بسم الله الرحمن الرحيم

Adab Sopan Santun bagi Penuntut Ilmu [5]

Siapa yang tak pernah salah…?
MAAFKAN BILA DIA TAK SEMPURNA
Menghormati Ulama' tanpa Mengkultuskan, dan Mengikutinya tanpa Taqlid Buta
Wajib bagi para penuntut ilmu untuk menghormati para ulama dan menghargai mereka, serta berlapang dada terhadap perbedaan pendapat yang terjadi diantara ulama' dan selain mereka. Para penuntut ilmu hendaknya menerima hal tersebut dengan memberikan udzur kepada orang yang keliru dalam menempuh satu jalan menurut keyakinannya. Ini merupakan poin yang sangat penting, karena sebagian orang, ada yang suka mencari-cari kesalahan orang lain, untuk dijadikan sebagai -celaan- sesuatu yang hakekatnya tidak layak disandarkan bagi mereka, lalu membuat kekacauan dengan merusak reputasi mereka di tengah-tengah manusia. Ini merupakan kesalahan besar, apabila ghibah terhadap orang awam dari kalangan manusia biasa, termasuk dosa besar, maka sesungguhnya ghibah terhadap orang alim merupakan dosa besar yang sangat besar, karena ghibah terhadap orang alim, dampak negatifnya tidak hanya terbatas menimpa pribadi orang alim itu saja akan tetapi mudhorotnya menimpa yang bersangkutan serta ilmu syar'i yang dipikulnya.[1]

Berkata Amirul Mu'minin Ali bin Abi Tholib Radhiallohu 'anhu :
(من حقّ العالم عليك إذا أتيته أن تسلِّم عليه خاصَّة، وعلى القوم عامّة، وتجلس قُدَّامه، ولا تشِر بيديك، ولا تغمِز بعينَيك، ولا تقُل: قال فلان خلافَ قولك، ولا تأخذ بثوبِه، ولا تُلحَّ عليه في السؤال، فإنّه بمنزلة النخلة المُرطبة التي لا يزال يسقط عليك منها شيء)
diantara Hak seorang Alim yang wajib engkau tunaikan adalah apabila engkau mendatanginya hendaknya mengucapkan salam kepadanya secara khusus, kemudian kepada orang-orang secara umum, duduklah dihadapannya, jangan menunjuk memberi isyarat dengan kedua tanganmu, jangan pula memberi isyarat dengan kedua matamu, jangan pernah mengatakan : Si Fulan mengatakan sesuatu yang berbeda dengan pendapatmu; jangan pegang bajunya, jangan pula mendesaknya dalam mengajukan pertanyaan; karena sesungguhnya dia memiliki kedudukan sama seperti pohon kurma yang buahnya sudah matang, yang terus menerus jatuh darinya sesuatu untukmu.[2]

Lapang Dada dalam Masalah-Masalah Khilaf
Hendaknya seorang penuntut ilmu lapang dada dalam medan perbedaan pendapat yang bersumber dari sebuah ijtihad, karena masalah-masalah khilaf yang terjadi diantara para ulama', adakalanya terjadi dari perkara-perkara yang sebenarnya tidak ada ruang bagi ijtihad di dalam masalah tersebut, dan juga adakalanya terjadi dari perkara-perkara yang memang ada ruang untuk ijtihad di dalam masalah tersebut, maka untuk yang seperti ini, orang yang berbeda pendapat dalam masalah tersebut masih diberikan udzur -toleransi-.[3]

Beradab terhadap Guru
-Telah kita ketahui bersama- bahwa ilmu itu tidaklah diambil pertama kali dari buku, akan tetapi harus dari bimbingan seorang guru, yang anda peroleh dengan sempurna darinya kunci-kunci dalam menuntut ilmu, agar anda aman dari ketergelinciran, oleh karena itu wajib bagi anda untuk ber-adab ketika bersamanya, karena hal tersebut merupakan alamat kemenangan dan kelulusan serta alamat keberhasilan dan Kesuksesan. Maka hendaknya guru-mu menjadi tempat curahan penghormatan darimu, pemuliaan, penghargaan dan kelemahlembutan, ambillah dan terapkan seluruh adab sopan santun bersama guru; ketika engkau duduk bersamanya, ketika berbicara kepadanya, ketika mengajukan pertanyaan yang baik dan bermanfaat, ketika duduk mendengar, perbaikilah adab dalam membuka lembaran-lembaran buku ketika berada dihadapannya, jauhi sikap congkak dan suka berdebat dihadapannya, -dan hendaknya- tidak mendahuluinya ketika berbicara atau ketika berjalan, -dan hendaknya tidak- banyak bicara disisinya, atau turut nimbrung dalam obrolannya atau di dalam pelajarannya dengan komentar darimu, -dan hendaknya tidak- terus mendesaknya untuk memberikan suatu jawaban. Jauhi banyak bertanya terlebih jika dihadapan orang banyak, karena hal seperti itu akan membuatmu menjadi sosok yang bangga -tertipu- dengan diri sendiri dan membuat guru-mu menjadi jenuh. Hendaknya engkau tidak memanggilnya dengan hanya menyebut namanya saja, atau bersama dengan gelarnya, akan tetapi panggillah dengan mengatakan : wahai guru-ku, atau wahai guru kami.

Apabila nampak padamu kekeliruan dari seorang guru, atau suatu kesalahan, maka jangan dengan adanya hal tersebut gurumu jatuh dari matamu, karena itu bisa menjadi sebab, anda akan terhalangi dari mendapatkan ilmu yang ada padanya. Siapa disana orang yang terlepas dan selamat dari kesalahan..!?!?!?[4]

Mengulang dan Menghafal Pelajaran Serta Mencatat Setiap Faidah yang Diperoleh
Dalam satu bait sya'ir dikatakan :
إحياء العلم مذاكرته ** فأدم للعلم مذاكرته
Menghidupkan ilmu itu dengan mudzakaroh -mengulang-ulang dan menghafalnya-
Maka teruslah mudzakarah terhadap ilmu tersebut


Sesungguhnya para ulama salaf kita terdahulu yang sholeh, saling berwasiat agar senantiasa mengulang dan menghafal pelajaran -mudzakarah-, berkata salah seorang diantara mereka : Mengulang dan menghafal pelajaran -mudzakarah- di malam hari lebih saya senangi dibandingkan dengan menghidupkan malam. Maksudnya : Duduk-ku di malam hari, mengingat-ingat ilmu dan mengingat-ingat apa yang telah saya hafal, hal itu lebih saya senangi dibandingkan dengan menghidupkan malam dengan qiro'ah, tahajjud, sholat, ruku' dan sujud.

Seyogyanya bagi seorang penuntut ilmu, setiap kali mendapatkan suatu faidah agar mengokohkan faidah tersebut pada dirinya, dengan cara mencatatnya di buku catatan atau di secarik kertas lalu membacanya ber-ulang-ulang sampai dia bisa menghafalnya. Para Ulama mengatakan :
" إن ما حفظ فر وما كتب قر "
Sesungguhnya apa saja yang dihafal pasti akan lari -menghilang- dan apa saja yang dicatat pasti akan tetap -kokoh-

Maksudnya adalah : apa saja yang anda catat pasti akan anda dapatkan nanti dikesempatan berikutnya. Para ulama juga menyerupakan ilmu itu dengan binatang buruan, sebagian mereka mengatakan :
العلم صيد والكتابة قيده ** فاحفظ لصيدك قيده أن يفلت
ilmu itu binatang buruan dan mencatat itu adalah pengikatnya
maka jaga pengikat binatang buruanmu jangan sampai lepas


Dakwah di Jalan Allah Ta'ala dan Bersungguh-Sungguh dalam Menyebarkan Ilmu
Ilmu syar'i ini diberikan tugas di dalam dakwah kepada Allah Ta'ala sebagai hidayah petunjuk dan bashirah, Allah Ta'ala berfirman :
{قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ} [يوسف: 108]
Katakanlah: "Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik". [Yusuf (12):108]

Oleh karena itu para da'i -juru dakwah- harus sibuk dalam setiap kesempatan, berdakwah kepada Allah ta'ala di pelbagai medan, baik di masjid, sekolah, pondok pesantren, pasar, dan di hari-hari raya serta di setiap waktu dan tempat yang tepat. Rasulullah Shollallahu 'alaihi wasallam sungguh telah memberikan dorongan untuk menyebarkan ilmu dan memberikan motivasi kepada kita di dalam menyebarkan ilmu, -berdasarkan riwayat- dari Anas bin Malik Radhiallohu 'anhu beliau berkata : Rasulullah Shollallahu 'alaihi wasallam bersabda :
"نَضَّرَ اللَّهُ عَبْدًا سَمِعَ مَقَالَتِي فَوَعَاهَا، ثُمَّ بَلَّغَهَا عَنِّي فَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ غَيْرِ فَقِيهٍ، وَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ إِلَى مَنْ هُوَ أَفْقَهُ مِنْهُ"
Semoga Allah menjadikan bercahaya dan berseri-seri seorang hamba yang mendengar hadits-ku lalu menjaganya -dengan hafalan dan catatan-, kemudian menyampaikan hadits tersebut dari-ku, maka betapa banyak orang yang membawa ilmu, orang yang tidak faqih dan betapa banyak orang yang membawa ilmu kepada orang yang lebih faqih dari dirinya, -akan tetapi dia mendapatkan pahala karena manfaat dari ilmu yang dibawanya- [HR. Ibnu Majah][5]

_______

[1]Kitab Al 'Ilmi karya Asy-Syaikh Muhammad bin Utsaimin [Hal. 41]
[2]Kitab Al 'Ilmi karya Asy-Syaikh Muhammad bin Utsaimin [Hal. 28]
[3]Lihat : Jami' Bayan Al 'Ilmi wa Fadhlih [1/580] no. 992 dan Al Jami' li Akhlaaq Arrowiy wa Aadaab Assaami' karya Al Khotib [1/199]
[4]Lihat : Hilyah Tholib Al 'Ilmi karya Asy-Syaikh Bakr Abu Zaid
[5]Sunan Ibnu Majah no. 236

_____________

Sumber : آداب طالب العلم
بسم الله الرحمن الرحيم

Adab Sopan Santun bagi Penuntut Ilmu [4]

Obat Penyakit Futur
Foto : Mari Belajar Agama Islam
Tidak Pantas Rasa Malu yang ada pada Seorang Penuntut Ilmu, Mencegahnya untuk Bertanya

Oleh karena itu sebagian Ulama' Salaf berkata :
" لا يتعلم العلم مستحٍ ولا مستكبر "
"Tidak akan pernah mendapatkan ilmu, orang yang pemalu dan tidak pula orang yang sombong"

Sifat sombong yang ada pada dirinya, membawanya untuk ta'ajub, kagum pada dirinya sendiri, dan tetap diatas kejahilannya. Demikian pula sifat malu membawanya untuk tidak menuntut ilmu atau tidak mengambil faedah dari orang-orang yang memiliki ilmu, sehingga tetap berada diatas kejahilannya.

