بسم الله الرحمن الرحيم

Salaf & Tawakkal yang Sebenarnya

Tawakkal Salaf
عن أبي حازم سلمة بن دينار قال: "وجدت الدنيا شيئين: فشيء هو لي، وشيء لغيري، فأما ما كان لي: فلو طلبته قبل أجله لم أقدر عليه، وأما الذي هو لغيري فلم أصبه فيما مضى، ولا أرجوه فيما بقي، إن رزقي يُمنع من غيري، كما يُمنع رزق غيري مني، ففي أي هذين أفني عمري؟".
Dari Abu Hazim Salamah bin Dinar beliau berkata : Aku mendapati dunia itu ada dua bagian, yang pertama adalah bagianku dan yang kedua adalah bagian orang lain; Adapun yang menjadi bagianku, sekiranya aku cari sebelum waktu -yang ditentukan untuk mendapatkan-nya maka aku tidak akan mampu -mendapatkannya-. Adapun bagian orang lain, maka aku tidak akan mendapatkannya pada waktu yang telah berlalu, dan juga aku tidak berharap untuk mendapatkannya pada waktu yang akan datang. Sesungguhnya rezkiku terhalang bagi orang lain untuk mendapatkannya, sebagaimana rezki orang lain juga terhalang bagiku untuk mendapatkannya, maka dari dua hal ini dimanakah aku akan habiskan umurku..???

وقيل له: ما مالُك؟ فقال: "ثقتي بالله، وإياسي مما في أيدي الناس".
Abu Hazim Salamah bin Dinar pernah ditanya : Apa hartamu..??? Beliau menjawab : Kepercayaanku kepada Allah dan Keputusasaanku terhadap apa yang ada ditangan manusia.

وقيل عن محمد بن كعب أنه كانت له أملاك بالمدينة، وحصّل مالا مرّة فقيل له: "ادّخر لولدك"، قال: "لا، ولكن أدّخره لنفسي عند ربي، وأدّخر ربي لولدي".
Diceritakan dari Muhammad bin Ka'ab bahwasanya dia memiliki harta kekayaan di Madinah, dan dia berhasil mendapatkan harta lagi, maka dikatakan kepadanya : "simpan untuk anakmu!", dia menjawab :"tidak, akan tetapi aku akan simpan untuk diriku sendiri di sisi Rob-ku, dan aku simpan Rob-ku untuk anakku".

عن أبي قدامة الرملي قال: "قرأ رجل هذه الآية: {وتوكل على الحي الذي لا يموت وسبح بحمده وكفى به بذنوب عباده خبيرا} (الفرقان:58)، فأقبل عليّ سليمان الخوّاص، فقال: يا أبا قدامة! ما ينبغي لعبد بعد هذه الآية أن يلجأ إلى أحد بعد الله في أمره، انظر كيف قال الله تبارك وتعالى: {وتوكل على الحي الذي لا يموت} ، فأخبرك أنه لا يموت، وأن جميع خلقه يموتون، ثم أمرك بعبادته، فقال: {وسبح بحمده}، ثم أتبعها بقوله: {وكفى به بذنوب عباده خبيرا}، فأخبرك بأنه خبير بصير. ثم قال سليمان: والله يا أبا قدامة! لو عامل عبدٌ ربه بحسن التوكل وصدق النية له بطاعته، لاحتاجت إليه الأمراء فمن دونهم، فكيف يكون هذا محتاجاً، وملجؤه إلى الغني الحميد؟!".
Dari Ibnu Qudamah Arromliy, beliau berkata : Ada Seseorang membaca ayat ini : {Dan bertawakkallah kepada Allah yang hidup (kekal) Yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan memuji-Nya. Dan cukuplah Dia Maha Mengetahui dosa-dosa hamba-hamba-Nya.} [TQS. Al Furqon (25):58], Kemudian datang kepadaku Sulaiman Al Khowwash, lalu berkata : Wahai Abu Qudamah! tidak pantas bagi seorang hamba setelah turunnya ayat ini untuk menyandarkan urusannya kepada seorangpun setelah Allah, perhatikan bagaimana Allah tabaaroka wata'ala berfirman : {Dan bertawakkallah kepada Allah yang hidup (kekal) Yang tidak mati}, maka Dia telah memberitahukanmu bahwa Dia tidak mati, dan sesungguhnya seluruh makhluknya akan mati. Lalu Dia perintahkan kepadamu untuk menyembahnya, Allah berfirman : {dan bertasbihlah dengan memuji-Nya}, kemudian melanjutkan ayat ini dengan firman-Nya : {Dan cukuplah Dia Maha Mengetahui dosa-dosa hamba-hamba-Nya.}, maka Dia telah memberitahukanmu bahwa Dia Maha Mengetahui lagi Maha Melihat. Kemudian Sulaiman bersumpah : Demi Allah! wahai Abu Qudamah, sekiranya seorang hamba berinteraksi bersama Rob-nya dengan tawakkal yang baik dan niat yang benar hanya karena Allah, dengan melaksanakan ketaatan kepada-Nya, maka sungguh para penguasa dan orang yang dibawah kekuasaannya akan butuh kepadanya, bagaimana mungkin hamba ini yang butuh -kepada mereka- sementara tempat bersandarnya kepada yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji?

قيل لحاتم الأصم: "على ما بنيت أمرك في التوكل؟"، قال: "على خصال أربعة: علمت أن رزقي لا يأكله غيري، فاطمأنت به نفسي، وعلمت أن عملي لا يعمله غيري، فأنا مشغول به، وعلمت أن الموت يأتي بغتة فأنا أبادره، وعلمت أني لا أخلو من عين الله، فأنا مستح منه".
Hatim Al 'Ashom pernah ditanya : Engkau bangun atas dasar apa urusanmu dalam kaitannya dengan tawakkal..???, beliau menjawab : "Atas dasar empat sifat; Aku mengetahui bahwa rezkiku tidak akan dimakan orang lain, maka hatiku tenang karenanya; Aku mengetahui bahwa amalku tidak akan diamalkan orang lain maka aku menyibukkan diri dengannya; dan aku mengetahui bahwa kematian itu datangnya tiba-tiba maka aku mendahuluinya; serta aku mengetahui bahwa aku tidak luput dari pandangan mata Allah, maka aku malu dari-Nya.

عن شقيق البلخي قال: "لكل واحد مقام: فمتوكل على نفسه، ومتوكل على لسانه، و متوكل على سيفه، ومتوكل على سلطانه، ومتوكل على الله، فأما المتوكل على الله عزوجل فقد وجد الراحة، فإن الله عزوجل يقول: {وتوكل على الحي الذي لا يموت} (الفرقان:58)، وأما من كان مستروحاً إلى غيره، فيوشك أن ينقطع به فيشقى، وإنما التوكل طمأنينة القلب بموعود الله عزوجل".
Dari Syaqiq Al Bal-khiy, beliau berkata : Setiap orang memiliki tempat berpijak; ada yang tawakkal kepada dirinya sendiri, ada yang tawakkal kepada lisannya, ada yang tawakkal kepada senjatanya, dan ada yang tawakkal kepada penguasanya serta ada yang tawakkal kepada Allah. Adapun orang yang tawakkal kepada Allah Azza wajalla maka sungguh telah mendapatkan ketenangan, karena sesungguhnya Allah Azza wajalla berfirman : {Dan bertawakkallah kepada Allah yang hidup (kekal) Yang tidak mati,} [TQS. Al Furqon (25):58], dan adapun orang yang merasa tenang bersandar kepada selain-Nya, maka dikhawatirkan putus hubungan dengan-Nya maka diapun celaka, dan sesungguhnya tawakkal itu adalah ketenangan hati terhadap janji Allah Azza wajalla.

عن يحيى بن معاذ الرازي قال: "من طلب الفضل من غير ذي الفضل غرم وخسر، وإن ذا الفضل هو الله عزوجل: {إن الله لذو فضل على الناس ولكن أكثر الناس لا يشكرون} (البقرة:243)".
Dari Yahya bin Muads Arroziy, beliau berkata : "Barangsiapa yang mencari keutamaan kepada sesuatu yang tidak mempunyai keutamaan maka dia telah rugi dan bangkrut, dan sesungguhnya pemilik keutamaan itu adalah Allah Azza wajalla : {Sesungguhnya Allah mempunyai karunia terhadap manusia tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur.} [TQS. Al Baqarah (2):243]

وقال الإمام ابن رجب الحنبلي في تعريف التوكل: "هو صدق اعتماد القلب على الله عز وجل في استجلاب المصالح، ودفع المضار من أمور الدنيا والآخرة كلها".
Berkata Al Imam Ibnu Rajab Al Hanbaliy dalam mendefinisikan tawakkal : "Tawakkal adalah kejujuran penyandaran hati kepada Allah Azza wajalla dalam meraih maslahat dan menolak mudharat, dari perkara dunia dan akhirat seluruhnya"


_______________________________________

Sumber : مع السلف في التوكل
بسم الله الرحمن الرحيم

Kewajiban Taat kepada Allah dan Rasul-Nya serta Ancaman bagi yang tidak Patuh

Taat kepada Allah Subhanahu wata'ala adalah dengan mengikuti kitab-Nya (Al Qur'an) dan taat kepada Rasulullah Shollallahu 'alaihi wasallam adalah dengan mengikuti sunnah-nya (Al Hadits).

