الحَرَام
“Agama Islam dibangun di atas lima dasar : (1) Syahadah bahwa tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah, (2) mendirikan shalat, (3) menunaikan zakat, (4) shaum di bulan Ramadhan (5) berhaji ke Baitullah Al-Haram.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Tauhid adalah Salah Satu Syarat Masuk Surga
Tauhid merupakan syarat masuknya seorang hamba ke dalam Al-Jannah (surga) dan terlindung dari An-Nar (neraka). Sebaliknya lawannya yaitu syirik merupakan sebab utama masuknya dan terjerumusnya seorang hamba ke dalam An-Nar dan diharamkan dari Jannah Allah.

Allah berfirman:
إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ (72) [المائدة/72]
“Sesungguhnya barangsiapa yang menyekutukan Allah, maka Allah akan mengharamkan baginya Al-Jannah dan tempat kembalinya adalah An-Nar dan tidak ada bagi orang-orang zhalim seorang penolongpun.” (Al Ma’idah: 72)

Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa Sallam bersabda:
مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ
“Barangsiapa yang mati dan dia mengetahui (berilmu) bahwa tidak ada ilah yang benar kecuali Allah, maka dia akan masuk ke dalam Al Jannah.” (HR. Muslim)

Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa Sallam bersabda pula sebagaimana yang diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu :
من لقي الله لا يشرك به شيئا دخل الجنة ، ومن لقيه يشرك به شيئا دخل النار
“Barangsiapa berjumpa dengan Allah dalam keadaan tidak berbuat syirik kepada-Nya dengan sesuatu apapun, dia akan masuk Al-Jannah dan barangsiapa yang berjumpa dengan Allah dalam keadaan berbuat syirik kepada-Nya, dia akan masuk An-Nar.” (HR. Muslim)

Tauhid adalah Salah Satu Syarat Diterimanya Amal Ibadah
Tauhid merupakan syarat diterimanya amal seseorang oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Allah berfirman:
وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ (65) [الزمر/65]
“Sungguh telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan orang-orang (para nabi) sebelummu, bahwa jika kamu berbuat syirik, niscaya batallah segala amalanmu, dan pasti kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (Az-Zumar : 65)

Syirik merupakan sebab batal alias tertolaknya semua amalan. Maka lawan syirik, yaitu Tauhid merupakan syarat diterimanya amalan sebagaimana ayat yang diatas dan juga firman Allah Subhanahu wata'ala :
{وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ} [الأنعام: 88]
Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan. [Al An'am (6):88]

Tauhid adalah Jaminan Keamanan dan Hidayah Petunjuk di Dunia dan Akhirat
Setiap penganut tauhid akan mendapatkan jaminan keselamatan dari Allah berupa rasa aman dan petunjuk. Hal ini membuktikan betapa penting bagi sekalian manusia untuk memiliki tauhid. Allah subhanahu wa ta`ala berfirman :
{الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ} [الأنعام: 82]
“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan keimanan mereka dengan kedzoliman, mereka itulah orang-orang yang mendapatkan keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapatkan petunjuk.” (Al-An`aam: 82)

Kedzoliman dalam ayat ditas maksudnya adalah syirik besar. Sebagaimana penjelasan Nabi Shollallahu 'alaihi wasallam kepada para shahabatnya ketika mereka merasa berat dengan turunnya ayat tersebut lalu mereka bertanya :
يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَيُّنَا لاَ يَظْلِمُ نَفْسَهُ؟
Wahai Rasulullah, Siapa diantara kami yang tidak mendzolimi dirinya?

Maka Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam menjawab:
«لَيْسَ ذَلِكَ إِنَّمَا هُوَ الشِّرْكُ أَلَمْ تَسْمَعُوا مَا قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لاَ تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ»
Bukan seperti itu, tapi maksudnya adalah syirik, Tidakkah kalian mendengar ucapan Luqman ketika memberikan nasehat kepada anaknya : Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kedzoliman yang besar". (HR. Bukhari).

Dengan demikian berarti seseorang yang bersih dari syirik besar akan mendulang rasa aman dan petunjuk sesuai dengan tingkat keislaman dan keimanan yang tertanam pada dirinya. Maka rasa aman dan petunjuk yang sempurna hanya akan diraih oleh seorang yang bertauhid dan bertemu dengan Allah tanpa membawa dosa besar yang dilakukan secara terus-menerus.

Tentu, Sebaliknya seseorang yang tidak menjauhi syirik telah terjatuh dalam kedzoliman maka mustahil baginya memperoleh rasa aman dan hidayah petunjuk menuju surga. Allah Subhanahu wata'ala berfirman :
{احْشُرُوا الَّذِينَ ظَلَمُوا وَأَزْوَاجَهُمْ وَمَا كَانُوا يَعْبُدُونَ * مِنْ دُونِ اللَّهِ فَاهْدُوهُمْ إِلَى صِرَاطِ الْجَحِيمِ} [الصافات: 22، 23]
(kepada malaikat diperintahkan): Kumpulkanlah orang-orang yang dzolim beserta teman sejawat mereka dan sembahan-sembahan yang selalu mereka sembah, selain Allah; maka tunjukkanlah kepada mereka jalan ke neraka. [Ashoffat (37):22&23]

Ayat ini menerangkan bahwa orang-orang yang dzolim beserta teman sejawat mereka akan digiring menuju neraka Al-Jahim di akhirat nanti. Dipahami dari sini bahwa orang-orang yang beriman (baca: bertauhid) akan diberikan hidayah petunjuk menuju surga An-Na`im.

Setelah mengetahui betapa pentingnya tauhid bagi seorang muslim maka mari kita curahkan perhatian yang sangat besar terhadap perkara ini..!!!

Semoga Allah Ta'ala melindungi kita dari berbagai macam "syirik" dan mengampuni kita dari "syirik tanpa sadar"

-----------------------------------------

Referensi :
بسم الله الرحمن الرحيم

Pelanggaran dalam Penerimaan CPNS

Tanya : Apa hukumnya seorang ikhwan mendaftar menjadi PNS?

Jawab (Ustadz Askari hafizhahullah) :

Kalau tidak ada pelanggaran syar'i maka asal hukumnya diperbolehkan.

Download Audio disini

Sumber : Bolehkah menjadi PNS

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Selamat belajar ! Pelajari baik-baik seluruh materi yang ada. Wujudkan impian anda menjadi PNS tahun ini dengan cara yang bersih dan jujur. Jangan menyuap. Dan jangan mau ditipu oleh oknum yang meminta uang agar anda lulus menjadi PNS.

Nabi Shollallahu 'alaihi wasallam bersabda :
«الرَّاشِي وَالْمُرْتَشِي فِي النَّارِ»
"Yang menyuap dan yang menerima suap keduanya masuk neraka..."