Al-Imam Muslim meriwayatkan dalam kitab shohihnya, dari Zainab binti Abu Salamah, dari Ummu Salamah, beliau berkata :
جاءت أم سليم إلى النبي صلى الله عليه وسلم فقالت: يا رسول الله صلى الله عليه وسلم! إن الله لا يستحي من الحق فهل على المرأة من غسل إذا احتلمت؟ فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: " نعم، إذا رأت الماء" فقالت أم سلمة: يا رسول الله! وتحتلم المرأة؟ فقال: "تربت يداك. فبم يشبهها ولدها ".
Ummu Sulaim pernah datang kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, lalu bertanya, “Wahai Rosulullah, sesungguhnya Allah tidak malu dari kebenaran, maka apakah bagi wanita itu ada kewajiban mandi apabila ia bermimpi?”. Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam menjawab, “Ya, apabila ia melihat air (mani)”. Berkata Ummu Salamah, “Wahai Rosulullah, apakah wanita itu bermimpi?”. Beliau menjawab, “Mudah-mudahan kedua tanganmu penuh berkah, maka dengan apakah anaknya menyerupai ibunya?”.

Perhatikan ini! Ibnu Abbas Rodhiallohu 'anhuma, dengan semangatnya untuk mulazamah -senantiasa belajar- bersama Nabi Shollallahu 'alaihi wasallam, sebelum beliau wafat, serta do'a Nabi Shollallahu 'alaihi wasallam untuknya, dia tetap bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu dari fuqoha' ~orang-orang~ dikalangan Sahabat setelah wafatnya Nabi Shollallahu 'alaihi wasallam. -Berdasarkan riwayat- dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas Rodhiallohu 'anhuma, beliau berkata :
" لما قبض رسول الله صلى الله عليه وسلم قلت لرجل من الأنصار: هلم فلنسأل أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم فإنهم اليوم كثير قال: فقال: واعجبا لك أترى الناس يفتقرون إليك؟ قال: فترك ذلك وأقبلت أسأل، فإن كان ليبلغني الحديث عن رجل فآتي بابه وهو قائل فأتوسد ردائي على بابه تسفي الريح علي من التراب فيخرج فيراني فيقول: يا ابن عم رسول الله ما جاء بك هلا أرسلت إلي فآتيك ؟ فأقول: لا أنا أحق أن آتيك فأسأله عن الحديث فعاش الرجل الأنصاري حتى رآني وقد اجتمع الناس حولي ليسألوني فقال: هذا الفتى كان أعقل مني "
Ketika Rasulullah Shollallahu 'alaihi wasallam telah wafat, saya berkata kepada salah seorang dari kaum Anshor : Kemarilah, mari kita bertanya kepada para sahabat Nabi sallallahu 'alaihi wasallam, jumlah mereka sekarang banyak.
Ibnu Abbas berkata, lalu orang tadi berkata: 'Aneh sekali kamu ini, Tidakkah kamu tahu bahwa justru merekalah yg membutuhkan kamu. Ibnu Abbas berkata : Maka orang tersebut membiarkan panggilanku, sementara saya selalu bertanya dan bertanya. Jika saya memperoleh informasi bahwa ada suatu hadits pada seseorang, maka segera saya datangi pintu rumahnya. Kata Ibnu'Abbas : '-Suatu saat- pernah saya menjadikan selendangku untuk bantal di depan pintu rumahnya, angin berhembus sampai debu mengenai wajahku, kemudian ia keluar dan melihatku' , lalu berkata:
'Wahai Anak Paman Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, apa yg membuatmu datang (kesini)?
Mengapa tidak kamu utus seseorang lalu saya yang menemuimu?', saya menjawab: 'Tidak, saya lebih layak untuk menemuimu lalu saya menanyakannya tentang suatu hadits. 'Orang Anshor -yang pernah saya ajak- tersebut masih hidup hingga ia melihatku dalam keadaan orang banyak berkumpul disekitarku untuk bertanya -menggali ilmu-', maka orang tersebut berkata:
'Pemuda ini memang lebih cerdas dibandingkan saya'.
[1]

Tawadhu' -Rendah Hati-, dan Sakinah -Ketenangan- serta Membuang Jauh-Jauh Kesombongan dan Kecongkakan serta Arogansi

Umar bin Khottob Radhiallohu 'anhu berkata :
تعلّموا العلم، وتعلّموا له السكينةَ والوقار، وتواضعوا لمن تعلّمون، وليتواضع لكم من تعلِّمون، ولا تكونوا جبابرة العلماء، ولا يقوم علمكم مع جهلكم
"Tuntutlah ilmu, pelajarilah -bahwa- bagi ilmu itu ada ketenangan dan harga diri, rendah dirilah kepada orang yang mengajarimu maka akan merendah diri pula kepadamu orang-orang yang kalian ajari, janganlah kalian menjadi ulama yang otoriter, tidak akan kokoh ilmu kalian bersama dengan kejahilan kalian"[2]

Imam Malik menulis kepada Ar-Rasyid :
"إذا علمت علماً فليُرَ عليك أثره وسكينته وسمته ووقاره وحلمه"
"Apabila engkau telah mengetahui suatu ilmu, maka hendaknya terlihat padamu : pengaruhnya, ketenangan karenanya, keindahannya dan kehormatannya serta kemurahan hati -yang dilahirkannya-"[3]

Al Imam Asy-Syafi'i berkata :
"لا يطلب أحد هذا العلم بالملك وعز النفس فيفلح، ولكن من طلبه بذلّ النفس وضيق العَيش وخدمة العلماء أفلح"
"Tidaklah seseorang menuntut ilmu agama ini dengan kekuasaan dan kedudukan dirinya lalu berhasil -mendapatkannya-, akan tetapi barangsiapa yang mencarinya dengan merendahkan diri dan kesempitan hidup serta menjadi pelayan ulama maka dia akan berhasil -mendapatkan apa yang dia cari-"[4]

Semangat dalam Menuntut Ilmu

Hendaknya engkau memiliki cita-cita yang tinggi dalam menuntut ilmu; jangan merasa cukup dengan ilmu yang sedikit padahal masih sangat mungkin untuk menambah dan memperbanyaknya, jangan merasa puas dari warisan para Nabi -Sholawatullahi alaihim- meski karena telah mendapatkannya sedikit, jangan condong pada sifat malas, lamban dan menunda-nunda, jadikanlah panutanmu para ulama yang aktif, yang senantiasa bersungguh-sungguh dan berlomba-lomba dalam medan ilmu ini. jangan menunda mendapatkan faidah yang mungkin bagimu mendapatkannya, jangan sampai angan-angan yang panjang dan sifat suka menunda-nunda menyibukkanmu dari mendapatkan faidah tersebut, karena sesungguhnya sifat menunda-nunda itu punya hal-hal yang bisa merusak, dan juga apabila engkau telah berhasil mendapatkan faidah ilmu tersebut sekarang, maka bisa jadi lain lagi faidah yang ada -yang bisa didapatkan- di kesempatan berikutnya.

Manfaatkan sebaik-baiknya waktu luang dan semangatmu selagi ada, serta masa sehatmu, selagi masih muda dan otak masih mudah mencerna serta kesibukan masih sangat sedikit. Sebelum datangnya hal-hal yang membuatmu tidak mampu beraktifitas atau karena banyaknya penghalang yang harus diurus dan diselesaikan.

Seyogyanya bagi anda "wahai-penuntut ilmu" untuk memberi perhatian terhadap pengumpulan kitab-kitab yang dibutuhkan sesuai kemanpuanmu, karena kitab-kitab tersebut merupakan sarana dalam mendapatkan ilmu, namun jangan jadikan pengumpulan kitab dan banyaknya kitab (tapi tanpa mengambil faidahnya) sebagai tanda kesuksesanmu dalam menuntut ilmu, dan jangan jadikan pula pengumpulan kitab tersebut sebagai tanda dalamnya pemahamanmu, akan tetapi wajib bagimu untuk mengambil faidah dari kitab-kitab tersebut sesuai dengan kemampuanmu.

Ibnu Jama'ah Al Kinaniy berkata :
"الذي ينبغي لطالب العلم أن لا يخالط إلا من يفيده أو يستفيد منه... فإن شرع أو تعرض لصحبة من يضيع عمره معه ولا يفيده ولا يستفيد منه ولا يعينه على ما هو بصدده فليتلطّف في قطع عشرته من أول الأمر قبل تمكّنها، فإن الأمور إذا تمكّنت عسرت إزالتها"
"Hal yang sebaiknya dilakukan oleh penuntut ilmu adalah hendaknya tidak bergaul kecuali dengan orang-orang yang memberi faidah kepadanya atau yang mengambil faidah darinya, apabila ada orang yang memulai atau mengajak untuk bersahabat dengannya, orang yang bisa menyia-nyiakan umurnya, tidak memberinya faidah dan tidak pula mengambil faidah darinya serta tidak membantunya atas apa yang digelutinya sekarang, maka hendaknya dia berlaku lemah lembut dalam memutuskan pergaulan dengannya di awal kali, sebelum semakin erat, karena sesungguhnya segala perkara jika semakin erat maka akan semakin sulit melepaskannya"[5]

Memilah-milih Sahabat

Berusahalah untuk memilih sahabat yang sholeh yang baik keadaannya, banyak menyibukkan diri dengan ilmu, bagus perangainya, bisa membantumu dalam menggapai tujuan dan cita-citamu, menolongmu dalam menyempurnakan faidah yang engkau dapatkan, memberimu semangat untuk lebih giat dalam menuntut ilmu, meringankan rasa jemu dan capek yang engkau rasakan, terpercaya dan teguh memegang agamanya, amanah dan punya akhlak yang mulia, menjadi penasehat bagimu karena Allah bukan sekedar main-main dan senda gurau. Silahkan rujuk kitab "Tadzkirah Assaami'" karya Ibnu Jama'ah.