Allah Subhanahu wata'ala berfirman :
{يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا} [النساء: 59]
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. [Annisa : 59]

{وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا لِيُطَاعَ بِإِذْنِ اللَّهِ وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ جَاءُوكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللَّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللَّهَ تَوَّابًا رَحِيمًا * فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا} [النساء: 64، 65]
Dan Kami tidak mengutus seseorang rasul melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. [Annisa : 64 & 65]

{وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا} [النساء: 69]
Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. [Annisa : 69]

{تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ * وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَتَعَدَّ حُدُودَهُ يُدْخِلْهُ نَارًا خَالِدًا فِيهَا وَلَهُ عَذَابٌ مُهِينٌ} [النساء: 13، 14]
(Hukum-hukum tersebut) itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah. Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya kedalam surga yang mengalir didalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar. Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan. [Annisa : 13 & 14]

{وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا} [الأحزاب: 36]
Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. [Al Ahzab : 36]

{وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَإِنَّ لَهُ نَارَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا} [الجن: 23]
Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya baginyalah neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. [Al Jin : 23]

{وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا} [النساء: 115]
Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. [Annisa : 115]

{إِنَّ الَّذِينَ يُحَادُّونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ كُبِتُوا كَمَا كُبِتَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ} [المجادلة: 5]
Sesungguhnya orang-orang yang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, pasti mendapat kehinaan sebagaimana orang-orang yang sebelum mereka telah mendapat kehinaan. [Al Mujadilah : 5]

{إِنَّ الَّذِينَ يُحَادُّونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ فِي الْأَذَلِّينَ} [المجادلة: 20]
Sesungguhnya orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, mereka termasuk orang-orang yang sangat hina. [Al Mujadilah : 20]

{وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا} [الأحزاب: 71]
Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar. [Al Ahzab : 71]

{وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَخْشَ اللَّهَ وَيَتَّقْهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ} [النور: 52]
Dan barang siapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan. [Annur : 52]

{وَإِنْ تُطِيعُوهُ تَهْتَدُوا} [النور: 54]
Dan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. [Annur : 54]

{وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ} [آل عمران: 132]
Dan taatilah Allah dan Rasul, supaya kamu diberi rahmat. [Ali Imron : 132]

{وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ وَمَنْ يَتَوَلَّ يُعَذِّبْهُ عَذَابًا أَلِيمًا} [الفتح: 17]
Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya; niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai dan barang siapa yang berpaling niscaya akan diazab-Nya dengan azab yang pedih. [Al Fath : 17]

{وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ فَإِنْ تَوَلَّيْتُمْ فَإِنَّمَا عَلَى رَسُولِنَا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ} [التغابن: 12]
Dan taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul-Nya, jika kamu berpaling sesungguhnya kewajiban Rasul Kami hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang. [At Taghabun : 12]

{يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَلَا تُبْطِلُوا أَعْمَالَكُمْ} [محمد: 33]
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul dan janganlah kamu merusakkan (pahala) amal-amalmu. [Muhammad : 33]

{وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ} [الحشر: 7]
Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya. [Al Hasyr : 7]

______________________________________________

Sumber : السنن والمبتدعات المتعلقة بالأذكار والصلوات - فصل فِي وجوب طَاعَة الله وَطَاعَة رَسُوله، ووعيد الْمُخَالفين
بسم الله الرحمن الرحيم

Bisnis Ala Nabi Shollallahu 'alaihi wasallam

Bisnis Nabi shollallahu alaihi wasallam
Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata :
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ عَلَى صُبْرَةِ طَعَامٍ فَأَدْخَلَ يَدَهُ فِيهَا فَنَالَتْ أَصَابِعُهُ بَلَلًا فَقَالَ مَا هَذَا يَا صَاحِبَ الطَّعَامِ قَالَ أَصَابَتْهُ السَّمَاءُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ أَفَلَا جَعَلْتَهُ فَوْقَ الطَّعَامِ كَيْ يَرَاهُ النَّاسُ مَنْ غَشَّ فَلَيْسَ مِنِّي
“Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah melewati setumpuk makanan, lalu beliau memasukkan tangannya ke dalamnya, kemudian tangan beliau menyentuh sesuatu yang basah. Maka beliaupun bertanya, “Apa ini wahai pemilik makanan?” Dia menjawab, “Makanan tersebut terkena air hujan wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Mengapa kamu tidak meletakkannya di bagian atas agar manusia dapat melihatnya?! Barangsiapa yang menipu maka dia bukan dari golonganku.” (HR. Muslim no. 102)

Dari Hakim bin Hizam radhiallahu anhu dari Nabi Shallallu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda:
الْبَيِّعَانِ بِالْخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا فَإِنْ صَدَقَا وَبَيَّنَا بُورِكَ لَهُمَا فِي بَيْعِهِمَا وَإِنْ كَذَبَا وَكَتَمَا مُحِقَ بَرَكَةُ بَيْعِهِمَا
“Kedua orang yang bertransaksi jual beli berhak melakukan khiyar selama keduanya belum berpisah. Jika keduanya jujur dan terbuka, maka keduanya akan mendapatkan keberkahan dalam jual beli. Tapi jika keduanya berdusta dan tidak terbuka, maka keberkahan jual beli antara keduanya akan dihapus.” (HR. Al-Bukhari no. 1937 dan Muslim no. 1532)

Khiyar adalah hak untuk membatalkan transaksi jual beli.

Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
الْحَلِفُ مُنَفِّقَةٌ لِلسِّلْعَةِ مُمْحِقَةٌ لِلْبَرَكَةِ
“Sumpah itu (memang biasanya) melariskan dagangan jual beli namun bisa menghilangkan berkahnya”. (HR. Al-Bukhari no. 1945 dan Muslim no. 1606)

Dari Abu Qatadah Al-Anshari radhiallahu anhu, bahwa dia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إِيَّاكُمْ وَكَثْرَةَ الْحَلِفِ فِي الْبَيْعِ فَإِنَّهُ يُنَفِّقُ ثُمَّ يَمْحَقُ
“Jauhilah oleh kalian banyak bersumpah dalam berdagang, karena dia (memang biasanya) dapat melariskan dagangan tapi kemudian menghapuskan (keberkahannya).” (HR. Muslim no. 1607)

Penjelasan ringkas:

Salah satu profesi yang dianjurkan dalam Islam bahkan sering tersebut dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah adalah profesi petani dan pedagang. Karenanya banyak sekali sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berprofesi menjadi petani atau pedagang. Hanya saja, di dalam Islam setiap profesi yang dibenarkan untuk ditempuh, tujuannya bukan semata-mata untuk menghasilkan uang atau meraih kekayaan. Akan tetapi yang jauh lebih penting daripada itu adalah untuk mendapatkan keberkahan dari hasil jerih payahnya. Dan keberkahan dari harta bukan dinilai dari kuantitasnya akan tetapi dinilai dari kualitas harta tersebut, darimana dia peroleh dan kemana dia belanjakan.

Karenanya, dalam perdagangan dan jual beli, Islam menuntunkan beberapa etika di antaranya:
  1. Tidak boleh curang dalam jual beli.
  2. Tidak boleh menutupi cacat barang dagangan dari para pembeli.
  3. Menjelaskan dengan sejelas-jelasnya kebaikan dan kekurangan barang yang dia jual.
  4. Tidak boleh terlalu banyak bersumpah -walaupun sumpahnya benar- dengan tujuan melariskan dagangannya. Karena terlalu sering menyebut nama Allah pada jual beli atau pada hal-hal sepele menunjukkan kurangnya pengagungan dia kepada Allah.
  5. Haramnya bersumpah dengan sumpah dusta, hanya untuk melariskan dagangannya.

___________________________________________________

Sumber : Etika Dalam Berdagang
بسم الله الرحمن الرحيم

200 Soal Jawab Dalam Bidang Aqidah Islamiyah

Kajian Kitab Rutin Tiap Ahad Malam Antara Maghrib & Isya
Masjid Baiturrahman Kantor Kementerian Agama
Kabupaten Kepulauan Selayar
Berkata Asy-Syaikh Hafidz bin Ahmad bin Ali Al Hakamiy dalam Muqaddimah Kitabnya "أعلام السنة المنشورة لاعتقاد الطائفة الناجية المنصورة" :

Kitab ini adalah kitab yang ringkas penuh manfaat, besar faidahnya serta melimpah kebaikannya, mencakup kaidah-kaidah agama dan mengandung dasar-dasar tauhid yang didakwahkan oleh para Rasul dan yang diturunkan kitab-kitab Allah karenanya, dan yang tidak ada keselamatan bagi orang yang beragama dengan selainnya.

-Kitab ini juga- menunjukkan dan memberikan bimbingan menempuh jalan yang putih bersih dan manhaj yang haq lagi jelas. Saya jelaskan didalamnya perkara-perkara iman dan cabang-cabangnya, dan apa saja yang bisa menghapusnya secara keseluruhan atau apa saja yang bisa mengurangi kesempurnaannya.

Saya sebutkan didalamnya setiap permasalahan disertai dengan dalilnya, agar jelas perkaranya, dan nampak hakekatnya serta terang jalannya. Saya mencukupkan diri padanya diatas mazhab Ahlusunnah wal Ittiba', dan Saya tidak menggunakan pendapat-pendapat Ahlul Ahwa' wal Ibtida'; karena pendapat mereka tidaklah diucapkan kecuali untuk membantahnya dan melepaskan panah sunnah kearahnya, dan sungguh telah bangkit membela para Imam yang Mulia untuk membongkar keburukan-keburukannya, mereka menyusun tulisan-tulisan tersendiri dalam membantah dan menjauhkannya -dari ummat-. Meski sesungguhnya sesuatu yang bertentangan itu dapat diketahui melalui lawannya, namun juga akan jelas maksudnya dengan mendefinisikan batasan-batasannya secara tersendiri -tanpa menyebutkan lawannya-, oleh karena itu apabila matahari telah terbit maka "siang" tidak butuh lagi dicarikan dalil, dan apabila telah jelas dan terang kebenaran, maka tidak ada lagi setelahnya kecuali kesesatan.

