Hukum Berbuka bagi Wanita Hamil dan Menyusui

Soal :
Apakah wajib bagi wanita hamil dan menyusui apabila berbuka di bulan Ramadhan untuk mengganti (qodho') ataukah fidyah?

Jawab :
الحمد لله ربِّ العالمين، والصلاة والسلام على من أرسله الله رحمةً للعالمين، وعلى وآله وصحبه وإخوانه إلى يوم الدين، أمَّا بعد:
Tidak ada kewajiban mengganti (qhodo') bagi wanita hamil dan menyusui apabila tidak mampu berpuasa, dengan adanya rasa berat dan kesulitan atau karena khawatir terhadap dirinya sendiri ataukah terhadap anaknya. Sesungguhnya yang disyariatkan baginya hanyalah fidyah dengan memberi makan satu orang miskin sebagai ganti hari-hari yang dia tinggalkan ketika dia berbuka, berdasarkan sabda Nabi Shollallahu 'alaihi wasallam :
«إِنَّ اللهَ تَعَالَى وَضَعَ شَطْرَ الصَّلاَةِ -أَوْ: نِصْفَ الصَّلاَةِ-، وَالصَّوْمَ عَنِ الْمُسَافِرِ وَعَنِ الْمُرْضِعِ أَوِ الْحُبْلَى»
Sesungguhnya Allah Ta'ala menggugurkan sebagian -atau setengah sholat- dan juga puasa bagi musafir serta bagi wanita menyusui atau wanita hamil[1]

Kemudian ditetapkan kewajiban mengganti (qodho') bagi musafir, berdasarkan firman Allah Ta'ala :
{وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ} [البقرة: 185]
dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. [Albaqarah (2):185]

Dan ditetapkan kewajiban memberi makan bagi orang tua renta dan wanita hamil serta ibu menyusui, berdasarkan firman Allah Ta'ala :
{وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ} [البقرة: 184]
Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. [Albaqarah (2):184]

Penetapan hukum bagi wanita hamil dan ibu menyusui untuk berbuka disertai kewajiban "fidyah" tanpa mengganti (qodho') adalah pendapat yang paling kuat. Pendapat ini dipegang oleh Ibnu Abbas dan Ibnu Umar Radhiallohu 'anhuma dan selain mereka berdua. Sesungguhnya telah shohih riwayat dari Ibnu Abbas Radhiallohu 'anhuma bahwasanya beliau berkata :
«إِذَا خَافَتِ الحَامِلُ عَلَى نَفْسِهَا وَالمُرْضِعُ عَلَى وَلَدِهَا فِي رَمَضَانَ قَالَ: يُفْطِرَانِ، وَيُطْعِمَانِ مَكَانَ كُلِّ يَوْمٍ مِسْكِينًا وَلاَ يَقْضِيَانِ»
Apabila wanita hamil khawatir akan dirinya dan ibu menyusui khawatir akan anaknya pada bulan ramadhan, beliau berkata : keduanya berbuka dan memberi makan sebagai ganti setiap hari yang dia tinggalkan kepada satu orang miskin dan tidak mengganti (qodho')[2]

Dan juga diriwayatkan dari beliau :
«أَنَّهُ رَأَى أُمَّ وَلَدٍ لَهُ حَامِلاً أَوْ مُرْضِعًا فَقَالَ: أَنْتِ بِمَنْزِلَة مَنْ لاَ يُطِيقُ، عَلَيْكِ أَنْ تُطْعِمِي مَكَانَ كُلِّ يَوْمٍ مِسْكِينًا، وَلاَ قَضَاءَ عَلَيْكِ»
Bahwasanya beliau melihat ibu dari anaknya (istrinya) sedang hamil atau menyusui, maka beliau berkata : Engkau sama kedudukannya dengan orang yang berat menjalankan -puasa-, kewajibanmu adalah memberi makan orang miskin sebagai ganti setiap hari -ketika berbuka/tidak puasa- dan tidak ada kewajiban mengganti (qodho') bagimu[3]

Addaraquth-niy meriwayatkan dari Ibnu Umar radhiallohu 'anhuma; sesungguhnya istrinya -yang sedang hamil- bertanya kepadanya, beliau menjawab :
«أَفْطِرِي وَأَطْعِمِي عَنْ كُلِّ يَوْمٍ مِسْكِينًا وَلاَ تَقْضِي»
Berbukalah dan berilah makan setiap hari satu orang miskin dan jangan mengganti (qodho')[4]

Sesungguhnya pendapat Ibnu Abbas dan Ibnu Umar radhiallohu 'anhum telah tersebar di kalangan shahabat dan tidak diketahui ada shahabat yang menyelisihi pendapat mereka berdua, oleh karena itu pendapatnya adalah hujjah dan ijma' menurut jumhur mayoritas ulama, dan ini dikenal di kalangan ahli ushul dengan istilah ijma' sukutiy[5]. Dan sesungguhnya tafsir Ibnu Abbas radhiallohu 'anhuma berkaitan dengan sebab turunnya ayat, dan termasuk ketetapan dalam ilmu hadits bahwasanya tafsir shahabat yang memiliki kaitan dengan sebab turunnya ayat memliki hukum rofa'[6] -bersambung sampai ke Nabi Shollallahu 'alaihi wasallam-.

Ketika keadaannya seperti itu, maka pendapat ini lebih kuat dibandingkan dengan pendapat-pendapat lainnya yang hanya berdasar rasio (ro'yu) dan analogi (qiyas).

Catatan :
  1. Ibu menyusui pada waktu nifas harus mengganti (qodho') tidak dengan "fidyah" karena nifas termasuk penghalang untuk berpuasa berbeda dengan ketika suci.
  2. Apabila seorang ibu menyusui anaknya dengan menggunakan botol maka tetap wajib untuk berpuasa, karena dia menyusui hanya sekedar majas saja tidak secara hakiki.
  3. Di website "sumber" ada fatwa yang serupa, yang bisa diambil faidahnya dengan judul : «في ترخيص الفطر على المرضع مع وجوب الفدية».

والعلم عند الله تعالى، وآخر دعوانا أن الحمد لله ربِّ العالمين، وصلَّى الله على محمَّدٍ وعلى آله وصحبه وإخوانه إلى يوم الدين وسلَّم تسليمًا كثيرًا.

Al Jaza'ir 10 Ramadhan 1427 H
bertepatan dengan 30 Oktober 2006 M


Sumber :
في حكم إفطار الحامل والمرضع

  • [1] Diriwayatkan oleh Abu Daud dalam kitab "puasa" bab "pilihan untuk berbuka" 2408, Attirmidzi dalam kitab "puasa" bab "Riwayat-riwayat tentang keringanan untuk berbuka bagi wanita hamil dan menyusui" 715, Annasai dalam kitab "puasa" 2275, Ibnu Majah dalam kitab "puasa" bab "Riwayat-riwayat tentang berbuka bagi wanita hamil dan menyusui" 1667, dari hadits Anas bin Malik Al Ka'biy Al Qusyairiy rodhiallohu 'anhu, dia bukan Anas bin Malik Al Anshoriy. Dishohihkan oleh Al Albaniy dalam "Shohih Abu Daud" 2083.
  • [2] Diriwayatkan oleh Ath Thobariy dalam kitab tafsirnya 2758, Al Albaniy berkata dalam kitab "al Irwa'" 4/19 : Sanadnya shohih sesuai syarat Muslim.
  • [3] Diriwayatkan oleh Abu Daud 2318, Ath Thobariy dalam kitab tafsirnya 2/136, Addaraquth-niy dalam kitab sunannya 2/206, dia berkata : Sanadnya shohih. Al Albaniy berkata : Sanadnya shohih sesuai syarat Muslim. Lihat "Al Irwa'" 4/19
  • [4] Diriwayatkan oleh Addaraquth-niy dalam kitab sunannya 2388. Al Albaniy berkata dalam kitab "al Irwa'" 4/20 : Sanadnya jayyid.
  • [5] Lihat : Al Musawwadah karya Alu Taimiyah 335; I'lam Al Muwaqqi'in Karya Ibnul Qoyyim 4/120.
  • [6] Lihat : Muqaddimah Ibnus Sholah 24; Tadrib Arrowiy karya Assuyutiy 1/157; Taudhi-hul Afkar karya Ash-Shon'aniy; Adh-wa' Al bayan karya Asy-Syinqitiy 1/144.

Kaidah Nahwu 004 || Jenis-Jenis Huruf (أَنْوَاعُ الْحَرْفِ)



اَلْقَائِدَةُ :
اَلْحَرْفُ ثَلاَثَةُ أَنْوَاعٍ :
  1. نَوْعٌ يَدْخُلُ عَلَى الْفِعْلِ فَقَطْ، مِثْلُ : لَمْ وَقَدْ وأَنْ، ولَنْ، وكَيْ.
  2. نَوْعٌ يَدْخُلُ عَلَى الاِسْمِ فَقَطْ، مِثْلُ : عَنْ وَعَلَى وفِي، وَالْبَاء، وَالْكَاف.
  3. نَوْعٌ يَدْخُلُ عَلَى الاِسْمِ وَالْفِعْلِ، مِثْلُ : الْفَاء وَالْوَاو وثُمَّ.
Kaidah :
Huruf ada tiga jenis :
  1. Ada yang masuk pada kata kerja (الْفِعْل) saja, misalnya : لَمْ وَقَدْ وأَنْ، ولَنْ، وكَيْ.
  2. Ada yang masuk pada kata benda (الاِسْم) saja, misalnya : عَنْ وَعَلَى وفِي، وَالْبَاء، وَالْكَاف.
  3. Ada yang masuk pada kata kerja (الْفِعْل) dan kata benda (الاِسْم), misalnya : الْفَاء وَالْوَاو وثُمَّ.