Jauhilah teman-teman yang buruk!, karena sesungguhnya akhlak buruk itu bisa menular, dan pembawaan manusia bisa membawa apa saja serta tabiatnya suka menjiplak. Manusia itu ibaratnya sekawanan burung yang wataknya bisa ditempa untuk saling mencontoh satu sama lain. Oleh karena itu berhati-hatilah bergaul dengan orang-orang seperti itu -yang buruk- karena sesungguhnya teman yang seperti itu adalah penyakit. Menolak -sesuatu yang belum melekat- lebih mudah daripada melepasnya.

_______

[1]Il Ishobah Karya Ibnu Hajar, Biografi Abdullah bin Abbas (4/90)
[2]Lihat : Az Zuhd Karya Al Waki' (275)
[3]Lihat : Tadzkiroh Assaami' wal Mutakallim (h. 15-16)
[4]Lihat : Tadzkiroh Assaami' wal Mutakallim (h. 71-72)
[5]Lihat : Tadzkiroh Assaami' wal Mutakallim (h. 83)
______________

Sumber : آداب طلب العلم
_____________________

Istifaadah : KEUTAMAAN MENUNTUT ILMU SYAR’IY
بسم الله الرحمن الرحيم

Pesta Demokrasi [PEMILihan Umum-PEMILU]

Tanya:
Bolehkah kita ikut nyoblos pemilu ini?

Dijawab Oleh Ustadz Abu Muawiyah Askari hafizhahulloh

Hari-hari ini hari-hari pilgub, pilkada. Apa hukumnya mengikuti pemilihan itu?

Ma’asyaral ikhwah rahimakumullah, suatu hal yang tentunya kita tidak mengingkari bahwa (الانتخابات) atau pemilihan, itu termasuk dari bagian demokrasi. Yang kita sudah mengetahui borok-boroknya. Yang tentu para ikhwah sekalian sudah membaca sedikit banyak tentang masalah demokrasi. Yang prinsipnya sudah bertentangan dengan Islam.
أَفَنَجْعَلُ الْمُسْلِمِينَ كَالْمُجْرِمِينَ مَا لَكُمْ كَيْفَ تَحْكُمُونَ
Maka apakah patut Kami menjadikan orang-orang Islam itu sama dengan orang-orang yang berdosa (orang kafir)? Atau adakah kamu (berbuat demikian): bagaimanakah kamu mengambil keputusan? (QS Al-Qalam: 35-36)

Dari sisi ini saja sudah jelas penyimpangannya, belum lagi yang lainnya. Dampak-dampak buruk, al intikhabat termasuk diantaranya. Siapa saja suaranya sama, yang kafir, yang muslim, sama. Yang shahibul maksiat dengan seorang mukmin, sama. Yang shalat, yang tidak shalat, sama. Yang jahil, yang alim, sama. Disamakan, intikhabat, dari sini saja menunjukkan sangat bertentangan. Maka asal hukumnya ikut serta dalam perkara-perkara yang seperti ini, seakan-akan kita ikut meramaikan. Memperbanyak jumlah mereka, dan ini tentunya hal yang tidak diperbolehkan.

Akan tetapi para ulama, memberikan satu pengecualian dalam permasalahan ini. Yaitu dalam perkara akhaff al-dhararain’, atau min bab taklili syar, meminimalisir sebuah kejahatan, sebuah keburukan. Misalnya, ada dua orang yang dipilih, yang satu muslim, kita tahu dia baik secara dhahir dia baik, tidak dzalim kepada rakyat, misalnya. Yang satunya lagi, muslim tapi bejat. Kita tahu, kalau dia yang dipilih, maka prostitusi dilancarkan, kemudian tempat-tempat maksiat itu akan ditebar di berbagai tempat. Kalau keikut sertaan kita dalam hal menyoblos itu memberikan faidah min bab akhaff al-dhararain’. Dalam artian ada faidahnya itu, memberikan pengaruh, maka kata para ulama la ba’tsa, tidak mengapa, boleh, termasuk dalam kaidah min bab akhaff al-dhararain’.

Bahkan kata Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad, bahkan kalau antum tinggal di sebuah negara kafir, misalnya. Lalu dua-duanya yang dipilih, itu dua-duanya kafir, tapi yang satu kafirnya kafir mendingan. Ada kafir tapi dalam hal menyikapi rakyatnya, lebih baik daripada yang kedua misalnya. Yang satu ini kita kenal suka menindas kaum muslimin, suka menindas yang betentangan dengan agamanya dia, misalnya. Maka boleh min bab akhaff al-dhararain’. Ini, kata para ulama, kalau memberi pengaruh. Tapi kalau لَا يُسْمِنُ وَلَا يُغْنِي مِن جُوعٍ tidak mengenyangkan, tidak memberikan pengaruh sama sekali, maka asal hukumnya tidak diperbolehkan.

Ini dalam hal mencoblos, bukan dalam hal mendukung. Misalnya ikut mensosialisasi, datang seorang yang akan dipilih, misalnya. Dia datang, “Kamu saya lihat ini punya bakat untuk jadi tim sukses, nih uang untuk kamu, sekian juta, nih tolong baju ambil, bagi-bagikan kepada teman-temanmu itu, bagi-bagi!” Ini berarti dia telah termasuk dalam orang yang ikut meramaikan pesta demokrasi, itu hukumnya haram, tidak diperbolehkan. Jadi diperhatikan, kalau memang diketahui. Kalau misalnya orang-orang yang terpilih itu antum tidak tahu. Ini yang calon pertama, kedua, ketiga, keempat, sama saja, ya sudah tidak usah ikut-ikutan. Sama, tidak usah ikut-ikutan.

Nah ini ma’asyaral ikhwah rahimakumullah, kadang-kadang ada sebagian itu memudah-mudahkan masalah ini. Nah, Syaikh Albany membolehkan, kebetulan dapat fatwa. Nah buktinya Syaikh Albany membolehkan, ini fatwanya. Padahal beliau dalam permasalahan ini khusus, seperti yang kita sebutkan tadi, min bab taklili syar. Untuk meminimalisir kejahatan yang terjadi. Sekarang antum tahu tidak, apakah dengan datangnya salah seorang yang terpilih itu kemudian memberikan kepada antum uang, ataukah memberikan kepada antum pakaian, berarti berkesimpulan wah berarti orang ini baik. Buktinya yang lain tidak pernah datang ke ana, tidak pernah memberikan duit ke ana. Berarti antum sudah terpengaruh.

Nah ini ma’asyaral ikhwah rahimakumullah, tolong dipahami dengan baik pernyataan para ulama. Jangan sampai kemudian dimanfaatkan, kebetulan dia sudah punya hawa nafsu, tambah lagi kebetulan dia ingin numpang di fatwa Syaikh Albany, maka yang seperti ini bathil, tidak diperbolehkan, asal hukumnya haram. Sekali lagi para ulama hanya membolehkan min bab akhaff al-dhararain’. Kalau betul-betul diterapkan kaidah yang seperti ini, boleh silahkan. Dengan tidak ikut meramaikan pesta demokrasi. Kemudian juga nampak seperti yang dijelaskan oleh para ulama, bahwa ada diantara mereka dikhawatirkan, ada diantara mereka yang dikhawatirkan kalau dia yang naik, maka dia dzalim misalnya, maka dia pilih yang lain. Itupun kalau memberikan pengaruh, kalau tidak maka tidak ada gunanya. Allahul musta’an, wallahu ta’ala a’lam.

Download Audio JAWABAN USTADZ ASKARY DIATAS disini

SUMBER : http://tanyajawabringkas.blogspot.com/2013/09/bolehkah-kita-ikut-nyoblos-pemilu.html

_______

Co-Pas dari : Bolehkah kita ikut nyoblos pemilu ?

_______________

Faidah :
بسم الله الرحمن الرحيم

Adab Sopan Santun bagi Penuntut Ilmu [3]

Adab Sopan Santun bagi Penuntut Ilmu
Menjadikan Waktunya "Seluruhnya" untuk Ilmu dan Menjaga serta Memperhatikan Waktu

Hal itu dilakukan supaya seorang penuntut ilmu tidak menyia-nyialan sedikitpun detik demi detik umurnya dalam kegiatan lain bukan dalam rangka mencari ilmu atau mengamalkan ilmu, kecuali sesuai kadar kebutuhan itupun kalau memang mendesak. Sungguh sebagian ulama terdahulu tidak pernah meninggalkan kesibukannya dalam menuntut ilmu hanya karena ditimpa penyakit yang tidak parah atau merasakan sakit yang ringan, akan tetapi mereka meminta kesembuhan dengan ilmu, dan tetap menyibukkan diri dengan ilmu sesuai batas kemampuannya.

Al Imam Asy-Syafi'i berkata :
لو كلفت شراءَ بصلة لما فهمت مسألة
"Jika sekiranya saya memaksakan diri untuk jualan bawang, maka sungguh saya tidak akan memahami persoalan ilmu sedikitpun"[1]

Sebagian ulama mengatakan :
"لا يَنال هذا العلم إلا من عطّل دكّانه، وخرّب بستانه، وهجر إخوانَه، ومات أقرب أهله فلم يشهد جنازته".
"Tidak ada yang bisa memperoleh ilmu ini kecuali orang yang menutup kiosnya, menelantarkan kebunnya, meninggalkan saudara-saudarinya, serta meninggal keluarga terdekatnya sementara itu dia tidak menyaksikan jenazahnya"[2]

Waktu merupakan nikmat ilahi yang wajib kita syukuri, Allah Subhanahu wata'ala berfirman dalam surah Ibrahim :
{...وَسَخَّرَ لَكُمُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ}{وَآتَاكُمْ مِنْ كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا إِنَّ الْإِنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ} [إبراهيم: 33-34]
...dan telah menundukkan bagimu malam dan siang. Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat lalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah). [Ibrahim (14):33-34]

Didalam ayat yang mulia diatas, Allah Subhanahu Wata'ala menganugerahkan kepada para hamba-Nya sejumlah nikmat yang tak terhitung, diantara nikmat tersebut adalah nikmat adanya siang dan malam, dimana waktu berputar dan tegak padanya. Namun kebanyakan manusia lalai dari nikmat ini meski begitu berharga. Allah Subhanahu wata'ala berfirman dalam surah An-Nahl :
{وَسَخَّرَ لَكُمُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومُ مُسَخَّرَاتٌ بِأَمْرِهِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ} [النحل: 12]
Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahami (nya), [An-Nahl (16):12]

Dari sini nampak dengan jelas bagi kita nikmat ilahi -yaitu waktu- yang lalai dari mensyukurinya para orang-orang yang lalai, dan berlomba untuk membuang-buang dan menyia-nyiakannya para penyembah perut dan pelaku kebathilan. Telah benar Rasululullah Shollallahu 'alaihi wasallam dimana beliau bersabda :
"نِعمتانِ مغْبونٌ فيهما كَثيرٌ مِن النّاس: الصِّحَّةُ والفَراغُ".
“Ada dua nikmat yang kebanyakan manusia tertipu pada keduanya : Kesehatan dan Kesempatan” [HR. Bukhari dari Ibnu Abbas Radhiallohu 'anhuma]

Sabda Nabi : مغْبونٌ (yang tertipu) asal katanya adalah الغبن (tipuan) semakna dengan النقص (kekurangan), pendapat lain mengatakan bahwa الغبن (tipuan) semakna dengan ضعف الرأي (lemah akal pikiran).