Saya menyusun -kitab ini- dengan metode pertanyaan agar para santri terbangun sadar dan memperhatikan, kemudian saya gandengkan dengan jawaban yang dengannya akan menjadi jelas persoalannya dan tidak menjadi samar.

Saya namakan -kitab ini- dengan : "أعلام السنة المنشورة لاعتقاد الطائفة الناجية المنصورة"

Hanya kepada Allah saya meminta agar menjadikannya semata-mata mengharapkan Wajah-Nya yang Maha Tinggi, dan memberikan manfaat kepada kita dengan sebab ilmu yang kita miliki serta mengajarkan kepada kita apa saja yang bermanfaat bagi kita, -semua itu merupakan- nikmat dan karunia dari-Nya, sesungguhnya Dia Maha Berkuasa atas segala sesuatu dan Maha Lembut lagi Maha Mengetahui terhadap hamba-hamba-Nya, hanya kepada-Nya tempat ruju' dan kembali, Dia-lah Maula kita, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.

________________________________________

Download
أعلام السنة المنشورة لاعتقاد الطائفة الناجية المنصورة (الكتاب نشر - أيضا - بعنوان: 200 سؤال وجواب في العقيدة الاسلامية)

بسم الله الرحمن الرحيم

Sholat Sunnah Sebelum Maghrib, Adakah..???

Fatwa Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin -rahimahullah-.

Pertanyaan :
Mengenai hadits :
(( ﺻﻠﻮﺍ ﻗﺒﻞ ﺍﻟﻤﻐﺮﺏ ﺻﻠﻮﺍ ﻗﺒﻞ ﺍﻟﻤﻐﺮﺏ ﻗﺎﻝ ﻓﻲ ﺍﻟﺜﺎﻟﺜﺔ ﻟﻤﻦ ﺷﺎﺀ ))
"Shalatlah kalian sebelum maghrib !! Shalatlah kalian sebelum maghrib, (dan pada yang ketiganya) beliau shallallahu 'alaihi wassalam mengatakan, "bagi yang menghendaki."
Apakah maknanya di sana ada shalat sunnah qabliyyah maghrib ?

Jawaban :
Iya, di sana ada shalat sunnah sebelum maghrib akan tetapi setelah adzan maghrib. Dikarenakan shalat sebelum adzan (maghrib) termasuk waktu terlarang untuk shalat.
Akan tetapi ini sunnah, yang mana Nabi shallallahu 'alaihi wassalam memerintahkannya bahkan beliau mengulanginya sampai 3 kali.
Maka ada yang salah memahami bahwa sunnah ini bermakna wajib, atau minimalnya termasuk sunnah rawatib seperti shalat ba'diyah maghrib.
Oleh karena ini, Rasulullah shallallahu 'alaihi wassalam bersabda: "bagi yang menghendaki", agar supaya tidak dipahami sebagai kewajiban atau sunnah rawatib.
Oleh karena ini sang rawi mengatakan: "Dikarenakan khawatir manusia akan menjadikannya sebagai sunnah, yakni sunnah rawatib."

--Silsilah Fatawa Nur 'ala ad-Darb (kaset 226)--

[via Anndri Maadsa]

>>> Tambahan (dari kami) :

Sunnah ini juga diamalkan oleh para sahabat Nabi, bahkan mereka -radhiyallaahu 'anhum- sangat bersemangat dalam mengamalkannya, sebagaimana dalam riwayat berikut:
◆◆◆ Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, dia berkata:
ﻛﻨﺎ ﻧﺼﻠﻲ ﻋﻠﻰ ﻋﻬﺪ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺭﻛﻌﺘﻴﻦ ﺑﻌﺪ ﻏﺮﻭﺏ ﺍﻟﺸﻤﺲ ﻗﺒﻞ ﺻﻼﺓ ﺍﻟﻤﻐﺮﺏ
“Dahulu kami pada masa Rasulullah shallahu 'alaihi wa sallam melaksanakan shalat dua rakaat setelah terbenam matahari sebelum shalat magrib.”
~[HR Muslim (836)]~

◆◆◆ Masih Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, dia berkata:
ﻛﻨﺎ ﺑﺎﻟﻤﺪﻳﻨﺔ، ﻓﺈﺫﺍ ﺃﺫﻥ ﺍﻟﻤﺆﺫﻥ ﻟﺼﻼﺓ ﺍﻟﻤﻐﺮﺏ ﺍﺑﺘﺪﺭﻭﺍ ﺍﻟﺴﻮﺍﺭﻱ ﻓﻴﺮﻛﻌﻮﻥ ﺭﻛﻌﺘﻴﻦ
“Dahulu kami ketika di Madinah, apabila muazzin mengumandangkan azan untuk shalat magrib, mereka (para sahabat Nabi) bersegera mencari tiang-tiang mesjid lalu mereka shalat dua rakaat.”
~[HR Muslim (837)]~

Dan ada juga dalil umum berkaita dengan amalan ini, sebagaimana dala hadits berikut:
◆◆◆ Dari Abdullah bin Mughaffal radhiallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
ﺑَﻴْﻦَ ﻛُﻞِّ ﺃَﺫَﺍﻧَﻴْﻦِ ﺻَﻠَﺎﺓٌ، ﺑَﻴْﻦَ ﻛُﻞِّ ﺃَﺫَﺍﻧَﻴْﻦِ ﺻَﻠَﺎﺓٌ، ﺛُﻢَّ ﻗَﺎﻝَ ﻓِﻲ ﺍﻟﺜَّﺎﻟِﺜَﺔِ: ﻟِﻤَﻦْ ﺷَﺎﺀَ
“Di antara setiap azan dan iqamah ada shalat. Di antara setiap azan dan iqamah ada shalat.” Kemudian beliau berkata pada kali yang ketiga: “Bagi siapa yang mau.”
~[HR. Al-Bukhari (627) dan Muslim (838)]~

Hadits ini menunjukkan bahwa setiap shalat fardhu yang lima waktu memiliki shalat sunnah qabliyah, termasuk di dalam hal ini adalah shalat magrib.

Wallaahu Ta'ala A'lam bish shawab.

Semoga Bermanfaat ! Baarakallahufiykum.

_________________________________________________

Sumber : ●● SUNNAH NABI YANG TERLUPAKAN, SHALAT SUNNAT (2 RAKAAT) SETELAH ADZAN MAGHRIB (SEBELUM SHALAT MAGHRIB) ●●
بسم الله الرحمن الرحيم

Semua ini terjadi karena akibat Dosa dan Maksiat

Pengaruh Buruk Perbuatan Dosa
Al-Imam Al-’Allamah Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullahu menyebutkan secara panjang lebar dampak negatif dari dosa. Beberapa di antaranya bisa kita sebutkan di sini sebagai peringatan:

1. Terhalang dari ilmu yang haq. Karena ilmu merupakan cahaya yang dilemparkan ke dalam hati, sementara maksiat akan memadamkan cahaya.

Tatkala Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu belajar kepada Al-Imam Malik rahimahullahu, Al-Imam Malik terkagum-kagum dengan kecerdasan dan kesempurnaan pemahaman Asy-Syafi’i. Al-Imam Malik pun berpesan pada muridnya ini, “Aku memandang Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memasukkan cahaya ilmu di hatimu. Maka janganlah engkau padamkan cahaya tersebut dengan kegelapan maksiat.”

Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu pernah bersajak:
شَكَوْتُ إِلَى وَكِيْعٍ سُوْءَ حِفْظِي
فَأَرْشَدَنِي إِلَى تَرْكِ الْمَعَاصِي
وَقَالَ اعْلَمْ بِأَنَّ الْعِلْمَ فَضْلٌ
وَ فَضْلُ اللهِ لاَ يُؤْتاَهُ عَاصِ
“Aku mengeluhkan jeleknya hafalanku kepada Waki’
Maka ia memberi bimbingan kepadaku agar meninggalkan maksiat
Ia berkata, “Ketahuilah ilmu itu merupakan keutamaan
dan keutamaan Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak diberikan kepada orang yang berbuat maksiat.”
[1]

2. Terhalang dari beroleh rizki dan urusannya dipersulit.

Takwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mendatangkan rizki dan memudahkan urusan seorang hamba sebagaimana firman-Nya:
{وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا * وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ} [الطلاق: 2، 3]
“Siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan bagi orang tersebut jalan keluar (dari permasalahannya) dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (Ath-Thalaq: 2-3)

{وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا} [الطلاق: 4]
“Siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (Ath-Thalaq: 4)

Meninggalkan takwa berarti akan mendatangkan kefakiran dan membuat si hamba terbelit urusannya.

3. Hati terasa jauh dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan merasa asing dengan-Nya, sebagaimana jauhnya pelaku maksiat dari orang-orang baik dan dekatnya dia dengan setan.

4. Menggelapkan hati si hamba sebagaimana gelapnya malam. Karena ketaatan adalah cahaya, sedangkan maksiat adalah kegelapan. Bila kegelapan itu bertambah di dalam hati, akan bertambah pula kebingungan si hamba. Hingga ia jatuh ke dalam bid’ah, kesesatan, dan perkara yang membinasakan tanpa ia sadari. Sebagaimana orang buta yang keluar sendirian di malam yang gelap dengan berjalan kaki.

Bila kegelapan itu semakin pekat akan tampaklah tandanya di mata si hamba. Terus demikian, hingga tampak di wajahnya yang menghitam yang terlihat oleh semua orang.

5. Maksiat akan melemahkan hati dan tubuh, karena kekuatan seorang mukmin itu bersumber dari hatinya. Semakin kuat hatinya semakin kuat tubuhnya. Adapun orang fajir/pendosa, sekalipun badannya tampak kuat, namun sebenarnya ia selemah-lemah manusia.

