بسم الله الرحمن الرحيم

Kosakata Bahasa Arab 0002

تَأَخُّرٌ(مصدر)
Terlambat
<لَمْ أَحْضُرْ مُبَكِّرًا لِتَأَخُّرِ السَّائِقِ>
<Saya tidak hadir dengan cepat karena keterlambatan sopir>
مُتَأَخِّرٌ
Terlambat
≠ مُبَكِّرٌ
≠ Cepat
<وَصَلَ عَامِرٌ الْمَوْقِفَ مُتَأَخِّراً>
<Amir terlambat tiba di halte>
أَخِيْراً
Pada Akhirnya
≠ أَوَّلاً
≠ Pertama
<أَخِيْراً وَصَلَ أَحْمَدُ إِلى الْمَطَارِ>
<Akhirnya Ahmad tiba di bandara>
أدَاءٌ(مصدر)
Penunaian
أدَّى/يُأَدِّي(فعل)
Menunaikan
<يُأَدِّي الْمُسْلِمُ الصَّلاَةَ>
<Seorang Muslim menunaikan sholat>
إِذَا
Apabila
<إِذَا ذَهَبْتَ إِلى الطَّبِيْبِ فَحَصَكَ>
<Apabila kamu pergi ke dokter, maka dia akan memeriksamu>
إِذَنْ
Jika demikian
عَبْدُ الله : أَنا مسافِرٌ الآنَ
<خالد : إذَنْ خُذْ حَقِيْبَتَكَ>
Abdullah : Saya -akan- safar sekarang
<Khalid : Jika begitu, ambil tasmu>
إِذْنٌ
Izin
<بِإِذْنِ الله>
<Dengan izin Allah>
أُذُنٌ(مثنى)
Telinga
أُذُنٌ = Telinga


Mengapa "Bukan Perempuan Biasa", Apa Keistimewaannya..?!?!?!

Wanita di Masa Jahiliyah
Wanita di masa jahiliyah (sebelum diutusnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam) pada umumnya tertindas dan terkungkung khususnya di lingkungan bangsa Arab, tetapi tidak menutup kemungkinan fenomena ini menimpa di seluruh belahan dunia. Bentuk penindasan ini di mulai sejak kelahiran sang bayi, aib besar bagi sang ayah bila memiliki anak perempuan. Sebagian mereka tega menguburnya hidup-hidup dan ada yang membiarkan hidup tetapi dalam keadaan rendah dan hina bahkan dijadikan sebagai harta warisan dan bukan termasuk ahli waris. Allah subhanahu wata’ala berfirman (artinya):

“Dan apabila seorang dari mereka diberi kabar dengan kelahiran anak perempuan, merah padamlah mukanya dan dia sangat marah. Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)? Ketahuilah. Alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu.” (An Nahl: 58-59)

Islam Menjunjung Martabat Wanita
Dienul Islam sebagai rahmatal lil’alamin, menghapus seluruh bentuk kezhaliman-kezhaliman yang menimpa kaum wanita dan mengangkat derajatnya sebagai martabat manusiawi. Timbangan kemulian dan ketinggian martabat di sisi Allah subhanahu wata’ala adalah takwa, sebagaimana yang terkandung dalam Q.S Al Hujurat: 33. Lebih dari itu Allah subhanahu wata’ala menegaskan dalam firman-Nya yang lain (artinya):

“Barangsiapa yang mengerjakan amalan shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan kami beri balasan pula kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (An Nahl: 97)

Ambisi Musuh-Musuh Islam untuk Merampas Kehormatan Wanita
Dalih emansipasi atau kesamarataan posisi dan tanggung jawab antara pria dan wanita telah semarak di panggung modernisasi dewasa ini. Sebagai peluang dan jembatan emas buat musuh-musuh Islam dari kaum feminis dan aktivis perempuan anti Islam untuk menyebarkan opini-opini sesat. “Pemberdayaan perempuan”, “kesetaraan gender”, “kungkungan budaya patriarkhi” adalah sebagian propaganda yang tiada henti dijejalkan di benak-benak wanita Islam. Dikesankan wanita-wanita muslimah yang menjaga kehormatannya dan kesuciannya dengan tinggal di rumah adalah wanita-wanita pengangguran dan terbelakang. Menutup aurat dengan jilbab atau kerudung atau menegakkan hijab (pembatas) kepada yang bukan mahramnya, direklamekan sebagai tindakan jumud (kaku) dan penghambat kemajuan budaya. Sehingga teropinikan wanita muslimah itu tak lebih dari sekedar calon ibu rumah tangga yang tahunya hanya dapur, sumur, dan kasur. Oleh karena itu agar wanita bisa maju, harus direposisi ke ruang publik yang seluas-luasnya untuk bebas berkarya, berkomunikasi dan berinteraksi dengan cara apapun seperti halnya kaum lelaki di masa moderen dewasa ini.

Ketahuilah wahai muslimah! Suara-suara sumbang yang penuh kamuflase dari musuh-musuh Allah subhanahu wata’ala itu merupakan kepanjangan lidah dari syaithan. Allah subhanahu wata’ala berfirman (artinya):

“Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaithan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapak kalian dari jannah, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya auratnya.” (Al A’raf: 27)

Peran Wanita dalam Rumah Tangga
Telah termaktub dalam Al Qur’an sebagai petunjuk bagi umat manusia yang datang dari Rabbull Alamin Allah Yang Maha Memilki Hikmah:

“Dan tetaplah kalian (kaum wanita) tinggal di rumah-rumah kalian.” (Al Ahzab: 33)

Maha benar Allah subhanahu wata’ala dalam segala firman-Nya, posisi wanita sebagai sang istri atau ibu rumah tangga memilki arti yang sangat urgen, bahkan dia merupakan salah satu tiang penegak kehidupan keluarga dan termasuk pemeran utama dalam mencetak “tokoh-tokoh besar”. Sehingga tepat sekali ungkapan: “Dibalik setiap orang besar ada seorang wanita yang mengasuh dan mendidiknya.”

Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah berkta: “Perbaikan masyarakat dapat dilakukan dengan dua cara:

Pertama: perbaikan secara dhahir, di pasar-pasar, di masjid-masjid dan selainnya dari perkara-perkara dhahir. Ini didominasi oleh lelaki karena merekalah yang bisa tampil di depan umum.