لَعَنَ رسولُ الله - صلَّى الله عليه وسلم - الراشِيَ والمُرْتَشِيَ
“Rasulullah Shollallahu 'alaihi wasallam mengutuk orang yang menyuap dan orang yang disuap” [Shahih diriwayatkan Imam Abu Daud dalam Sunannya, no. 3580, Imam at-Tirmidzi dalam Sunannya, no. 1337 dan Imam Ibnu Majah dalam Sunannya , no. 2313.]

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
يَا كَعْبَ بْنَ عُجْرَةَ، إِنَّهُ لاَ يَرْبُو لَحْمٌ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ إِلاَّ كَانَتِ النَّارُ أَوْلَى بِهِ
“Wahai Ka’ab bin Ujrah, sesungguhnya daging yang tumbuh dari barang haram tidak akan tumbuh kecuali neraka paling berhak dengannya”. [Shahih diriwayatkan Imam at-Tirmidzi dalam Sunannya 614I dan Imam ad-Darimi dalam Sunannya (2674].


Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
«بَلْ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، إِنَّ الشَّمْلَةَ الَّتِي أَصَابَهَا يَوْمَ خَيْبَرَ مِنَ المَغَانِمِ، لَمْ تُصِبْهَا المَقَاسِمُ، لَتَشْتَعِلُ عَلَيْهِ نَارًا»
“Dan demi dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, sungguh sehelai kain kecil dari harta ghanimah yang dia curi pada perang Khaibar yang diluar pembagian ghanimah akan menjadi bara api (di alam kuburnya).” [Shahih diriwayatkan Imam Bukhari dalam Shahihnya (4234) dan Imam Muslim dalam Shahihnya 115]
بسم الله الرحمن الرحيم

Keutamaan Zakat, Infak dan Sedekah

Sesungguhnya seluruh ibadah yang Allah Subhanahu wata'ala syariatkan untuk hamba-hamba-Nya, pasti dan tentu ada keutamaan yang terkandung didalamnya, baik kita semua ketahui hal tersebut ataupun masih tersembunyi dan hanya diketahui oleh orang-orang tertentu saja, oleh karena itu keutamaan atau keistimewaan dan keunggulan serta hikmah suatu ibadah bukanlah tujuan utama dalam pelaksanaan ibadah tersebut, namun hanya sebagai salah satu faktor pendorong untuk melaksanakan ibadah tersebut dengan sebaik-baiknya hanya karena Allah, secara terus menerus istiqomah di jalan-Nya.

Definisi Zakat, Infaq dan Sedekah

Zakat, infak dan sedekah hakekatnya adalah satu namun dengan ungkapan dan hukum yang berbeda, karena zakat itu juga adalah sedekah sebagaimana firman Allah Subhanahu wata'ala :
{خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا} [التوبة: 103]
Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, [Attaubah (9):103]

Dari ayat diatas nampak jelas bagi kita bahwa kata "Shodaqoh" diungkapkan dalam terjemahan dengan istilah zakat.

Demikian pula zakat atau sedekah juga terkadang diungkapkan dengan istilah infak/nafkah sebagaimana dalam firman Allah Subhanahu wata'ala :
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ} [البقرة: 267]
Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah-infakkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. [Al Baqoroh (2):267]

Kata-kata "nafkahkanlah-infakkanlah" dalam ayat diatas digunakan sebagai perintah untuk mengeluarkan zakat atau sedekah baik yang hukumnya wajib ataupun yang sunnah.

Keutamaan Zakat, Infak dan Sedekah

Ganjaran Berlipat Ganda
Allah -Subhanahu wa Ta’ala- berfirman:
{مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرَةً وَاللَّهُ يَقْبِضُ وَيَبْسُطُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ} [البقرة: 245]
Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan. [Al Baqoroh (2):245]

Tanda Ketaqwaan
Allah -Ta’ala- berfirman:
{{ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ (2) الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ (3)} [البقرة: 2، 3]
Kitab (Al Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka, [Al Baqoroh (2):2&3]

Bekal Menuju Akhirat
Allah Ta’ala berfirman:
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِمَّا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ يَوْمٌ لَا بَيْعٌ فِيهِ وَلَا خُلَّةٌ وَلَا شَفَاعَةٌ وَالْكَافِرُونَ هُمُ الظَّالِمُونَ} [البقرة: 254]
Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezeki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi persahabatan yang akrab dan tidak ada lagi syafa`at. Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang lalim. [Al Baqoroh (2):254]

Perisai Dari Neraka
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"لِيتَّقِ أحدُكم وجهَه النارَ ولو بِشِق تمرة"
“Hendaknya salah seorang diantara kalian melindungi wajahnya dari neraka, sekalipun dengan sebelah biji korma”. [HR. Ahmad. Hadits ini di-shohih-kan oleh Al-Albaniy dalam Shohih At-Targhib (864)]

Shadaqah Penghapus Kesalahan
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
وَالصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ
“Shadaqah itu memadamkan (menghapuskan) kesalahan sebagaimana air memadamkan api” [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (3/321), dan Abu Ya’laa. Lihat Shohih At-Targhib (1/519)]

Pelindung di Padang Mahsyar
Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:
"كلُّ امْرِىءٍ فِي ظِلِّ صَدقَتِهِ حَتَّى يُقْضَى بَيْنَ النَّاسِ"
“Setiap orang berada dalam naungan shadaqahnya hingga diputuskan perkara di antara manusia“. [HR. Ahmad, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim. Hadits ini shohih sebagaimana yang dinyatakan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Shohih At-Targhib wa At-Tarhib (872)]

Pemadam Panas Di Alam Kubur
Rasulullah yang sangat sayang kepada umatnya telah memberikan tuntunan yang bisa menyelamatkan umatnya dari panasnya api neraka yaitu bershadaqah. Beliau bersabda:
إِنَّ الصَّدَقَةَ لَتُطْفِئُ عَنْ أَهْلِهَا حَرَّ الْقُبُورِ
“Sesungguhnya shadaqah akan memadamkan panasnya kubur bagi pemilik shadaqah”. [HR. Ath-Thobroniy dalam Al-Kabir, dan Al-Baihaqiy. Syaikh Al-Albaniy meng-hasan-kan hadits ini dalam Ash-Shohihah (3484)]

Mendapat Do'a dari Malaikat
Rasululullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:
" مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ العِبَادُ فِيهِ، إِلَّا مَلَكَانِ يَنْزِلاَنِ، فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا: اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا، وَيَقُولُ الآخَرُ: اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا "
“Tak ada suatu hari pun seorang hamba berada di dalamnya, kecuali ada dua orang malaikat akan turun; seorang diantaranya berdo’a, “Ya Allah berikanlah ganti bagi orang yang berinfaq”. Yang lainnya berdo’a, “Ya Allah, berikanlah kehancuran bagi orang yang menahan infaq”.”. [HR. Al-Bukhoriy dan Muslim ]