6. Maksiat akan ‘memperpendek‘ umur dan menghilangkan keberkahannya, sementara perbuatan baik akan menambah umur dan keberkahannya. Mengapa demikian? Karena kehidupan yang hakiki dari seorang hamba diperoleh bila hatinya hidup. Sementara, orang yang hatinya mati walaupun masih berjalan di muka bumi, hakikatnya ia telah mati. Oleh karenanya Allah Subhanahu wa Ta’ala menyatakan orang kafir adalah mayat dalam keadaan mereka masih berkeliaran di muka bumi:
{أَمْوَاتٌ غَيْرُ أَحْيَاءٍ} [النحل: 21]
“Mereka itu adalah orang-orang mati yang tidak hidup.” (An-Nahl: 21)

Dengan demikian, kehidupan yang hakiki adalah kehidupan hati. Sedangkan umur manusia adalah hitungan kehidupannya. Berarti, umurnya tidak lain adalah waktu-waktu kehidupannya yang dijalani karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, menghadap kepada-Nya, mencintai-Nya, mengingat-Nya, dan mencari keridhaan-Nya. Di luar itu, tidaklah terhitung sebagai umurnya.

Bila seorang hamba berpaling dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menyibukkan diri dengan maksiat, berarti hilanglah hari-hari kehidupannya yang hakiki. Di mana suatu hari nanti akan jadi penyesalan baginya:
{يَالَيْتَنِي قَدَّمْتُ لِحَيَاتِي} [الفجر: 24]
“Aduhai kiranya dahulu aku mengerjakan amal shalih untuk hidupku ini.” (Al-Fajr: 24)

7. Satu maksiat akan mengundang maksiat lainnya, sehingga terasa berat bagi si hamba untuk meninggalkan kemaksiatan. Sebagaimana ucapan sebagian salaf:

“Termasuk hukuman perbuatan jelek adalah pelakunya akan jatuh ke dalam kejelekan yang lain. Dan termasuk balasan kebaikan adalah kebaikan yang lain. Seorang hamba bila berbuat satu kebaikan maka kebaikan yang lain akan berkata, ‘Lakukan pula aku.’ Bila si hamba melakukan kebaikan yang kedua tersebut, maka kebaikan ketiga akan berucap yang sama. Demikian seterusnya. Hingga menjadi berlipatgandalah keuntungannya, kian bertambahlah kebaikannya. Demikian pula kejelekan….”


8. Maksiat akan melemahkan hati dan secara perlahan akan melemahkan keinginan seorang hamba untuk bertaubat dari maksiat, hingga pada akhirnya keinginan taubat tersebut hilang sama sekali.

9. Orang yang sering berbuat dosa dan maksiat, hatinya tidak lagi merasakan jeleknya perbuatan dosa. Malah berbuat dosa telah menjadi kebiasaan. Dia tidak lagi peduli dengan pandangan manusia dan acuh dengan ucapan mereka. Bahkan ia bangga dengan maksiat yang dilakukannya.

Bila sudah seperti ini model seorang hamba, ia tidak akan dimaafkan, sebagaimana berita dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى إِلاَّ الْمُجَاهِرِيْنَ، وَإِنَّ مِنَ الْمُجَاهَرَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَََّيْلِ عَمَلاً ثُمَّ يُصْبِحَ وَقَدْ سَتَرَهُ اللهُ عَلَيْهِ فيَقُوْلُ: يَا فُلاَنُ، عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا. وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ، وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللهِ عَنْهُ
“Setiap umatku akan dimaafkan kesalahan/dosanya kecuali orang-orang yang berbuat dosa dengan terang-terangan. Dan termasuk berbuat dosa dengan terang-terangan adalah seseorang melakukan suatu dosa di waktu malam dan Allah menutup perbuatan jelek yang dilakukannya tersebut[2] namun di pagi harinya ia berkata pada orang lain, “Wahai Fulan, tadi malam aku telah melakukan perbuatan ini dan itu.” Padahal ia telah bermalam dalam keadaan Rabbnya menutupi kejelekan yang diperbuatnya. Namun ia berpagi hari menyingkap sendiri tutupan (tabir) Allah yang menutupi dirinya.” (HR. Al-Bukhari no. 6069 dan Muslim no. 7410)

10. Setiap maksiat yang dilakukan di muka bumi ini merupakan warisan dari umat terdahulu yang telah dibinasakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Perbuatan homoseksual adalah warisan kaum Luth.

Mengambil hak sendiri lebih dari yang semestinya dan memberi hak orang lain dengan menguranginya, adalah warisan kaum Syu’aib.

Berlaku sombong di muka bumi dan membuat kerusakan adalah warisan dari kaum Fir’aun.

Sombong dan tinggi hati adalah warisan kaum Hud.

11. Maksiat merupakan sebab dihinakannya seorang hamba oleh Rabbnya.

Bila Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menghinakan seorang hamba maka tak ada seorang pun yang akan memuliakannya.
{وَمَنْ يُهِنِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ مُكْرِمٍ} [الحج: 18]
“Siapa yang dihinakan Allah niscaya tak ada seorang pun yang akan memuliakannya.” (Al-Hajj: 18)

Walaupun mungkin secara zhahir manusia menghormatinya karena kebutuhan mereka terhadapnya atau mereka takut dari kejelekannya, namun di hati manusia ia dianggap sebagai sesuatu yang paling rendah dan hina.

12. Bila seorang hamba terus menerus berbuat dosa, pada akhirnya ia akan meremehkan dosa tersebut dan menganggapnya kecil. Ini merupakan tanda kebinasaan seorang hamba. Karena bila suatu dosa dianggap kecil maka akan semakin besar di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Al-Imam Al-Bukhari rahimahullahu dalam Shahih-nya (no. 6308) menyebutkan ucapan sahabat yang mulia Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu:
إِنَّ الْمُؤْمِنَ يَرَى ذُنُوْبَهُ كَأَنَّهُ قَاعِدٌ تَحْتَ جَبَلٍ يَخَافُ أَنْ يَقَعَ عَلَيْهِ، وَإِنَّ الْفَاجِرَ يَرَى ذُنُوْبَهُ كَذُبَابٍ مَرَّ عَلَى أَنْفِهِ فَقَالَ بِهِ هَكَذَا
“Seorang mukmin memandang dosa-dosanya seakan-akan ia duduk di bawah sebuah gunung yang ditakutkan akan jatuh menimpanya. Sementara seorang fajir/pendosa memandang dosa-dosanya seperti seekor lalat yang lewat di atas hidungnya, ia cukup mengibaskan tangan untuk mengusir lalat tersebut.”

13. Maksiat akan merusak akal. Karena akal memiliki cahaya, sementara maksiat pasti akan memadamkan cahaya akal. Bila cahayanya telah padam, akal menjadi lemah dan kurang.

Sebagian salaf berkata: “Tidaklah seseorang bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala hingga hilang akalnya.”

Hal ini jelas sekali, karena orang yang hadir akalnya tentunya akan menghalangi dirinya dari berbuat maksiat. Ia sadar sedang berada dalam pengawasan-Nya, di bawah kekuasaan-Nya, ia berada di bumi Allah Subhanahu wa Ta’ala, di bawah langit-Nya dan para malaikat Allah Subhanahu wa Ta’ala menyaksikan perbuatannya.

14. Bila dosa telah menumpuk, hatipun akan tertutup dan mati, hingga ia termasuk orang-orang yang lalai. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
{كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ} [المطففين: 14]
“Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka.” (Al-Muthaffifin: 14)

Al-Hasan Al-Bashri rahimahullahu berkata menafsirkan ayat di atas: “Itu adalah dosa di atas dosa (bertumpuk-tumpuk) hingga mati hatinya.”[3]

15. Bila si pelaku dosa enggan untuk bertaubat dari dosanya, ia akan terhalang dari mendapatkan doa para malaikat. Karena malaikat hanya mendoakan orang-orang yang beriman, yang suka bertaubat, yang selalu mengikuti Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
{الَّذِينَ يَحْمِلُونَ الْعَرْشَ وَمَنْ حَوْلَهُ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيُؤْمِنُونَ بِهِ وَيَسْتَغْفِرُونَ لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَحْمَةً وَعِلْمًا فَاغْفِرْ لِلَّذِينَ تَابُوا وَاتَّبَعُوا سَبِيلَكَ وَقِهِمْ عَذَابَ الْجَحِيمِ * رَبَّنَا وَأَدْخِلْهُمْ جَنَّاتِ عَدْنٍ الَّتِي وَعَدْتَهُمْ وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ * وَقِهِمُ السَّيِّئَاتِ وَمَنْ تَقِ السَّيِّئَاتِ يَوْمَئِذٍ فَقَدْ رَحِمْتَهُ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ} [غافر: 8، 9]
“Malaikat-malaikat yang memikul Arsy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Rabb mereka dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman, seraya berucap, ‘Wahai Rabb kami, rahmat dan ilmu-Mu meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan-Mu dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala-nyala. Wahai Rabb kami, masukkanlah mereka ke dalam surga Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang yang shalih di antara bapak-bapak mereka, istri-istri mereka, dan keturunan mereka semuanya. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha memiliki hikmah. Dan peliharalah mereka dari (balasan) kejahatan. Orang-orang yang Engkau pelihara dari pembalasan kejahatan pada hari itu maka sungguh telah Engkau anugerahkan rahmat kepadanya dan itulah kemenangan yang besar’.” (Ghafir: 7-9)

Demikian beberapa pengaruh negatif dari perbuatan dosa dan maksiat yang kami[4] ringkaskan dari kitab Ad-Da`u wad Dawa`, karya Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullahu hal. 85-99. Semoga dapat menjadi peringatan.