Kosakata Bahasa Arab 0003

Kosakata Bahasa Arab - Adzan - Mu'adzdzin
أَذَانٌ
Adzan
<سَمِعْتُ الأذانَ فَذَهَبْتُ للصَّلاةِ>
<Saya mendengar adzan, maka saya-pun pergi untuk menunaikan sholat>
المُؤَذِّنُ
Muadzdzin (Orang yang adzan)
<يُنَادي المُؤَذِّنُ للصَّلاةِ>
<Muadzdzin itu mengumandangkan adzan untuk sholat>
آذَى/يُؤْذِي
Menyakiti
<لاَيُؤْذِي الْمُسْلِمُ النَّاسَ>
<Seorang Muslim tidak menyakiti orang lain>
<آذَى أبو لَهَبٍ الرَّسولَ صلى الله عليه وسلَّم>
<Abu Lahab menyakiti Rasulullah Shollallahu 'alaihi wasallam>
أُسْرَةٌ
Keluarga
والِد ووَالِدَة وبِنْت : أُسْرَة
Ayah, ibu dan anak : keluarga
آسِفٌ
(yang) Menyesal, penuh sesal (=permintaan maaf)
<أنَا آسِفٌ لِأنِّي ما سَافَرْتُ مَعَكَ...>
<(mohon maaf) Saya sangat menyesal karena tidak safar bersamamu...>
تَأشِيرَةٌ
VISA
<حَصَلَ عَبْدُ العَزيزِ على تَأشيرَةِ دخول إلى تُرْكِيَّا>
<Abdul Aziz memperoleh VISA masuk ke Turki>
أَكَّد/يُؤَكِّدُ(فعل)
Menetapkan, menguatkan, mengokohkan, mengkonfirmasi
<سَعِيدٌ يُؤَكِّدُ الْحَجْزَ للسَّفَرِ>
<Said menetapkan (mengkonfirmasi) pemesanan (reservasi) untuk melakukan safar>
تَأكيدٌ(مصدر)
Penguatan, pengokohan
أَكَلَ/يَأْكُلُ
Makan
<يَأْكُلُ خالِدٌ الطَّعَامَ>
<Kholid memakan makanan itu>

Kaidah Shorof 003 || Kata Kerja Bentuk Lampau dan Kata Ganti Obyek - الفِعْلُ الْمَاضِي مَعَ ضَمَائِرِ الْمَفْعول

الفِعْلُ الْمَاضِي مَعَ ضَمَائِرِ الْمَفْعول
الْجُمْلَةالْفِعْلُ مَعَ ضَميرِ الْفَاعِلِ وَضَميرِ الْمَفْعُول
أَخَذَها صَديقي أَخَذَها
وَضَعْتُها عِنْدَ صَدِيقِي وَضَعْتُها
أَخَذْتُهُما مِنْ سَيَّارَة أَخَذْتُهُما
هَلْ عَرَفْتُمُوهُ جَيِّداً؟ عَرَفْتُمُوهُ
نَعَمْ عَرَفْنَاهُ عَرَفْنَاهُ
وَقَدْ يَكُونُ عَرَفَنا أَيْضاً عَرَفَنا
هَلْ عَرَفْتَهُمْ؟ عَرَفْتَهُمْ
رَأَيْتُكَ مَعَهُم أَيْضاً رَأَيْتُكَ
رَأَيْتَنِي أَنَا! رَأَيْتَنِي

Catatan :
  1. Kata ganti (الضَّمَائِر) yang berwarna merah adalah kata ganti untuk subyek yang bersambung dengan kata kerjanya (الضَّمَائِر الْفَاعِل الْمُتَّصِلَة)
  2. Kata ganti (الضَّمَائِر) yang berwarna biru adalah kata ganti untuk obyek yang bersambung dengan kata kerjanya (الضَّمَائِر الْمَفْعُولِ بِهِ الْمُتَّصِلَة)
  3. Kita tambahkan wawu (و) apabila ضَمير الْفاعِل (kata ganti subyek) : (تُم) bersambung dengan الضَّمَائِر الْمَفْعُولِ بِهِ الْمُتَّصِلَة (kata ganti untuk obyek yang bersambung dengan kata kerjanya) : (عَرَفْتُمُوهُ)
    Apabila ada الْفِعْلُ (kata kerja) : (شَكَرَ) dan ُالفاعِل (subyek)-nya adalah : (مُحمَّد), dan kita ingin obyeknya semuanya dalam bentuk kata ganti yang bersambung dengan kata kerjanya (الضَّمَائِر الْمَفْعُولِ بِهِ الْمُتَّصِلَة), maka hasilnya sebagaimana di table berikut :

الضمائر المفعول بهالْجُمْلَةضَميرِ الْمَفْعُول به
ضَمير الْمُتَكَلِّم شَكَرَنِي مُحَمَّد اَلْياء
شَكَرَنَا مُحَمَّد (نا)
ضَمير الْمُخَاطَب شَكَرَكَ مُحَمَّد اَلْكَاف
شَكَرَكِ مُحَمَّد اَلْكَاف
شَكَرَكُمَا مُحَمَّد (كُمَا)
شَكَرَكُمْ مُحَمَّد (كُمْ)
شَكَرَكُنَّ مُحَمَّد (كُنَّ)
ضَمير الْغَائِب شَكَرَهُ مُحَمَّد اَلْهاء
شَكَرَهَا مُحَمَّد (هَا)
شَكَرَهُمَا مُحَمَّد (هُمَا)
شَكَرَهُمْ مُحَمَّد (هُمْ)
شَكَرَهُنَّ مُحَمَّد (هُنَّ)

Catatan :
  1. Semua kata ganti (الضَّمَائِر) yang bersambung dengan kata kerja (ُالفاعِل) pada table diatas secara keseluruhan adalah kata ganti obyek (الضَّمَائِر الْمَفْعُولِ بِهِ الْمُتَّصِلَة)
  2. Subyek (ُالفاعِل) pada table diatas adalah (مُحمَّد)
  3. Bentuk الْفِعْلُ (kata kerja) : (شَكَرَ) tidak mengalami perubahan
  4. الْفِعْلُ (kata kerja) : (شَكَرَ) bisa memiliki obyek (الْمَفْعُولِ بِهِ) berbeda dengan الْفِعْلُ (kata kerja) : (شَبِعَ) yang tidak memiliki obyek
  5. Kita tambahkan nun (نِ) apabila الْفِعْلُ (kata kerja) bersambung dengan (الياء) yang berfungsi sebagai obyek (الْمَفْعُولِ بِهِ), Contoh : (شَكَرَنِي مُحَمَّد)

Kaidah :
  1. Kata ganti obyek yang bersambung dengan kata kerjanya (الضَّمَائِر الْمَفْعُولِ بِهِ الْمُتَّصِلَة) terbagi menjadi :
    • Kata ganti orang pertama (ضَمائر الْمُتَكَلِّم)
    • Kata ganti orang kedua (ضَمائر الْمُخَاطَب)
    • Kata ganti orang ketiga (ضَمائر الْغَائِب)
  2. الْفِعْلُ (kata kerja) ada dua macam :
    1. Ada yang bisa memiliki obyek (الْمَفْعُولِ بِهِ); contohnya : (شَكَرَ)
    2. Ada yang tidak memiliki obyek (الْمَفْعُولِ بِهِ); contohnya : (شَبِعَ)
  3. Kita tambahkan nun (نِ) apabila الْفِعْلُ (kata kerja) bersambung dengan (الياء) yang berfungsi sebagai obyek (الْمَفْعُولِ بِهِ); Contohnya : (شَكَرَنِي مُحَمَّد)
  4. Kita tambahkan wawu (و) apabila ضَمير الْفاعِل (kata ganti subyek) : (تُم) bersambung dengan الضَّمَائِر الْمَفْعُولِ بِهِ الْمُتَّصِلَة (kata ganti untuk obyek yang bersambung dengan kata kerjanya); Contohnya : (عَرَفْتُمُوهُ; عَرَفْتُمُونِي; عَرَفْتُمُونَا)

Apa yang Menghalangimu Melaksanakan Sholat Berjama'ah?

الحمد لله وحده، والصلاة والسلام على من لا نبي بعده، أما بعد :

Berdasarkan fenomena banyaknya orang yang lalai melaksanakan sholat berjama'ah dan malas menunaikannya, maka kami dengan senang hati ingin mengingatkan diri-diri kami dan juga kepada mereka tentang beberapa keutamaan melaksanakan sholat secara berjama'ah, dan hanya Allah semata yang mampu memberikan taufiq dalam menempuh setiap jalan-jalan kebaikan.