Golongan Yang Allah Naungi di Hari Kiamat
Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:
" سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ، يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: الإِمَامُ العَادِلُ، وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ رَبِّهِ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي المَسَاجِدِ، وَرَجُلاَنِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ، وَرَجُلٌ طَلَبَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ، فَقَالَ: إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ، أَخْفَى حَتَّى لاَ تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ "
“Ada tujuh golongan manusia yang akan mendapat naungan Allah pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: Pemimpin yang adil; Pemuda yang tumbuh di atas kebiasaan ‘ibadah kepada Rabbnya; Lelaki yang hatinya terpaut dengan masjid;  Dua orang yang saling mencintai karena Allah, sehingga mereka tidak bertemu dan tidak juga berpisah kecuali karena Allah; Lelaki yang diajak (berzina) oleh seorang wanita yang mempunyai kedudukan lagi cantik lalu dia berkata, ‘Aku takut kepada Allah’; Orang yang bersedekah dengan sembunyi-sembunyi, hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya; Orang yang berdzikir kepada Allah dalam keadaan sendiri hingga kedua matanya basah karena menangis.”
(HR. Al-Bukhari no. 620 dan Muslim no. 1712)


Keutamaan dan Hikmah Zakat Fitri

Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, ia berkata:
فَرَضَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنْ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِيْنِ
“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitrah sebagai penyuci bagi orang yang berpuasa dari perbuatan yang sia-sia dan kata-kata kotor serta sebagai pemberian makanan untuk orang-orang miskin.” (Hasan, HR. Abu Dawud Kitabul Zakat Bab. Zakatul Fitr: 17 no. 1609 Ibnu Majah: 2/395 K. Zakat Bab Shadaqah Fitri: 21 no: 1827 dihasankan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud)

Berdasarkan hadits diatas dapat disimpulkan bahwa diantara keutamaan dan hikmah diwajibkannya mengeluarkan zakat khususnya zakat fitrah adalah sebagai penyuci dan pembersih serta memasukkan kegembiraan kepada faqir miskin dengan bentuk pemberian makanan untuk mereka.

Sungguh agung dan besar keutamaan zakat, infak dan sedekah akan tetapi suatu amalan tidak akan menjadi agung, tanpa disertai dengan niat yang ikhlas dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Semoga Allah memudahkan kita untuk menunaikan zakat, infak dan sedekah baik sedekah berupa materi, tenaga, pikiran maupun berupa ucapan. Amin…


_______

Inspirasi :
بسم الله الرحمن الرحيم

Posisi yang Tepat dalam Menyikapi Perbedaan Pendapat Para Ulama Berkaitan dengan Jarh dan Ta'dil

Fadhilah Asy-Syaikh Ubaid bin Abdillah Al Jabiriy -Hafidzhohulloh-

الحمد لله رب العالمين، وصلى الله وسلم على نبينا محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين، أما بعد

Berikut ini jawaban atas seorang penanya yang mengatakan :

Apabila saya mendengar perkataan seorang ulama dalam satu kaset rekaman atau saya membacanya dalam satu kitab -berbicara- tentang seseorang bahwasanya orang tersebut adalah mubtadi' namun saya tidak mendapati darinya satu dalilpun atas hal itu, apakah saya harus berhati-hati dari orang tersebut dan mencukupkan diri bahwa dia memang seorang mubtadi' ataukah saya bersikap pelan-pelan -lambat- tidak terburu-buru sampai saya dapatkan dalil atas hal itu?

Saya jawab :

Sesungguhnya Ahlussunnah tidaklah menetapkan seseorang itu mubtadi' kecuali setelah mengetahui -hakekatnya- dan mengukur serta menguji apa yang ada padanya secara sempurna serta mengetahui manhajnya secara sempurna, baik secara global ataupun terperinci. Berangkat dari sini maka persoalan ini menuntut kita berada pada dua pisisi :

Posisi yang Pertama :

Berkaitan dengan orang yang seorang ulama atau banyak ulama' telah menetapkan bahwa dia adalah seorang mubtadi' dan tidak ada ulama lain dari kalangan ahlussunnah yang semisal dengan mereka menyelisihi -hukum tersebut-, kalian pahami sedikit, saya katakan : tidak ada ulama lain dari kalangan ahlussunnah yang menyelisihi mereka, maka kita terima jarh mereka terhadap orang tersebut, kita terima perkataan mereka dan berhati-hati terhadap orang tersebut, selama 'ulama sunniy telah menetapkan hukum padanya dan telah men-jarh-nya, dan tidak nampak -adanya perbedaan dari- ulama ahlusunnah lainnya yang mereka semasa dengan ulama yang telah men-jarh tersebut dari saudara-saudara dan anak-anaknya dari kalangan para ulama', maka harus menerima jarh-nya, karena ulama sunniy ini yang telah men-jarh seseorang : Sesungguhnya dia tidaklah men-jarh kecuali dengan -dasar- perkara yang jelas baginya dan telah tegak padanya dalil terhadap orang tersebut, karena ini merupakan bagian dari Agama Allah, dan orang yang men-jarh atau men-ta'dil mengetahui bahwasanya dia bertanggung jawab dari apa yang dia katakan dan dia fatwakan atau dari hukum yang dia tetapkan, dia mengetahui bahwasanya dia akan ditanya oleh Allah sebelum makhluk -manusia- bertanya kepadanya.

Posisi yang Kedua :

Apabila orang tersebut yang seorang ulama atau banyak ulama telah men-jarh-nya, mereka menetapkan hukum yang menjatuhkannya dan mengharuskan untuk berhati-hati darinya -di lain sisi- ulama lain menyelisihi mereka dan menetapkan adaalah-nya bahwasanya orang tersebut di atas Sunnah atau ahkaam selain itu yang berbeda dengan ahkaam ulama lain yang telah men-jarh-nya, maka selama mereka -yang men-jarh diatas Sunnah dan mereka -yang men-ta'dil juga diatas Sunnah, mereka semua adalah orang-orang yang terpercaya dan orang-orang yang memegang amanah, maka dalan keadaan seperti ini, kita lihat pada dalilnya, oleh karena itu para ulama mengatakan :
«من عَلِمَ حُجَّة على من لم يَعْلَم»
«Orang yang mengetahui adalah hujjah atas orang yang tidak mengetahui»