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

_____________________________________________________

[1]Lihat Diwan Asy-Syafi’i (45), Al-Fawa`id Al-Bahiyyah (223), dan Syarh Tsulatsiyyat Al-Musnad (1/769).
[2]Yakni tak ada seorang pun yang mengetahuinya.
[3]Jami’ul Bayan fi Ta`wilil Qur`an, 12/190.
[4]Penulis: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Al-Atsariyyah

Sumber : Pengaruh Buruk Perbuatan Dosa
بسم الله الرحمن الرحيم

SHOLAT TAHIYATUL MASJID WALAU IMAM SEDANG KHUTBAH

SHOLAT TAHIYATUL MASJID WALAU IMAM SEDANG KHUTBAHبِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Sahabat yang Mulia Jabir bin Abdillah radhiyallahu'anhuma berkata,
جَاءَ سُلَيْكٌ الْغَطَفَانِيُّ يَوْمَ الْجُمُعَةِ ، وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ فَجَلَسَ ، فَقَالَ لَهُ " يَا سُلَيْكُ قُمْ فَارْكَعْ رَكْعَتَيْنِ ، وَتَجَوَّزْ فِيهِمَا " ثُمَّ قَالَ : " إِذَا جَاءَ أَحَدُكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ وَلْيَتَجَوَّزْ فِيهِمَا "

"Sulaik Al-Ghothofani datang ke masjid pada hari Jum'at ketika Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam sedang berkhutbah, ia pun langsung duduk. Maka beliau bersabda kepadanya: Wahai Sulaik, berdirilah, lalu sholatlah dua raka'at dan ringankanlah sholatmu.

Kemudian beliau bersabda: Jika seorang dari kalian datang ke masjid pada hari Jum'at dan imam sedang berkhutbah maka hendaklah ia melakukan sholat (tahiyyatul masjid) dua raka'at, dan hendaklah ia meringankan sholatnya." [HR. Al-Bukhari dan Muslim, dan lafaz milik Muslim]

Beberapa Pelajaran:

1) Dianjurkan untuk menghadiri sholat Jum’at dengan bersegera sebelum khatib naik mimbar dan melakukan sholat tahiyyatul masjid ketika pertama tiba di masjid

2) Apabila seseorang datang terlambat setelah khatib naik mimbar, tetap disunnahkan baginya untuk sholat tahiyyatul masjid walau khatib sedang khutbah dan dimakruhkan baginya untuk duduk sebelum sholat dua raka’at

3) Dalam keadaan ini, disunnahkan sholat yang ringan, tidak memperpanjang bacaan agar dapat segera mendengarkan khutbah

4) Bolehnya khatib berbicara kepada jama’ah apabila ada suatu keperluan, dan jama’ah yang diajak berbicara boleh menjawab karena dalam riwayat lain, Sulaik ditanya terlebih dahulu oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam:
أَصَلَّيْتَ يَا فُلَانُ قَالَ لَا قَالَ قُمْ فَارْكَعْ

“Apakah engkau sudah sholat wahai Fulan? Beliau menjawab: Belum. Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: Bangkitlah lalu sholat.”

5) Anjuran untuk selalu memerintahkan yang ma’ruf dan melarang dari kemungkaran serta membimbing kepada kemaslahatan dalam setiap keadaan, tempat dan waktu

6) Sholat tahiyyatul masjid dikerjakan dua raka’at

7) Sholat sunnah di siang hari juga dua raka’at, dua raka’at

8) Sholat tahiyyatul masjid masih bisa dikerjakan walau seseorang sudah sempat duduk apabila ia belum mengetahui sebelumnya

9) Sholat tahiyyatul masjid tidak boleh ditinggalkan meski di waktu-waktu terlarang untuk sholat, karena pendapat yang kuat insya Allah bahwa sholat-sholat sunnah yang memiliki sebab boleh dikerjakan meski di waktu-waktu terlarang

10) Sholat sunnah tahiyyatul masjid termasuk sunnah mu’akkadah, namun apabila sudah dikumandangkan iqomah maka hendaklah segera memutuskan sholat sunnah apa pun dan ikut sholat berjama’ah.

[Disarikan dari Syarhu Muslim lin Nawawi rahimahullah, 6/164-165]
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

http://sofyanruray.info/
__________________________________

Sumber : Sofyan Chalid bin Idham Ruray - www.SofyanRuray.info
بسم الله الرحمن الرحيم

Jagalah Jadwal Sholat Wajib Tepat Waktu..!!!

Berikut ini dalil-dalil yang menunjukkan wajibnya menunaikan sholat lima waktu tepat pada waktunya :

Pertama
Allah Subhanahu wata'ala berfirman :
{حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَى} [البقرة: 238]
Peliharalah segala shalat (mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa. [Al Baqarah (2):238]

Memelihara sholat berarti mengerjakannya tepat waktu, karena sebab turunnya ayat ini adalah tertundanya pelaksanaan sholat pada saat perang Khandaq, bukan karena meninggalkan pelaksanaannya. Seperti itulah penafsiran Ulama Salaf.

Memelihara sholat kebalikannya adalah menelantarkan dan menyia-nyiakannya, maka barangsiapa yang menunda pelaksanaannya keluar dari waktunya berarti telah menelantarkannya dan tidak memeliharanya.

Kedua
Allah Subhanahu wata'ala berfirman :
{فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ} [مريم: 59]
Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, [Maryam (19):59]

Menyia-nyiakan shalat maksudnya adalah menundanya hingga keluar dari waktunya, demikian penafsiran Ibnu Mas'ud, Ibrahim, Al Qosim bin Muhammad dan Adh-Dhoh-hak serta ulama lainnya, tanpa ada yang menyelisihi mereka.

Ketiga
Allah Subhanahu wata'ala berfirman :
{فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ * الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ} [الماعون: 4، 5]
Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, [Al Maa'uun (107):4 & 5]

Penafsiran yang populer dari ayat diatas diantaranya adalah : menyia-nyiakan waktu sholat, demikian penafsiran mayoritas Shahabat dan Tabi'in.

Keempat
Allah Subhanahu wata'ala berfirman :
{إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا} [النساء: 103]
Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman. [Annisa' (4):103]

Ini menunjukkan keagungan sholat, bahwasanya sholat merupakan kewajiban melekat, yang tidak terlepas bagi seorang muslim bagaimanapun keadaannya.

Sholat merupakan kewajiban yang ditentukan waktunya. Allah Subhanahu wata'ala wajibkan bagi orang-orang yang beriman, dan menetapkan bagi tiap-tiap sholat tersebut waktunya, yang menjadi tempat dan waktu pelaksanaan bagi tiap sholat tersebut.

Berdasarkan hal ini, sebagian Ahli Fiqih -Fuqoha- berpendapat bahwa "sesungguhnya sholat apabila tidak dikerjakan pada waktunya, maka tidak mungkin mengganti sholat yang ketinggalan tersebut dengan cara mengulanginya pada waktu yang lain -di luar waktunya- sebagaimana ibadah haji yang tidak dikerjakan kecuali pada waktu yang telah ditentukan.

Abdullah bin Mas'ud Radhiallohu 'anhu berkata :
«إِنَّ لِلصَّلَاةِ وَقْتًا كَوَقْتِ الْحَجِّ»
Sesungguhnya sholat itu memiliki waktu sebagaimana waktu ibadah haji

Kelima
Sesungguhnya Allah Subhanahu wata'ala memerintahkan kepada orang yang dalam keadaan takut (dalam keadaan perang) untuk tetap menegakkan sholat (sholat khauf) meskipun banyak dari rukun-rukun sholat yang tidak terpenuhi, demikian pula diperintahkan bagi orang yang tayammum -sudah masuk waktu shalat namun tidak mendapatkan air untuk bersuci- dan semisalnya untuk menegakkan sholat, sekiranya boleh menunda pelaksanaannya, maka tentu tidak butuh sedikitpun dari hal yang demikian itu -sholat khauf, tayammum dan sebagainya-

Keenam
Banyak ayat yang menunjukkan wajibnya mengerjakan sholat pada waktu yang telah ditentukan, seperti firman Allah Subhanahu wata'ala :
{وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ الْغُرُوبِ} [ق: 39]
dan bertasbihlah -sholatlah- sambil memuji Tuhanmu sebelum terbit matahari (sholat subuh) dan sebelum terbenam(nya) (sholat ashar). [Qoof (50):39]

dan firman Allah Subhanahu wata'ala :
{أَقِمِ الصَّلَاةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ} [الإسراء: 78]
Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir [Al-Isro'(17):78]

Ketujuh
Dari Abu Dzar Radhiallohu 'anhu, sesungguhnya Rasulullah Shollallahu 'alaihi wasallam bersabda :
" يا أبا ذر إنها ستكون عليكم أئمة يميتون الصلاة فان ادركتموهم فصلوا الصلاة لوقتها واجعلوا صلاتكم معهم نافلة "
"Wahai Abu Dzar, sesungguhnya akan ada nanti pemimpin-pemimpin yang mematikan sholat, maka apabila kalian mendapati mereka, tegakkanlah sholat tepat pada waktunya dan jadikanlah sholat kalian bersama mereka sebagai nafilah" [HR. Muslim No. 648]

Kedelapan
Dari Abu Qotadah Radhiallohu 'anhu, beliau berkata : Rasulullah Shollallahu 'alaihi wasallam bersabda :
«أَمَا إِنَّهُ لَيْسَ فِيَّ النَّوْمِ تَفْرِيطٌ، إِنَّمَا التَّفْرِيطُ عَلَى مَنْ لَمْ يُصَلِّ الصَّلَاةَ حَتَّى يَجِيءَ وَقْتُ الصَّلَاةَ الْأُخْرَى،...»
Ketahuilah, sesungguhnya tidak ada di dalam tidur itu bentuk kelalaian, sesungguhnya kelalaian itu hanyalah bagi orang yang tidak melaksanakan sholat hingga datang waktu sholat berikutnya... [HR. Muslim No. 681]