Pahala yang Berlipat Ganda

Nabi Shollallahu 'alaihi wasallam bersabda :
«صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلَاةِ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً»
Sholat berjama'ah itu lebih afdhol dua puluh tujuh derajat dibandingkan dengan sholat sendiri. [Muttafaq 'alaihi]

Mengangkat Derajat dan Menghapus Kesalahan

Nabi Shollallahu 'alaihi wasallam bersabda :
صَلاَةُ الرَّجُلِ فِي الجَمَاعَةِ تُضَعَّفُ عَلَى صَلاَتِهِ فِي بَيْتِهِ، وَفِي سُوقِهِ، خَمْسًا وَعِشْرِينَ ضِعْفًا، وَذَلِكَ أَنَّهُ: إِذَا تَوَضَّأَ، فَأَحْسَنَ الوُضُوءَ، ثُمَّ خَرَجَ إِلَى المَسْجِدِ، لاَ يُخْرِجُهُ إِلَّا الصَّلاَةُ، لَمْ يَخْطُ خَطْوَةً، إِلَّا رُفِعَتْ لَهُ بِهَا دَرَجَةٌ، وَحُطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةٌ، فَإِذَا صَلَّى، لَمْ تَزَلِ المَلاَئِكَةُ تُصَلِّي عَلَيْهِ، مَا دَامَ فِي مُصَلَّاهُ: اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ، اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ، وَلاَ يَزَالُ أَحَدُكُمْ فِي صَلاَةٍ مَا انْتَظَرَ الصَّلاَةَ
Sholatnya seorang laki-laki secara berjama'ah dilipat gandakan dua puluh lima kali lipat dibandingkan dengan sholatnya di rumah atau di pasar -tempat usahanya-, yang demikian itu karena : apabila dia berwudhu dengan memperbaiki whudunya, kemudian keluar menuju ke masjid, tidak ada -alasan- yang menyebabkan dia keluar kecuali sholat, tidaklah dia melangkah satu langkah kecuali diangkat derajatnya dan dihapus kesalahannya. Apabila dia sholat, malaikat senantiasa bersholawat -memintakan ampunan- kepadanya selama berada di tempat sholatnya : Ya Allah berikanlah sholawat -ampunan- kepadanya, Ya Allah rahmatilah dia. Salah seorang diantara kalian terus menerus dalam pelaksanaan sholat selama menunggu pelaksanaan sholat berikutnya. [Muttafaq 'alaihi]

Ampunan Dosa

Nabi Shollallahu 'alaihi wasallam bersabda :
«مَنْ تَوَضَّأَ فَأَسْبَغَ الْوُضُوءَ، ثُمَّ مَشَى إِلَى صَلَاةٍ مَكْتُوبَةٍ فَصَلَّاهَا مَعَ الْإِمَامِ، غُفِرَ لَهُ ذَنْبُهُ»
Barangsiapa yang berwudhu dengan menyempurnakan wudhunya, kemudian berjalan menuju pelaksanaan sholat wajib lalu dia-pun sholat bersama imam, maka diampuni dosanya. [HR. Ibnu Khuzaimah, dishohihkan Al-Albaniy]

Sholat Jama'ah Termasuk Jalan-Jalan Hidayah

Ibnu Mas'ud Rodhiallahu 'anhu berkata :
«مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَلْقَى اللهَ غَدًا مُسْلِمًا، فَلْيُحَافِظْ عَلَى هَؤُلَاءِ الصَّلَوَاتِ حَيْثُ يُنَادَى بِهِنَّ، فَإِنَّ اللهَ شَرَعَ لِنَبِيِّكُمْ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُنَنَ الْهُدَى، وَإِنَّهُنَّ مِنْ سُنَنَ الْهُدَى، وَلَوْ أَنَّكُمْ صَلَّيْتُمْ فِي بُيُوتِكُمْ كَمَا يُصَلِّي هَذَا الْمُتَخَلِّفُ فِي بَيْتِهِ، لَتَرَكْتُمْ سُنَّةَ نَبِيِّكُمْ، وَلَوْ تَرَكْتُمْ سُنَّةَ نَبِيِّكُمْ لَضَلَلْتُمْ، ...
وَلَقَدْ رَأَيْتُنَا وَمَا يَتَخَلَّفُ عَنْهَا إِلَّا مُنَافِقٌ مَعْلُومُ النِّفَاقِ، وَلَقَدْ كَانَ الرَّجُلُ يُؤْتَى بِهِ يُهَادَى بَيْنَ الرَّجُلَيْنِ حَتَّى يُقَامَ فِي الصَّفِّ»
Barangsiapa yang -ingin- perjumpaannya dengan Allah besok dalam keadaan muslim membuatnya gembira maka hendaknya memelihara sholat-sholat itu dimanapun diserukan untuk melaksanakannya, karena sesungguhnya Allah subhanahu wata'ala telah men-syari'atkan kepada Nabi kalian Shollallahu 'alaihi wasallam sunnah -jalan- hidayah, sementara sholat itu termasuk sunnah -jalan- hidayah. Sekiranya kalian sholat di rumah-rumah kalian sebagaimana sholatnya seorang yang ketinggalan di rumahnya, sungguh kalian telah meninggalkan sunnah Nabi kalian, dan sekiranya kalian meninggalkan sunnah Nabi kalain, sungguh kalian telah sesat...
Sesungguhnya saya melihat diri-diri kami dan tidak ada seorangpun yang ketinggalan dari sunnah ini kecuali orang munafik yang jelas kemunafikannya, dan sesungguhnya ada seorang lelaki yang dibawa dipapa oleh dua orang sampai diberi tempat di dalam barisan -shof-.
[HR. Muslim]

Barangsiapa yang Menjaga Sholat Berjama'ah, Maka Dia Hidup dengan Baik dan Mati dengan Baik

Dari Ibnu Abbas : Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
" أَتَانِي رَبِّي عَزَّ وَجَلَّ اللَّيْلَةَ فِي أَحْسَنِ صُورَةٍ - أَحْسِبُهُ يَعْنِي فِي النَّوْمِ - فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ هَلْ تَدْرِي فِيمَ يَخْتَصِمُ الْمَلَأُ الْأَعْلَى؟ قَالَ: قُلْتُ: لَا " قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " فَوَضَعَ يَدَهُ بَيْنَ كَتِفَيَّ، حَتَّى وَجَدْتُ بَرْدَهَا بَيْنَ ثَدْيَيَّ - أَوْ قَالَ: نَحْرِي - فَعَلِمْتُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ، ثُمَّ قَالَ: يَا مُحَمَّدُ، هَلْ تَدْرِي فِيمَ يَخْتَصِمُ الْمَلَأُ الْأَعْلَى؟ قَالَ: قُلْتُ: نَعَمْ، يَخْتَصِمُونَ فِي الْكَفَّارَاتِ وَالدَّرَجَاتِ، قَالَ: وَمَا الْكَفَّارَاتُ وَالدَّرَجَاتُ؟ قَالَ: الْمُكْثُ فِي الْمَسَاجِدِ بَعْدَ الصَّلَوَاتِ، وَالْمَشْيُ عَلَى الْأَقْدَامِ إِلَى الْجَمَاعَاتِ، وَإِبْلَاغُ الْوُضُوءِ فِي الْمَكَارِهِ، وَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ عَاشَ بِخَيْرٍ، وَمَاتَ بِخَيْرٍ، وَكَانَ مِنْ خَطِيئَتِهِ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ، وَقُلْ يَا مُحَمَّدُ إِذَا صَلَّيْتَ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْخَيْرَاتِ، وَتَرْكَ الْمُنْكَرَاتِ، وَحُبَّ الْمَسَاكِينِ، وَإِذَا أَرَدْتَ بِعِبَادِكَ فِتْنَةً، أَنْ تَقْبِضَنِي إِلَيْكَ غَيْرَ مَفْتُونٍ، قَالَ: وَالدَّرَجَاتُ: بَذْلُ الطَّعَامِ، وَإِفْشَاءُ السَّلَامِ، وَالصَّلَاةُ بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ "
“Rabbku ‘azza wa jalla datang kepadaku malam tadi dalam sebaik-baik bentuk” – aku mengira maksudnya adalah dalam tidur (kata perawi) -. Lalu Dia berfirman : ‘Wahai Muhammad, apakah kamu tahu mengenai apa Al-Mala’ul A’laa (para malaikat) bertengkar?. Aku berkata : ‘Tidak’. Lalu Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Lalu Dia meletakkan tangan-Nya di antara dua pundakku hingga aku dapati dinginnya antara dua dadaku”. Atau beliau bersabda : “Antara tenggorokanku”. Maka tahulah aku apa yang ada di langit dan di bumi. Kemudian Allah berfirman : ‘Wahai Muhammad, apakah kamu tahu mengenai apa Al-Mala’ul-A’laa (para malaikat) bertengkar?’. Aku berkata : ‘Ya , mereka bertengkar mengenai al-kaffaaraat dan ad-darajaat’. Allah bertanya : ‘Apa itu al-kaffaaraat dan ad-darajaat ?”. Nabi menjawab : “Diam di masjid, berjalan kaki untuk berjama’ah, dan menyempurnakan wudlu dalam kondisi tidak menyenangkan. Barangsiapa melakukan hal itu maka ia hidup dengan baik dan mati dengan baik. Dia bersih dari dosa seperti baru dilahirkan ibunya”. Allah berfirman : “Dan katakanlah wahai Muhammad apabila kamu selesai shalat : ‘Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kebaikan-kebaikan, meninggalkan hal yang mungkar, dan cinta kepada orang-orang miskin. Dan bila Engkau menginginkan fitnah bagi para hambamu maka cabutlah nyawaku kepada-Mu dengan tanpa fitnah’. Beliau bersabda : “Dan ad-darajaat adalah dengan memberikan makanan, menyebarkan salam dan shalat malam saat manusia tidur”. [HR. Ahmad, Attirmidzi dan Dishohihkan Al-Albaniy]

Orang Buta Sekalipun Tetap Sholat Berjama'ah

Ada seorang lelaki buta datang kepada Nabi Shollallahu 'alaihi wasallam, dia berkata : Wahai Rasulullah, Saya tidak memiliki pemandu yang bisa memanduku ke masjid. Maka Rasulullah Shollallahu 'alaihi wasallam memberikan keringanan kepadanya untuk sholat di rumahnya. Ketika orang tersebut beranjak pergi, Nabi Shollallahu 'alaihi wasallam memanggilnya dan berkata kepadanya :
« هَلْ تَسْمَعُ النِّدَاءَ بِالصَّلاَةِ »
Apakah engkau mendengar panggilan -adzan- pelaksanaan sholat?
Dia menjawab :"iya". Nabi shollallahu 'alaihi wasallam bersabda :
« فَأَجِبْ »
Maka jawablah -panggilan adzan tersebut-! [HR. Muslim]