Kedua: perbaikan masyarakat yang dilakukan di rumah-rumah, secara umum hal ini merupakan tanggung jawab kaum wanita. Karena merekalah yang sangat berperan sebagai pengatur dalam rumahnya. Sebagaiman Allah subhanahu wata’ala berfirman (artinya):


“Tetaplah kalian tinggal di dalam rumah-rumah kalian dan janganlah bertabarruj (berpenampilan) sebagaimana penampilannya orang-orang jahiliyah yang pertama. Tegakkanlah shalat, tunaikan zakat, dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya. Allah hanyalah berkehendak untuk menghilangkan dosa-dosa kalian wahai Ahlul bait dan mensucikan kalian dengan sebersih-bersihnya.” (Al Ahzab: 33)

Kami yakin setelah ini, tidaklah salah bila kami katakan perbaikan setengah masyarakat itu atau bahkan mayoritas tergantung kepada wanita dikarenakan dua sebab:

  1. Kaum wanita jumlahnya sama dengan kaum laki-laki bahkan lebih banyak, yakni keturunan Adam mayoritasnya wanita sebagaimana hal ini ditunjukkan oleh As Sunnah An Nabawiyah. Akan tetapi hal itu tentunya berbeda antara satu negeri dengan negeri lain, satu jaman dengan jaman lain. Terkadang di suatu negeri jumlah kaum wanita lebih dominan dari pada jumlah lelaki atau sebaliknya… Apapun keadaannya wanita memiliki peran yang sangat besar dalam memperbaiki masyarakat.
  2. Tumbuh dan berkembangnya satu generasi pada awalnya berada dibawah asuhan wanita. Atas dasar ini sangat jelaslah bahwa tentang kewajiban wanita dalam memperbaiki masyarakat. (Daurul Mar’ah Fi Ishlahil Mujtama’)

Pekerjaan Wanita di dalam Rumah
Beberapa pekerjaan wanita yang bisa dilakukan di dalam rumah:
  1. Beribadah kepada Allah subhanahu wata’ala. Tinggalnya ia di dalam rumah merupakan alternatif terbaik karena memang itu perintah dari Allah subhanahu wata’ala dan dapat beribadah dengan tenang. Allah subhanahu wata’ala berfirman (artinya):
    “Tetaplah kalian tinggal di dalam rumah-rumah kalian dan janganlah bertabarruj sebagaimana tabarrujnya orang-orang jahiliyah yang pertama. Tegakkanlah shalat, tunaikan zakat, dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya.” (Al Ahzab: 33)
  2. Wanita berperan memberikan sakan (ketenangan/keharmonisan) bagi suami. Namun tidak akan terwujud kecuali ia melakukan beberapa hal berikut ini:

    • Taat sempurna kepada suaminya dalam perkara yang bukan maksiat bahkan lebih utama daripada melakukan ibadah-ibdah sunnah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
      لاَ يَحِلُّ لِلْمَرْأَةِ أَنْ تَصُوْمَ وَزَوْجُهَا شَاهِدٌ إِلاَّ بِإِذْنِهِ
      “Tidak boleh seorang wanita puasa (sunnah) sementara suaminya ada di tempat kecuali setelah mendapat izin suaminya.” (Muttafaqun ‘alaihi)

      Al Hafidz Ibnu Hajar berkata: “Hadits ini menunjukkan lebih ditekankan kepada istri untuk memenuhi hak suami daripada mengerjakan kebajikan yang hukumnya sunnah. Karena hak suami itu wajib sementara menunaikan kewajiban lebih didahulukan daripada menunaikan perkara yang sunnah.’ (Fathul Bari 9/356)
    • Menjaga rahasia suami dan kehormatannya dan juga menjaga kehormatan ia sendiri disaat suaminya tidak ada di tempat. Sehingga menumbuhkan kepercayaan suami secara penuh terhadapnya.
    • Menjaga harta suami. Rasulullah bersabda:
      خَيْرُ نِسَاءٍ رَكِبْنَ الإِبِلَ صَالِحُ نِسَاءِ قُرَيْشٍ : أَحْنَاهُ عَلَى وَلَدٍ فِي صِغَرِهِ، وَأَرْعَاهُ عَلَى زَوْجٍ فِي ذَاتِ يَدِهِ
      “Sebaik-baik wanita penunggang unta, adalah wanita yang baik dari kalangan quraisy yang penuh kasih sayang terhadap anaknya dan sangat menjaga apa yang dimiliki oleh suami.” (Muttafaqun ‘alaihi)
    • Mengatur kondisi rumah tangga yang rapi, bersih dan sehat sehingga tampak menyejukkan pandangan dan membuat betah penghuni rumah.
  3. Mendidik anak yang merupakan salah satu tugas yang termulia untuk mempersiapkan sebuah generasi yang handal dan diridhai oleh Allah subhanahu wata’ala.

Adab Keluar Rumah
Allah subhanahu wata’ala Yang Maha Mengetahui tentang maslahat (kebaikan) hambanya di dunia maupun diakhirat yaitu kewajiban wanita untuk tetap tinggal di rumah. Namun bila ada kepentingan, diperbolehkan baginya keluar rumah untuk memenuhi kebutuhannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
قَدْ أَذِنَ لَكُنَّ أَنْ تَخْرُجْنَ لِحَوَائِجِكُنَّ
“Allah telah mengijinkan kalian untuk keluar rumah guna menunaikan hajat kalian.” (Muttafaqun ‘alahi)

Namun juga ingat petuah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang lainnya:

“Wanita itu adalah aurat maka bila ia keluar rumah syaithan menyambutnya.” (HR. At Tirmidzi, shahih lihat Al Irwa’ no. 273 dan Shahihul Musnad 2/36)

Sehingga wajib baginya ketika hendak keluar harus memperhatikan adab yang telah disyariatkan oleh Allah subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu:
  1. Memakai jilbab yang syar’i sebagaimana dalam surat Al Ahzab: 59.
  2. Atas izin dari suaminya, bila ia sudah menikah.
  3. Tidak boleh bersafar kecuali dengan mahramnya. (HR. Muslim no. 1341)
  4. Menundukkan pandangan. (An Nur: 31)
  5. Berbicara dengan wajar tanpa mendayu-dayu (melembut-lembutkan). (Al Ahzab: 32)
  6. Tidak boleh melenggak lenggok ketika berjalan.
  7. Hindari memakai wewangian. (Al Jami’ush Shahih: 4/311)
  8. Tidak boleh menghentakkan kaki ketika berjalan agar diketahui perhiasannya. (An Nur: 31)
  9. Tidak boleh ikhtilath (campur baur) antara lawan jenis. (Lihat Shahih Al Bukhari no. 870)
  10. Tidak boleh khalwat (menyepi dengan pria lain yang bukan mahram) (Lihat Shahih Muslim 2/978).

Hukum Wanita Kerja di Luar Rumah
Allah menciptakan bentuk fisik dan tabiat wanita berbeda dengan pria. Kaum pria di berikan kelebihan oleh Allah subhanahu wata’ala baik fisik maupun mental atas kaum wanita sehingga pantas kaum pria sebagai pemimpin atas kaum wanita. Allah subhanahu wata’ala berfirman (artinya):

“Kaum lelaki itu adalah sebagai pemimpin (pelindung) bagi kaum wanita.” (An Nisa’: 35)

Sehingga secara asal nafkah bagi keluarga itu tanggung jawab kaum lelaki. Asy syaikh Ibnu Baaz berkata: “Islam menetapkan masing-masing dari suami istri memiliki kewajiban yang khusus agar keduanya menjalankan perannya, hingga sempurnalah bangunan masyarakat di dalam dan di luar rumah. Suami berkewajiban mencari nafkah dan penghasilan sedangkan istri berkewajiban mendidik anak-anaknya, memberikan kasih sayang, menyusui dan mengasuh mereka serta tugas-tugas lain yang sesuai baginya, mengajar anak-anak perempuan, mengurusi sekolah mereka, dan mengobati mereka serta pekerjaan lain yang khusus bagi kaum wanita. Bila wanita sampai meninggalkan kewajiban dalam rumahnya berarti ia menyia-nyiakan rumah berikut penghuninya. Hal tersebut berdampak terpecahnya keluarga baik hakiki maupun maknawi. (Khatharu Musyarakatil Mar’ah lir Rijal fil Maidanil amal, hal. 5)

Bila kaum wanita tidak ada lagi yang mencukupi dan mencarikan nafkah, boleh baginya keluar rumah untuk bekerja, tentunya ia harus memperhatikan adab-adab keluar rumah sehingga tetap terjaga iffah (kemulian dan kesucian) harga dirinya.