Kesembilan
عَنْ أَبِي مُوسَى، عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، أَنَّهُ " أَتَاهُ سَائِلٌ يَسْأَلُهُ عَنْ مَوَاقِيتِ الصَّلَاةِ، فَلَمْ يَرُدَّ عَلَيْهِ شَيْئًا، قَالَ: فَأَقَامَ الْفَجْرَ حِينَ انْشَقَّ الْفَجْرُ، وَالنَّاسُ لَا يَكَادُ يَعْرِفُ بَعْضُهُمْ بَعْضًا، ثُمَّ أَمَرَهُ فَأَقَامَ بِالظُّهْرِ، حِينَ زَالَتِ الشَّمْسُ، وَالْقَائِلُ يَقُولُ قَدِ انْتَصَفَ النَّهَارُ، وَهُوَ كَانَ أَعْلَمَ مِنْهُمْ، ثُمَّ أَمَرَهُ فَأَقَامَ بِالْعَصْرِ وَالشَّمْسُ مُرْتَفِعَةٌ، ثُمَّ أَمَرَهُ فَأَقَامَ بِالْمَغْرِبِ حِينَ وَقَعَتِ الشَّمْسُ، ثُمَّ أَمَرَهُ فَأَقَامَ الْعِشَاءَ حِينَ غَابَ الشَّفَقُ، ثُمَّ أَخَّرَ الْفَجْرَ مِنَ الْغَدِ حَتَّى انْصَرَفَ مِنْهَا، وَالْقَائِلُ يَقُولُ قَدْ طَلَعَتِ الشَّمْسُ، أَوْ كَادَتْ، ثُمَّ أَخَّرَ الظُّهْرَ حَتَّى كَانَ قَرِيبًا مِنْ وَقْتِ الْعَصْرِ بِالْأَمْسِ، ثُمَّ أَخَّرَ الْعَصْرَ حَتَّى انْصَرَفَ مِنْهَا، وَالْقَائِلُ يَقُولُ قَدِ احْمَرَّتِ الشَّمْسُ، ثُمَّ أَخَّرَ الْمَغْرِبَ حَتَّى كَانَ عِنْدَ سُقُوطِ الشَّفَقِ، ثُمَّ أَخَّرَ الْعِشَاءَ حَتَّى كَانَ ثُلُثُ اللَّيْلِ الْأَوَّلُ، ثُمَّ أَصْبَحَ فَدَعَا السَّائِلَ، فَقَالَ: الْوَقْتُ بَيْنَ هَذَيْنِ "

Dari Abu Musa Radhiallohu 'anhu, dari Rasulullah Shollallahu 'alaihi wasallam bahwasanya telah datang kepada beliau seseorang yang bertanya tentang waktu-waktu sholat, namun beliau tidak menjawabnya sedikitpun ~dengan kata-kata namun dengan perbuatan~.
Abu Musa Radhiallohu 'anhu berkata :
Maka beliau mendirikan sholat subuh ketika terbit fajar, sementara orang-orang hampir tidak saling mengenal antara sebagian mereka dengan sebagian lainnya. Kemudian Nabi Shollallahu 'alaihi wasallam memerintahkannya -melakukan seperti itu-.
Setelah itu Nabi Shollallahu 'alaihi wasallam menegakkan sholat dhuhur, ketika matahari tergelincir. Sipenanya mengatakan : "Sudah tengah hari.", padahal Nabi Shollallahu 'alaihi wasallam lebih mengetahui -itu- dibanding mereka. Kemudian Nabi Shollallahu 'alaihi wasallam memerintahkannya -melakukan seperti itu-.
Kemudian Nabi Shollallahu 'alaihi wasallam menegakkan sholat ashar, pada waktu matahari sudah tinggi. Lalu Nabi Shollallahu 'alaihi wasallam memerintahkannya -melakukan seperti itu-
Setelah itu Nabi Shollallahu 'alaihi wasallam menegakkan sholat maghrib, ketika matahari terbenam, setelah itu Nabi Shollallahu 'alaihi wasallam memerintahkannya -melakukan seperti itu-.
Kemudian Nabi Shollallahu 'alaihi wasallam menegakkan sholat 'isya, ketika syafaq -sinar merah matahari setelah terbenam- telah hilang.
Pada keesokan harinya Nabi Shollallahu 'alaihi wasallam memperlambat pelaksanaan sholat subuh, hingga setelah selesai, Sipenanya mengatakan : "Matahari sudah terbit atau hampir terbit.".
Kemudian Nabi Shollallahu 'alaihi wasallam memperlambat pelaksanaan sholat dhuhur sampai hampir masuk waktu ashar seperti kemarin.
Setelah itu Nabi Shollallahu 'alaihi wasallam memperlambat pelaksanaan sholat ashar, hingga setelah selesai, Sipenanya mengatakan : "Sinar matahari sudah memerah.".
Kemudian Nabi Shollallahu 'alaihi wasallam memperlambat pelaksanaan sholat maghrib sampai syafaq -sinar merah matahari setelah terbenam- mulai hilang.
Setelah itu Nabi Shollallahu 'alaihi wasallam memperlambat pelaksanaan sholat 'isya sampai sepertiga malam yang pertama berlalu.
Kemudian, di pagi hari beliau memanggil Sipenanya, lalu bersabda : "Waktu Sholat adalah diantara dua waktu ini" [HR. Muslim No. 614]

Kesepuluh
عَنْ بُرَيْدَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، أَنَّ رَجُلًا سَأَلَهُ عَنْ وَقْتِ الصَّلَاةِ، فَقَالَ لَهُ: «صَلِّ مَعَنَا هَذَيْنِ - يَعْنِي الْيَوْمَيْنِ - فَلَمَّا زَالَتِ الشَّمْسُ أَمَرَ بِلَالًا فَأَذَّنَ، ثُمَّ أَمَرَهُ، فَأَقَامَ الظُّهْرَ، ثُمَّ أَمَرَهُ، فَأَقَامَ الْعَصْرَ وَالشَّمْسُ مُرْتَفِعَةٌ بَيْضَاءُ نَقِيَّةٌ، ثُمَّ أَمَرَهُ فَأَقَامَ الْمَغْرِبَ حِينَ غَابَتِ الشَّمْسُ، ثُمَّ أَمَرَهُ فَأَقَامَ الْعِشَاءَ حِينَ غَابَ الشَّفَقُ، ثُمَّ أَمَرَهُ فَأَقَامَ الْفَجْرَ حِينَ طَلَعَ الْفَجْرَ، فَلَمَّا أَنْ كَانَ الْيَوْمُ الثَّانِي أَمَرَهُ فَأَبْرَدَ بِالظُّهْرِ، فَأَبْرَدَ بِهَا، فَأَنْعَمَ أَنْ يُبْرِدَ بِهَا، وَصَلَّى الْعَصْرَ وَالشَّمْسُ مُرْتَفِعَةٌ أَخَّرَهَا فَوْقَ الَّذِي كَانَ، وَصَلَّى الْمَغْرِبَ قَبْلَ أَنْ يَغِيبَ الشَّفَقُ، وَصَلَّى الْعِشَاءَ بَعْدَمَا ذَهَبَ ثُلُثُ اللَّيْلِ، وَصَلَّى الْفَجْرَ فَأَسْفَرَ بِهَا»، ثُمَّ قَالَ: «أَيْنَ السَّائِلُ عَنْ وَقْتِ الصَّلَاةِ؟» فَقَالَ الرَّجُلُ: أَنَا، يَا رَسُولَ اللهِ، قَالَ: «وَقْتُ صَلَاتِكُمْ بَيْنَ مَا رَأَيْتُمْ»

Dari Buraidah Radhiallohu 'anhu, dari Nabi Shollallahu 'alaihi wasallam, bahwasanya ada seseorang bertanya kepada beliau tentang waktu sholat, maka Nabi Shollallahu 'alaihi wasallam mengatakan padanya : "Sholatlah bersama kami dua hari ini!", ketika matahari tergelincir, beliau memerintahkan Bilal , lalu Bilal-pun adzan, lalu memerintahnya lagi ~untuk iqomah~, kemudian beliau menegakkan sholat dhuhur.
Setelah itu beliau memerintahnya ~untuk adzan dan iqomah~, kemudian sholat ashar, sementara matahari pada waktu itu sudah tinggi dengan sinarnya yang putih bersih.
Kemudian beliau memerintahnya ~untuk adzan dan iqomah~, lalu sholat maghrib, ketika matahari telah tenggelam.
Setelah itu beliau memerintahnya ~untuk adzan dan iqomah~, kemudian sholat 'isya, ketika syafaq -sinar merah matahari setelah terbenam- telah hilang.
Kemudian beliau memerintahnya ~untuk adzan dan iqomah~, lalu sholat subuh, ketika fajar telah terbit.
Ketika memasuki hari kedua, beliau memerintahnya agar menunda sampai cuaca agak dingin lalu sholat dhuhur, maka ~Bilal~ menunda untuk sholat dhuhur sampai cuaca agak dingin, dengan demikian ~Nabi Shollallahu 'alaihi wasallam~ telah memberikan kenyamanan dengan menunggu cuaca agak dingin lalu sholat dhuhur.
Setelah itu Nabi mengundurkan sholat ashar, pada waktu itu matahari sudah lebih tinggi dibandingkan hari sebelumnya.
Lalu sholat maghrib sebelum syafaq -sinar merah matahari setelah terbenam- hilang.
Setelah itu Nabi sholat 'isya, setelah lewat sepertiga malam.
Lalu sholat subuh pada saat langit mulai menguning, kemudian Nabi bersabda : "Mana orang yang bertanya tentang waktu sholat?", orang tersebut mengatakan : "Saya, wahai Rasulullah,". Nabi Shollallahu 'alaihi wasallam bersabda : "Waktu sholat kalian adalah apa yang telah kalian saksikan" [HR. Muslim No. 613]

Kesebelas
Konsensus (baca:ijma') para ulama atas pembatasan waktu-waktu sholat, tidak boleh bagi seorang muslim mempercepat atau memperlambatnya kecuali ada udzur.
Al Imam Ibnu Qudamah Rahimahullah berkata dalam kitabnya Al Mughniy (1/269):
أَجْمَعَ الْمُسْلِمُونَ عَلَى أَنَّ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسَ مُؤَقَّتَةٌ بِمَوَاقِيتَ مَعْلُومَةٍ مَحْدُودَةٍ، وَقَدْ وَرَدَ فِي ذَلِكَ أَحَادِيثُ صِحَاحٌ جِيَادٌ...
Para ulama kaum muslimin telah ijma' bahwasanya sholat wajib lima ~kali sehari semalam~ ditetapkan berdasarkan waktu, dengan waktu-waktu yang telah diketahui bersama dan sifatnya terbatas, dan sungguh telah datang dalam masalah ini hadits-hadits yang shohih lagi baik...

