Jadwal Kajian Rutin & Privat Bahasa Arab | Pesantren Terbuka "As-Sunnah" Selayar

Nabi Shallallahu 'alahi wasallam Suri Teladan

Islam Datang dalam Kondisi Asing

Kita telah mengetahui bahwa agama yang benar adalah Islam, yang telah disempurnakan oleh Allah subhanahu wata'ala sekaligus penyempurna agama-agama sebelumnya. Sebagai agama penutup, Allah subhanahu wata'ala telah menurunkannya melalui Nabi dan Rasul terakhir, Muhammad bin Abdullah Shollallahu 'alaihi wasallam, di tengah-tengah rusaknya manusia, agama dan cara beragama mereka. Itulah alam jahiliah. Mereka menghalalkan, Islam datang mengharamkan. Begitu pula sebaliknya, mereka mengharamkan, Islam datang menghalalkan.

Islam datang kepada mereka sebagai sebuah agama asing yang jelas-jelas bertolak belakang dengan apa yang selama ini mereka anut dan peluk. Sekaligus sebagai ancaman kekuatan yang akan meruntuhkan singgasana kebatilan yang langsung dipelopori dan dipimpin oleh Iblis laknatullah ‘alaihi. Karena keasingan itulah, mereka menolak, menentang, dan memusuhinya.

Akhirnya, mereka menghimpun kekuatan, menyusun dan merancang tipudaya dan muslihat. Berkecamuklah pertarungan antara kebenaran dan kebatilan. Ketakutan dan kengerian menyelimuti kehidupan. Para pembela kebenaran pantang mundur untuk mencari kemuliaan hidup di dunia dan di akhirat. Sebaliknya, musuh-musuh kebenaran makin tersadar akan kekalahan dan kegagalan mereka. Hal ini terbukti dengan turunnya janji-janji Allah Subhanahu wata'ala untuk menyempurnakan kebenaran, wahyu yang diturunkan oleh Allah Subhanahu wata'ala sebagai simbol kerugian dan kegagalan mereka. Allah Subhanahu wata'ala juga membuktikan kegagalan mereka dengan masuk Islamnya sederetan hamba-Nya.

Allah Subhanahu wata'ala mengisyaratkan hal ini di banyak tempat dalam Al-Qur’an:
“Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipudaya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang kafir membencinya. Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar dia memenangkannya di atas segala agama, meskipun orang musyrik membenci.” (Ash-Shaf: 8—9)

“Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahayanya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai. Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al-Qur’an) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai.” (At-Taubah: 32—33)

Dan katakanlah: “Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap.” Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap. Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” (Al-Isra: 81—82)

“Sebenarnya Kami melontarkan yang haq atas yang batil lalu yang haq itu menghancurkannya, maka dengan serta-merta yang batil itu lenyap, dan kecelakaanlah bagimu disebabkan kamu menyifati (Allah Subhanahu wata'ala dengan sifat-sifat yang tidak layak bagi-Nya).” (Al-Anbiya: 18)

Keasingan Islam akan terus berlangsung hingga datangnya keputusan Allah Subhanahu wata'ala dan diangkatnya agama ini dalam kondisi asing pula. Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiallahu 'anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ

“Islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali dalam keadaan asing pula. Maka berbahagialah bagi orang yang asing.” (HR. Muslim no. 208)

Dalam riwayat yang lain, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam menjelaskan siapa yang dimaksud dengan orang-orang yang dikatakan asing.

الَّذِينَ يَصْلُحُونَ إِذَا فَسَدَ النَّاسُ

“(Mereka adalah) orang-orang yang baik ketika manusia ini rusak.” (Lihat Silsilah Ash-Shahihah no. 1273)

نَاسٌ صَالِحُونَ قَلِيْلٌ فِي نَاسٍ سُوْءٍ كَثِيرٍ، مَنْ يَعْصِيهِمْ أَكْثَرُ مِمَّنْ يُطِيعُهُمْ

“(Mereka adalah) orang-orang shalih dalam jumlah yang sedikit di tengah-tengah manusia jahat yang sangat banyak. Orang yang memaksiati mereka lebih banyak daripada yang menaatinya.” (Lihat Silsilah Ash-Shahihah no. 1619)

Lebih lanjut, Ibnul Qayyim Rahimahullah menerangkan bentuk keasingan ini, “Seorang mukmin asing dalam urusan agamanya karena rusaknya agama manusia (saat itu). Dia asing dalam berpegang (dengan As-Sunnah) karena umat ini berpegang dengan kebid’ahan. Dia asing dalam keyakinannya karena rusaknya bentuk-bentuk keyakinan mereka. Dia juga asing dalam tata cara shalatnya karena jeleknya cara shalat manusia. Dia asing pula dalam jalan yang ditempuhnya karena sesatnya jalan manusia. Dia asing dalam mengelompokkan dirinya karena umat ini menyelisihinya dalam hal ini. Dia asing dalam pergaulannya karena dia bergaul dengan mereka dalam hal yang tidak diinginkan oleh hawa nafsu mereka. Kesimpulannya, dia asing dalam hal dunia dan akhiratnya.