Ancaman bagi yang Meninggalkan Sholat Berjama'ah

Nabi Shollallahu 'alaihi wasallam bersabda :
« إِنَّ أَثْقَلَ صَلاَةٍ عَلَى الْمُنَافِقِينَ صَلاَةُ الْعِشَاءِ وَصَلاَةُ الْفَجْرِ وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا وَلَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ بِالصَّلاَةِ فَتُقَامَ ثُمَّ آمُرَ رَجُلاً فَيُصَلِّىَ بِالنَّاسِ ثُمَّ أَنْطَلِقَ مَعِى بِرِجَالٍ مَعَهُمْ حُزَمٌ مِنْ حَطَبٍ إِلَى قَوْمٍ لاَ يَشْهَدُونَ الصَّلاَةَ فَأُحَرِّقَ عَلَيْهِمْ بُيُوتَهُمْ بِالنَّارِ »
Sesungguhnya sholat yang paling berat bagi orang-orang munafik adalah sholat isya dan subuh, sekiranya mereka mengetahui apa yang ada pada keduanya sungguh mereka akan mendatanginya meskipun dengan merangkak. Sesungguhnya saya ingin memerintahkan agar sholat ditegakkan dan saya perintahkan seseorang untuk sholat mengimami manusia, kemudian saya pergi ditemani beberapa orang yang membawa kayu bakar menuju kaum yang tidak menghadiri sholat -jama'ah- lalu saya bakar api rumah-rumah mereka. [Muttafaq 'alaihi]

Keutamaan Sholat Isya dan Subuh Berjama'ah

Nabi Shollallahu 'alaihi wasallam bersabda :
« مَنْ صَلَّى الْعِشَاءَ فِى جَمَاعَةٍ فَكَأَنَّمَا قَامَ نِصْفَ اللَّيْلِ وَمَنْ صَلَّى الصُّبْحَ فِى جَمَاعَةٍ فَكَأَنَّمَا صَلَّى اللَّيْلَ كُلَّهُ »
Barangsiapa sholat isya secara berjama'ah maka dia seakan-akan menegakkan -sholat- seperdua malam dan barangsiapa sholat subuh secara berjama'ah maka dia seakan-akan sholat semalam suntuk [HR. Muslim]

Selamat dari Ancaman Neraka dan Kemunafikan

Nabi Shollallahu 'alaihi wasallam bersabda :
« مَنْ صَلَّى لِلَّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا فِى جَمَاعَةٍ يُدْرِكُ التَّكْبِيرَةَ الأُولَى كُتِبَتْ لَهُ بَرَاءَتَانِ بَرَاءَةٌ مِنَ النَّارِ وَبَرَاءَةٌ مِنَ النِّفَاقِ »
Barangsiapa sholat dengan ikhlas karena Allah selama empat puluh hari secara berjama'ah, mendapati takbir -ihram- yang pertama, maka dicatat baginya dua keselamatan; selamat dari ancaman neraka dan selamat dari kemunafikan [HR. Attirmidziy dan dihasankan Al-Albaniy]




Sumber : مطوية ( فضائل صلاة الجماعة والترهيب من التهاون فيها ) - دار الوطن للنشر - نقله أخوكم / أبو الوليد

Karena Belas Kasih Pinjaman-pun Diberi, Lantas Mana Rasa Kasihanmu Wahai Peminjam?

Majalah Islam AsySyariahUlama menyebut akad peminjaman itu sebagai akad irfaq, yang berarti pemberian manfaat atau belas kasih. Oleh karenanya, memberikan pinjaman itu dianjurkan dalam Islam. Dari Ibnu Mas’ud radhiallohu 'anhu, bahwasanya Nabi Shollallahu 'alaihi wasallam bersabda:
مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُقْرِضُ مُسْلِمًا قَرْضًا مَرَّتَيْنِ إِلاَّ كَانَ كَصَدَقَتِهَا مَرَّةً
“Tidaklah seorang muslim memberikan pinjaman kepada muslim yang lain dua kali kecuali seperti shadaqah satu kali.” (Shahih Lighairihi, HR. Ibnu Majah, Ibnu Hibban, dan Al-Baihaqi. Lihat Shahih At-Targhib no. 901)

Dari Ibnu Mas’ud radhiallohu 'anhu bahwasanya Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam bersabda:
كُلُّ قَرْضٍ صَدَقَةٌ
“Setiap pinjaman adalah shadaqah.” (Hasan Lighairihi, HR. Ath-Thabarani dan Al-Baihaqi. Lihat Shahih At-Targhib no. 899)

Jadi pemberian pinjaman itu merupakan perbuatan yang baik, membantu memberikan jalan keluar bagi seorang muslim yang mengalami kesempitan dan juga memenuhi kebutuhannya.

Syarat sahnya pinjam meminjam:
  1. Seorang yang meminjami adalah orang yang sah bila memberi, sehingga tidak boleh seorang wali yatim meminjamkan dari harta yatim.
  2. Mengetahui jumlah harta yang dipinjamkan atau sifat barang yang dipinjamkan.

Beberapa Adab Pinjam-Meminjam

Diharamkan bagi orang yang meminjamkan untuk mensyaratkan adanya tambahan dalam pengembalian atau mensyaratkan imbalan manfaat tertentu. Ulama bersepakat, bila ia mensyaratkan lalu mengambilnya maka itu termasuk riba, walaupun diistilahkan dengan sebutan lain seperti bunga, jasa, atau yang lain.

Hal itu karena Islam mensyariatkan peminjaman adalah sebagai amal kebaikan atau ibadah yang dia mesti harapkan balasannya di sisi Allah subhanahu wata'ala. Telah kita sebutkan tadi bahwa landasan peminjaman adalah akad irfaq, sehingga akad ini bukanlah lahan untuk mencari keuntungan duniawi, tapi ukhrawi. Adapun lahan untuk keuntungan duniawi maka telah dibuka oleh Islam berupa jual beli atau yang lain.

Dalam sebuah riwayat:

“Semua pinjaman yang menyeret kepada (imbalan) manfaat maka itu riba.”

Riwayat ini lemah, namun telah menjadi kaidah dalam akad pinjam meminjam atau utang piutang. Sehingga tidak boleh bagi seorang yang meminjamkan untuk menerima hadiah atau manfaat lainnya yang berasal dari peminjam, bila ini disebabkan oleh transaksi pinjam-meminjam tersebut. Setiap muslim wajib memerhatikan hal itu dan berhati-hati darinya serta mengikhlaskan niat dalam peminjamannya. Karena peminjaman bukan dimaksudkan untuk pengembangan harta, tapi untuk pengembangan pahala dengan mendekatkan kepada Allah subhanahu wata'ala dengan amalan ini. Yakni memberikan kebutuhan kepada orang yang membutuhkan, serta mengambil kembali pokoknya. Jika demikian tujuannya, niscaya Allah subhanahu wata'ala akan menurunkan barakah pada hartanya.

Perlu diperhatikan lagi bahwa keharaman mengambil imbalan manfaat dari peminjaman itu adalah bila hal itu dipersyaratkan dalam peminjaman dengan ucapan atau bahkan perjanjian yang jelas. Semacam mengatakan: ‘Saya pinjami kamu, tapi kembalinya dilebihkan sekian persen.’ Atau: ‘Dengan syarat rumahmu saya pakai atau sawahmu saya garap.’

Atau mungkin juga tanpa terucap, tapi memang ada maksud untuk itu dan keinginan ke arah itu. Atau bahkan ada isyarat, maka ini sama hukumnya: tidak boleh.

Demikian pula menurut Ibnu Taimiyah rahimahullah, hadiah yang diberikan oleh peminjam selama masa peminjaman, juga dilarang bagi orang yang meminjami untuk menerimanya. Beliau menyebutkan hadits dan nasihat sahabat Abdullah bin Salam radhiallohu 'anhu kepada Abu Burdah bin Abu Musa dalam riwayat Al-Bukhari rahimahullah: “Engkau berada pada daerah yang riba menyebar luas padanya. Maka bila engkau punya hak atas seseorang lalu ia menghadiahkan kepadamu berupa jasa membawakan jerami, gandum atau rumput basah (untuk makanan hewan), jangan sekali-kali kamu menerimanya karena itu termasuk riba.”

Ibnu Taimiyah rahimahullan mengatakan: “Nabi shollallahu 'alahi wasallam, demikian pula para sahabatnya, melarang orang yang meminjami untuk menerima hadiah dari peminjam sebelum pelunasan. Karena tujuan dari pemberian hadiah itu adalah agar mengundurkan penagihan, walaupun itu tidak disyaratkan atau diucapkan. Sehingga kedudukannya seperti mengambil 1.000 dengan hadiah langsung, dan nanti 1.000 lagi belakangan. Ini adalah riba. Oleh karenanya, boleh memberikan tambahan ketika melunasi dan memberikan hadiah setelahnya, karena makna riba telah hilang.” (dinukil dari At-Ta’liqat Ar-Radhiyyah, 2/432)

Adapun bila tambahan itu diberikan oleh peminjam karena dorongan dirinya sendiri, tanpa persyaratan atau isyarat atau maksud ke arah itu, maka dibolehkan untuk diambil, karena ini termasuk pelunasan yang baik. Karena Nabi shollalahu 'alahi wasallam pernah meminjam hewan lalu mengembalikan dengan yang lebih baik, seraya mengatakan: “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik dalam melunasi.” Sehingga hal itu terhitung pemberian shadaqah dari peminjam.