Wanita adalah Sumber Segala Fitnah
Bila wanita sudah keluar batas dari kodratnya karena melanggar hukum-hukum Allah subhanahu wata’ala. Keluar dari rumah bertamengkan slogan bekerja, belajar, dan berkarya. Meski mengharuskan terjadinya khalwat (campur baur dengan laki-laki tanpa hijab), membuka auratnya (tanpa berjilbab), tabarruj (berpenampilan ala jahiliyah), dan mengharuskan komunikasi antar pria dan wanita dengan sebebas-bebasnya. Itulah pertanda api fitnah telah menyala.

Bila fitnah wanita telah menyala, ia merupakan inti dari tersebarnya segala fitnah-fitnah yang lainnya. Allah subhanahu wata’ala berfirman (artinya):

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia untuk condong kepada syahwat, yaitu wanita-wanita, anak-anak dan harta yang banyak … .” (Ali Imran: 14).

Al Hafizh Ibnu Hajar berkata: “Sesunggunya fitnah wanita merupakan fitnah yang terbesar dari selainnya …, karena Allah menjadikan para wanita itu sebagai sumber segala syahwat. Dan Allah meletakkan para wanita (dalam bagian syahwat) pada point pertama (dalam ayat di atas) sebelum yang lainnya, mengisyaratkan bahwa asal dari segala syahwat adalah wanita.” (Nashihati Linnisaa’i: 114)

Bila fitnah wanita itu telah menjalar, maka tiada yang bisa membendung arus kebobrokan dan kerusakan moral manusia. Fenomena negara barat atau negara-negara lainnya yang menyuarakan emansipasi wanita, sebagai bukti kongkrit hasil dari perjuangan mereka yaitu pornoaksi dan pornografi bukan hal yang tabu bahkan malah membudaya, foto-foto telanjang dan menggoda lebih menarik daya beli dan mendongkrak pangsa pasar. Tak lebih harga diri wanita itu seperti budak pemuas syahwat lelaki. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضْرَةٌ وَإِنَّ اللهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيْهَا فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُوْنَ فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَ اتَّقُوا النِّسَاءَ فَإنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ كَانَتْ فِي النِّسَاءِ
“Sesungguhnya dunia itu manis lagi hijau dan Allah subhanahu wata’ala menjadikan kalian berketurunan di atasnya. Allah melihat apa yang kalian perbuat. Takutlah kepada (fitnah) dunia dan takutlah kepada (fitnah) wanita, karena sesungguhnya awal fitnah yang menimpa Bani Isra’il dari wanitanya.” (HR. Muslim)

Setelah mengetahui hak dan tanggung jawab wanita sedemikian rupa, rapi dan serasi yang diatur oleh Islam, apakah bisa dikatakan sebagai wanita pengangguran atau kuno? sebaliknya, silahkan lihat kenyataan kini dari para wanita karier dibalik label emansipasi atau slogan “Mari maju menyambut modernisasi?” Renungkanlah wahai kaum wanita, bagaimana kedaan suami dan anak-anak kalian setelah kalian tinggalkan tanggung jawab sebagai istri penyejuk hati suami dan penyayang anak-anak?!!!!

__________________________________________________________

Hadits-Hadits Dho’if (Lemah) atau Palsu yang Tersebar di Kalangan Ummat
اُطْلُبُوْا العِلْمَ وَ لَوْ بِالصِّيْنِ
“Tuntutlah Ilmu walau sampai ke negeri Cina.”

Keterangan:
Hadits ini adalah bathil, diriwayatkan oleh Ibnu ‘Adiy, Abu Nu’aim, Al Khotib, Al Baihaqi, dan selain mereka. Hadits ini dikritik oleh para ulama seperti Al Imam Al Bukhori, Ahmad, An Nasa’i, Abu Hatim, Ibnu Hibban, Al Khotib, dan selain dari mereka. Karena perawi-perawi didalam hadits ini lemah (dho’if). (Lihat Adh Dhoi’fah No.416)

________________________________________________________

Sumber : Kedudukan Wanita dalam Islâm Oleh: Buletin Al-Ilmu


Kaidah Shorof 002 || Kata Kerja Bentuk Lampau dan Kata Ganti Subyek - الفِعْلُ الْمَاضِي مَعَ ضَمَائِرِ الْفاعِل



Kaidah :
Kata ganti untuk subyek/pelaku yang bersambung dengan kata kerja (ضَمَائِرُ الْفَاعِل الْمُتَّصِلَة) :
- Kata ganti orang pertama (الْمُتَكَلِّم) :
تُ (كَتَبْتُ)، نا (كَتَبْنَا)
- Kata ganti orang kedua (الْمُخَاطَب) :
تَ (كَتَبْتَ)، تِ (كَتَبْتِ)، تُمَا (كَتَبْتُمَا)، تُمْ (كَتَبْتُمْ)، تُنَّ (كَتَبْتُنَّ)
- Kata ganti orang ketiga (الْغَائِب) :
  1. Kata ganti orang ketiga tunggal (Lk) yang tersembunyi yaitu (هُوَ) sebagai subyek pada kata kerja tersebut : كَتَبَ
  2. Kata ganti orang ketiga tunggal (Pr) yang tersembunyi yaitu (هِيَ) sebagai subyek pada kata kerja tersebut : كَتَبَتْ
    Huruf Ta' sukun (تْ) diakhir kata kerja itu adalah tanda (Pr)/مُؤَنَّث
  3. أَلِفُ الْمُثَنَّى - Huruf Alif yang menunjukkan dua subyek (فَاعِل), contohnya : كَتَبَا dan كَتَبَتَا
  4. وَاوُ الْجَمَاعَة - Huruf Wawu yang menunjukkan lebih dari dua subyek (فَاعِل) (Lk)/مُذَكَّر, contohnya : كَتَبُوا
  5. نُوْنُ النِّسْوَة - Huruf Nun yang menunjukkan lebih dari dua subyek (فَاعِل) (Pr)/مُؤَنَّث, contohnya : كَتَبْنَ


Saatnya Memperbanyak Amal Sholeh

الْحَمْدُ لِلهِ الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً وَهُوَ اْلعَزِيزُ اْلغَفُوْرُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، يُحْيِي وَيُمِيْتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اْلبَشِيْرُ النَّذِيْرُ وَالسِّرَاجُ الْمُنِيْرُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْماً كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ:
أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللهَ تَعَالَى وَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ مَا خُلِقْتُمْ عَبَثاً، وَأنَّ اللهَ جَعَلَ هَذِهِ الدُّنْيَا دَارَ عَمَلٍ وَالْآخِرَةَ دَارَ جَزَاءٍ.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Marilah kita senantiasa bertakwa kepada Allah Subhanahu wata'ala dengan mengerjakan amal saleh dan menjauhi segala yang diharamkan oleh-Nya. Dengan amal saleh yang dibangun di atas keimananlah seseorang akan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Allah Subhanahu wata'ala berfirman:
“Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (an-Nahl: 97)

Adapun kemaksiatan dan lemahnya iman, maka sudah menjadi sunatullah bahwa hal itu akan menjadi sebab datangnya bencana, rasa takut, dan berbagai malapetaka lainnya.