-Sabda Nabi- : الصِّحَّةُ (Kesehatan) : berkaitan dengan badan

-Sabda Nabi- : الفَراغُ (Kesempatan) : Tidak ada perkara-perkara duniawi yang menyibukkannya

Oleh karena itu, wajib bagi setiap Muslim yang berakal untuk bersungguh-sungguh dalam men-syukuri Maha Pemberi Nikmat atas nikmat waktu -yang diberikan ini- dan mempergunakannya dalam setiap perkara yang mendatangkan faidah dan manfaat.

Waktu adalah amanah yang akan dipertanggungjawabkan, manusia akan ditanya tentang waktunya pada saat menghadap Allah Subhanahu wata'ala, Nabi Shollallahu 'alaihi wasallam bersabda :
لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ القِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ، وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَ فَعَلَ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ، وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَ أَبْلاَهُ.
“Tidak akan bergeser telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat, hingga dia ditanya tentang: Umurnya (waktu), dalam urusan apa dia gunakan. Tentang ilmu, bagaimana dia mengamalkannya? Tentang hartanya, dari mana dia memperolehnya dan ke mana dia belanjakan? Juga tentang jasmani (kekuatan)nya dalam urusan apa dia habiskan?” [HR. At-Tirmidzi, Hasan Shohih]

Waktu merupakan sesuatu yang sangat berharga yang dimiliki oleh seseorang, karena waktu itu adalah kehidupan itu sendiri, waktu adalah modal seseorang, apabila dia menyia-nyiakannya maka tidak mungkin bisa untuk mengembalikannya bagaimanapun usahanya. Sebagian Orang cerdik pandai menyerupakannya dengan emas, akan tetapi waktu tetaplah lebih mahal dan lebih berharga dibandingkan dengan segala sesuatu yang berharga, karena waktu merupakan bagian dari wujud manusia itu sendiri, sebab waktu hakekatnya adalah hembusan nafas yang terbatas dalam kehidupan ini.

والوقت أنفس ما عُنيت بحفظه ** وأراه أيسرَ ما عليك يهون
Waktu adalah hembusan nafas yang seharusnya engkau sibuk menjaganya ** namun ternyata aku melihatnya sebagai sesuatu yang paling mudah engkau hinakan

Hanya Orang Mukminlah satu-satunya yang mengetahui betapa berharganya waktu, karena ma'rifah-nya terhadap suatu tujuan yang dengan sebab tujuan inilah dia diciptakan. Allah Azza wajalla berfirman :
{وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ (56) مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ (57) إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ (58) فَإِنَّ لِلَّذِينَ ظَلَمُوا ذَنُوبًا مِثْلَ ذَنُوبِ أَصْحَابِهِمْ فَلَا يَسْتَعْجِلُونِ (59)} [الذاريات: 56 - 59]
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi Aku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh. Maka sesungguhnya untuk orang-orang lalim ada bahagian (siksa) seperti bahagian teman-teman mereka (dahulu); maka janganlah mereka meminta kepada-Ku menyegerakannya. [Adz-Dzariat (51):56-59]

Dahulu para Ulama' Salaf kita yang Sholeh Ridhwanullahi 'alaihim sungguh mereka sangat semangat dalam memanfaatkan waktu, mencari faedah, dan keuntungan serta manfaat dengan waktu yang ada. Mereka berlomba dengan jam demi jam dan bersegera memanfaatkan kesempatan demi kesempatan karena keengganan mereka membuang-buang waktu dan semangat mereka jangan sampai kehilangan waktu dengan percuma.

Berkata Sahabat yang mulia Abdullah bin Mas'ud Radhiallohu 'anhu :
( ما ندمت على شيء ندمي على يوم غربت شمسه ، نقص فيه أجلي ، ولم يزد فيه عملي ).
Saya tidak pernah menyesal sebagaimana menyesalnya aku terhadap hari yang terbenam mataharinya, hari yang berkurang di hari itu ajal-ku namun tidak bertambah di hari tersebut amal ibadahku

Berkata Kholifah yang Sholeh, Umar bin Abdul Aziz Rodhiallohu 'anhu :
إن الليل والنهار يعملان فيك ، فاعمل فيهما
Sesungguhnya siang dan malam tidak henti-hentinya berlalu melewatimu, maka ber-amallah didalamnya

Berkata Al Hasan Al Bashri Rodhiallohu 'anhu :
يا ابن آدم إنما أنت أيام فإذا ذهب يوم ذهب بعضك ، ويوشك إذا ذهب بعضك أن يذهب كلك
Wahai Anak Cucu Adam, Sesungguhnya engkau hakekatnya adalah sejumlah hari, apabila berlalu satu hari maka sebagian dirimu telah tiada, dan dikhawatirkan jika sebagian dirimu telah tiada menyebabkan kepergian dirimu seluruhnya

Beliau juga berkata :
أدركـت أقوامـا كانـوا على أوقاتهـم أشـد منكـم حرصـاً على دراهمكم ودنانيركم
Aku pernah menjumpai beberapa orang yang mereka sangat semangat menjaga waktunya dibandingkan dengan semangat kalian menjaga dirham-dirham dan dinar-dinar kalian

Abu Hilal Al Askary, berkata : Adalah Kholil bin Ahmad -Al Farohidy Al Basry salah seorang cendikiawan di muka bumi ini- (w. 170 H.) berkata :
أثقل الساعات علي : ساعة آكل فيها
Waktu yang paling berat bagiku adalah waktu yang kupakai untuk makan[3]

Allahu Akbar, betapa dahsyatnya -jika- kehabisan waktu untuk menuntut ilmu bagi-nya, dan betapa membara semangat -dalam memanfaatkan- waktu pada dirinya.

Al Khotib Al Bagdadi meriwayatkan dari Abul Abbas Al Mubarrid, beliau berkata : Saya tidak melihat ada orang yang sangat semangat dalam menuntut ilmu dibandingkan dengan tiga orang berikut :
  1. Al Jahidz -Amru bin Bahr, Imam Ahli Adab ~Sastra~- (w. 255 H.)
  2. Al Fath bin Kho-qon -Sastrawan, Penyair, Seorang Cendikiawan- termasuk keturunan raja, Kholifah Al Mutawakkil Al Abbasy mengangkatnya menjadi menteri dan menjadikannya saudara, Lemari-lemari bukunya terkumpul penuh dengan buku, termasuk lemari buku yang sangat luar biasa. (w. 247 H.)
  3. Ismail bin Ishaq Al Qody -Seorang Imam yang Faqih, Al Maliky, Al Baghdady- (w. 282 H.)

Berkaitan dengan Al Jahidz, sesungguhnya beliau ketika ada buku yang dipegangnya, maka dia akan membacanya dari awal sampai akhir, buku apapun itu, sampai-sampai dia pernah menyewa beberapa toko buku dan alat tulis, lalu bermalam disitu untuk meneliti banyak buku.

Adapun Al Fath bin Kho-qon, sesungguhnya dia dahulu membawa satu kitab di lengan bajunya, apabila dia berdiri dihadapan Al Mutawakkil untuk pergi buang air kecil atau sholat, maka dia keluarkan buku tersebut, dibaca dan diperhatikannya dengan seksama sambil berjalan, sampai pada tempat yang dia tuju. Demikian pula dia lakukan hal yang sama ketika kembali, sampai ke tempat duduknya. Apabila Al Mutawakkil ingin berdiri, pergi menyelesaikan hajat tertentu, maka diapun keluarkan kitab yang ada di lengan bajunya tersebut, lalu dia baca di majelis Al Mutawakkil, sampai Al Mutawakkil datang kembali.

Adapun Ismail bin Ishaq Al Qody, sesungguhnya saya tidak pernah masuk bertemu dengannya sekalipun kecuali saya lihat di tangannya ada buku yang dia teliti, atau sementara membolak-balik beberapa buku untuk mencari buka mana yang akan dia teliti atau sedang membuka-buka beberapa buku.[4]

Berkata Ubaid bin Ya'isy :
أقمت ثلاثين سنة ما أكلت بيدي بالليل ، كانت أختي تلقمني وأنا أكتب الحديث
Saya pernah tinggal selama tiga puluh tahun, dimana Saya tidak pernah makan malam dengan tangan sendiri, saudarikulah yang menyuapiku sementara saya menulis Al Hadits[5]

Perhatikan! Al Imam Jamaluddin Al Qosimy Rahimahullah, sungguh dia telah hidup sekitar lima puluh tahun, dan menyusun lebih dari lima puluh buku, hidupnya penuh dihiasi dengan ilmu, dakwah dan perjuangan, bersamaan dengan itu dia pernah berkata :
يا ليت الوقت يباع فأشتريه.
Duhai sekiranya waktu itu dijual, maka saya pasti akan membelinya

Dengan sebab semangat menjaga waktu yang dimiliki para ulama' salaf kita yang sholeh, membuat kedudukan mereka menjadi tinggi, keadaan mereka menjadi mulia, nama dan peninggalan mereka kekal abadi. Adapun di zaman kita sekarang ini, sesungguhnya diantara sebab yang paling menonjol dari ketertinggalan kaum muslimin adalah sifat menunda-nunda dan membuang-buang waktu, dihabiskan dan disia-siakan di kafe ~warung-warung kopi-, tempat-tempat hiburan, di jalan-jalan, di depan televisi, di dapur rekaman di tempat syuting, dan lain sebagainya dari tempat-tempat yang tidak ada faedah di dalamnya serta tidak ada buah keuntungan dibelakangnya.