Dari Abu Hurairah radhiallohu 'anhu, ia berkata:
كَانَ لِرَجُلٍ عَلىَ النَّبِيِّ سِنٌّ مِنَ الْإِبِلِ فَجَاءَهُ يَتَقَاضَاهُ فَقَالَ : أَعْطُوهُ .فَطَلَبُوا سِنَّهُ فَلَمْ يَجِدُوا لَهُ إِلاَّ سِنًّا فَوْقَهَا، فَقَالَ: أَعْطُوهُ. فَقَالَ: أَوْفَيْتَنِي أَوْفَى اللهُ بِكَ. قَالَ النَّبِيُّ : إِنَّ خِيَارَكُمْ أَحْسَنُكُمْ قَضَاءً
“Dahulu Nabi punya tanggungan utang seekor unta dengan umur tertentu untuk seseorang, maka orang itupun datang dan minta dilunasi. Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam bersabda: ‘Berikan kepada dia.’ Maka para sahabat mencari yang seumur, namun mereka tidak mendapati kecuali yang lebih tua. Maka beliau mengatakan: ‘Berikan itu kepadanya.’ Orang itupun mengatakan: ‘Engkau telah penuhi aku, semoga Allah memenuhimu.’ Maka Nabi shollallahu 'alaihi wasallam bersabda: ‘Sesungguhnya sebaik-baik kalian adalah yang paling baik dalam melunasi’.” (Shahih, HR. Al-Bukhari)

Jabir bin Abdillah rodhiallohu 'anhu mengatakan: “Aku datang kepada Nabi shollallahu 'alaihi wasallam dan ketika itu beliau punya utang kepada saya, lalu beliau melunasi aku serta menambahinya.” (Shahih, HR. Al-Bukhari)

Demikian pula hukumnya bila tambahan tersebut adalah sesuatu yang sebelumnya sudah berlangsung antara keduanya, bukan karena pinjaman.

Wajib atas peminjam agar punya perhatian dalam melunasi utangnya, tanpa menunda-nunda bila sudah punya kemampuan. Karena Allah subhanahu wata'ala berfirman:

“Tidakkah balasan kebaikan itu kecuali kebaikan juga.” (Ar-Rahman: 60)

Sebagian orang bermudah-mudah dalam urusan hak-hak orang, khususnya dalam perkara utang. Ini adalah akhlak tercela yang menyebabkan kebanyakan orang enggan untuk memberikan pinjaman serta memberikan kelonggaran kepada mereka yang butuh.

Sebaliknya, di antara mereka (pihak yang membutuhkan pinjaman) pergi ke bank-bank dan melakukan transaksi haram, riba, karena ia tidak mendapatkan orang yang meminjami dengan pinjaman yang baik. Sementara orang yang meminjami pun tidak mendapatkan orang yang dapat mengembalikan pinjaman dengan cara yang baik. Akhirnya lenyaplah kebaikan dari tengah-tengah manusia.

Memberi Tangguh

Ketika sampai tempo yang ditentukan dan peminjam belum bisa melunasi, dianjurkan untuk memberikan tangguh. Sehingga ia mendapatkan rezeki untuk membayarnya. Allah subhanahu wata'ala berfirman:

“Dan jika (orang berutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (Al-Baqarah: 280)

Akan lebih bagus lagi bila ia menggugurkan/memutihkan/menganggap lunas utangnya. Dari Abu Hurairah rodhiallahu 'anhu bahwa Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam bersabda:
كَانَ رَجُلٌ يُدَايِنُ النَّاسَ فَكَانَ يَقُولُ لِفَتَاهُ: إِذَا أَتَيْتَ مُعْسِرًا فَتَجَاوَزْ عَنْهُ، لَعَلَّ اللهَ يَتَجَاوَزُ عَنَّا؛ فَلَقِيَ اللهَ فَتَجَاوَزَ عَنْهُ
“Dahulu ada seseorang yang suka memberi utang kepada manusia, maka dia mengatakan kepada pegawainya: ‘Bila kamu datangi orang yang kesulitan membayar maka mudahkanlah, mudah-mudahan Allah mengampuni kita.’ Maka ia berjumpa dengan Allah subhanahu wata'ala sehingga Allah subhanahu wata'ala mengampuninya.” (Shahih, HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Dari Abdullah bin Abu Qatadah, dia berkata:
أَنَّ أَبَا قَتَادَةَ طَلَبَ غَرِيمًا لَهُ فَتَوَارَى عَنْهُ ثُمَّ وَجَدَهُ فَقَالَ: إِنِّي مُعْسِرٌ. فَقَالَ: آللهِ؟ قَالَ: آللهِ. قَال: فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ يَقُولُ: مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُنْجِيَهُ اللهُ مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ فَلْيُنَفِّسْ عَنْ مُعْسِرٍ أَوْ يَضَعْ عَنْهُ
Abu Qatadah radhiallohu 'anhu mencari orang yang berutang kepadanya. Orang itu bersembunyi darinya. Ketika ia ditemukan, ia mengatakan: “Sesungguhnya aku kesusahan.” Abu Qatadah radhiallohu anhu berkata: “Demi Allah?” “Demi Allah,” jawabnya. Abu Qatadah menyambut: “Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah bersabda: ‘Barangsiapa yang suka untuk Allah selamatkan dari kesusahan di hari kiamat maka hendaknya ia memberikan jalan keluar bagi orang yang kesusahan atau menggugurkannya’.” (Shahih, HR. Muslim no. 3976)
مَنْ أَنْظَرَ مُعْسِرًا أَوْ وَضَعَ عَنْهُ أَظَلَّهُ اللهُ فِى ظِلِّهِ
“Barangsiapa yang memberikan tangguh kepada orang yang kesusahan atau menggugurkan utangnya niscaya Allah subhanahu wata'ala akan naungi dia dalam naungan-Nya.” (Shahih, HR. Muslim dan Al-Baihaqi)

Haram Berniat untuk Tidak Membayar Utang

Dari Maimun Al-Kurdi dari ayahnya, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam bersabda:
أَيُّمَا رَجُلٍ تَزَوَّجَ امْرَأَةً عَلَى مَا قَلَّ مِنَ الْمَهْرِ أَوْ كَثُرَ لَيْسَ فِي نَفْسِهِ أَنْ يُؤَدِّيَ إِلَيْهَا حَقَّهَا خَدَعَهَا فَمَاتَ وَلَمْ يُؤَدِّ إِلَيْهَا حَقَّهَا لَقِيَ اللهَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَهُوَ زَانٍ، وَأَيُّمَا رَجُلٍ اسْتَدَانَ دَيْنًا لاَ يُرِيدُ أَنْ يُؤَدِّيَ إِلَى صَاحِبِهِ حَقَّهُ خَدَعَهُ حَتَّى أَخَذَ مَالَهُ فَمَاتَ وَلَمْ يُؤَدِّ دَيْنَهُ لَقِيَ اللهَ وَهُوَ سَارِقٌ
“Siapapun laki-laki yang menikahi seorang wanita dengan mahar sedikit atau banyak tanpa niatan dalam dirinya untuk memberikan haknya, dia tipu istrinya lalu dia (laki-laki itu) mati sementara belum memberikan haknya maka akan bertemu Allah di hari kiamat dalam status sebagai pezina. Dan siapapun laki-laki yang berutang dan tidak ada niatan untuk melunasi hak orang yang mengutanginya, ia tipu dia sehingga dia ambil harta orang yang meminjaminya sampai dia mati dan belum membayar utangnya maka nanti akan bertemu Allah dalam status sebagai pencuri.” (Shahih, HR. At-Thabarani, Shahih At-Targhib no. 1807)

Dari Ibnu Umar rodhiallahu 'anhu ia berkata Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam bersabda:

“Barangsiapa yang mati sementara ia menanggung utang satu dinar atau satu dirham maka akan dibayar dengan pahala amal baiknya, karena di sana tidak ada dinar dan dirham.” (Hasan Shahih, HR. Ibnu Majah dengan sanad yang hasan, juga At-Thabarani dalam Mu’jam Al-Kabir dengan lafadz: Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam bersabda: “Utang itu ada dua macam, maka barangsiapa yang mati dan dia berniat untuk melunasinya maka aku menjadi walinya, dan barangsiapa yang mati sementara dia tidak berniat melunasinya, maka orang itulah yang diambil pahala amal baiknya, di hari itu tidak ada dinar dan dirham.” (Shahih Lighairihi, Shahih At-Targhib no. 1803)

Dari Abu Hurairah rodhiallahu 'anhu ia berkata Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam bersabda:
مَنْ أَخَذَ أَمْوَالَ النَّاسِ يُرِيدُ أَدَاءَهَا أَدَّى اللهُ عَنْهُ، وَمَنْ أَخَذَ أَمْوَالَ النَّاسِ يُرِيدُ إِتْلاَفَهَا أَتْلَفَهُ اللهُ
“Barangsiapa mengambil harta manusia dan ia ingin melunasinya, niscaya Allah akan melunasinya. Dan barangsiapa mengambil harta manusia dengan niat menghancurkannya, niscaya Allah menghancurkan dia.” (Shahih, HR. Al-Bukhari)

Tidak Boleh Bagi yang Mampu Untuk Menunda Pembayaran

Dari Abu Hurairah rodhiallohu 'anhu, Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam bersabda:
مَطْلُ الْغَنِيِّ ظُلْمٌ
“Penundaan orang yang mampu itu adalah perbuatan zalim.” (Shahih, HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Dalam hadits lain:
لَيُّ الْوَاجِدِ يُحِلُّ عِرْضَهُ وَعُقُوبَتَهُ
“Penundaan orang yang mampu akan menghalalkan kehormatan dan hukumannya.” (HR. Abu Dawud, Nasa’i, dalam Sunan Al-Kubra, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban)

Menghalalkan kehormatannya yakni membolehkan bagi orang yang mengutangi untuk berkata keras padanya, sedangkan menghalalkan hukumannya yakni membolehkan hakim untuk memenjarakannya.

Jangan Menganggap Sepele Urusan Utang!