Hadirin rahimakumullah,
Amal saleh adalah bekal yang akan dibawa seseorang ketika keluar dari kehidupannya di dunia dan akan dirasakan buahnya di kehidupan akhirat nanti. Nabi Shollallahu 'alaihi wasallam bersabda:
يَتْبَعُ الْمَيِّتَ ثَلاَثَةٌ فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى مَعَهُ وَاحِدٌ؛ يَتْبَعُهُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ فَيَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَيَبْقَى عَمَلُهُ
“Ada tiga hal yang akan mengiringi orang yang meninggal dunia, yang dua akan kembali dan yang satu akan terus bersamanya. Keluarga, harta, dan amalnya akan mengiringinya, namun keluarga dan hartanya akan kembali, sedangkan amalnya akan bersamanya.”

Demikianlah, seseorang yang meninggal dunia akan berpisah dengan keluarga, kerabat, harta, dan kekayaannya. Yang menemaninya hanyalah amalnya. Apabila amalnya adalah amal saleh maka akan menjadi nikmat kubur baginya. Namun, apabila amalnya berupa kemaksiatan maka dia akan diazab karenanya. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits yang sahih, bahwa amal saleh yang dilakukan seseorang di alam kubur nanti akan berujud seseorang yang bagus wajahnya, indah pakaiannya, dan harum baunya. Adapun amal kemaksiatan akan berujud seseorang yang menakutkan wajahnya, jelek bajunya dan busuk baunya.

Jama’ah jum’ah rahimakumullah,
Maka dari itu, tidakkah seseorang mau memikirkan siapa yang akan menemaninya di alam kuburnya nanti? Tidakkah seseorang takut akan akibat kemaksiatan yang dilakukannya? Sungguh, kenyataan yang ada menunjukkan banyak di antara kita yang lalai. Banyak di antara kita yang kurang memikirkan apa yang akan terjadi pada dirinya setelah kehidupannya di dunia ini.
Lihatlah, betapa banyaknya perbuatan maksiat yang dilakukan oleh kaum muslimin. Perbuatan syirik yang dikemas dalam bentuk praktik pengobatan—yang sesungguhnya merupakan praktik perdukunan—masih banyak tersebar di sekitar kita. Tata cara ibadah yang tidak ada tuntunannya telah menduduki kedudukan sunnah pada diri sebagian kaum muslimin. Begitu pula dosa-dosa besar lainnya seperti pencurian, perampokan, korupsi, judi, riba, suap-menyuap, zina, bahkan pembunuhan masih banyak dilakukan oleh sebagian orang yang mengaku dirinya muslim. Campur-baur antara laki-laki dan perempuan, menampakkan aurat, para wanita yang berbusana tetapi telanjang, juga merupakan pemandangan yang terlihat setiap hari. Kenyataan ini sungguh memilukan. Oleh karena itu, marilah kita memulai dari diri kita masing-masing. Marilah kita mengajak diri dan keluarga kita untuk memanfaatkan hidup di dunia ini dengan berbagai amal saleh.

Jama’ah jum’ah rahimakumullah,
Kalau kaum muslimin bersungguh-sungguh mempelajari Al-Qur’an, mereka akan mendapatkan betapa banyak dan beraneka ragam ayat yang berisi anjuran untuk beramal saleh. Di antaranya ada ayat yang jelas menyebutkan perintah untuk beramal. Ada pula ayat yang menyebutkan bahwa balasan yang dijanjikan oleh Allah Subhanahu wata'ala dipengaruhi oleh amalan yang dilakukan seseorang, seperti firman-Nya:
“Maka pada hari itu seseorang tidak akan dirugikan sedikitpun dan kalian tidaklah akan dibalasi kecuali dengan apa yang telah kalian kerjakan.” (Yasin: 54)

Di dalam ayat lainnya, Allah Subhanahu wata'ala sebutkan balasan atas amalan seseorang. Allah Subhanahu wata'ala berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka adalah surga Firdaus menjadi tempat tinggal.” (al-Kahfi: 107)

Allah Subhanahu wata'ala juga memberitakan sifat Maha Mengetahui-Nya terhadap segala yang dilakukan oleh hamba-hamba-Nya, seperti dalam firman-Nya:
“Wahai para rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (al-Mu’minun: 51)

Masih banyak lagi ayat lainnya. Semuanya memberikan dorongan kepada kita untuk memperbanyak amal saleh.

Hadirin rahimakumullah,
Allah Subhanahu wata'ala juga telah memberitakan di dalam banyak ayat-Nya bahwa amalan yang dilakukan seseorang dicatat oleh malaikat dan di akhirat nanti akan diberikan catatan amalannya serta akan ditimbang dengan timbangan keadilan. Allah Subhanahu wata'ala berfirman:
“Timbangan pada hari itu ialah kebenaran, maka barang siapa berat timbangan kebaikannya, mereka itulah orang-orang yang beruntung dan barang siapa yang ringan timbangan kebaikannya, maka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, disebabkan mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami.” (al-A’raf: 8—9)

Oleh karena itu, setiap orang akan melihat balasan dari amalannya. Bahagia atau celakanya seseorang juga akan dipengaruhi oleh jenis amalan yang dilakukannya. Allah Subhanahu wata'ala berfirman:
“Pada hari itu manusia ke luar dari kuburnya dalam keadaan bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) perbuatan mereka. Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan sebesar zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (al-Zalzalah: 6—8)

Mudah-mudahan Allah Subhanahu wata'ala menjadikan kita semua orang-orang yang beriman dan beramal saleh. Wallahu a’lamu bish-shawab.
اللُّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَانْفَعْنَا بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحِكِيمِ، وَأَجِرْنَا مِنَ الْعَذَابِ الْأَلِيمِ, وَثَبِّتْنَا عَلَى الصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيمِ.
أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِجَمِيعِ الْمُسْلِمِينَ، فَاسْتَغْفِرُوهُ يَغْفِرْ لَكُمْ، وَتُوبُوا إِلَيْهِ يَتُبْ عَلَيْكُمْ، إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

Khutbah kedua
الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ، الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ بَعَثَهُ بَالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْن وَحُجَّةً عَلَى الْمُعَانِدِيْنَ وَمِنَّةً عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ، صَلَّى الله عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحَابَتِهِ أَجمَعِيْنَ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ:

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Ketahuilah bahwa Allah Subhanahu wata'ala menjadikan dunia ini sebagai jalan menuju akhirat. Barang siapa yang mengisinya dengan ketaatan kepada Allah Subhanahu wata'ala, yaitu dengan mentauhidkan-Nya dan mengikuti Rasul-Nya, dia akan berpindah dari tempat beramal menuju tempat pembalasan amal dengan mendapatkan kenikmatan surga. Dia akan berpindah dari tempat yang fana menuju tempat yang penghuninya akan hidup dan mendapatkan nikmat selamanya, tidak akan merasakan sakit, masa tua, dan tidak akan pernah sedih selamanya. Sebaliknya, barang siapa yang tidak menggunakan kehidupan dunianya untuk beramal saleh, dia justru menuruti hawa nafsunya dan menyelisihi utusan Allah Subhanahu wata'ala, dia akan berpindah dari dunia ini menuju tempat pembalasan amalan dengan mendapatkan azab yang sangat pedih.