-Apabila- Seorang ulama yang men-jarh berkata tentang si fulan dari kalangan manusia bahwasanya dia adalah mubtadi', jalannya menyimpang, dan -disertai dengan- mendatangkan dalil-dalil -bukti- dari kitab-kitab orang yang di-jarh tersebut, atau dari kaset-kaset rekamannya atau nukilan dari orang-orang yang terpercaya tentang orang tersebut, maka wajib bagi kita menerima perkataannya dan meninggalkan orang-orang yang men-ta'dil-nya yang menyelisihi ulama yang telah men-jarh-nya, karena mereka yang telah men-jarh orang tersebut, membawakan dalil-dalil -sebagai bukti- yang tersembunyi bagi ulama lain karena satu sebab dari berbagai sebab yang ada, atau orang yang men-ta'dil belum membaca dan belum mendengar dari ulama yang men-jarh, dia hanya membangun -ta'dilnya- berdasarkan pengetahuannya dahulu berkaitan dengan orang tersebut, bahwasanya orang tersebut dulunya di atas Sunnah. -Jika seperti itu keadaannya- maka orang yang di-jarh tersebut, yang telah tegak dalil atas jarh-nya berubah menjadi majruh -ter-jarh- dan hujjah bersama dengan orang-orang yang menegakkan dalil, dan wajib bagi yang mencari kebenaran untuk mengikuti dalil dan tidak mencari-cari jalan-jalan kecil ke kanan dan ke kiri, atau mengatakan "saya berdiri sendiri", karena -hal seperti- ini tidak pernah kita jumpai disisi As-Salaf, dan perkara-perkara ini -berupa penyimpangan- terdapat pada hal-hal yang tidak diperbolehkan ber-ijtihad didalamnya, dalam pokok-pokok aqidah dan pokok-pokok ibadah, maka menerima -pendapat- ulama yang telah menegakkan dalil adalah wajib tidak boleh tidak.

Adapun ulama sunniy yang menyelisihi para ulama yang men-jarh tadi, maka dia memiliki udzur, kedudukan dan kehormatannya tetap ada disisi kita, dan kita merasa tetap baginya insya Allah diatas kemuliaan sebagaimana dahulu, serta kedudukan yang mulia, hal ini bisa terjadi baginya, karena seorang Alim dari Ahlussunnah, salafy adalah manusia biasa, bisa lupa dan tidak ingat, bahkan bisa menjadi obyek penipuan dari orang-orang dekatnya yang buruk, atau dia terlanjur percaya terhadap orang yang ter-jarh tadi lalu dia-pun menipunya. Contoh penguat dalam kasus seperti ini sangat banyak, kebanyakan orang yang gugur dan orang-orang yang mereka pada hekekatnya adalah musuh sunnah dan musuh ahlussunnah, membawa beberapa sample dari kitab-kitabnya, mereka bacakan dihadapan ulama' yang mulia, yang dikenal dengan keutamaan dan imamah-nya dalam agama, namun orang yang main-main dan pembuat makar itu menyembunyikan dari sang alim, imam, yang tiada duanya dan benar-benar ahli dalam mengkritik ini baik atau buruk, -namun- orang yang main-main dan pembuat makar itu menyembunyikan apa yang sekiranya beliau -ulama' tadi- ketahui pasti orang ini jatuh darinya. Sang Alim ini tentu hanya memberi rekomendasi berdasarkan apa yang didengarnya, sehingga apabila kitabnya telah dicetak dan tersebar, berpindah dari tangan ke tangan, dan tersiar kepopulerannya, maka mereka akan mengatakan kepada orang yang membantahnya : telah diberi rekomendasi oleh si fulan, si fulan itu Al-Albaniy -Rahimahullan- atau Ibnu Baz -Rahimahullan- atau Ibnu Utsaimin -Rahimahullan- telah merekomendasi kitab ini.

Para ulama -yang disebutkan tersebut- Rahmatullahi alaihim memiliki udzur, dan mereka selamat dari pertanggung jawaban -insya Allah- di dunia dan di akhirat, hanya saja -masalahnya ada pada- si la'ab -orang yang suka bermain ini telah menyembunyikan dan menyamarkan -keadaannya- terhadap ulama tersebut. Jadi jika seperti itu keadaannya apalagi yang tersisa..??? kita tegakkan atas si pemalsu - Mulabbis (الملبِّس) yang suka bermain - La'aab (اللعاب), penipu - Dassaas (الدساس) lagi pembuat makar - Maakir (الماكر) ditegakkan bukti-bukti yang nyata atas penyimpangan-nya dari kitab-kitabnya sendiri, maka siapa saja yang membantah kita terkait dengan orang tersebut, kita katakan "ambil" ini pendapat orang tersebut, apakah Anda menyangka bahwa dia memaparkan pendapatnya ini sesuai dengan gambaran yang sebenarnya ini kepada orang-orang yang telah kita sebutkan tadi dari para ulama dan orang-orang yang se-manhaj lalu akhirnya mereka mengakui -kebenaran pendapat-nya itu? Jawabannya "tentu tidak", jika seperti itu -keadaannya- maka wajib bagi Anda untuk menjadi orang yang adil, lepas dari rasa simpati yang berlebihan dan dari hawa nafsu yang membutakan, dan wajib bagi Anda untuk menjadikan pencarian-mu hanyalah kebenaran. Na'am...

Sumber : الجابري : الموقف الصحيح من اختلاف العلماء في الجرح والتعديل
بسم الله الرحمن الرحيم

Hukum Makmum Mendapati Imam Sementara Rukuk

Hukum Makmum Mendapati Imam Sementara RukukDari Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz kepada Saudara yang Mulia "M.I.S", semoga Allah senantiasa memberikan taufiq kepada-ku dan kepada-nya di dalam memahami Assunnah dan Al-Qur'an, Amien.

سلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Tulisan -surat-mu yang mulia telah sampai dan beberapa permasalahan yang terkandung didalamnya telah diketahui, berikut ini teks pertanyaan beserta jawabannya :[1]

Apa pendapat anda berkaitan dengan seseorang yang mendapati imam dalam keadaan rukuk lalu masuk -melaksanakan sholat- bersama imam pada posisi rukuk, apakah hal tersebut terhitung satu raka'at atau tidak?

Para Ulama Rahimahumullah sungguh telah berbeda dalam masalah ini diatas dua pendapat :

Pendapat Pertama :
-Hal itu- tidak terhitung satu raka'at; karena membaca Al-Fatihah adalah fardhu, sementara makmum tadi tidak melakukannya. Pendapat ini diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiallohu 'anhu, -pendapat ini juga- dipandang kuat oleh Al Imam Al Bukhari dalam kitabnya "Juz Al Qiro'ah", beliau menyebutkan -pendapat ini- dari setiap ulama yang memandang wajibnya makmum membaca Al Fatihah, demikian disebutkan dalam kitab "Aun Al Ma'bud". Pendapat ini juga disebutkan dari Ibnu Khuzaimah dan banyak -jama'ah- dari ulama Syafi'iyah, serta dipandang kuat oleh Al Imam Asy-Syaukaniy dalam kitabnya " An-Nayl" dan beliau memaparkan panjang lebar dalil-dalilnya.