Dari ‘Uqbah bin ‘Amir rodhiallahu 'anhu, ia mendengar Nabi shollallahu 'alaihi wasallam bersabda:
لَا تُخِيفُوا أَنْفُسَكُمْ بَعْدَ أَمْنِهَا. قَالُوا: وَمَا ذَاكَ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: الدَّيْنُ
“Jangan kalian buat takut diri kalian setelah rasa amannya.” Mereka mengatakan: “Apa itu, ya Rasulullah?” “Utang,” jawab beliau. (HR. Ahmad, Abu Ya’la, Al-Hakim, dan Al-Baihaqi, dan Al-Hakim. Beliau mengatakan: Sanadnya shahih. Lihat Shahih Targhib, 2/165 no. 1797)

Dari Tsauban rodhiallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam bersabda:
مَنْ فَارَقَ رُوْحُهُ جَسَدَهُ وَهُوَ بَرِيءٌ مِنْ ثَلاَثٍ دَخَلَ الْجَنَّةَ؛ الْغُلُولُ، وَالدَّيْنُ، وَالْكِبْرُ
“Barangsiapa yang rohnya berpisah dengan jasadnya dan dia terbebas dari tiga perkara maka dia akan masuk ke dalam Al-Jannah; (tiga perkara itu adalah) mengambil harta rampasan perang sebelum dibagi, utang, dan kesombongan.” (Shahih, HR. At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim dan ini lafadz beliau. Lihat Shahih At-Targhib, 2/166 no. 1798)

Dari Abdullah bin Amr rodhiallahu 'anhu, dari Nabi shollallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda:
مَنْ حَالَتْ شَفَاعَتُهُ دُوْنَ حَدٍّ مِنْ حُدُودِ اللهِ فَقَدْ ضَادَّ اللهَ فِي أَمْرِهِ، وَمَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ دَيْنٌ فَلَيْسَ ثَمَّ دِيْنَارٌ وَلاَ دِرْهَمٌ وَلَكِنَّهَا الْحَسَنَاتُ وَالسَّيِّئَاتُ
“Barangsiapa yang pembelaannya menghalangi salah satu dari hukum had Allah maka dia telah melawan perintah Allah. Dan barangsiapa yang mati dan menanggung utang, maka di sana tidak ada dinar dan tidak ada dirham. Yang ada adalah amal kebaikan dan amal keburukan.” (Shahih, HR. Al-Hakim dan dishahihkannya; Abu Dawud, dan At-Thabarani. Lihat Shahih At-Targhib, 2/168 no. 1809)

Dari Abu Hurairah rodhiallohu 'anhu, dari Nabi shollallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda:
نَفْسُ الْمُؤْمِنِ مُعَلَّقَةٌ بِدَيْنِهِ حَتَّى يُقْضَى عَنْهُ
“Jiwa seorang mukmin tergantung dengan utangnya sampai dilunasi.” (Shahih, HR. Ahmad, At-Tirmidzi, dan beliau mengatakan hasan; Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban. Lihat Shahih At-Targhib no. 1811)

Dari Samurah, ia berkata: Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam berkhutbah kepada kami lalu mengatakan:
هَا هُنَا أَحَدٌ مِنْ بَنِى فُلاَنٍ؟ فَلَمْ يُجِبْهُ أَحَدٌ، ثُمَّ قَالَ: هَا هُنَا أَحَدٌ مِنْ بَنِى فُلاَنٍ؟ فَلَمْ يُجِبْهُ أَحَدٌ، ثُمَّ قَالَ: هَا هُنَا أَحَدٌ مِنْ بَنِى فُلاَنٍ؟ فَقَامَ رَجُلٌ فَقَالَ: أَنَا يَا رَسُولَ اللهِ. فَقَالَ : مَا مَنَعَكَ أَنْ تُجِيبَنِى فِى الْمَرَّتَيْنِ الأُولَيَيْنِ، أَمَا إِنِّي لَمْ أُنَوِّهْ بِكُمْ إِلاَّ خَيْرًا، إِنَّ صَاحِبَكُمْ مَأْسُورٌ بِدَيْنِهِ. فَلَقَدْ رَأَيْتُهُ أَدَّى عَنْهُ حَتَّى مَا بَقِىَ أَحَدٌ يَطْلُبُهُ بِشَىْءٍ
“Apakah di sini ada seseorang dari bani fulan?” Tidak seorangpun menjawabnya. Lalu (beliau) berkata lagi: “Apakah di sini ada seseorang dari bani fulan?” Tidak seorangpun menjawabnya. Lalu beliau berkata lagi: “Apakah di sini ada seseorang dari bani fulan?” Maka seseorang berdiri dan mengatakan: “Saya, wahai Rasulullah.” Maka beliau mengatakan: “Apa yang menghalangimu untuk menjawab pada (panggilan) pertama dan kedua kalinya? Saya tidak menyebut kalian kecuali yang baik. Sesungguhnya teman kalian tertahan (yakni untuk masuk ke surga) dengan sebab utangnya.” Samurah mengatakan: “Sungguh aku melihat orang tadi melunasinya, sehingga tidak seorangpun menuntutnya lagi dengan sesuatupun.” (Shahih, HR. Abu Dawud, An-Nasa’i, dan Al-Hakim, dalam riwayatnya: “Kalau kalian ingin maka tebuslah, dan kalau kalian ingin maka serahkanlah dia kepada siksa Allah.” (Shahih At-Targhib no. 1810)

Dari Muhammad bin Abdillah bin Jahsy rodhiallohu 'anhu, ia berkata:
كَانَ رَسُولُ اللهِ قَاعِدًا حَيْثُ تُوضَعُ الْجَنَائِزُ فَرَفَعَ رَأْسَهُ قِبَلَ السَّماَءِ ثُمَّ خَفَّضَ بَصَرَهُ فَوَضَعَ يَدَهُ عَلَى جَبْهَتِهُ فَقَالَ: سُبْحَانَ اللهِ، سُبْحَانَ اللهِ، مَا أُنْزِلَ مِنَ التَّشْدِيدِ؟ قَالَ: فَعَرَفْنَا وَسَكَتْنَا حَتَّى إِذَا كَانَ الْغَدُ، سَأَلْتُ رَسُولَ اللهِ فَقُلْنَا: مَا التَّشْدِيدُ الَّذِي نَزَلَ؟ قَالَ: فِي الدَّيْنِ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَوْ قُتِلَ رَجُلٌ فِي سَبِيلِ اللهِ ثُمَّ عَاشَ ثُمَّ قُتِلَ ثُمَّ عَاشَ ثُمَّ قُتِلَ وَعَلَيْهِ دَيْنٌ مَا دَخَلَ الْجَنَّةَ حَتَّى يُقْضَى دَيْنُهُ
Waktu itu Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam duduk di tempat jenazah-jenazah itu diletakkan. Beliau lalu mengangkat kepalanya ke arah langit lalu menundukkan pandangannya dan segera meletakkan tangannya di dahinya lalu berkata: “Subhanallah, subhanallah, apa yang diturunkan dari tasydid (urusan yang diperberat)?” Maka kami tahu dan kami diam, sehingga bila esok harinya aku bertanya kepada Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam maka kami katakan: “Tasydid apa yang turun?” Beliau menjawab: “Dalam urusan utang. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya seseorang terbunuh di jalan Allah, lalu hidup kembali, lalu terbunuh lagi, lalu hidup lagi lalu terbunuh lagi sementara dia punya utang maka dia tidak akan masuk surga sehingga dilunasi utangnya.” (Hasan, An-Nasa’i, At-Thabarani, dan Al-Hakim dan ini lafadznya dan beliau katakan: Sanadnya shahih, Shahih At-Targhib no. 1804)

Wallahu a’lam bish-shawab.



Sumber : Adab Utang Piutang ditulis oleh: Al-Ustadz Qomar Suaidi

Kaidah Nahwu 003 || Bentuk-Bentuk Kata Kerja (اَلْفِعْلُ وَأَنْوَاعُهُ)




Kaidah :
Kata kerja (اَلْفِعْلُ) ada tiga bentuk :
  1. Kata kerja bentuk lampau (اَلْفِعْلُ الْمَاضِي) : Kata kerja yang menunjukkan suatu perbuatan yang dilakukan pada waktu lampau, contohnya : وَصَلَ dan اِلْتَحَقَ
  2. Kata kerja bentuk sedang atau yang akan datang (اَلْفِعْلُ الْمُضَارِع) : Kata kerja yang menunjukkan suatu perbuatan yang dilakukan pada waktu sekarang atau yang akan datang, contohnya : أُرْسِلُ dan أَدْرُسُ
    Kata kerja bentuk sedang atau yang akan datang (اَلْفِعْلُ الْمُضَارِع) diawali dengan hamzah (أ), nun (ن), ya' (ي), atau dengan ta' (ت), contohnya : أَدْرُسُ، نَدْرُسُ، يَدْرُسُ، تَدْرُسُ
  3. Kata kerja bentuk perintah (فِعْلُ الأمْرِ) : Kata kerja yang menunjukkan suatu perbuatan yang dituntut oleh pembicara agar dilakukan oleh yang diajak berbicara, contohnya : بَلِّغ

Kosakata Bahasa Arab 0002

تَأَخُّرٌ(مصدر)
Terlambat
<لَمْ أَحْضُرْ مُبَكِّرًا لِتَأَخُّرِ السَّائِقِ>
<Saya tidak hadir dengan cepat karena keterlambatan sopir>
مُتَأَخِّرٌ
Terlambat
≠ مُبَكِّرٌ
≠ Cepat
<وَصَلَ عَامِرٌ الْمَوْقِفَ مُتَأَخِّراً>
<Amir terlambat tiba di halte>
أَخِيْراً
Pada Akhirnya
≠ أَوَّلاً
≠ Pertama
<أَخِيْراً وَصَلَ أَحْمَدُ إِلى الْمَطَارِ>
<Akhirnya Ahmad tiba di bandara>
أدَاءٌ(مصدر)
Penunaian
أدَّى/يُأَدِّي(فعل)
Menunaikan
<يُأَدِّي الْمُسْلِمُ الصَّلاَةَ>
<Seorang Muslim menunaikan sholat>
إِذَا
Apabila
<إِذَا ذَهَبْتَ إِلى الطَّبِيْبِ فَحَصَكَ>
<Apabila kamu pergi ke dokter, maka dia akan memeriksamu>
إِذَنْ
Jika demikian
عَبْدُ الله : أَنا مسافِرٌ الآنَ
<خالد : إذَنْ خُذْ حَقِيْبَتَكَ>
Abdullah : Saya -akan- safar sekarang
<Khalid : Jika begitu, ambil tasmu>
إِذْنٌ
Izin
<بِإِذْنِ الله>
<Dengan izin Allah>
أُذُنٌ(مثنى)
Telinga
أُذُنٌ = Telinga

Mengapa "Bukan Perempuan Biasa", Apa Keistimewaannya..?!?!?!