_______

[1]Lihat : Tadzkiroh Assami' wal mutakallim (h. 27)
[2]Lihat : Al Jami' Li-akhlaqirrowy karya Al Khotib (1534)
[3]Al Hats-ts 'ala Tholabil 'ilmi wal ijtihad fie jam'ihi karya Abu Hilal Al Azkary (h. 87)
[4]Taqyiid Al 'Ilmi karya Al Khotib Al Bagdady (h. 139)
[5]Al Jami' Li-akhlaqirrowy wa Aadab Assami' (2/178), Ubaid bin Ya'isy adalah Syaikh-nya Imam Al Bukhary dan Muslim, silahkan rujuk biografinya di Siyar A'lam An Nubala' karya Adz-Dzahaby (11/45).

______________

Sumber : آداب طلب العلم

______________

Baca Sekilas :
Berbagi Kepada Ibu
بسم الله الرحمن الرحيم

Adab Sopan Santun bagi Penuntut Ilmu [2]

Menimba Ilmu Kerana Ingin Mengamalkannya
1. Mengamalkan Ilmu
Apabila ilmu tidak diterjemahkan dalam bentuk amal perbuatan maka tentu tidak ada faidahnya. Oleh karena itu wajib bagi penuntut ilmu untuk bersungguh-sungguh dalam beramal sebagaimana dia bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu. Dialah manusia yang paling layak untuk memetik buah ilmunya. Allah Subhanahu wata'ala sungguh memuji di dalam kitab-Nya yang mulia, orang-orang yang mengamalkan ilmunya, Allah Subhanahu wata'ala berfirman :
{وَالَّذِينَ اجْتَنَبُوا الطَّاغُوتَ أَنْ يَعْبُدُوهَا وَأَنَابُوا إِلَى اللَّهِ لَهُمُ الْبُشْرَى فَبَشِّرْ عِبَادِ (17) الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ أُولَئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللَّهُ وَأُولَئِكَ هُمْ أُولُو الْأَلْبَابِ (18)} [الزمر: 17، 18]
Dan orang-orang yang menjauhi thaghut (yaitu) tidak menyembahnya dan kembali kepada Allah, bagi mereka berita gembira; sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba-hamba-Ku, yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal. [Az-Zumar (39):17 & 18]

Sebaliknya Allah Subhanahu wata'ala mencela, orang-orang yang tidak mengambil manfaat dari ilmu yang dibawanya, Allah Azza wajalla meng-identikkan mereka dengan keledai yang memikul buku-buku tebal namun tidak mengetahui berapa harganya apatah lagi mutiara-mutiara ilmu yang terkandung didalamnya. Allah Subhanahu wata'ala berfirman dalam surah Al Jumu'ah :
{مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا بِئْسَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِ اللَّهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ} [الجمعة: 5]
Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang lalim. [Al-Jumu'ah (62):5]

Dalam Kitab Shohih Bukhari dan Muslim, dari Usamah bin Zaid Rodhiallohu 'anhu, beliau berkata : Aku mendengar Rasulullah Shollallahu 'alaihi wasallam bersabda :
يُجَاءُ بِالرَّجُلِ يَوْمَ القِيَامَةِ فَيُلْقَى فِي النَّارِ، فَتَنْدَلِقُ أَقْتَابُهُ فِي النَّارِ، فَيَدُورُ كَمَا يَدُورُ الحِمَارُ بِرَحَاهُ، فَيَجْتَمِعُ أَهْلُ النَّارِ عَلَيْهِ فَيَقُولُونَ: أَيْ فُلاَنُ مَا شَأْنُكَ؟ أَلَيْسَ كُنْتَ تَأْمُرُنَا بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَانَا عَنِ المُنْكَرِ؟ قَالَ: كُنْتُ آمُرُكُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَلاَ آتِيهِ، وَأَنْهَاكُمْ عَنِ المُنْكَرِ وَآتِيهِ
“Akan didatangkan seorang lelaki pada hari kiamat lalu dia dilemparkan ke dalam neraka. Usus-ususnya terburai di dalam neraka lalu dia berputar-putar seperti keledai memutari penggilingannya. Maka penghuni neraka berkumpul di sekitarnya lalu mereka bertanya, “Wahai fulan, ada apa denganmu? Bukankah kamu dahulu yang memerintahkan kami kepada yang ma’ruf dan yang melarang kami dari kemungkaran?” Dia menjawab, “Memang betul, aku dulu memerintahkan kalian kepada yang ma’ruf tapi aku sendiri tidak mengerjakannya. Dan aku dulu melarang kalian dari kemungkaran tapi aku sendiri yang mengerjakannya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Ali bin Abi Tholib Rodhiallohu 'anhu berkata :
هتف العلم بالعمل، فإن أجابه وإلا ارتحل
Ilmu itu berteriak memanggil Amal, apabila amal menjawab panggilannya -maka ilmu akan tetap- jika tidak maka ilmu akan pergi[1]

Al Imam Asy-Syafi'i Rahimahullah berkata :
ليس العلم ما حفِظ، العلم ما نفع
Ilmu itu bukan sekedar hafalan, tapi ilmu itu adalah yang bermanfaat[2]

Sebagian ulama salaf terdahulu berkata :
يا حملة العلم، اعملوا فإنما العالم من عمل بما علم، ووافق علمه عمله، وسيكون أقوام يحملون العلم لا يجاوز تراقِيَهم، يخالف عملهم علمهم، ويخالف سريرتهم علانيتهم، يجلسون حِلقاً يباهي بعضهم بعضاً، حتى إنّ الرجل ليغضب على جليسه أن يجلس إلى غيره ويدَعَه، أولئك لا يصعد أعمالهم في مجالسهم تلك إلى الله تعالى
Wahai para pembawa ilmu, beramallah kalian!, sesungguhnya orang yang berilmu itu adalah orang yang mengamalkan ilmunya dan amalnya sesuai dengan ilmunya. Suatu saat nanti akan ada orang-orang yang membawa ilmu namun tidak melewati kerongkongannya, amalnya kontradiksi dengan ilmunya, berbeda keadaannya ketika sendirian dan ketika di keramaian, mereka duduk di halaqoh-halaqoh saling memuji satu sama lain, sampai-sampai ada orang yang marah kepada orang lain yang sering duduk bersamanya, ketika orang tersebut duduk bermajelis dengan orang lain dan meninggalkan majelisnya. Mereka adalah orang-orang yang amal perbuatannya di dalam majelis-majelisnya tersebut, tidak akan naik kepada Allah Ta'ala[3]

Diantara bentuk -bermanfaatnya ilmu seseorang- adalah senantiasa merasa diawasi oleh Allah Ta'ala (Muroqobah) dalam sepi dan ramai, dan senantiasa merasa takut kepada Allah Subhanahu wata'ala. Al Imam Ahmad Rahimahullah berkata :
"أصل العلم الخشية "
Prinsip dasar ilmu itu adalah rasa takut (Al Khos-yah)

Berkata Al Imam Azzuhri Rahimahullah :
" إن للعلم غوائل، فمن غوائله أن يترك العمل به حتى يذهب ، ومن غوائله النسيان ، ومن غوائله الكذب فيه ، وهو شر غوائله "
Sesungguhnya ilmu itu punya banyak bencana -yang bisa menimpanya-, diantara bencana -yang menimpa- ilmu adalah tidak mengamalkannya sehingga ilmu itu hilang, termasuk bencana -yang menimpa- ilmu adalah lupa dan juga termasuk bencana -yang menimpa- ilmu adalah dusta padanya dan ini merupakan seburuk-buruk bencana -yang menimpa- ilmu.[4]

Sufyan Ats-Tsaury pernah ditanya : Mana yang lebih engkau senangi..? menuntut ilmu atau mengamalkan ilmu..? beliau menjawab :
" إنما يراد العلم للعمل، فلا تدع طلب العلم للعمل، ولا تدع العمل لطلب العلم "
Sesungguhnya ilmu itu dicari untuk di-amalkan, makanya jangan berhenti menuntut ilmu dengan alasan mau mengamalkan ilmu -yang sudah ada-, demikian pula jangan berhenti ber-amal dengan alasan mau menuntut ilmu[5]

2. Sabar dan siap memikul beban
Jalan menuntut ilmu itu tidaklah terhampar penuh dengan -cantiknya- bunga dan -sedapnya- bumbu, akan tetapi butuh kesabaran dan keyakinan serta tekad yang tak mudah bengkok, karena jalannya panjang, sementara nafsu senantiasa mengajak supaya jenuh -bosan-, maunya berlalu dengan cepat, tenang-tenang santai dan istirahat. Apabila seorang penuntut ilmu menuruti keinginan nafsunya tentu akan menggiringnya kepada penderitaan dan penyesalan, seorang penyair berkata :
وما النفس إلا حيث يجعلهــا الفتى فإن أطمعت تـاقت وإلا تسلتِ
dan tidaklah nafsu itu kecuali tergantung sejauh mana pemuda -pemiliknya- menempatkannya
Jika nafsu dibuat serakah maka akan rindu seperti itu terus jika tidak maka dia akan sembunyi dan tertahan


Seorang penyair yang lain berkata :
والنفس كالطفل إن تهمله شب على حب الرضاع وإن تفطمه ينفطم
dan nafsu itu seperti anak kecil jika engkau membiarkannya maka dia akan menjadi besar
dalam keadaan tetap senang menyusu, namun jika engkau menyapihnya maka dia akan berhenti menyusu


Lapangan sabar yang sangat luas adalah sabar dalam menuntut ilmu, tidak ada satu jalanpun untuk menuntut ilmu kecuali dibutuhkan kesabaran -untuk menempuhnya-, kesabaran akan menerangi jalan bagi penuntut ilmu, sabar merupakan bekal yang sangat dibutuhkan, demikian pula akhlak yang mulia tetap harus ada dan menjadi perhiasan bagi penuntut ilmu. -Penuntut Ilmu Butuh- Sabar dalam menghadapi sulitnya perjalanan menemui para ulama' -masyaikh-, dan sabar dengan lamanya waktu tinggal disisi mereka, serta -sabar- dalam menjaga adab sopan santun bersamanya. -Penuntut Ilmu Butuh- sabar dalam mengulang-ulangi pelajaran dan ketika menimba ilmu. Dalam kisah Nabi Musa dan Khidr, terjadi dialog antara Nabi Allah Musa dan Khidr Alaihimassalam, Allah Subhanahu wata'ala berfirman dalam Surah Al Kahfi :
{قَالَ لَهُ مُوسَى هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَى أَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا (66) قَالَ إِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيعَ مَعِيَ صَبْرًا (67) وَكَيْفَ تَصْبِرُ عَلَى مَا لَمْ تُحِطْ بِهِ خُبْرًا (68) قَالَ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ صَابِرًا وَلَا أَعْصِي لَكَ أَمْرًا (69)} [الكهف: 66 - 69]
Musa berkata kepada Khidhr: "Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?" Dia menjawab: "Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku. Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?" Musa berkata: "Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai seorang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusan pun". [Al-Kahfi (18):66-69]