Pendapat Kedua :
-Hal itu- terhitung satu raka'at; Al Hafidz Ibnu Abdil Bar menyebutkan pendapat ini dari Ali, Ibnu Mas'ud, Zaid bin Tsabit, dan Ibnu Umar Radhiallohu Ta'ala Anhum, beliau juga menyebutkan pendapat ini dari mayoritas ulama', diantaranya adalah Imam Empat, Al Auza'i, Ats-Tsauriy, Ishaq dan Abu Tsaur. Al Imam Asy-Syaukaniy juga memandang kuatnya pendapat ini dalam satu risalah tersendiri yang dinukil oleh penyusun kitab "Aun Al Ma'bud".

Menurut saya pendapat kedua ini merupakan pendapat yang lebih kuat; berdasarkan hadits Abu Bakrah yang terdapat dalam Shohih Al Bukhariy, -dimana- Nabi Shollallahu 'alaihi wasallam tidak memerintahkannya untuk mengganti raka'at yang ketinggalan, sekiranya -mengganti raka'at yang ketinggalan- itu merupakan kewajiban, tentu Nabi akan memerintahkannya; karena tidak boleh menunda penjelasan pada waktu penjelasan itu sudah dibutuhkan.

Sabda Nabi dalam hadits tersebut :
((زادك الله حرصاً ولا تعد))
((Semoga Allah menambahkan semangatmu dan jangan kamu ulangi lagi))[2]

Maksudnya adalah jangan ulangi lagi perbuatanmu "langsung rukuk sebelum masuk di dalam shof"; karena seorang muslim diperintahkan untuk masuk bersama imam dalam menegakkan sholat pada keadaan -gerakan- apapun yang dia dapati imam lakukan. Diantara dalil yang juga digunakan oleh jumhur ulama' atas pendapat ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud, Ibnu Khuzaimah, Ad Daraqutniy dan Al Bayhaqiy Rahimahumullah dari Abu Hurairah Radiallohu 'anhu "secara Marfu'" :
((إذا جئتم إلى الصلاة ونحن سجود فاسجدوا ولا تعدوها شيئاً ومن أدرك الركعة فقد أدرك الصلاة))
((Jika kalian mendatangi shalat dan kami sedang sujud, maka sujudlah, namun hal itu janganlah dihitung. Barang siapa mendapati rukuk -dalam satu raka'at- maka sungguh dia telah mendapati -satu raka'at- shalat))[3]

Dalam lafadz yang lain dari Ibnu Khuzaimah, Ad-Daraqutniy dan Al Bayhaqiy Rahimahumullah :
((ومن أدرك ركعة من الصلاة فقد أدركها قبل أن يقيم الإمام صلبه))
((Barang siapa mendapati rukuk -dalam satu raka'at- dari sholat maka sungguh dia telah mendapati -satu raka'at- shalat tersebut, sebelum imam meluruskan tulang sulbinya -punggungnya-))[4]

Hadits ini merupakan nash yang tegas dan jelas lagi gamblang pendalilannya mendukung pendapat jumhur ulama' ditinjau dari beberapa sisi :

Sisi Pertama :
Sabda Nabi Shollallahu 'alaihi wasallam berkaitan dengan sujud:
((ولا تعدوها شيئاً))
((namun -sujud- itu janganlah dihitung))

Sesungguhnya dapat dipahami dari -potongan hadits tersebut diatas- bahwa barang siapa yang mendapati -imam- rukuk maka dia menghitungnya -satu raka'at.

Sisi Kedua :
Sesungguhnya lafadz (ركعة) raka'at jika disebutkan bersama dengan lafdz (سجود) sujud, maka yang dimaksud adalah (ركوع) rukuk, sebagaimana datang lafadz seperti itu dalam banyak hadits, diantaranya hadits Al Barro' :
رمقت الصلاة مع محمد صلى الله عليه وسلم، فوجدت قيامه فركعته فاعتداله بعد ركوعه فسجدته...
Saya perhatikan sholat bersama Muhammad Shollallahu 'alaihi wasallam, maka saya dapati berdirinya, rukuknya (فركعته), i'tidalnya setelah rukuk, sujudnya...
Diantara hadits yang menyebutkan kata (ركعة) raka'at dengan maksud rukuk (ركوع) adalah hadits-hadits tentang sholat gerhana, dan perkataan shohabat di dalam hadits-hadits tersebut :
صلى النبي صلى الله عليه وسلم أربع ركعات في أربع سجدات
Nabi Shollallahu 'alaihi wasallam sholat -gerhana- empat raka'at dalam empat kali sujud

Maksud mereka -dengan empat raka'at- adalah empat kali rukuk.

Sisi Ketiga :
Sabda Nabi Shollallahu 'alaihi wasallam dalam riwayat Ibnu Khuzaimah, Addaraquthniy dan Al-Baihaqiy :
((قبل أن يقيم الإمام صلبه))
((sebelum imam meluruskan tulang sulbinya -punggungnya-))

-Potongan hadits diatas- merupakan nash yang jelas menunjukkan bahwa yang beliau Shollallahu 'alaihi wasallam maksud dengan raka'at (ركعة) adalah rukuk (ركوع).

Hadits Abu Hurairah Radiallohu 'anhu yang disebutkan diatas, datang dari dua jalur periwayatan yang saling menguatkan satu sama lain. Hadits yang semisal dengannya bisa menjadi hujjah sebagaimana yang telah ditetapkan dalam ilmu mustholah hadits. Hadits ini juga menjadi kuat dengan amalan dari para shohabat terhadap kandungannya. Al Imam An-Nawawiy Rahimahullah berkata dalam Syarah Al Muhadz-dzab hal. 215 Jilid ke-4 setelah memberikan beberapa penjelasan, berikut ini redaksi perkataan beliau :
(وهذا الذي ذكرناه في إدراك الركعة بإدراك الركوع هو الصواب الذي نص عليه الشافعي، وقاله جماهير الأصحاب وجماهير العلماء، وتظاهرت به الأحاديث وأطبق عليه الناس، وفيه وجهٌ ضعيف مزيف أنه لا يدرك الركعة، حكاه صاحب التتمة عن إمام الأئمة محمد بن إسحاق بن خزيمة من أكبر أصحابنا الفقهاء المحدثين، وحكاه الرافعي عنه وعن أبي بكر الصبغي من أصحابنا، وقال صاحب التتمة: هذا ليس بصحيح؛ لأن أهل الأعصار اتفقوا على الإدراك به، فخلاف من بعدهم لا يعتد به)
Dan yang kami sebutkan ini tentang "didapatkannya satu raka'at dengan didapatkannya rukuk" merupakan pendapat yang benar, yang ditegaskan oleh Asy-Syafi'i Rahimahullah, dan juga pendapat jumhur -mayoritas- shohabat dan jumhur ulama' rahimahumullah. Hadits-Hadits yang berkaitan dengan hal ini saling menguatkan serta telah dipraktekkan oleh kaum muslimin, dalam -masalah- ini ada satu sisi pendapat yang lemah dan tidak sesuai hakekat bahwasanya "tidak didapatkan satu raka'at", pendapat ini disebutkan oleh penyusun kitab "At Tatimmah" dari Imamnya para Imam Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah termasuk pembesar dari kalangan shahabat kami -madzhab syfi'i- fuqoha' -ahli fiqh- lagi muhadditsin. Ar-Rofi'i juga menyebutkan pendapat tersebut dari beliau dan dari Abu Bakar Ash-Shibgiy dari kalangan shahabat kami -madzhab syfi'i-. Penyusun kitab "At Tatimmah" berkata : -Pendapat- ini tidak benar; karena -ulama- dari berbagai zaman telah sepakat atas didapatkannya satu raka'at dengan mendapatkan rukuk, maka penyelisihan orang yang datang setelahnya tidaklah dianggap.