Al Imam Ibnu Abdil Bar Rahimahullah berkata dalam kitabnya At-Tamhid (8/69-70):
(وفي هذا الحديث _ يقصد حديث عروة مع عمر بن عبد العزيز _ دليل على أن وقت الصلاة لا تجزىء قبل وقتها وهذا لا خلاف فيه بين العلماء إلا شيئا روى عن أبي موسى الأشعري وعن بعض التابعين أجمع العلماء على خلافه فلم أر لذكره وجها لأنه لا يصح عنهم وقد صح عن أبي موسى خلافه مما وافق الجماعة فصار اتفاقا صحيحا)
(dan di dalam hadits ini ~maksudnya hadits Urwah bersama Umar bin Abdul Aziz~ ada dalil bahwasanya waktu sholat, tidaklah sah sebelum waktunya. Hal ini tidak ada silang pendapat diantara ulama', kecuali satu riwayat dari Abu Musa Al-Asy'ariy dan sebagian tabi'in yang mana ulama sepakat menyelisihi riwayat tersebut, oleh karena itu saya tidak melihat ~pentingnya~ menyebutkan poin tersebut, sebab tidak shohih ~riwayat~ dari mereka, dan sungguh telah shohih ~riwayat lain~ dari Abu Musa ~sendiri~ yang menyelisihinya, ~riwayat yang shohih ini~ termasuk ~riwayat~ yang sesuai dengan pendapat jama'ah, sehingga ~ijma' atas tidak sahnya sholat sebelum waktunya~ menjadi kesepakatan yang shohih) [Lihat: Al-Istidzkar (1/23)]

Berkata Al-'Ainiy dalam Umdah Al Qori' (5/5):
(فيه _ أي قصة عروة مع عمر بن عبد العزيز _ دليل على أن وقت الصلاة من فرائضها وأنها لا تجزي قبل وقتها وهذا لا خلاف فيه بين العلماء)
(di dalamnya ~yaitu di dalam kisah Urwah bersama Umar bin Abdul Aziz~ ada dalil yang menunjukkan bahwasanya waktu sholat diantaranya sholat-sholat yang fardhu tidaklah sah ~jika dikerjakan~ sebelum waktunya. Hal ini tidak ada silang pendapat diantara ulama')

_____________________________________________________

Sumber Rujukan :
بسم الله الرحمن الرحيم

Kumpulan Link Artikel Islamy [Up To Date]

بسم الله الرحمن الرحيم

Urgensi Tauhid bagi Seorang Muslim

Tauhid dalam artian "Ikhlas" Memurnikan Ketaatan Kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, tidak diragukan lagi akan pentingnya, mengapa..???

Tauhid adalah Perintah Pertama dan Terbesar dalam Al-Qur'an
Tauhid merupakan perintah pertama kali di dalam Al Qur’an, sebaliknya lawannya yaitu syirik merupakan larangan pertama kali di dalam Al Qur’an, sebagaimana dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala pada surat Al-Baqarah ayat 21-22 :
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (21) الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ (22) [البقرة/21، 22]
“Wahai sekalian manusia, ibadahilah oleh kalian Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian agar kalian menjadi orang-orang yang bertaqwa. Yang telah menjadikan untuk kalian bumi sebagai hamparan, langit sebagai bangunan, dan menurunkan air dari langit, lalu Allah mengeluarkan dengan air tersebut buah-buahan, sebagai rizki bagi kalian. Maka janganlah kalian menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah padahal kalian mengetahui.” (Al-Baqarah: 21-22)

Dalam ayat ini terdapat perintah Allah “ibadahilah Rabb kalian” dan larangan Allah “janganlah kalian menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah”.

Perintah untuk beribadah kepada Allah dan larangan berbuat syirik, Allah letakkan sebelum perintah-perintah lainnya. Ini menunjukkan bahwa perintah terbesar adalah Tauhid, dan larangan terbesar adalah syirik.

Tauhid adalah Inti Kandungan Al-Qur'an
Sebagaimana yang telah kita ketahui bersama bahwa surah Al Fatihah memiliki banyak nama, diantaranya adalah Ummu Al-Kitab (induk al-kitab), Ummu Al-Qur`an dan As-Sab’ul Matsani (tujuh ayat yang berulang) serta Al-Qur`an Al-Azhim, berdasarkan hadits yang shahih riwayat At-Tirmizi -dan dia menyatakannya shahih- dari Abu Hurairah dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعالَمِيْنَ: أُمُّ الْقُرْآنِ وَأُمُّ الْكِتابِ وَالسَّبْعُ الْمَثانِي وَالْقُرْآنُ الْعَظِيْمُ
“Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin (al-fatihah) adalah induk Al-Qur`an, induk al-kitab, tujuh ayat yang berulang, dan Al-Qur`an Al-Azhim.”

Kenapa dinamakan dengan Ummu Al-Kitab (induk al-kitab) atau Ummu Al-Qur`an..??? karena makna-makna Al-Qur`an semuanya kembali kepada kandungan surah Al-Fatihah ini.

Selanjutnya jika kita perhatikan dengan seksama maka kita dapatkan salah satu ayat dari surah Al Fatihah yang kandungan makna Al Qur'an semuanya kembali kepada kandungan surah al-fatihah ini, ada ayat yang menunjukkan tentang Tauhid dalam artian "Ikhlas" Memurnikan Ketaatan Kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala yaitu ayat :
{إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ} [الفاتحة: 5]
“Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami mohon pertolongan.”

Secara kaidah etimologi (bahasa) Arab, di dalam ayat ini terdapat uslub (kaidah) yang berfungsi memberikan penekanan dan penegasan. Yaitu bahwa tiada yang berhak diibadahi dan dimintai pertolongan kecuali hanya Allah subhanahu wata’ala semata. Sesembahan-sesembahan selain Allah itu adalah batil. Maka sembahlah Allah subhanahu wata’ala semata.

Oleh karena itu dapat kita simpulkan bahwa Tauhid merupakan salah satu inti dari kandungan surah Al Fatihah yang kandungan makna Al Qur'an semuanya kembali kepada kandungan surah al-fatihah ini.

Tauhid adalah Hikmah Penciptaan Jin dan Manusia
Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
{وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ (56) مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ (57) إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ} [الذاريات: 56 - 58]
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi Aku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.” (adz-Dzaariyaat: 56-58)

Ayat diatas secara global menjelaskan bahwa : Allah Subhanahu wata’ala mengabarkan bahwasanya Dialah yang menciptakan jin dan manusia. Dan bahwasanya hikmah dari penciptaan mereka adalah untuk mengesakan-Nya dengan ibadah dan mengingkari peribadatan kepada selain-Nya. Dan sesungguhnya diciptakannya mereka hanya untuk ibadah dan Allah akan cukupkan rezeki mereka. Dia Maha Benar janji-Nya, Maha Berkuasa kehendak-Nya karena Dia al-Qowiyyul Matin (Maha Kuat lagi Maha Kokoh).

Tauhid adalah Dakwah Para Nabi dan Rasul
Inti dakwah Para Nabi dan Rasul adalah tauhid. Yaitu memerintahkan kepada kaumnya agar beribadah kepada Allah saja.
{وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ} [النحل: 36]
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus para rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Beribadahlah kepada Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”… (an-Nahl: 36).