Wanita di Masa Jahiliyah
Wanita di masa jahiliyah (sebelum diutusnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam) pada umumnya tertindas dan terkungkung khususnya di lingkungan bangsa Arab, tetapi tidak menutup kemungkinan fenomena ini menimpa di seluruh belahan dunia. Bentuk penindasan ini di mulai sejak kelahiran sang bayi, aib besar bagi sang ayah bila memiliki anak perempuan. Sebagian mereka tega menguburnya hidup-hidup dan ada yang membiarkan hidup tetapi dalam keadaan rendah dan hina bahkan dijadikan sebagai harta warisan dan bukan termasuk ahli waris. Allah subhanahu wata’ala berfirman (artinya):

“Dan apabila seorang dari mereka diberi kabar dengan kelahiran anak perempuan, merah padamlah mukanya dan dia sangat marah. Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)? Ketahuilah. Alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu.” (An Nahl: 58-59)

Islam Menjunjung Martabat Wanita
Dienul Islam sebagai rahmatal lil’alamin, menghapus seluruh bentuk kezhaliman-kezhaliman yang menimpa kaum wanita dan mengangkat derajatnya sebagai martabat manusiawi. Timbangan kemulian dan ketinggian martabat di sisi Allah subhanahu wata’ala adalah takwa, sebagaimana yang terkandung dalam Q.S Al Hujurat: 33. Lebih dari itu Allah subhanahu wata’ala menegaskan dalam firman-Nya yang lain (artinya):

“Barangsiapa yang mengerjakan amalan shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan kami beri balasan pula kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (An Nahl: 97)

Ambisi Musuh-Musuh Islam untuk Merampas Kehormatan Wanita
Dalih emansipasi atau kesamarataan posisi dan tanggung jawab antara pria dan wanita telah semarak di panggung modernisasi dewasa ini. Sebagai peluang dan jembatan emas buat musuh-musuh Islam dari kaum feminis dan aktivis perempuan anti Islam untuk menyebarkan opini-opini sesat. “Pemberdayaan perempuan”, “kesetaraan gender”, “kungkungan budaya patriarkhi” adalah sebagian propaganda yang tiada henti dijejalkan di benak-benak wanita Islam. Dikesankan wanita-wanita muslimah yang menjaga kehormatannya dan kesuciannya dengan tinggal di rumah adalah wanita-wanita pengangguran dan terbelakang. Menutup aurat dengan jilbab atau kerudung atau menegakkan hijab (pembatas) kepada yang bukan mahramnya, direklamekan sebagai tindakan jumud (kaku) dan penghambat kemajuan budaya. Sehingga teropinikan wanita muslimah itu tak lebih dari sekedar calon ibu rumah tangga yang tahunya hanya dapur, sumur, dan kasur. Oleh karena itu agar wanita bisa maju, harus direposisi ke ruang publik yang seluas-luasnya untuk bebas berkarya, berkomunikasi dan berinteraksi dengan cara apapun seperti halnya kaum lelaki di masa moderen dewasa ini.

Ketahuilah wahai muslimah! Suara-suara sumbang yang penuh kamuflase dari musuh-musuh Allah subhanahu wata’ala itu merupakan kepanjangan lidah dari syaithan. Allah subhanahu wata’ala berfirman (artinya):

“Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaithan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapak kalian dari jannah, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya auratnya.” (Al A’raf: 27)

Peran Wanita dalam Rumah Tangga
Telah termaktub dalam Al Qur’an sebagai petunjuk bagi umat manusia yang datang dari Rabbull Alamin Allah Yang Maha Memilki Hikmah:

“Dan tetaplah kalian (kaum wanita) tinggal di rumah-rumah kalian.” (Al Ahzab: 33)

Maha benar Allah subhanahu wata’ala dalam segala firman-Nya, posisi wanita sebagai sang istri atau ibu rumah tangga memilki arti yang sangat urgen, bahkan dia merupakan salah satu tiang penegak kehidupan keluarga dan termasuk pemeran utama dalam mencetak “tokoh-tokoh besar”. Sehingga tepat sekali ungkapan: “Dibalik setiap orang besar ada seorang wanita yang mengasuh dan mendidiknya.”

Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah berkta: “Perbaikan masyarakat dapat dilakukan dengan dua cara:

Pertama: perbaikan secara dhahir, di pasar-pasar, di masjid-masjid dan selainnya dari perkara-perkara dhahir. Ini didominasi oleh lelaki karena merekalah yang bisa tampil di depan umum.

Kedua: perbaikan masyarakat yang dilakukan di rumah-rumah, secara umum hal ini merupakan tanggung jawab kaum wanita. Karena merekalah yang sangat berperan sebagai pengatur dalam rumahnya. Sebagaiman Allah subhanahu wata’ala berfirman (artinya):


“Tetaplah kalian tinggal di dalam rumah-rumah kalian dan janganlah bertabarruj (berpenampilan) sebagaimana penampilannya orang-orang jahiliyah yang pertama. Tegakkanlah shalat, tunaikan zakat, dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya. Allah hanyalah berkehendak untuk menghilangkan dosa-dosa kalian wahai Ahlul bait dan mensucikan kalian dengan sebersih-bersihnya.” (Al Ahzab: 33)

Kami yakin setelah ini, tidaklah salah bila kami katakan perbaikan setengah masyarakat itu atau bahkan mayoritas tergantung kepada wanita dikarenakan dua sebab:

  1. Kaum wanita jumlahnya sama dengan kaum laki-laki bahkan lebih banyak, yakni keturunan Adam mayoritasnya wanita sebagaimana hal ini ditunjukkan oleh As Sunnah An Nabawiyah. Akan tetapi hal itu tentunya berbeda antara satu negeri dengan negeri lain, satu jaman dengan jaman lain. Terkadang di suatu negeri jumlah kaum wanita lebih dominan dari pada jumlah lelaki atau sebaliknya… Apapun keadaannya wanita memiliki peran yang sangat besar dalam memperbaiki masyarakat.
  2. Tumbuh dan berkembangnya satu generasi pada awalnya berada dibawah asuhan wanita. Atas dasar ini sangat jelaslah bahwa tentang kewajiban wanita dalam memperbaiki masyarakat. (Daurul Mar’ah Fi Ishlahil Mujtama’)

Pekerjaan Wanita di dalam Rumah
Beberapa pekerjaan wanita yang bisa dilakukan di dalam rumah:
  1. Beribadah kepada Allah subhanahu wata’ala. Tinggalnya ia di dalam rumah merupakan alternatif terbaik karena memang itu perintah dari Allah subhanahu wata’ala dan dapat beribadah dengan tenang. Allah subhanahu wata’ala berfirman (artinya):
    “Tetaplah kalian tinggal di dalam rumah-rumah kalian dan janganlah bertabarruj sebagaimana tabarrujnya orang-orang jahiliyah yang pertama. Tegakkanlah shalat, tunaikan zakat, dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya.” (Al Ahzab: 33)
  2. Wanita berperan memberikan sakan (ketenangan/keharmonisan) bagi suami. Namun tidak akan terwujud kecuali ia melakukan beberapa hal berikut ini:

    • Taat sempurna kepada suaminya dalam perkara yang bukan maksiat bahkan lebih utama daripada melakukan ibadah-ibdah sunnah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
      لاَ يَحِلُّ لِلْمَرْأَةِ أَنْ تَصُوْمَ وَزَوْجُهَا شَاهِدٌ إِلاَّ بِإِذْنِهِ
      “Tidak boleh seorang wanita puasa (sunnah) sementara suaminya ada di tempat kecuali setelah mendapat izin suaminya.” (Muttafaqun ‘alaihi)

      Al Hafidz Ibnu Hajar berkata: “Hadits ini menunjukkan lebih ditekankan kepada istri untuk memenuhi hak suami daripada mengerjakan kebajikan yang hukumnya sunnah. Karena hak suami itu wajib sementara menunaikan kewajiban lebih didahulukan daripada menunaikan perkara yang sunnah.’ (Fathul Bari 9/356)
    • Menjaga rahasia suami dan kehormatannya dan juga menjaga kehormatan ia sendiri disaat suaminya tidak ada di tempat. Sehingga menumbuhkan kepercayaan suami secara penuh terhadapnya.
    • Menjaga harta suami. Rasulullah bersabda:
      خَيْرُ نِسَاءٍ رَكِبْنَ الإِبِلَ صَالِحُ نِسَاءِ قُرَيْشٍ : أَحْنَاهُ عَلَى وَلَدٍ فِي صِغَرِهِ، وَأَرْعَاهُ عَلَى زَوْجٍ فِي ذَاتِ يَدِهِ
      “Sebaik-baik wanita penunggang unta, adalah wanita yang baik dari kalangan quraisy yang penuh kasih sayang terhadap anaknya dan sangat menjaga apa yang dimiliki oleh suami.” (Muttafaqun ‘alaihi)
    • Mengatur kondisi rumah tangga yang rapi, bersih dan sehat sehingga tampak menyejukkan pandangan dan membuat betah penghuni rumah.
  3. Mendidik anak yang merupakan salah satu tugas yang termulia untuk mempersiapkan sebuah generasi yang handal dan diridhai oleh Allah subhanahu wata’ala.