Ibnu Hajar Rahimahullah sungguh telah menyebutkan dalam kitab "At-Talkhish" dari Ibnu Khuzaimah riwayat yang menunjukkan atas kesepakatannya terhadap pendapat jumhur ulama' bahwasanya satu raka'at itu bisa didapatkan dengan mendapati rukuk.
والله أعلم
________

[1]Jawaban berasal dari Asy-Syaikh pada tanggal 10/6/1365 H
[2]HR. Bukhariy, Kitab Al Adzan, Bab Apabila Seseorang Rukuk Sebelum Masuk Shof, No. 783
[3]HR. Abu Daud, Kitab Ash-Sholah, Bab Tentang Seseorang yang Mendapati Imam Sementara Sujud, Apa yang Dia Lakukan, No. 893
[4]HR. Ibnu Khuzaimah dalam Kitab Shohihnya Juz 3, Bab Penyebutan Waktu yang Terjadi Padanya Seorang Makmum Mendapatkan Satu Raka'at Jika Imamnya Rukuk, No. 1595
__________________

Sumber : حكم من أدرك الإمام وهو راكع
_____________________________

Faidah :
بسم الله الرحمن الرحيم

Al-Quran On-Line

Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur`an dan mengajarkannya.Saudara kita yang tidak ingin disebutkan namanya dalam artikel ini, yang ber-profesi sebagai programmer, telah mendevelop sebuah web aplikasi http://tartil.me. Web yang dikembangkannya ini berisi tentang Al-Quran On-Line dengan terjemahan perkata dan berbagai fitur lainnya.

Tujuan dari pengembangan web aplikasi ini adalah untuk ikut ambil bagian dalam dakwah dengan tidak mengkomersilkan web tersebut. Semoga web aplikasi-nya ini bisa tersebar sehingga semakin banyak orang yang tahu, dan bisa bermanfaat untuk Dakwah Islamiyah.

Fitur - fitur yang telah ada atau akan ada*) di http://tartil.me Insya Allah adalah :

Fitur standar :
  1. Text alquran
  2. Terjemah dalam Bahasa Indonesia
    • Hover mouse pada ayat tertentu (on mouseover di check)
    • Terjemah per ayat (per Ayat di check)
    • Terjemah per kata (Per Kata di check)
  3. Quote of the day
  4. Recitation
    • Autoplay ayat selanjutnya ((autoplay di check))
    • Bisa memilih reciter sendiri
    • Repeat per ayat
    • Repeat setiap beberapa ayat
  5. Terintegrasi dengan Facebook dan Twitter

Fitur member :
  1. Include fitur standar
  2. Register member (Gratis/Free)
  3. Login
  4. Bookmark ayat
  5. Khatam Alquran
    • Membantu program khatam Al-Quran dalam satu minggu atau satu bulan atau n hari
  6. Hafalan Alquran
    • Pengulangan hafalan+reciter untuk n kali
    • Soal n jawaban pilihan ganda
    • Pencatatan yang sudah dihafal
  7. Download Al-Quran
    • Membuat aplikasi ini dijalankan offline di komputer member
  8. Print
    • Mencetak halaman Al-Quran (+terjemahan)

Semoga pengembang diberikan taufiq dan hidayah agar selalu konsisten mendevelop http://tartil.me, Amin Ya Robbal Alamin...
_________

*) Warna merah sedang di-develop
بسم الله الرحمن الرحيم

Masbuq; Duduk Tawarruk Mengikuti Imam atau Iftirasy..???

Fatwa Syaikh Abdullah bin Abdul Aziz Al ‘Aqil
السؤال: ما تقولون -أثابكم الله- في المأموم إذا دخل مع الإمام في صلاة المغرب، وقد سبقه الإمام بركعة، فهل إذا جلس الإمام للتشهد الأخير متوركا، يتابعه المأموم ويتورك معه أم يجلس مفترشا؛ لأن هذا التشهد يعتبر هو التشهد الأول بالنسبة للمأموم؟
Soal:
Bagaimana pendapat anda sekalian –semoga Allah memberikan ganjaran kepada anda sekalian-, tentang seorang ma'mum apabila ikut shalat maghrib bersama imam, dimana ia telah tertinggal satu raka’at. Apakah jika imam duduk tawarruk pada tasyahud akhir, ma'mum mengikuti imam dengan duduk tawarruk, ataukah duduk iftirasy? karena duduk tasyahud akhirnya imam ini adalah tasyahud awal bagi ma'mum.

الإجابة: الذي نص عليه فقهاؤنا رحمهم الله أن المأموم إذا دخل مع الإمام في صلاة رباعية، أو ثلاثية، وقد سبقه الإمام ببعض الصلاة، ثم جلس معه للتشهد الأخير أنه يتورك معه ولا يفترش؛ وذلك متابعة منه للإمام، لمراعاة عدم الاختلاف عليه، ولحديث: "إنما جعل الإمام ليؤتم به، فلا تختلفوا عليه"
Jawab (Fatwa Asy-Syaikh Abdullah bin Abdul Aziz Al ‘Aqil):
Yang ditegaskan oleh para ulama fikih kita -Rahimahumullah-, bahwasanya seorang ma'mum apabila ikut bersama imam mendirikan sholat yang jumlah raka’atnya empat atau tiga raka'at, dimana imam telah mendahuluinya beberapa raka’at, kemudian duduk tasyahud akhir mengikuti imam, maka ma'mum tersebut duduk tawarruk mengikuti imam, bukan iftirasy. Hal itu merupakan bentuk "mengikuti imam" yang dilakukan ma'mum tadi, untuk menjaga agar tidak terjadi penyelisihan terhadap imam, berdasarkan hadits,

"إنما جعل الإمام ليؤتم به، فلا تختلفوا عليه"

“Sesungguhnya Imam itu diangkat untuk di-ikuti, maka janganlah kalian menyelisihinya”[1]