Allah menjelaskan dakwah para rasul-Nya dengan rinci pada berbagai firman-Nya, di antaranya tentang nabi Nuh alaihis sallam:
{وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ فَقَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ أَفَلَا تَتَّقُونَ} [المؤمنون: 23]
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu ia berkata: "Hai kaumku, beribadahlah kepada Allah (karena) sekali-kali tidak ada sesembahan bagi-mu selain-Nya. Maka mengapa kamu tidak bertaqwa (kepada-Nya)?" (al-Mu’minun: 23)

Kemudian nabi Ibrahim, bapak para Nabi alaihis sallam:
{وَإِبْرَاهِيمَ إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاتَّقُوهُ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ} [العنكبوت: 16]
Dan (ingatlah) Ibrahim, ketika ia berkata kepada kaumnya: "Beribadahlah kepada Allah dan bertaqwalah kepada-Nya. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui”. (al-Ankabut: 16)

Sedangkan tentang nabi Isa alaihis salam Allah berfirman:
{لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ} [المائدة: 72]
Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam", padahal Al-Masih (sendiri) berkata: "Hai Bani Israil, beribadahlah kepada Allah Rabb-ku dan Rabb-mu". Sesungguhnya orang yang memperse-kutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka. Dan tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. (al-Maidah: 72)

Dan tentang Nabi Hud alaihis sallam Allah berfirman:
{وَإِلَى عَادٍ أَخَاهُمْ هُودًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ أَفَلَا تَتَّقُونَ} [الأعراف: 65]
Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum 'Aad saudara mereka, Hud. Ia berkata: "Hai kaumku, beribadahlah kepada Allah, sekali-kali tidak ada sesembahan bagimu selain dari-Nya. Maka mengapa kamu tidak bertaqwa kepada-Nya ?" (al-A’raaf: 65)

Tentang Nabi Shalih diterangkan dalam ayat-Nya:
{وَإِلَى ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ قَدْ جَاءَتْكُمْ بَيِّنَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ هَذِهِ نَاقَةُ اللَّهِ لَكُمْ آيَةً فَذَرُوهَا تَأْكُلْ فِي أَرْضِ اللَّهِ وَلَا تَمَسُّوهَا بِسُوءٍ فَيَأْخُذَكُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ} [الأعراف: 73]
Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum Tsamud saudara mereka Shaleh. Ia berkata: "Hai kaumku, beribadahlah kepada Allah, sekali-kali tidak ada sesembahan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang bukti yang nyata kepadamu dari Rabb-mu. Unta betina Allah ini menjadi tanda bagimu, maka biarkanlah dia makan di bumi Allah, dan janganlah kalian mengganggunya biarkanlah dia makan di bumi Allah, dan janganlah kalian mengganggunya dengan gangguan apapun, (yang karenanya) kamu akan ditimpa siksaan yang pedih." (al-A’raaf: 73)

Dan Nabi Syu’aib Allah kisahkan juga dengan ucapan yang sama, yaitu: “beribadahlah kepa-da Allah dan tidak ada bagi kalian sesem-bahan kecuali Dia”.
{وَإِلَى مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ قَدْ جَاءَتْكُمْ بَيِّنَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ فَأَوْفُوا الْكَيْلَ وَالْمِيزَانَ وَلَا تَبْخَسُوا النَّاسَ أَشْيَاءَهُمْ وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ} [الأعراف: 85]
Dan (Kami telah mengutus) kepada pendu-duk Madyan saudara mereka, Syu’aib. Ia berkata: “Hai kaumku, beribadahlah kepada Allah, sekali-kali tidak ada sesembahan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Rabb-mu. Maka sempurnakanlah takaran dan timbangan dan janganlah kalian kurangkan bagi manusia barang-barang takaran dan timbangannya, dan janganlah kalian membuat kerusakan di muka bumi sesudah Rabbmu memperbaikinya. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika betul-betul kamu orang-orang yang beriman”. (al-A’raaf: 85)

Tauhid adalah Hak Allah yang Wajib atas Seluruh Hamba-Nya
Tauhid merupakan hak Allah yang paling besar atas hamba-hamba-Nya, sebagaimana dalam hadits yang terkenal dari shahabat yang mulia Mu’adz bin Jabal Radhiyallah ‘anhu ketika Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam bertanya kepadanya :
( يا معاذ ، أتدري ما حق الله على العباد وما حق العباد على الله ؟ ) قلت : الله ورسوله أعلم ؟ قال : ( حق الله على العباد أن يعبدوه ولا يشركوا به شيئا، وحق العباد على الله أن لا يعذب من لا يشرك به شيئا )
“Wahai Mu’adz, tahukah kamu apa hak Allah atas hamba-hamba-Nya dan hak hamba-hamba-Nya atas Allah?” Mu’adz menjawab: Allah dan rasul-Nya yang lebih mengetahui. Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : “hak Allah atas hamba-hamba-Nya adalah mereka beribada kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Tauhid adalah Salah Satu dari Rukun Islam
Tauhid merupakan salah satu dari rukun Islam yang menjadi pondasi utama dibangunnya segala amalan dalam agama ini. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan dari shahabat ‘Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa Sallam bersabda :
بُنِيَ الإِسْلامُ عَلَى خَمْسٍ : شَهَادَةِ أَنْ لا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ وحَجِّ بَيْتِ اللهِ الحَرَام
“Agama Islam dibangun di atas lima dasar : (1) Syahadah bahwa tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah, (2) mendirikan shalat, (3) menunaikan zakat, (4) shaum di bulan Ramadhan (5) berhaji ke Baitullah Al-Haram.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Tauhid adalah Salah Satu Syarat Masuk Surga
Tauhid merupakan syarat masuknya seorang hamba ke dalam Al-Jannah (surga) dan terlindung dari An-Nar (neraka). Sebaliknya lawannya yaitu syirik merupakan sebab utama masuknya dan terjerumusnya seorang hamba ke dalam An-Nar dan diharamkan dari Jannah Allah.

Allah berfirman:
إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ (72) [المائدة/72]
“Sesungguhnya barangsiapa yang menyekutukan Allah, maka Allah akan mengharamkan baginya Al-Jannah dan tempat kembalinya adalah An-Nar dan tidak ada bagi orang-orang zhalim seorang penolongpun.” (Al Ma’idah: 72)

Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa Sallam bersabda:
مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ
“Barangsiapa yang mati dan dia mengetahui (berilmu) bahwa tidak ada ilah yang benar kecuali Allah, maka dia akan masuk ke dalam Al Jannah.” (HR. Muslim)

Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa Sallam bersabda pula sebagaimana yang diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu :
من لقي الله لا يشرك به شيئا دخل الجنة ، ومن لقيه يشرك به شيئا دخل النار
“Barangsiapa berjumpa dengan Allah dalam keadaan tidak berbuat syirik kepada-Nya dengan sesuatu apapun, dia akan masuk Al-Jannah dan barangsiapa yang berjumpa dengan Allah dalam keadaan berbuat syirik kepada-Nya, dia akan masuk An-Nar.” (HR. Muslim)

Tauhid adalah Salah Satu Syarat Diterimanya Amal Ibadah
Tauhid merupakan syarat diterimanya amal seseorang oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Allah berfirman:
وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ (65) [الزمر/65]
“Sungguh telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan orang-orang (para nabi) sebelummu, bahwa jika kamu berbuat syirik, niscaya batallah segala amalanmu, dan pasti kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (Az-Zumar : 65)

Syirik merupakan sebab batal alias tertolaknya semua amalan. Maka lawan syirik, yaitu Tauhid merupakan syarat diterimanya amalan sebagaimana ayat yang diatas dan juga firman Allah Subhanahu wata'ala :
{وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ} [الأنعام: 88]
Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan. [Al An'am (6):88]

Tauhid adalah Jaminan Keamanan dan Hidayah Petunjuk di Dunia dan Akhirat
Setiap penganut tauhid akan mendapatkan jaminan keselamatan dari Allah berupa rasa aman dan petunjuk. Hal ini membuktikan betapa penting bagi sekalian manusia untuk memiliki tauhid. Allah subhanahu wa ta`ala berfirman :
{الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ} [الأنعام: 82]
“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan keimanan mereka dengan kedzoliman, mereka itulah orang-orang yang mendapatkan keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapatkan petunjuk.” (Al-An`aam: 82)

Kedzoliman dalam ayat ditas maksudnya adalah syirik besar. Sebagaimana penjelasan Nabi Shollallahu 'alaihi wasallam kepada para shahabatnya ketika mereka merasa berat dengan turunnya ayat tersebut lalu mereka bertanya :
يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَيُّنَا لاَ يَظْلِمُ نَفْسَهُ؟
Wahai Rasulullah, Siapa diantara kami yang tidak mendzolimi dirinya?

Maka Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam menjawab:
«لَيْسَ ذَلِكَ إِنَّمَا هُوَ الشِّرْكُ أَلَمْ تَسْمَعُوا مَا قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لاَ تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ»
Bukan seperti itu, tapi maksudnya adalah syirik, Tidakkah kalian mendengar ucapan Luqman ketika memberikan nasehat kepada anaknya : Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kedzoliman yang besar". (HR. Bukhari).

Dengan demikian berarti seseorang yang bersih dari syirik besar akan mendulang rasa aman dan petunjuk sesuai dengan tingkat keislaman dan keimanan yang tertanam pada dirinya. Maka rasa aman dan petunjuk yang sempurna hanya akan diraih oleh seorang yang bertauhid dan bertemu dengan Allah tanpa membawa dosa besar yang dilakukan secara terus-menerus.

Tentu, Sebaliknya seseorang yang tidak menjauhi syirik telah terjatuh dalam kedzoliman maka mustahil baginya memperoleh rasa aman dan hidayah petunjuk menuju surga. Allah Subhanahu wata'ala berfirman :
{احْشُرُوا الَّذِينَ ظَلَمُوا وَأَزْوَاجَهُمْ وَمَا كَانُوا يَعْبُدُونَ * مِنْ دُونِ اللَّهِ فَاهْدُوهُمْ إِلَى صِرَاطِ الْجَحِيمِ} [الصافات: 22، 23]
(kepada malaikat diperintahkan): Kumpulkanlah orang-orang yang dzolim beserta teman sejawat mereka dan sembahan-sembahan yang selalu mereka sembah, selain Allah; maka tunjukkanlah kepada mereka jalan ke neraka. [Ashoffat (37):22&23]

Ayat ini menerangkan bahwa orang-orang yang dzolim beserta teman sejawat mereka akan digiring menuju neraka Al-Jahim di akhirat nanti. Dipahami dari sini bahwa orang-orang yang beriman (baca: bertauhid) akan diberikan hidayah petunjuk menuju surga An-Na`im.

Setelah mengetahui betapa pentingnya tauhid bagi seorang muslim maka mari kita curahkan perhatian yang sangat besar terhadap perkara ini..!!!

Semoga Allah Ta'ala melindungi kita dari berbagai macam "syirik" dan mengampuni kita dari "syirik tanpa sadar"

-----------------------------------------

Referensi :