Hadirin rahimakumullah,
Oleh karena itu, marilah kita selalu mengingat bahwa dunia ini adalah tempat untuk beribadah, mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wata'ala. Dunia adalah tempat untuk melakukan muhasabah, yaitu mengintrospeksi diri akan amalan yang telah dilakukan untuk kemudian bertobat dan memperbaiki diri. Kehidupan dunia ini juga merupakan kesempatan untuk mencari bekal menuju tempat pembalasan amalan. Maka dari itu, sudah semestinya bagi kita yang masih dikaruniai kesempatan hidup, kesehatan, dan kekayaan, untuk segera menyibukkan diri dengan berbagai amal saleh. Ingatlah, Allah Subhanahu wata'ala telah berfirman:
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya, kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka), kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.” (at-Tin: 4—8)

Hadirin rahimakumullah,
Ada sebuah pertanyaan yang sangat penting dan harus diketahui jawabannya: Kapankah suatu amal disebut amal saleh yang diterima oleh Allah Subhanahu wata'ala?
Amal tidak akan diterima oleh Allah Subhanahu wata'ala kecuali apabila memenuhi dua syarat. Syarat yang pertama adalah ikhlas dan syarat yang kedua adalah mengikuti apa yang dicontohkan oleh Rasulullah Shollallahu 'alaihi wasallam. Kedua syarat ini terkumpul dalam firman Allah Subhanahu wata'ala:
“Bahkan, barang siapa yang menyerahkan diri kepada Allah, dalam keadaan ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Rabb-nya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (al-Baqarah: 112)

Di dalam ayat ini, Allah Subhanahu wata'ala menyebutkan dua hal. Yang pertama, barang siapa yang menyerahkan diri kepada Allah. Ini mengandung makna ikhlas. Yang kedua, berbuat kebaikan. Ini diwujudkan dalam bentuk mengikuti Rasulullah Shollallahu 'alaihi wasallam. Merekalah yang akan diterima amalannya oleh Allah Subhanahu wata'ala.

Semoga Allah Subhanahu wata'ala memudahkan kita untuk senantiasa ikhlas dan mencontoh Rasulullah Shollallahu 'alaihi wasallam, serta menerima seluruh amalan kita.

Kami tidak mencantumkan doa pada Rubrik Khutbah Jumat agar khatib yang ingin membaca doa memilih doa yang sesuai dengan keadaan masing-masing.

______________________________________________________

Sumber : Mencapai Kebahagiaan Dengan amal Shalih (Rubrik Khutbah Jum’at)-(ditulis oleh: Al-Ustadz Saifudin Zuhri, Lc.)


Kaidah Nahwu 002 || Kata Benda (الاسم)


القاعدة :
اَلْاِسْمُ كَلِمَةٌ تَدُلُّ عَلَى :
  • إِنْسَانٍ، مِثْلُ : خَالِد وَفَاطِمَة
  • حَيَوَانٍ، مِثْلُ : ثَوْر وَجَمَل
  • نَبَاتٍ، مِثْلُ : طَمَاطِم وَخِيَار
  • جَمَادٍ، مِثْلُ : قَرْيَة وَنَهْر
  • وَصْفٍ، مِثْلُ : خَضْرَاء وَصَغِيْر
  • مَعْنًى، مِثْلُ : نَشَاط وَعَمَل
Kaidah :
Isim adalah kata yang menunjukkan atas :
  • Person, contohnya : خَالِد dan فَاطِمَة
  • Hewan, contohnya : ثَوْر dan جَمَل
  • Tumbuhan, contohnya : طَمَاطِم dan خِيَار
  • Benda mati, contohnya : قَرْيَة dan نَهْر
  • Sifat, contohnya : خَضْرَاء dan صَغِيْر
  • Sesuatu yang Abstrak, contohnya : نَشَاط dan عَمَل


Kosakata Bahasa Arab 0001

ا (ألِفُ الاثْنَيْنِ)
huruf alif yang menunjukkan dua orang pelaku/subyek
<الطَّالِبَانِ جَلَسَا>
kedua santri itu duduk
أ (هَمْزَةُ الاسْتِفْهَامِ)
kata tanya (apakah, adakah)
<أَهَذَ كِتَابِي؟>
apakah ini kitabku?
<هَلْ هَذَ كِتَابِي؟>
apakah ini kitabku?
أَبَابِيلُ
Kelompok, kumpulan, sekawan
<طَيْرٌ أَبَابِيلُ> : جَمَاعَاتٌ مِنَ الطَّيْر
Kawanan burung
أَبٌ = وَالِدٌ
Bapak, ayah
أَتَى/يَأْتِى = جَاءَ
Datang
أُجْرَةٌ
Sewa
<يَدْفَعُ سَالِمٌ أُجْرَةَ الْفُنْدُقِ>
Salim membayar sewa hotel
أَخَذَ/يَأخُذُ/خُذْ
Mengambil
<يَأْخُذُ المُوَظَّفُ الْكِتَابَ>
Pegawai itu mengambil sebuah kitab
أَخَذَ/يَأخُذُ (مِنَ الوَقْتِ)
Mengambil (dari waktu)
<تَأْخُذُ الطَّائِرَةُ سَاعَتَيْنِ مِنَ الرِّيَاضِ إلى جُدَّة>
Pesawat itu memakan waktu dua jam dari Riyadh ke Jeddah
آخَرُ (مذ)
Yang lain, lainnya
أُخْرَى (مث) = ثَانٍ
Yang lain = Yang kedua


_______________________________________________

Sumber : Mu'jam Silsilah-Level-1-Hal. 13-14


Kaidah Shorof 001 || Fi'il Madiy Tsulatsiy

اَلْفِعْلُ الْمَاضِي الثَّلاثِيّ
اَلْجُمْلَةُالْمَاضِي الثَّلاثِيّحَرَكَةُ وَسَط
خَرَجَ إِبْرَاهِيْمُخَرَجَالْفَتْحَة
دَخَلَ الْمَسْجِدَدَخَلَالْفَتْحَة
سَمِعَ إِبْرَاهِيْمُ الْخُطْبَةسَمِعَالْكَسْرَة
فَهِمَ إِبْرَاهِيْمُ مَا قَالَ الْخَطِيْبفَهِمَالْكَسْرَة
قَرُبَ وَقْتُ الصّلاَةقَرُبَالضَّمَّة
عَظُمَ ثَوَابُ الْمُبَكِّرِيْن إِلَى صلاَة الْجُمْعَةِعَظُمَالضَّمَّة