قال في (الإقناع) وشرحه (كشاف القناع): ويتورك المسبوق مع إمامه في موضع توركه؛ لأنه آخر صلاته، وإن لم يعتد به، كما يتورك المسبوق فيما يقضيه للتشهد الثاني. فعلى هذا، لو أدرك ركعتين من رباعية، جلس مع الإمام متوركا؛ متابعة له في التشهد الأول، وجلس بعد قضاء الركعتين أيضا متوركا؛ لأنه يعقبه سلامه. انتهى.
Disebutkan dalam Al-Iqna’ dan syarahnya Kasyful Qina’: “Ma'mum yang masbuq duduk tawarruk bersama imam ketika imam tawarruk; Karena -bagi imam- itu merupakan akhir dari shalat, walaupun -bagi si ma'mum- tidak dianggap sebagai akhir shalat, sebagaimana ma'mum yang masbuq tersebut juga duduk tawarruk pada saat menyelesaikan tasyahud kedua. Maka berdasarkan hal ini, seandainya ma'mum mendapatkan dua raka’at dari ruba’iyyah (shalat yang jumlahnya empat raka’at), maka dia duduk bersama imam dalam keadaan tawarruk, dalam rangka mengikuti imam, pada saat tasyahud awal -bagi ma'mum-. Kemudian duduk tawarruk lagi setelah menyelesaikan sisa dua raka’at lainnya, karena itu merupakan duduk tasyahud yang diakhiri salam”.

وقال في (المنتهى) و(شرحه): ويتورك مسبوق معه في تشهد أخير من رباعية ومغرب تبعا له. انتهى.
Disebutkan dalam Al-Muntaha dan syarahnya[2]: “Seorang ma'mum yang masbuk duduk tawarruk bersama imam pada saat tasyahud akhir ketika mendirikan shalat yang empat raka'at dan shalat maghrib, dalam rangka mengikuti imam”.

وقال في (مطالب أولي النهى في شرح غاية المنتهى): ويتورك المسبوق فيه -أي في تشهده الذي أدركه مع إمامه-؛ لأنه آخر صلاته، وإن لم يعتد به، كما يتورك للتشهد الثاني فيما يقضيه، فلو أدرك ركعتين من رباعية، جلس مع الإمام متوركا للتشهد الأول؛ متابعه له، وجلس بعد قضاء الركعتين أيضا متوركا؛ لأنه يعقبه سلامه. انتهى، والله أعلم.
Disebutkan dalam Mathalib Ulin Nuhaa fi Syarhi Ghayatil Muntaha: “Seorang ma'mum yang masbuk duduk tawarruk bersama imam dalam duduk tasyahud yang ia dapatkan bersama imam disebabkan karena itu akhir shalat bagi si imam, walaupun bukan bagi si ma'mum. Sebagaimana ia juga duduk tawarruk pada tasyahud kedua pada saat menyelesaikan rakaat sisanya. Oleh karena itu, seandainya ma'mum mendapatkan dua raka’at dari ruba’iyyah (shalat yang jumlahnya empat raka’at), maka dia duduk bersama imam dalam keadaan tawarruk, pada saat tasyahud awal -bagi ma'mum- dalam rangka mengikuti imam. Kemudian duduk tawarruk lagi setelah menyelesaikan sisa dua raka’at lainnya, karena itu duduk tasyahud yang diakhiri salam”. Wallahu A’lam.

_______

[1]Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (722), dengan lafazh hadits Abu Hurairah (414) tanpa kata “diangkat”
[2](1/248)
_______________

Sumber :
بسم الله الرحمن الرحيم

Adab Sopan Santun bagi Penuntut Ilmu [5]

Siapa yang tak pernah salah…?
MAAFKAN BILA DIA TAK SEMPURNA
Menghormati Ulama' tanpa Mengkultuskan, dan Mengikutinya tanpa Taqlid Buta
Wajib bagi para penuntut ilmu untuk menghormati para ulama dan menghargai mereka, serta berlapang dada terhadap perbedaan pendapat yang terjadi diantara ulama' dan selain mereka. Para penuntut ilmu hendaknya menerima hal tersebut dengan memberikan udzur kepada orang yang keliru dalam menempuh satu jalan menurut keyakinannya. Ini merupakan poin yang sangat penting, karena sebagian orang, ada yang suka mencari-cari kesalahan orang lain, untuk dijadikan sebagai -celaan- sesuatu yang hakekatnya tidak layak disandarkan bagi mereka, lalu membuat kekacauan dengan merusak reputasi mereka di tengah-tengah manusia. Ini merupakan kesalahan besar, apabila ghibah terhadap orang awam dari kalangan manusia biasa, termasuk dosa besar, maka sesungguhnya ghibah terhadap orang alim merupakan dosa besar yang sangat besar, karena ghibah terhadap orang alim, dampak negatifnya tidak hanya terbatas menimpa pribadi orang alim itu saja akan tetapi mudhorotnya menimpa yang bersangkutan serta ilmu syar'i yang dipikulnya.[1]

Berkata Amirul Mu'minin Ali bin Abi Tholib Radhiallohu 'anhu :
(من حقّ العالم عليك إذا أتيته أن تسلِّم عليه خاصَّة، وعلى القوم عامّة، وتجلس قُدَّامه، ولا تشِر بيديك، ولا تغمِز بعينَيك، ولا تقُل: قال فلان خلافَ قولك، ولا تأخذ بثوبِه، ولا تُلحَّ عليه في السؤال، فإنّه بمنزلة النخلة المُرطبة التي لا يزال يسقط عليك منها شيء)
diantara Hak seorang Alim yang wajib engkau tunaikan adalah apabila engkau mendatanginya hendaknya mengucapkan salam kepadanya secara khusus, kemudian kepada orang-orang secara umum, duduklah dihadapannya, jangan menunjuk memberi isyarat dengan kedua tanganmu, jangan pula memberi isyarat dengan kedua matamu, jangan pernah mengatakan : Si Fulan mengatakan sesuatu yang berbeda dengan pendapatmu; jangan pegang bajunya, jangan pula mendesaknya dalam mengajukan pertanyaan; karena sesungguhnya dia memiliki kedudukan sama seperti pohon kurma yang buahnya sudah matang, yang terus menerus jatuh darinya sesuatu untukmu.[2]

Lapang Dada dalam Masalah-Masalah Khilaf
Hendaknya seorang penuntut ilmu lapang dada dalam medan perbedaan pendapat yang bersumber dari sebuah ijtihad, karena masalah-masalah khilaf yang terjadi diantara para ulama', adakalanya terjadi dari perkara-perkara yang sebenarnya tidak ada ruang bagi ijtihad di dalam masalah tersebut, dan juga adakalanya terjadi dari perkara-perkara yang memang ada ruang untuk ijtihad di dalam masalah tersebut, maka untuk yang seperti ini, orang yang berbeda pendapat dalam masalah tersebut masih diberikan udzur -toleransi-.[3]