Demikian pula sebaliknya bagi seorang guru sebaiknya berhias dengan keindahan sabar bersama murid-muridnya. Hendaknya berlapang dada terhadap pertanyaan-pertanyaan mereka, jangan menahan uluran tangan untuknya. Hendaknya -seorang guru- meringankan beban mereka ~murid-muridnya~, lemah lembut dan sayang kepada mereka, memberikan kemudahan-kemudahan kepadanya dalam memperoleh ilmu. -Semua ini- dalam rangka meneladani Nabi dan Guru serta Kekasih kita Muhammad Shollallahu 'alaihi wasallam, yang telah dipuji oleh Rob-nya -Allah Subhanahu wata'ala- dengan Firman-Nya :
{فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ} [آل عمران: 159]
Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya. [Ali Imron (3):159]
_______

[1]Iqtidho' Al Ilm Al Amal (35-36)
[2]Tadzkiroh Assami' wal Mutakallim (15)
[3]Haasyiah tadzkiroh Assami' (16-17)
[4]Jami' Bayan Al Ilm (1/107-108)
[5]Hilyah Al Auliya' (7/12)

Sumber : آداب طالب العلم

_______


Faidah : Inilah Sifat Penghuni Neraka
بسم الله الرحمن الرحيم

Hukum Syar'i bagi Guru yang Terlambat Mengajar

Pahlawan Tanpa Tanda JasaDengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Fadhilah Asy-Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-Utsaimin Rahimahullah Ta'ala -semasa hidupnya ditanya-

Kami harapkan dari Anda untuk memberikan jawaban dari pertanyaan berikut ini : Kami -Beberapa orang Ibu Guru- memperhatikan sebagian besar dari Ibu Guru terlambat hadir di dalam LT (Lecture Theater) -kelas- pada waktu yang telah ditentukan, Ibu Guru tersebut terlambat beberapa waktu (menit bahkan mungkin jam), dia duduk-duduk bersama Ibu-Ibu Guru yang lain di dalam ruangannya padahal tidak ada hal penting yang mendesak untuk dibahas disitu, Apa hukum (syar'i) dalam hal seperti itu..??? Sementara itu kami juga mendengar masalah yang serupa terjadi di kalangan Pak Guru, Jazakumullahu khaeran..!!

(Jawab)

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Ini haram bagi mereka, tidaklah halal bagi Bapak atau Ibu Guru untuk terlambat masuk di kelas (Lecture Theater-LT-) mulai dari awal di-umumkan bahwa telah masuk jam pelajarannya, berdasarkan Firman Allah Ta'ala :
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَوْفُوا بِالْعُقُودِ} [المائدة: 1]
Hai orang-orang yang beriman, penuhilah akad-akad itu. [Al-Maaidah (5):1]

dan Firman Allah Ta'ala :
{وَأَوْفُوا بِالْعَهْدِ إِنَّ الْعَهْدَ كَانَ مَسْئُولًا} [الإسراء: 34]
dan penuhilah janji; sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungan jawabnya. [Al-Isro' (17):34]

dan Firman Allah Ta'ala :
{وَأَقْسِطُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ} [الحجرات: 9]
dan berlaku adillah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. [Al-Hujurat (49):9]

-Maksud ayat diatas- adalah : berbuat adillah kalian..!!! dan tentu bukanlah bentuk keadilan jika seorang pegawai baik dia Bapak atau Ibu Guru atau pegawai lainnya -secara umum- mengambil gajinya secara sempurna namun bergampangan -seenaknya saja- dalam menunaikan tugasnya sementara dia diberikan gaji berdasarkan sejauh mana dia melaksanakan tugasnya tersebut. Maka apabila hal itu terjadi dilakukan oleh seorang pegawai, maka hendaknya dia menanggung ancaman yang disebutkan dalam Firman Allah Ta'ala :
{وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِينَ (1) الَّذِينَ إِذَا اكْتَالُوا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُونَ (2) وَإِذَا كَالُوهُمْ أَوْ وَزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ (3)} [المطففين: 1 - 3]
Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi. [Al-Muthoffifin (83):1-3]

Semoga Allah Subhanahu wata'ala memberikan kepada kita semua taufiq untuk melaksanakan kebaikan dan menunaikan seluruh amanah.

Ditulis Oleh Asy-Syaikh Muhammad Sholeh Al-Utsaimin

Pada tanggal : 13/05/1411 H

Sumber : مجموع فتاوى ورسائل العثيمين
بسم الله الرحمن الرحيم

Adab Sopan Santun bagi Penuntut Ilmu [1]

SemangatLah jangan bermalas-malasan.....
Sebaik-baik kegiatan yang dilakukan untuk memanfaatkan waktu adalah menyibukkan diri dengan ilmu syar'i, ilmu Agama, terus mencari dan mendapatkan faidah ilmu, senantiasa mengulang-ulangi pelajaran dan mengajarkannya. Menuntut ilmu syar'i termasuk pendekatan diri yang paling afdhol dan ketaatan yang paling agung. Oleh karena itu para Ulama sejak dahulu sampai sekarang, banyak yang memberikan perhatian besar dalam menjelaskan adab sopan santun yang harus dimiliki oleh para penuntut ilmu, adab sopan santun tersebut merupakan perhiasan dan sarana menuju kemenangan dan kesuksesan. Sebagaimana mereka para Ulama telah menjelaskan tentang akhlaq terpuji dan akhlaq tercela dalam menuntut ilmu, dimana dengan mengetahuinya dan mengamalkannya -dengan menerapkan akhlaq terpuji dan meninggalkan akhlaq tercela tersebut- merupakan jalan pintas untuk mendapatkan ilmu yang diidam-idamkan serta jalan pintas untuk bisa memetik buah ilmu tersebut. Adab Sopan Santun bagi Penuntut Ilmu yang paling penting antara lain:

Pertama : Niat Ikhlas hanya karena Allah Ta'ala
Menuntut ilmu merupakan ketaatan dan ibadah, sementara Ikhlas hanya karena Allah ta'ala itu wajib ada pada seluruh bentuk ibadah dan ketaatan lainnya. Allah Ta'ala berfirman :
{وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ} [البينة: 5]
Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. [Al Bayyinah (98):5]

Ikhlas dalam menuntut ilmu adalah mengharapkan wajah Allah ketika menuntut ilmu, sehingga apabila keinginan seorang penuntut ilmu hanya untuk memperoleh ijazah, atau menduduki jabatan tertentu untuk mendapatkan manfaat berupa materi saja, maka sesungguhnya dia belumlah ikhlas dalam menuntut ilmu. Dari Abu Hurairah radhiallohu 'anhu, dia berkata : Rasulullah Shollallahu 'alaihi wasallam bersabda :
من تعلّم علماً مما يبتغَى به وجه الله - عز وجل- لا يتعلمه إلا ليصيب به عرضاً من الدنيا لم يجد عرف الجنة يوم القيامة يعني ريحها
Barangsiapa mencari ilmu yang seharusnya dicari karena mengharapkan wajah Allah Azza Wajalla semata, namun dia tidaklah mencarinya kecuali karena ingin mendapatkan perhiasan dunia dengan ilmu tersebut, maka dia tidak akan mendapatkan "urf Jannah" pada hari kiamat yaitu wangi surga. [HR. Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah, dishohihkan oleh Al hakim dan Annawawi dalam riadhussholihin]

Nabi Shollallahu 'alaihi wasallam telah memotifasi kita agar senantiasa memiliki Niat Ikhlas hanya karena Allah Ta'ala semata, sebagaimana dalam hadits Umar Rodhiallohu 'anhu :
إنما الأعمال بالنيات، وإنما لكل امرئ ما نوى ..
Sesungguhnya amalan-amalan itu tergantung hanya dengan niatnya, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan hanya sesuai dengan apa yang dia niatkan [Muttafaq alaih]

Para Ulama sangat perhatian terhadap hadits Umar Rodhiallohu 'anhu diatas, mereka senantiasa mendahulukan hadits ini dalam kitab-kitab mereka, karena hadits tersebut dibutuhkan secara umum dalam segala perkara, seperti yang telah dikatakan oleh Imam Al Khot-thobi, perhatikan Imam Al Bukhari rahimahullah, beliau memulai kitab Shohihnya dengan hadits ini, para ulama mengatakan : Hadits ini adalah khotbah pembuka kitabnya Imam Al-Bukhari karena beliau tidak menulis muqaddimah apapun, tujuan dari hal tersebut adalah sebagai peringatan bagi para penuntut ilmu agar memperbaiki niatnya dan hanya mengharapkan wajah Allah ta'ala. Imam Annawawi dan Imam Al Baghowi mengikuti metode imam Al Bukhori ini, didalam beberapa kitab mereka berdua, demikian pula para penulis lainnya. Berkata Abdurrahman bin Mahdi :
لو صنفت كتاباً بدأت في أول كل كتاب منه بهذا الحديث
Sekiranya saya menulis sebuah kitab tentu saya mulai pada awal setiap kitab tersebut dengan hadits Umar ini

Imam Ahmad berkata :
العلم لا يعدله شيء لمن صحّت نيته
Ilmu itu tidak ada sesuatupun yang bisa menandinginya, bagi orang yang benar niatnya
Murid-muridnya lalu bertanya : bagaimana orang yang benar niatnya itu..???
Imam Ahmad menjawab :
ينوي رفع الجهل عن نفسه وعن غيره
dia berniat untuk mengangkat kejahilan dari dirinya sendiri dan dari orang lain

Berkata Ibnu Jama'ah Al Kinani setelah menjelaskan keutamaan ilmu :
واعلم أن جميع ما ذكر من فضل العلم والعلماء إنما هو في حقّ العلماء العاملين الأبرار المتقين، الذين قصدوا به وجه الله الكريم، والزلفى لديه في جنات النعيم ، لا من طلبه بسوء نية، وخبث طوية ، أو لأغراض دنيوية ، من جاه أو مال أو مكاثرة في الأتباع والطلاب
ketahuilah, bahwa semua hal yang disebutkan dari keutamaan ilmu dan ulama, hanya terbatas bagi para ulama, yang mengamalkan ilmunya, yang senantiasa melakukan kebaikan serta bertaqwa, mereka yang hanya mengharapkan wajah Allah yang Mulia, dan mengharapkan kedekatan dengan-Nya di surga yang penuh kenikmatan. Bukan bagi orang yang menuntut ilmu dengan niat yang buruk dan hati yang busuk atau karena tujuan-tujuan duniawi berupa kedudukan, harta atau banyaknya pengikut dan santri[1]