Adab Keluar Rumah
Allah subhanahu wata’ala Yang Maha Mengetahui tentang maslahat (kebaikan) hambanya di dunia maupun diakhirat yaitu kewajiban wanita untuk tetap tinggal di rumah. Namun bila ada kepentingan, diperbolehkan baginya keluar rumah untuk memenuhi kebutuhannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
قَدْ أَذِنَ لَكُنَّ أَنْ تَخْرُجْنَ لِحَوَائِجِكُنَّ
“Allah telah mengijinkan kalian untuk keluar rumah guna menunaikan hajat kalian.” (Muttafaqun ‘alahi)

Namun juga ingat petuah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang lainnya:

“Wanita itu adalah aurat maka bila ia keluar rumah syaithan menyambutnya.” (HR. At Tirmidzi, shahih lihat Al Irwa’ no. 273 dan Shahihul Musnad 2/36)

Sehingga wajib baginya ketika hendak keluar harus memperhatikan adab yang telah disyariatkan oleh Allah subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu:
  1. Memakai jilbab yang syar’i sebagaimana dalam surat Al Ahzab: 59.
  2. Atas izin dari suaminya, bila ia sudah menikah.
  3. Tidak boleh bersafar kecuali dengan mahramnya. (HR. Muslim no. 1341)
  4. Menundukkan pandangan. (An Nur: 31)
  5. Berbicara dengan wajar tanpa mendayu-dayu (melembut-lembutkan). (Al Ahzab: 32)
  6. Tidak boleh melenggak lenggok ketika berjalan.
  7. Hindari memakai wewangian. (Al Jami’ush Shahih: 4/311)
  8. Tidak boleh menghentakkan kaki ketika berjalan agar diketahui perhiasannya. (An Nur: 31)
  9. Tidak boleh ikhtilath (campur baur) antara lawan jenis. (Lihat Shahih Al Bukhari no. 870)
  10. Tidak boleh khalwat (menyepi dengan pria lain yang bukan mahram) (Lihat Shahih Muslim 2/978).

Hukum Wanita Kerja di Luar Rumah
Allah menciptakan bentuk fisik dan tabiat wanita berbeda dengan pria. Kaum pria di berikan kelebihan oleh Allah subhanahu wata’ala baik fisik maupun mental atas kaum wanita sehingga pantas kaum pria sebagai pemimpin atas kaum wanita. Allah subhanahu wata’ala berfirman (artinya):

“Kaum lelaki itu adalah sebagai pemimpin (pelindung) bagi kaum wanita.” (An Nisa’: 35)

Sehingga secara asal nafkah bagi keluarga itu tanggung jawab kaum lelaki. Asy syaikh Ibnu Baaz berkata: “Islam menetapkan masing-masing dari suami istri memiliki kewajiban yang khusus agar keduanya menjalankan perannya, hingga sempurnalah bangunan masyarakat di dalam dan di luar rumah. Suami berkewajiban mencari nafkah dan penghasilan sedangkan istri berkewajiban mendidik anak-anaknya, memberikan kasih sayang, menyusui dan mengasuh mereka serta tugas-tugas lain yang sesuai baginya, mengajar anak-anak perempuan, mengurusi sekolah mereka, dan mengobati mereka serta pekerjaan lain yang khusus bagi kaum wanita. Bila wanita sampai meninggalkan kewajiban dalam rumahnya berarti ia menyia-nyiakan rumah berikut penghuninya. Hal tersebut berdampak terpecahnya keluarga baik hakiki maupun maknawi. (Khatharu Musyarakatil Mar’ah lir Rijal fil Maidanil amal, hal. 5)

Bila kaum wanita tidak ada lagi yang mencukupi dan mencarikan nafkah, boleh baginya keluar rumah untuk bekerja, tentunya ia harus memperhatikan adab-adab keluar rumah sehingga tetap terjaga iffah (kemulian dan kesucian) harga dirinya.

Wanita adalah Sumber Segala Fitnah
Bila wanita sudah keluar batas dari kodratnya karena melanggar hukum-hukum Allah subhanahu wata’ala. Keluar dari rumah bertamengkan slogan bekerja, belajar, dan berkarya. Meski mengharuskan terjadinya khalwat (campur baur dengan laki-laki tanpa hijab), membuka auratnya (tanpa berjilbab), tabarruj (berpenampilan ala jahiliyah), dan mengharuskan komunikasi antar pria dan wanita dengan sebebas-bebasnya. Itulah pertanda api fitnah telah menyala.

Bila fitnah wanita telah menyala, ia merupakan inti dari tersebarnya segala fitnah-fitnah yang lainnya. Allah subhanahu wata’ala berfirman (artinya):

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia untuk condong kepada syahwat, yaitu wanita-wanita, anak-anak dan harta yang banyak … .” (Ali Imran: 14).

Al Hafizh Ibnu Hajar berkata: “Sesunggunya fitnah wanita merupakan fitnah yang terbesar dari selainnya …, karena Allah menjadikan para wanita itu sebagai sumber segala syahwat. Dan Allah meletakkan para wanita (dalam bagian syahwat) pada point pertama (dalam ayat di atas) sebelum yang lainnya, mengisyaratkan bahwa asal dari segala syahwat adalah wanita.” (Nashihati Linnisaa’i: 114)

Bila fitnah wanita itu telah menjalar, maka tiada yang bisa membendung arus kebobrokan dan kerusakan moral manusia. Fenomena negara barat atau negara-negara lainnya yang menyuarakan emansipasi wanita, sebagai bukti kongkrit hasil dari perjuangan mereka yaitu pornoaksi dan pornografi bukan hal yang tabu bahkan malah membudaya, foto-foto telanjang dan menggoda lebih menarik daya beli dan mendongkrak pangsa pasar. Tak lebih harga diri wanita itu seperti budak pemuas syahwat lelaki. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضْرَةٌ وَإِنَّ اللهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيْهَا فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُوْنَ فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَ اتَّقُوا النِّسَاءَ فَإنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ كَانَتْ فِي النِّسَاءِ
“Sesungguhnya dunia itu manis lagi hijau dan Allah subhanahu wata’ala menjadikan kalian berketurunan di atasnya. Allah melihat apa yang kalian perbuat. Takutlah kepada (fitnah) dunia dan takutlah kepada (fitnah) wanita, karena sesungguhnya awal fitnah yang menimpa Bani Isra’il dari wanitanya.” (HR. Muslim)

Setelah mengetahui hak dan tanggung jawab wanita sedemikian rupa, rapi dan serasi yang diatur oleh Islam, apakah bisa dikatakan sebagai wanita pengangguran atau kuno? sebaliknya, silahkan lihat kenyataan kini dari para wanita karier dibalik label emansipasi atau slogan “Mari maju menyambut modernisasi?” Renungkanlah wahai kaum wanita, bagaimana kedaan suami dan anak-anak kalian setelah kalian tinggalkan tanggung jawab sebagai istri penyejuk hati suami dan penyayang anak-anak?!!!!

__________________________________________________________

Hadits-Hadits Dho’if (Lemah) atau Palsu yang Tersebar di Kalangan Ummat
اُطْلُبُوْا العِلْمَ وَ لَوْ بِالصِّيْنِ
“Tuntutlah Ilmu walau sampai ke negeri Cina.”

Keterangan:
Hadits ini adalah bathil, diriwayatkan oleh Ibnu ‘Adiy, Abu Nu’aim, Al Khotib, Al Baihaqi, dan selain mereka. Hadits ini dikritik oleh para ulama seperti Al Imam Al Bukhori, Ahmad, An Nasa’i, Abu Hatim, Ibnu Hibban, Al Khotib, dan selain dari mereka. Karena perawi-perawi didalam hadits ini lemah (dho’if). (Lihat Adh Dhoi’fah No.416)

________________________________________________________

Sumber : Kedudukan Wanita dalam Islâm Oleh: Buletin Al-Ilmu

Kaidah Shorof 002 || Kata Kerja Bentuk Lampau dan Kata Ganti Subyek - الفِعْلُ الْمَاضِي مَعَ ضَمَائِرِ الْفاعِل



Kaidah :
Kata ganti untuk subyek/pelaku yang bersambung dengan kata kerja (ضَمَائِرُ الْفَاعِل الْمُتَّصِلَة) :
- Kata ganti orang pertama (الْمُتَكَلِّم) :
تُ (كَتَبْتُ)، نا (كَتَبْنَا)
- Kata ganti orang kedua (الْمُخَاطَب) :
تَ (كَتَبْتَ)، تِ (كَتَبْتِ)، تُمَا (كَتَبْتُمَا)، تُمْ (كَتَبْتُمْ)، تُنَّ (كَتَبْتُنَّ)
- Kata ganti orang ketiga (الْغَائِب) :
  1. Kata ganti orang ketiga tunggal (Lk) yang tersembunyi yaitu (هُوَ) sebagai subyek pada kata kerja tersebut : كَتَبَ
  2. Kata ganti orang ketiga tunggal (Pr) yang tersembunyi yaitu (هِيَ) sebagai subyek pada kata kerja tersebut : كَتَبَتْ
    Huruf Ta' sukun (تْ) diakhir kata kerja itu adalah tanda (Pr)/مُؤَنَّث
  3. أَلِفُ الْمُثَنَّى - Huruf Alif yang menunjukkan dua subyek (فَاعِل), contohnya : كَتَبَا dan كَتَبَتَا
  4. وَاوُ الْجَمَاعَة - Huruf Wawu yang menunjukkan lebih dari dua subyek (فَاعِل) (Lk)/مُذَكَّر, contohnya : كَتَبُوا
  5. نُوْنُ النِّسْوَة - Huruf Nun yang menunjukkan lebih dari dua subyek (فَاعِل) (Pr)/مُؤَنَّث, contohnya : كَتَبْنَ