Kaidah :
  1. Huruf pertama dari fi'il madhiy tsulatsiy disebut : Fa' Fi'il
    Huruf kedua dari fi'il madhiy tsulatsiy disebut : 'Ain Fi'il
    Huruf ketiga dari fi'il madhiy tsulatsiy disebut : Lam Fi'il
    Ketiga huruf ini berasal dari kata Fa-'A-La, yang menjadi timbangan/pembanding dari huruf-huruf fi'il madhiy tsulatsiy
  2. Fi'il madhiy tsulatsiy memiliki tiga timbangan, ditinjau dari harakat huruf 'ain fi'ilnya, yaitu :

1-فَعَلَ مِثْلُ:خَرَجَ, دَخَلَمَفْتوحُ الْعَيْن
2-فَعِلَ مِثْلُ:سَمِعَ, فَهِمَمَكْسورُ الْعَيْن
1-فَعُلَ مِثْلُ:قَرُبَ, عَظُمَمَضْمومُ الْعَيْن


Faidah Hadits Sholat Gerhana

Aisyah Radhiallahu 'anha berkata :
خسفت الشمس في عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم ، فصلى رسول الله صلى الله عليه وسلم بالناس ، فقام فأطال القيام ، ثم ركع فأطال الركوع ، ثم قام فأطال القيام ، وهو دون الأول ، ثم ركع فأطال الركوع وهو دون الركوع الأول ، ثم سجد فأطال السجود ، ثم فعل في الركعة الثانية مثل ما فعل في الأولى ، ثم انصرف وقد انجلت الشمس ، فخطب الناس ، فحمد الله وأثنى عليه ثم قال : " إن الشمس والقمر آيتان من آيات الله لا ينخسفان لموت أحد ولا لحياته ، فإذا رأيتم ذلك فادعوا الله وكبروا ، وصلوا ، وتصدقوا ، ثم قال : يا أمة محمد ، والله ما من أحد أغير من الله أن يزني عبده أو تزني أمته ، يا أمة محمد لو تعلمون ما أعلم لضحكتم قليلاً ولبكيتم كثيراً " [ البخاري ] .
Gerhana matahari pernah terjadi di zaman Rasulullah Shollallahu 'alaihi wasallam, Rasulullah Shollallahu 'alaihi wasallam sholat mengimami manusia, beliau berdiri dengan lama, lalu rukuk dengan lama, kemudian berdiri dengan lama, namun tidak lebih lama dibanding yang pertama, kemudian rukuk lagi dengan lama, namun tidak selama rukuk yang pertama, kemudian sujud dengan lama, lalu mengerjakan raka'at kedua seperti raka'at pertama, kemudian selesai -pelaksanaan sholat- dan matahari-pun telah nampak, lalu beliau berkhotbah dihadapan manusia, beliau memuji Allah dan menyanjung-Nya kemudian bersabda : "Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua ayat dari ayat-ayat Allah, tidaklah terjadi gerhana karena matinya seseorang dan tidak pula karena hidupnya seseorang, apabila kalian melihat -gerhana- itu terjadi maka berdoalah kalian kepada Allah, bertakbirlah dan sholatlah serta bersedekahlah, kemudian beliau melanjutkan sabdanya : Wahai ummat Muhammad, demi Allah tidak ada seorang-pun yang lebih cemburu dibandingkan dengan Allah apabila hamba laki-laki atau perempuannya berzina, wahai ummat Muhammad sekiranya kalian mengetahui apa yang saya ketahui sungguh kalian akan sedikit tertawa dan sebaliknya akan banyak menangis. [Al Bukhoriy]