Berkata Abu Yusuf :
أَريدوا بعلمكم اللهَ تعالى، فإني لم أجلس مجلساً قطّ أنوي فيه أن أتواضع إلالم أقم حتى أعلُوَهم، ولم أجلس مجلساً قط أنوي فيه أن أعلوهم إلا لم أقم حتى اُفْتَضَح
Inginkanlah hanya Allah Ta'ala dengan ilmu kalian, karena sesungguhnya aku tidak duduk pada satu majlis sama sekali yang aku berniat didalamnya untuk tawadhu' kecuali aku tidak akan berdiri sehingga mengalahkan mereka, dan aku tidak akan duduk di satu majlis sama sekali yang aku niatkan didalamnya untuk mengalahkan mereka kecuali aku tidak berdiri sehingga aku dikenal[2]

Kedua : Bertaqwa kepada Allah Azza wajalla
Para ulama adalah manusia yang paling mengenal Allah dan paling bertaqwa kepada-Nya, Allah ta'ala berfirman :
{إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ} [فاطر: 28]
Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha perkasa lagi Maha Pengampun. [Fa-thir (35):28]

Dengan Taqwa, seorang alim akan bertambah ilmunya dan dengan ilmu orang yang bertaqwa akan bertambah ketaqwaannya, Allah ta'ala berfirman :
{وَاتَّقُوا اللَّهَ وَيُعَلِّمُكُمُ اللَّهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ} [البقرة: 282]
Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. [Al Baqarah (2):282]

Allah ta'ala berfirman :
{وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا * وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ} [الطلاق: 2، 3]
Barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. [Ath-Tholaq (65):2 & 3]

Rezki yang paling agung adalah ilmu yang bermanfaat.

Taqwa adalah kumpulan seluruh kebaikan dan wasiat Allah kepada umat terdahulu dan belakangan, Allah Ta'ala berfirman dalam surah Annisa :
{وَلِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُوا اللَّهَ وَإِنْ تَكْفُرُوا فَإِنَّ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَكَانَ اللَّهُ غَنِيًّا حَمِيدًا} [النساء: 131]
Dan kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan yang di bumi, dan sungguh Kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu; bertakwalah kepada Allah. Tetapi jika kamu kafir, maka (ketahuilah), sesungguhnya apa yang di langit dan apa yang di bumi hanyalah kepunyaan Allah dan Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji. [Annisa (4):131]

Allah Azza wajalla berfirman dalam surah Al-Anfal :
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقَانًا وَيُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ} [الأنفال: 29]
Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqaan dan menghapuskan segala kesalahan-kesalahanmu dan mengampuni (dosa-dosa) mu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. [Al-Anfal (8):29]

Dia akan memberikan kepadamu furqaan yaitu memberikan kepadamu sesuatu yang bisa membedakan antara yang haq dan batil, antara yang sehat dan sakit, antara yang bermanfaat dan tak berguna, semua itu hanya ada dengan adanya cahaya dan timbangan ilmu, pelita dan ukuran ilmu. Jadi ilmu itu adalah buah dari buah-buah taqwa, taqwa merupakan jalan untuk memperoleh ilmu, dan ilmu itu mengangkat derajat pemiliknya ke derajat ma'rifatullah yang paling tinggi serta takut ~khos-yah~ kepada Allah, oleh karena itu didapatkan atsar dari Imam Syafi'i Rahimahullah bahwa beliau berkata :
شكوت إلى وكيع سـوء حفظـي فأرشـدني إلى ترك المعــاصي
وأخبرنـي بأن العلـم نــــور ونـور الله لا يهدى لعـاصـي
Aku adukan kepada Waki' tentang buruknya hafalanku, maka dia membimbingku agar meninggalkan maksiat
Dan mengabariku bahwasanya ilmu itu adalah cahaya dan cahaya Allah tidak akan diberikan kepada pelaku maksiat


Hal-hal yang pertama kali masuk dalam bentuk-bentuk taqwa adalah menegakkan syi'ar-syi'ar Islam dan hukum-hukum Islam yang nampak, diantara hal itu adalah menjaga sholat lima waktu di masjid, menyebarkan salam kepada orang-orang tertentu dan kepada kaum muslimin secara umum, amar ma'ruf nahi mungkar, menampakkan sunnah, memadamkan bid'ah, dan menampakkan hukum-hukum Islam lainnya agar supaya dia pantas dijadikan panutan serta terjaga kehormatannya, tidak dilecehkan dan tidak memunculkan persangkaan buruk.

Termasuk juga dalam bentuk ketaqwaan adalah menjaga syari'at-syari'at yang dianjurkan baik dalam bentuk ucapan lisan atau perbuatan anggota badan : diantaranya adalah membaca Al Qur'an Al Karim dengan tafakkur dan tadabbur; memperbanyak dzikir dengan hati dan lisan; senantiasa berdo'a dengan penuh ketundukan disertai dengan keikhlasan dan kejujuran; perhatian terhadap ibadah-ibadah sunnah baik berupa sholat, puasa, sedekah dan haji (umroh) ke Baitullah; serta bersholawat kepada Nabi Shollallahu 'alaihi wasallam, dan ibadah-badah lainnya yang memiliki keutamaan-keutamaan baik berupa perkataan ataupun perbuatan yang dengannya diharapkan semakin bertambahnya ilmu.

_______

[1]Tadzkiroh Assami' wal Mutakallim H. 13
[2]Tadzkiroh Assami' wal Mutakallim H. 69

Sumber : آداب طالب العلم
بسم الله الرحمن الرحيم

77 (Tujuh Puluh Tujuh) Cabang dari Cabang-Cabang IMAN

IMAN memiliki cabang yang sangat banyak, hal ini menunjukkan bahwa kata-kata IMAN jika disebutkan secara mutlak -tanpa dikaitkan dengan kata Islam- mencakup agama secara keseluruhan. Nabi Shollallahu 'alaihi wasallam telah menjelaskan cabang-cabang IMAN tersebut baik secara global ataupun secara rinci.

Berkaitan dengan penjelasan Nabi Shollallahu 'alaihi wasallam tentang IMAN secara global, hal ini terdapat dalam hadits Abu Hurairah Radhiallohu 'Anhu, beliau berkata; Rasulullah Shollallahu 'alaihi wasallam bersabda :
((الإيمان بضع وسبعون شعبة، والحياء شعبة من الإيمان))
IMAN itu ada lebih dari tujuh puluh cabang, dan MALU merupakan salah satu cabang dari IMAN

dalam riwayat yang lain :
((الإيمان بضع وسبعون، أو بضع وستّون شعبة، فأفضلها قول لا إله إلا الله، وأدناها إماطة الأذى عن الطريق، والحياء شعبة من الإيمان))
IMAN itu ada lebih dari tujuh puluh atau enam puluh cabang, tingkatan cabang terafdhol -tertinggi- adalah ucapan LA ILAHA ILLALLOH, tingkatan cabang yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan di jalan, dan MALU merupakan salah satu cabang dari IMAN [Muttafaqun 'alaih]