Beradab terhadap Guru
-Telah kita ketahui bersama- bahwa ilmu itu tidaklah diambil pertama kali dari buku, akan tetapi harus dari bimbingan seorang guru, yang anda peroleh dengan sempurna darinya kunci-kunci dalam menuntut ilmu, agar anda aman dari ketergelinciran, oleh karena itu wajib bagi anda untuk ber-adab ketika bersamanya, karena hal tersebut merupakan alamat kemenangan dan kelulusan serta alamat keberhasilan dan Kesuksesan. Maka hendaknya guru-mu menjadi tempat curahan penghormatan darimu, pemuliaan, penghargaan dan kelemahlembutan, ambillah dan terapkan seluruh adab sopan santun bersama guru; ketika engkau duduk bersamanya, ketika berbicara kepadanya, ketika mengajukan pertanyaan yang baik dan bermanfaat, ketika duduk mendengar, perbaikilah adab dalam membuka lembaran-lembaran buku ketika berada dihadapannya, jauhi sikap congkak dan suka berdebat dihadapannya, -dan hendaknya- tidak mendahuluinya ketika berbicara atau ketika berjalan, -dan hendaknya tidak- banyak bicara disisinya, atau turut nimbrung dalam obrolannya atau di dalam pelajarannya dengan komentar darimu, -dan hendaknya tidak- terus mendesaknya untuk memberikan suatu jawaban. Jauhi banyak bertanya terlebih jika dihadapan orang banyak, karena hal seperti itu akan membuatmu menjadi sosok yang bangga -tertipu- dengan diri sendiri dan membuat guru-mu menjadi jenuh. Hendaknya engkau tidak memanggilnya dengan hanya menyebut namanya saja, atau bersama dengan gelarnya, akan tetapi panggillah dengan mengatakan : wahai guru-ku, atau wahai guru kami.

Apabila nampak padamu kekeliruan dari seorang guru, atau suatu kesalahan, maka jangan dengan adanya hal tersebut gurumu jatuh dari matamu, karena itu bisa menjadi sebab, anda akan terhalangi dari mendapatkan ilmu yang ada padanya. Siapa disana orang yang terlepas dan selamat dari kesalahan..!?!?!?[4]

Mengulang dan Menghafal Pelajaran Serta Mencatat Setiap Faidah yang Diperoleh
Dalam satu bait sya'ir dikatakan :
إحياء العلم مذاكرته ** فأدم للعلم مذاكرته
Menghidupkan ilmu itu dengan mudzakaroh -mengulang-ulang dan menghafalnya-
Maka teruslah mudzakarah terhadap ilmu tersebut


Sesungguhnya para ulama salaf kita terdahulu yang sholeh, saling berwasiat agar senantiasa mengulang dan menghafal pelajaran -mudzakarah-, berkata salah seorang diantara mereka : Mengulang dan menghafal pelajaran -mudzakarah- di malam hari lebih saya senangi dibandingkan dengan menghidupkan malam. Maksudnya : Duduk-ku di malam hari, mengingat-ingat ilmu dan mengingat-ingat apa yang telah saya hafal, hal itu lebih saya senangi dibandingkan dengan menghidupkan malam dengan qiro'ah, tahajjud, sholat, ruku' dan sujud.

Seyogyanya bagi seorang penuntut ilmu, setiap kali mendapatkan suatu faidah agar mengokohkan faidah tersebut pada dirinya, dengan cara mencatatnya di buku catatan atau di secarik kertas lalu membacanya ber-ulang-ulang sampai dia bisa menghafalnya. Para Ulama mengatakan :
" إن ما حفظ فر وما كتب قر "
Sesungguhnya apa saja yang dihafal pasti akan lari -menghilang- dan apa saja yang dicatat pasti akan tetap -kokoh-

Maksudnya adalah : apa saja yang anda catat pasti akan anda dapatkan nanti dikesempatan berikutnya. Para ulama juga menyerupakan ilmu itu dengan binatang buruan, sebagian mereka mengatakan :
العلم صيد والكتابة قيده ** فاحفظ لصيدك قيده أن يفلت
ilmu itu binatang buruan dan mencatat itu adalah pengikatnya
maka jaga pengikat binatang buruanmu jangan sampai lepas


Dakwah di Jalan Allah Ta'ala dan Bersungguh-Sungguh dalam Menyebarkan Ilmu
Ilmu syar'i ini diberikan tugas di dalam dakwah kepada Allah Ta'ala sebagai hidayah petunjuk dan bashirah, Allah Ta'ala berfirman :
{قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ} [يوسف: 108]
Katakanlah: "Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik". [Yusuf (12):108]

Oleh karena itu para da'i -juru dakwah- harus sibuk dalam setiap kesempatan, berdakwah kepada Allah ta'ala di pelbagai medan, baik di masjid, sekolah, pondok pesantren, pasar, dan di hari-hari raya serta di setiap waktu dan tempat yang tepat. Rasulullah Shollallahu 'alaihi wasallam sungguh telah memberikan dorongan untuk menyebarkan ilmu dan memberikan motivasi kepada kita di dalam menyebarkan ilmu, -berdasarkan riwayat- dari Anas bin Malik Radhiallohu 'anhu beliau berkata : Rasulullah Shollallahu 'alaihi wasallam bersabda :
"نَضَّرَ اللَّهُ عَبْدًا سَمِعَ مَقَالَتِي فَوَعَاهَا، ثُمَّ بَلَّغَهَا عَنِّي فَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ غَيْرِ فَقِيهٍ، وَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ إِلَى مَنْ هُوَ أَفْقَهُ مِنْهُ"
Semoga Allah menjadikan bercahaya dan berseri-seri seorang hamba yang mendengar hadits-ku lalu menjaganya -dengan hafalan dan catatan-, kemudian menyampaikan hadits tersebut dari-ku, maka betapa banyak orang yang membawa ilmu, orang yang tidak faqih dan betapa banyak orang yang membawa ilmu kepada orang yang lebih faqih dari dirinya, -akan tetapi dia mendapatkan pahala karena manfaat dari ilmu yang dibawanya- [HR. Ibnu Majah][5]

_______

[1]Kitab Al 'Ilmi karya Asy-Syaikh Muhammad bin Utsaimin [Hal. 41]
[2]Kitab Al 'Ilmi karya Asy-Syaikh Muhammad bin Utsaimin [Hal. 28]
[3]Lihat : Jami' Bayan Al 'Ilmi wa Fadhlih [1/580] no. 992 dan Al Jami' li Akhlaaq Arrowiy wa Aadaab Assaami' karya Al Khotib [1/199]
[4]Lihat : Hilyah Tholib Al 'Ilmi karya Asy-Syaikh Bakr Abu Zaid
[5]Sunan Ibnu Majah no. 236

_____________

Sumber : آداب طالب العلم