Bersama hadits diatas kita bisa mengambil pelajaran, antara lain :
01.Sesungguhnya gerhana matahari dan bulan adalah salah satu ayat dari ayat-ayat Allah ta'ala untuk menakut-nakuti hamba-hamba-Nya dengan peristiwa tersebut.
02.Istilah al Kusuf berkaitan dengan matahari, berbeda dengan al Khusuf yang berkaitan dengan bulan. Dua istilah ini  digunakan jika keduanya disebutkan bergandengan, dengan mengatakan : Kusuf untuk gerhana matahari dan Khusuf untuk gerhana bulan. Adapun jika keduanya disebutkan terpisah -bersendirian- maka bisa diistilahkan kusuf atau khusuf saja, dengan mengatakan : Kusuf untuk gerhana matahari dan Khusuf juga untuk gerhana matahari atau sebaliknya Kusuf untuk gerhana bulan dan Khusuf juga untuk gerhana bulan.
03.Apabila terjadi kusuf dan khusuf, maka hendaknya manusia takut dan bangun melaksanakan sholat, berdo'a, bersedekah, takbir, tahlil dan berdzikir kepada Allah dalam setiap keadaan. Menjauhkan diri dari maksiat dan dosa serta bertaubat kepada Allah yang Maha Mengetahui perkara gaib.
04.Ulama berbeda pendapat mengenai hukum sholat kusuf dan khusuf. Diantara mereka ada yang berpendapat : Hukumnya sunnah, dan diantara mereka ada yang berpendapat : Hukumnya wajib, ini pendapat yang dipilih oleh Al Allamah Ibnu Qoyyim Al Jauziyyah Rahimahullahu Ta'ala. Pendapat yang shohih adalah hukumnya sunnah mu'akkadah, ini pendapatnya mayoritas ulama.
05.Disunnahkan pada sholat kusuf adanya satu khotbah, ini pendapatnya Assyafi'i, Ishaq dan kebanyakan dari ahli hadits. Berbeda dengan Al Hanafiyyah, Al Malikiyyah dan Al Hanabilah yang berpendapat bahwa sholat kusuf itu tanpa khotbah. Pendapat yang shohih dalam hal ini adalah disunnahkan pada sholat gerhana adanya khotbah, ini pendapat yang dipilih oleh Asy-Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin.
06.Bersegera bertaubat dan kembali kepada Allah sebelum datangnya kematian, penghancur segala kelezatan dan pemisah dari seluruh jama'ah, karena pada saat itu tidak bermanfaat lagi penyesalan. Tidaklah turun musibah kecuali karena adanya dosa dan tidaklah diangkat kecuali karena taubat.
07.Hendaknya sholat dimulai pada awal terjadinya gerhana dan berakhir ketika gerhana selesai.
08.Peringatan terhadap dosa dan maksiat, karena menjadi sebab kehancuran masyarakat dan individu.
09.Sesungguhnya kusuf dan khusuf tidak terjadi karena mati atau hidupnya seorang pembesar, dan tidak pula karena matinya seorang alim, serta bukan karena matinya orang yang memiliki kedudukan tinggi dan tidak pula karena orang rendahan. Sekiranya seperti itu kejadiannya, maka pasti terjadi -gerhana- karena wafatnya manusia yang paling mulia dan manusia yang paling utama yang kedua kakinya pernah berpijak di bumi ini, yaitu Nabi kita Muhammad Shollallahu 'alaihi wasallam. Akan tetapi beliau mengarahkan ummatnya bahwa kusuf dan khusuf itu adalah dua tanda dari tanda-tanda -KEAGUNGAN- Allah, tidaklah terjadi gerhana karena mati atau hidupnya seseorang, sesungguhnya Allah hanya menakut-nakuti hamba-Nya dengan gerhana tersebut. Maka keluar dengan adanya pengarahan ini orang yang berpendapat bahwa matahari atau bulan mengalami gerhana karena matinya seorang anak manusia. Sesungguhnya keduanya -matahari dan bulan- tidaklah mengalami gerhana karena kematian seorang alim atau ahli hikmah dan tidak pula orang dekat ataupun jauh.
10.Allah Azza wajalla menampakkan kepada Nabi-Nya Muhammad shollallahu 'alaihi wasallam sebagian perkara ghaib yang tidak bisa dijangkau seorangpun anak manusia.
11.Boleh mengerjakan sholat gerhana pada waktu-waktu terlarang. Boleh ditegakkan setelah sholat ashar, dan setelah sholat subuh, karena sholat gerhana termasuk sholat yang memiliki sebab khusus, apabila sebabnya muncul maka ditegakkan pada waktu tersebut.
12.Boleh mengerjakannya dua raka'at, pada setiap raka'at dengan dua rukuk, tiga, empat atau lima kali rukuk, karena hal tersebut ada riwayatnya dari para shahabat -semoga Allah meridhoi mereka semua-. Akan tetapi yang paling afdhol adalah mencukupkan diri dengan apa yang datang dari Nabi Shollallahu 'alaihi wasallam.
13.Hitungan raka'at sholat gerhana berpatokan pada rukuk yang pertama, bukan yang kedua, karena yang pertama inilah yang rukun. Sehingga barangsiapa yang luput tidak mendapatkan rukuk yang pertama dari raka'at pertama atau kedua, maka dia harus mengerjakan raka'at yang sempurna setelah imam salam.
14.Telah diketahui bersama bahwa rukuk pada sholat gerhana lama sekali, lalu apa yang dibaca orang yang sholat gerhana pada saat rukuk? Sesungguhnya Nabi Shollallahu 'alaihi wasallam telah memberikan pengarahan dalam masalah tersebut, dengan sabdanya :
" فأما الركوع فعظموا فيه الرب "
"dan adapun pada saat rukuk, agungkanlah rob kalian pada saat itu"
Maka bisa membaca :
سبحان ربي العظيم ، سبحان الله وبحمده ، سبحان الله العظيم ، سبحانك اللهم ربنا وبحمدك ، اللهم اغفر لي ، سبحان الله وبحمده عدد خلقه ورضا نفسه وزنة عرشه ومداد كلماته
Maha Suci Rob-ku yang Maha Agung, Maha Suci Allah dan segala Puji bagi-Nya, Maha Suci Allah yang Maha Agung, Maha Suci Engkau ya Allah, Rob kami dan segala Puji bagi-Mu, ya Allah ampunilah saya, Maha Suci Allah dan segala Puji bagi-Nya sebanyak bilangan makhluk-Nya, sebesar keridhoan diri-Nya dan seberat timbangan arsy-Nya serta sejauh bentangan kalimat-kalimat-Nya
Adapun pada saat sujud, maka do'a diperbanyak pada saat itu, karena seorang hamba -kondisi- yang paling dekat dengan Rob-nya adalah ketika dia sementara sujud. Do'a diperbanyak karena seorang hamba layak untuk dikabulkan do'anya pada saat itu, dimana seorang hamba tunduk pada saat itu kepada Rob-Nya Subhanahu wata'ala, dia merendahkan ke tanah hidung dan dahinya karena ketundukan kepada Penciptanya yang Maha Suci.

Sumber : خطبة خسوف القمر 1429هـ - يحيى بن موسى الزهراني


Syaikh Robi' || Hizbiyy..?!?!?

APA MAKNA HIZBIYYAH?
::: APA MAKNA HIZBIYYAH? :::

Oleh: Asy-Syaikh Al-'Allamah Robi' bin Hadi Al-Madkholi hafizhohulloh ta'ala

✲✹✲

P E R T A N Y A A N:

Apa makna hizbiyyah? Dan apa makna bahwa fulan padanya ada hizbiyyah? Dan siapakah mereka hizbiyyun? Dan apakah dakwah mereka? Dan apakah manhaj mereka?


J A W A B A N:
كل من خالف منهج النبي وسنته فهو من أحزاب الضلال، والحزبية ليس لها شروط
Setiap yang menyelisihi Manhaj Nabi dan sunnah nya maka dia termasuk dari kelompok-kelompok sesat, dan hizbiyyah tidak memiliki persyaratan..

Alloh Ta'ala menamakan ummat-ummat terdahulu sebagai ahzab (kelompok-kelompok), dan menamakan kaum Quraisy tatkala mereka berkumpul dan bergabungnya golongan-golongan kepada mereka sebagai ahzab, TIDAK ADA pada mereka struktur organisasi dan tidak ada pada mereka sesuatu pun, maka BUKAN MERUPAKAN SYARAT HIZBIYYAH HARUS adanya organisasi.
فإذا نظم هذا الحزب زاد سوء، فالتعصب لفكر معين يخالف كتاب الله وسنة الرسول والموالاة والمعادات عليه هذا تحزب
Namun apabila ada yang mengorganisir kelompok ini maka menjadi bertambah jelek, sehingga fanatisme kepada suatu pemikiran tertentu yang menyelisihi Kitabulloh dan Sunnah Rosul serta melakukan loyalitas dan kebencian di atas dasar kelompok maka ini adalah sikap hizbiyyah..
هذا التحزب ولو لم ينظم، تبنى فكرا منحرفا وجمع عليه أناسا هذا حزب سواء نظمه أو لم ينظمه،
Hizbiyyah ini sekalipun tidak terorganisir, DIBANGUN diatas sebuah pemikiran yang menyimpang dan dia mengumpulkan diatas kelompok tersebut orang-orang, maka ini adalah HIZBIYYAH sama saja apakah ada yang mengorganisir ATAUPUN tidak ada yang mengorganisir nya..

Selama mereka bersatu untuk suatu hal yang bertentangan dengan Alkitab dan As-sunnah ini adalah hizbiyyah, orang-orang kafir yang mereka dahulu memerangi Rosul mereka tidak memiliki organisasi yang ada seperti sekarang, namun dengan itu Alloh namakan mereka sebagai ahzab (kelompok-kelompok), bagaimana bisa?