Al Imam Abu Bakar Al Baihaqy Rahimahullah telah menyebutkan tujuh puluh tujuh (77) cabang IMAN, secara ringkas cabang-cabang IMAN tersebut adalah sebagai berikut :
  1. Iman kepada Allah Azza wajalla
  2. Iman kepada para Rasul Alaihissholatu wassalam
  3. Iman kepada kepada para Malaikat
  4. Iman kepada Al Qur'an Al Karim dan seluruh kitab yang diturunkan
  5. Iman kepada taqdir, apakah itu baik atau buruk berasal dari Allah Azza wajalla
  6. Iman kepada hari akhir
  7. Iman kepada kebangkitan setelah kematian
  8. Iman kepada pengumpulan seluruh manusia di padang mah-syar setelah dibangkitkan dari kuburannya
  9. Iman bahwasanya kampungnya orang-orang beriman adalah surga dan kampungnya orang-orang kafir adalah neraka
  10. Iman kepada wajibnya mencintai Allah Azza wajalla
  11. Iman terhadap wajibnya takut kepada Allah Azza wajalla
  12. Iman terhadap wajibnya penuh harap kepada Allah Azza wajalla
  13. Iman terhadap wajibnya tawakkal kepada Allah Azza wajalla
  14. Iman kepada wajibnya mencintai Nabi Shollallahu 'alaihi wasallam
  15. Iman kepada wajibnya mengangungkan, memuliakan dan menghormati Nabi Shollallahu 'alaihi wasallam dengan tidak melampaui batas
  16. Kecintaan seseorang terhadap agamanya sehingga dia lebih mencintai dilemparkan ke dalam api dari pada kufur
  17. Menuntut ilmu, yaitu mengenal Allah Subhanahu wata'ala, mengenal agama-Nya dan mengenal Nabi-Nya Shollallahu 'alaihi wasallam, dengan berdasarkan dalil
  18. Menyebarkan ilmu dan mengajarkannya kepada orang lain
  19. Mengangungkan Al Qur'an Al Karim; dengan mempelajarinya, mengajarkannya, menjaga batasan-batasannya, hukum-hukumnya, ilmu halal dan haramnya, serta memuliakan ahlinya dan dengan menghafalnya.
  20. Bersuci dan menjaga serta memperhatikan wudhu
  21. Menjaga dan memperhatikan sholat lima waktu
  22. Menunaikan zakat
  23. Puasa; wajib dan sunnah
  24. I'tikaf -berdiam di masjid-
  25. Haji
  26. Jihad di jalan Allah Azza wajalla
  27. Ribath -menjaga wilayah perbatasan- di jalan Allah Azza wajalla
  28. Bertahan menghadapi musuh dan tidak lari meninggalkan medan perang
  29. Membayar seperlima dari ghanimah -rampasan perang- kepada imam, atau penggantinya bagi yang memperoleh ghanimah
  30. Memerdekakan budak dengan bentuk mendekatkan diri kepada Allah Azza wajalla
  31. Membayar kaffarah -tebusan- yang wajib karena kejahatan -pidana-; Kaffarah dalam Al Qur'an dan Assunnah ada empat : 
    1. Kaffarah pembunuhan
    2. Kaffarah dzhi-har
    3. Kaffarah sumpah
    4. Kaffarah berhubungan suami istri pada saat puasa ramadhan
  32. Menunaikan, memenuhi seluruh akad [perjanjian yaitu apa saja yang Allah halalkan, haramkan, dan wajibkan serta seluruh batasan-batasan di dalam Al Qur'an]
  33. Menyebut-nyebut dengan pujian akan ni'mat Allah Azza wajalla, dan apa saja yang wajib disyukuri
  34. Menjaga lisan dari perkataan yang tidak dibutuhkan
  35. Menjaga amanah, dan wajib menunaikannya kepada yang berhak -pemiliknya-
  36. Haramnya membunuh jiwa dan berlaku hukum tindak pidana kejahatan atasnya
  37. Haramnya kemaluan -zina- dan wajibnya menjaga kehormatan
  38. Mengepalkan tangan -tidak menyentuh- harta haram; termasuk didalamnya : haramnya mencuri, merampok, memakan suap -sogok-, dan memakan apa saja yang secara syar'i bukan haknya.
  39. Wajibnya wara' -menahan diri- dalam hal makanan dan minuman, serta menjauhi apa saja yang tidak halal dari makanan dan minuman tersebut
  40. Meninggalkan pakaian dan mode serta perabot yang diharamkan dan makruh
  41. Haramnya permainan-permainan dan hiburan-hiburan yang bertentangan dengan syariat
  42. Sederhana -hemat- dalam nafkah -belanja- dan haramnya memakan harta dengan cara yang batil
  43. Meninggalkan dendam dan dengki serta iri dan hasad
  44. Haramnya -menjatuhkan- kehormatan orang lain, dan wajibnya meninggalkan apa saja yang menjatuhkan kehormatan orang lain
  45. Beramal Ikhlas hanya karena Allah Azza wajalla, dan meninggalkan riya'
  46. Senang dengan kebaikan dan sedih dengan keburukan
  47. Mengobati setiap dosa dengan taubat nashu-hah
  48. Menyembelih Qurban, dan intinya adalah : Al Hadyu, Al Udhiyah dan Aqiqah
  49. Taat kepada Ulil Amri
  50. Berpegang teguh dengan Al Jama'ah
  51. Menetapkan keputusan hukum diantara manusia dengan adil
  52. Amar Ma'ruf dan Nahi Mungkar
  53. Saling tolong menolong diatas kebaikan dan taqwa
  54. Malu
  55. Berbakti kepada kedua orang tua
  56. Silaturahmi
  57. Akhlaq yang baik
  58. Berbuat baik kepada budak
  59. Hak Tuan yang wajib ditunaikan oleh budaknya
  60. Menegakkan hak-hak anak dan keluarga lainnya
  61. Dekat kepada ahli agama, mencintai mereka, menebarkan salam dan berjabat tangan dengannya
  62. Menjawab salam
  63. Menjenguk orang sakit
  64. Menyolati jenazah ahlul qiblat -kaum muslimin-
  65. Mendoakan orang yang bersin -jika mengucapkan "Alhamdulillah"-
  66. Menjauhi orang-orang kafir dan pembuat kerusakan serta tegas terhadap mereka
  67. Memuliakan tetangga
  68. Memuliakan tamu
  69. Menutupi -aib- para pelaku dosa
  70. Sabar terhadap musibah serta dari segala sesuatu yang dicabut dari jiwa berupa kelezatan dan kesenangan
  71. Zuhud dan pendek angan-angan -dalam masalah dunia-
  72. Cemburu dan tidak membiarkan anak atau istrinya bercampur baur dengan lelaki lain
  73. Berpaling dari sikap ektrem -melampaui batas-
  74. Dermawan dan murah hati
  75. Menyayangi yang muda dan menghormati yang tua
  76. Mendamaikan antara dua orang yang bertikai
  77. Seseorang mencintai bagi saudaranya yang muslim apa yang dia cintai bagi dirinya, dan tidak senang ada pada saudaranya sesuatu yang dia tidak senangi bagi dirinya, termasuk dalam hal ini adalah : menyingkirkan gangguan di jalanan, sebagaimana yang di-isyaratkan dalam hadits sebelumnya.
Referensi :
Syu'ab Al Iman karya Al Imam Abu Bakar Al Bayhaqi (Wafat 458H)
Aqidah Al Muslim fie Dhou' Al Kitab was Sunnah karya Syaikh Sa'id bin Ali bin Wahf Al Qoh-thony
بسم الله الرحمن الرحيم

'Uluwwullahi Ta'ala [Kemaha Tinggian Allah Ta'ala] Part. 2

Lanjutan dari pembahasan 'Uluwwullahi Ta'ala [Kemaha Tinggian Allah Ta'ala] Part. 1

Kesembilan :
Isyarat dengan telunjuk mengarah ke atas untuk menunjukkan keberadaan Allah Subhanahu wata'ala, Imam Muslim meriwayatkan dalam Shohihnya, dari Jabir Rodhiallohu 'anhu bahwasanya Nabi Shollallahu 'alaihi wasallam bersabda di akhir khutbahnya pada hari Arafah dihadapan seluruh kaum muslimin :
" أنتم تسألون عني، فما أنتم قائلون؟ "
"Kalian akan ditanya tentang Aku, maka apa jawaban kalian ?"

Para hadirin berkata :
نشهد أنك قد بلغت وأديت ونصحت
Kami bersaksi bahwa sesungguhnya engkau telah menyampaikan (risalah), menunaikan (amanah) dan menasehati (ummat)

Maka Nabi-pun bersabda dengan mengangkat telunjuknya ber-isyarat kearah langit serta menggerak-gerakkannya kearah orang-orang yang hadir :
"اللهم اشهد، اللهم اشهد "
Ya Allah saksikanlah, Ya Allah saksikanlah (3 kali)

Kesepuluh :
Keterangan yang sangat jelas dan gamblang bahwasanya Allah Subhanahu wata'ala di atas tujuh lapis langit, sebagaimana dalam sabda Nabi Shollallahu 'alaihi wasallam kepada Sa'ad bin Mu'adz Rodhiallohu 'anhu setelah memberikan keputusan bagi Bani Quraidzhoh, dimana orang-orang yang terlibat perang diantara mereka akan dibunuh dan harta-harta serta anak cucu mereka akan dibagi-bagi, Nabi Shollallahu 'alaihi wasallam bersabda :
" لقد حكمتَ فيهم بحكم الله الذي حكم به من فوق سبع سماوات "
"Sungguh engkau telah menetapkan hukum bagi mereka dengan hukum Allah, yang Allah telah tetapkan hukum tersebut dari atas tujuh lapis langit. [HHR. Ibnu Sa'ad, An Nasa'i dan Adz-Dzahabi]

[Demikianlah dalil-dalil berupa nash tersurat atau yang secara zohir jelas menetapkan ketinggian Zat Allah Subhanahu wata'ala yang terdapat di dalam Al Qur'an dan Sunnah]

Sungguh, beberapa orang dari murid-murid senior Imam Syafi'i, telah menyebutkan bahwa dalil-dalil berkenaan dengan ketinggian Zat Allah Subhanahu wata'ala di atas seluruh makhluk-Nya yang terdapat di dalam Kitab Allah (Al Qur'an), ada lebih dari seribu dalil.

Namun, bersamaan dengan adanya dalil-dalil syar'i, lagi mutawatir, dengan berbagai macam bentuk, serta sangat tegas menunjukkan penetapan ketinggian Zat Allah di atas seluruh makhluknya, ternyata kaum Mu'ath-thilah seperti Mu'tazilah dan mayoritas orang-orang Asyaa'iroh tidaklah menerima penetapan "Kemaha-Tinggian" ini bagi Allah Subhanahu wa ta'ala, mereka lebih mengutamakan syubuhat akal-akalan yang mereka ambil dari ilmu kalam warisan para Filosof Yunani dibandingkan dengan Nash-Nash (Al Qur'an dan Sunnah). Akhirnya mereka menjadikan akal manusia sebagai Hakim terhadap Kitab Allah (Al Qur'an) dan Sunnah Rasul-Nya Shollallahu 'alaihi wasallam, tentu ini merupakan penyimpangan yang sangat jelas dari jalan yang lurus. Sungguh benar Imam Syafi'i Rahimahullah dimana beliau berkata :

"ما أحد ارتدى بالكلام فأفلح"
Tidak ada seorang-pun yang mengenakan pakaian Ilmu Kalam, lalu menjadi beruntung

[Dalil berupa Ijma']
Adapun dalil dari Ijma', maka sungguh telah sepakat para Shahabat dan orang-orang yang mengikutinya dengan baik, serta para Imam Ahlussunnah bahwa Zat Allah Subhanahu wa ta'ala Maha Tinggi di atas seluruh makhluk-Nya, bersemayam di atas arsy-Nya. Pendapat-pendapat mereka dalam masalah ini sangat populer dan mutawatir. Sungguh Abu Abdillah Al Qurtubi Al Maliki telah menyebutkan adanya Ijma' Salaf bahwasanya Allah Subhanahu wata'ala Maha Tinggi (di atas seluruh makhluk-Nya).

Al Imam Al Auza'i seorang Tabi'in yang mulia, berkata :
"كنا والتابعون متوافرون نقول: إن الله تعالى ذكره فوق عرشه، ونؤمن بما جاءت به السنة من صفاته عز وجل "
Kami dahulu dan banyak dari tabi'in berpendapat : Sesungguhnya Allah Ta'ala Dzikruhu di atas arsy-Nya, serta kami beriman kepada apa saja dari sifat-sifat Allah Azza wajalla yang datang (terdapat) dalam As- Sunnah

Tidak ada satu-pun sama sekali Salaf yang mengatakan : sesungguhnya Allah tidak di atas langit, dan tidak ada pula yang berpendapat bahwa zat Allah ada dimana-mana, serta tidak ada pula yang berpendapat bahwa seluruh tempat bagi Allah, itu sama saja.

[Dalil berupa Fitroh Penciptaan Manusia]
Adapun dalil dari fitroh : Sesungguhnya seluruh hamba sesuai dengan tabi'at mereka, jika hendak berdo'a kepada Allah, ingin bersimpuh dihadapan-Nya, maka mereka akan mengangkat tangannya, lalu hatinya mengarah tinggi ke atas. Sungguh demikianlah Allah Subhanahu wata'ala telah menanamkan fitroh didalam hati-hati hamba-Nya ketika menghadap Allah di dalam do'anya dengan menghadapkan hatinya tinggi ke atas, hal yang demikian ini menunjukkan bahwa Zat Allah Subhanahu wa ta'ala tinggi di atas seluruh makluk-Nya.

Wallohu A'lam

Terjemah Bebas Kitab Tas-hil Al Aqidah Al Islamiyah karya Syaikh Abdullah bin Abdul Aziz Al Jibrin.