Karena mereka berkelompok demi suatu kebatilan dan mereka memerangi Al-Haq :
﴿ كَذَّبَتْ قَبْلَهُمْ قَوْمُ نُوحٍ وَالْأَحْزَابُ مِنْ بَعْدِهِمْ ۖ وَهَمَّتْ كُلُّ أُمَّةٍ بِرَسُولِهِمْ لِيَأْخُذُوهُ ۖ وَجَادَلُوا بِالْبَاطِلِ لِيُدْحِضُوا بِهِ الْحَقَّ ﴾ [سورة غافر 5]
“Sebelum mereka, kaum Nuh dan golongan-golongan yang bersekutu sesudah mereka telah mendustakan (rasul) dan tiap-tiap umat telah merencanakan makar terhadap rasul mereka untuk menawannya dan mereka membantah dengan (alasan) yang batil untuk melenyapkan kebenaran dengan yang batil itu.” [QS. Ghofir: 5]

Alloh namakan mereka sebagai ahzab, mereka berbuat sebagai ahzab, kaum Quraisy mengumpulkan Bani Ghothofan dan Bani Quraidhoh serta beberapa kelompok dari kabilah-kabilah yang mereka tidak terorganisir dengan struktur ini mereka berkumpul maka Alloh menamakan mereka sebagai ahzab dan suratnya dinamakan "surat Al-Ahzab" apakah ahzab tersebut terorganisir?
فليس من شرط الحزب أن يكون منظما، إذا آمن بفكرة باطلة وخاصم من أجلها وجادل من أجلها ووالى...، هذا حزب
Maka BUKAN MERUPAKAN SYARAT hizbiyyah haruslah terorganisir, apabila mereka aman dengan sebuah pemikiran batil dan dia bertikai demi membelanya serta berdebat karenanya dan berloyalitas..., ini adalah hizbiyyah.

Dan apabila dia tambahkan hal itu menjadi sebuah organisasi -barokallohu fik- dan mengkoordinir harta-harta dan seterusnya, -tentunya- bersikap berlebihan dalam hizbiyyah dan menjadi termasuk dari ahzab kesesatan na'udzu billah.

Kaset berjudul: Rof'us sitar (menguak tabir)

----
الشيخ العلامة ربيع بن هادي المدخلي حفظه الله تعالى

السؤال:

ما معنى الحزبية؟ وما معنى أن فلان عنده حزبية؟ ومن هم الحزبيون؟ وما هي دعوتهم؟ وما هو منهجهم؟

الجواب:

كل من خالف منهج النبي وسنته فهو من أحزاب الضلال، والحزبية ليس لها شروط، الله سمى الأمم الماضية أحزابا، وسمى قريشا لما تجمعوا وانضم إليهم من [الفرق] أحزابا، ما عندهم تنظيم ولا عندهم شيء، فليس من شرط الحزب أن يكون منظم،

فإذا نظم هذا الحزب زاد سوء، فالتعصب لفكر معين يخالف كتاب الله وسنة الرسول والموالاة والمعادات عليه هذا تحزب، هذا التحزب ولو لم ينظم، تبنى فكرا منحرفا وجمع عليه أناسا هذا حزب سواء نظمه أو لم ينظمه، ما دام [يجتمعون] لواحد يخالف الكتاب والسنة هذا حزب، الكفار الذين كانوا يحاربون الرسول ما كان عندهم التنظيم الموجود الآن، ومع ذلك أطلق الله عليهم أحزابا، كيف؟

لأنهم تحزبوا للباطل وحاربوا الحق ((كذبت قبلهم قوم نوح والأحزاب من بعدهم وهمت كل أمة برسولهم ليأخذوه وجادلوا بالباطل ليدحضوا به الحق)) سماهم أحزابا، عملوا أحزاب، جمّعت قريش غطفان وقريظة وأصناف من القبائل ما هم منظمين هذا التنظيم تجمعوا سماهم الله أحزابا وسميت السورة "سورة الأحزاب" هل الأحزاب منظمون؟

فليس من شرط الحزب أن يكون منظما، إذا آمن بفكرة باطلة وخاصم من أجلها وجادل من أجلها ووالى...، هذا حزب، فإذا زاد ذلك تنظيما -بارك الله فيك- وجند الأموال وإلى آخره، -طبعا- أمعن في الحزبية وصار من أحزاب الضلال والعياذ بالله.

[شريط بعنوان: رفع الستار]

Sumber: http://www.rabee.net/ar/questions.php?cat=31&id=662

Alih Bahasa: Al Ustadz Muhammad Sholehuddin Abu 'Abduh (Karawang) حفظه الله - [FBF 2]

__________________
مجموعـــــــة توزيع الفــــــــوائد
❂ WA Forum Berbagi Faidah [FBF] | www.alfawaaid.net

_______________________________________________________

Copas dari : Apa Makna Hizbiyyah?


Kaidah Nahwu 001 || Klasifikasi Kata

اَلْكَلِمَةُ وَأَنْوَاعُهَا
اَلْجُمْلَةُاَلْكَلِمَةُنَوْعُهَااَلسَّبَبُ
1. خَرَجَ سَعِيْدٌ فِي الصَّبَاحِخَرَجَفِعْلٌلِأَنَّهَا كَلِمَةٌ تَدُلُّ عَلَى عَمَلٍ حَدَثَ فِي الزَّمَنِ الْمَاضِي
سَعِيْدٌاِسْمٌلِأَنَّهَا كَلِمَةٌ سُمِّيَ بِهَا شَخْصٌ
2. وَ فِي الْمَعْهَدِ كَثِيْرٌ مِنَ الطَّلَبَةِوَحَرْفٌلِأَنَّهَا كَلِمَةٌ لاَ يَظْهَرُ مَعْنَاهَا إِلاَّ إِذَا كَانَتْ مَعَ غَيْرِهَا
فِيحَرْفٌلِأَنَّهَا كَلِمَةٌ لاَ يَظْهَرُ مَعْنَاهَا إِلاَّ إِذَا كَانَتْ مَعَ غَيْرِهَا

اَلْقَاعِدَةُ :
  1. اَلْكَلِمَةُ لَفْظٌ يَتَأَلَّفُ مِنْ بَعْضِ حُرُوْفِ الْهِجَاءِ، مِثْلُ : خَرَجَ - سَعِيْدٌ - فِي؛ وَأَحْيَانًا تَكُوْنُ اَلْكَلِمَةُ حَرْفَا وَاحِدًا، مِثْلُ : الْوَاوِ.
  2. اَلْكَلِمَةُ ثَلاَثَةُ أَنْوَاعٍ : اِسْمٌ، وَفِعْلٌ، وَحَرْفٌ.
  3. الاِسْمُ كَلِمَةٌ يُسَمَّى بِهَا شَخْصٌ أَوْ شَيْءٌ آخَرُ، مِثْلُ : سَعِيْد - بَيْت - حَدِيْقَة.
  4. الفِعْلُ كَلِمَةٌ تَدُلُّ عَلَى عَمَلٍ حَدَثَ فِي الزَّمَنِ الْمَاضِي أَوِ الْحَاضِرِ أَوْ الْمُسْتَقْبَلِ، مِثْلُ : خَرَجَ - ذَهَبَ - يَتَعَلَّمُ.
  5. الْحَرْفُ كَلِمَةٌ يَظْهَرُ مَعْنَاهَا مَعَ غَيْرِهَا مِنَ الْكَلِمَاتِ، مِثْلُ : إِلَى - وَ - فِي.
_________________________________________________________

Download Kitab Rujukan : النحو - المستوى الثاني - سلسلة تعليم اللغة العربية