Dia tidak menemukan seorang penolong pun dari umatnya. Dia tumbuh sebagai orang alim di tengah-tengah orang-orang jahil, pengikut As-Sunnah di tengah-tengah pengikut bid’ah, sebagai da’i kepada Allah Subhanahu wata'ala dan Rasul-Nya Shallallahu 'alaihi wasallam di tengah-tengah para penyeru kepada hawa nafsu dan kebid’ahan, penyeru kepada yang ma’ruf di tengah kaum yang (mengubah) ma’ruf menjadi mungkar dan yang mungkar menjadi ma’ruf.” (Lihat Madarijus Salikin 3/199)

Islam adalah Sunnah dan Sunnah adalah Islam

‘Islam adalah sunnah dan sunnah adalah Islam’ merupakan ucapan ulama salaf umat ini. Ucapan ini menunjukkan bahwa Islam tidak bisa dilepaskan dari As-Sunnah, begitu pula sebaliknya. Oleh karena itu, tatkala seseorang menghinakan As-Sunnah berarti dia telah menghinakan Islam, sedangkan yang memuliakannya berarti dia telah memuliakan Islam.

Al-Imam Al-Barbahari t mengatakan:

اعْلَمْ أَنَّ الْإِسْلَامَ هُوَ السُّنَّةُ وَالسُّنَّةَ هِيَ الْإِسْلَامُ، وَلَا يَقُومُ أَحَدُهُمَا إِلَّا بِالْآخَرِ، فَمِنَ السُّنَّةِ لُزُوْمُ الْجَمَاعَةِ وَمَنْ رَغِبَ غَيْرَ الْجَمَاعَةِ وَفَارَقَهَا فَقَدْ خَلَعَ رِبْقَةَ الْإِسْلَامَ مِنْ عُنُقِهِ وَكَانَ ضَالًّا مُضِلًّا

“Ketahuilah bahwa Islam adalah As-Sunnah dan As-Sunnah adalah Islam, salah satunya tidak akan bisa tegak melainkan dengan yang lainnya. Termasuk As-Sunnah adalah konsekuen dengan Al-Jama’ah. Barang siapa mencari yang selain Al-Jama’ah serta memisahkan diri darinya, sungguh dia telah mencabut kalung keislamannya dari lehernya, serta sesat dan menyesatkan.”

As-Sunnah yang kita maksudkan di sini bukan sunnah yang merupakan sinonim (persamaan kata) dari kata mustahab, mandub, yang merupakan lawan makruh. Bukan pula yang kita maksudkan di sini dengan kata sunnah adalah pendamping Al-Qur’an seperti ucapan mereka: “Al-Qur’an dan As-Sunnah”. Tetapi, yang kita maksudkan di sini adalah petunjuk Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam dan jalan yang beliau Shallallahu 'alaihi wasallam tempuh. Oleh karena itu, As-Sunnah menurut definisi ini mencakup hal yang wajib, yang sunnah, dan segala bentuk keyakinan, ibadah, muamalah, serta akhlak.

Ulama salaf mengatakan, “Yang dimaksud dengan As-Sunnah adalah beramal dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah serta mengikuti jalan salafus saleh dan mengikuti atsar.” (Al-Hujjah fi Bayanil Mahajjah 2/ 248)

Dengan demikian, benarlah jika kita mengatakan bahwa Islam adalah As-Sunnah dan As-Sunnah adalah Islam dengan makna As-Sunnah di atas.

Mengagungkan As-Sunnah adalah Mengagungkan Islam

Kita telah meyakini bahwa Al-Qur’an dan As-Sunnah merupakan wahyu dari Allah Subhanahu wata'ala yang menjadi landasan dalam beragama. Seseorang yang berakidah bersih akan menjunjung wahyu tersebut setinggi-tingginya. Dia akan meletakkannya pada tempat yang tinggi di dalam hatinya, karena dia mengetahui bahwa Allah Subhanahu wata'ala akan mengangkat derajat seseorang sesuai dengan kadar berpegang teguhnya dia dengan tuntunan tersebut. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam sendiri telah bersabda:

إِنَّ اللهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ

“Sesungguhnya Allah telah mengangkat suatu kaum dengan kitab ini dan telah merendahkan suatu kaum dengan kitab ini.” (HR. Muslim no. 1353 dari ‘Umar ibnul Khaththab Radhiallahu 'anhu)

Mereka mengetahui bahwa mengagungkan wahyu Allah Subhanahu wata'ala merupakan kewajiban bagi setiap muslim sebagaimana dijelaskan dalam banyak dalil. Di antaranya:

“Dan apa yang datang dari Rasul kepadamu, maka ambillah dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.” (Al-Hasyr: 7)

“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” (An-Nur: 63)

“Barang siapa menaati Rasul itu sesungguhnya ia telah menaati Allah dan barang siapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.” (An-Nisa: 80)

“Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan. Kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka suatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (An-Nisa: 65)

Bentuk pengagungan terhadap sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam banyak sekali. Di antaranya adalah mempelajari, mengamalkan segala perintah dan menjauhi segala larangan beliau Shallallahu 'alaihi wasallam, membela beliau Shallallahu 'alaihi wasallam dari segala celaan dan hinaan, juga menampakkan syiar beliau Shallallahu 'alaihi wasallam dan menyebarluaskannya. (Masa’il Furu’ fi Masa’il ‘Aqidah, 1/36)

Jika kita mencoba menggali dan membaca pengagungan terhadap sunnah yang dilakukan salaf umat ini niscaya akan tumbuh sifat kecemburuan pada diri kita sebagaimana yang ada pada diri mereka. Demikianlah setiap generasi ulama Islam. Mereka mengingkari dengan keras segala bentuk penyelisihan terhadap sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam, sebagaimana Ibnu Wadhdhah, Ath-Thurthusyi, Abu Syamah, dan lainnya telah menuliskannya dalam karya-karya besar mereka. Al-Imam Sufyan ats-Tsauri Rahimahullah berkata, “Jika kamu berada di Syam, sebut-sebutlah manaqib (keutamaan) ‘Ali. Jika kamu berada di Kufah, sebut-sebutlah manaqib Abu Bakr dan ‘Umar.”

Keteladanan Ahli Tauhid dalam Mengagungkan Sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam

Mereka adalah para mujahid agama dan telah meninggal di atas keistiqamahan dalam membela agama ini. Mereka adalah para ulama, generasi terbaik umat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam. Mereka menjadikan sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam:

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

“Tidak dikatakan sempurna iman seseorang hingga aku lebih ia cintai daripada ayahnya, anaknya, dan manusia semuanya.” (HR. Al-Bukhari no. 14 dan Muslim no. 62 dari sahabat Anas bin Malik Radhiallahu 'anhu)

sebagai pijakan mereka dalam melangkah. Mereka begitu taat dan mencintai beliau Shallallahu 'alaihi wasallam. Sunnah, ucapan, dan petunjuk beliau Shallallahu 'alaihi wasallam lebih mereka dahulukan daripada segala sesuatu. Ucapan beliau Shallallahu 'alaihi wasallam di hadapan mereka menjadi yang paling dikedepankan daripada ucapan manusia mana pun. Mereka membela sunnah dan melindunginya.

Apabila mereka melihat seseorang menentang sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam, tentu mereka akan mencela dan memperingatkan orang lain darinya. Mereka akan meninggalkannya, tidak berbicara dengannya, dan terkadang tidak mau tinggal satu atap bersamanya. Mereka menjaga sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam dari tipudaya orang-orang jahat dan musuh-musuh sunnah. Mereka tampil menegakkan nasihat di jalannya. Mereka adalah generasi sahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam.

Setelah mereka meninggal dunia, bukan berarti perjuangan menegakkan sunnah itu berakhir. Setelah mereka, datang generasi tabi’in yang berjalan di atas jalan mereka dalam membela sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam. Inilah sederetan dari mereka.

Abu Bakr ash-Shiddiq Radhiallahu 'anhu

Beliau Radhiallahu 'anhu berkata:

لَسْتُ تَارِكًا شَيْئًا كَانَ رَسُولُ اللهِ يَعْمَلُ بِهِ إِلَّا عَمِلْتُ بِهِ وَإِنِّي لَأَخْشَى إِنْ تَرَكْتُ شَيْئًا مِنْ أَمْرِهِ أَنْ أَزِيغَ

“Tidaklah saya meninggalkan sesuatu pun yang telah dikerjakan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam, melainkan saya mengerjakannya juga. Jika saya tidak melakukannya, saya khawatir akan menyimpang.” (Al-Ibanah, Ibnu Baththah 1/246)

Abdullah bin Abbas Radhiallahu 'anhuma


Beliau Radhiallahu 'anhuma berkata:

يُوشِكُ أَنْ تَنْزِلَ عَلَيْكُمْ حِجِارَةٌ مِنَ السَّمَاءِ، أَقُولُ لَكُمْ: قَال النَّبِيُّ، وَتَقُولُونَ: قاَلَ أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ!؟

“Aku khawatir turun hujan batu dari langit terhadap kalian. Aku mengatakan, ‘Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda demikian’, dan kalian menyangkalnya dengan mengatakan, ‘Abu Bakr berkata demikian dan ‘Umar berkata demikian’?” (Majmu’ Fatawa 26/50)

Abdullah bin Umar Radhiallahu 'anhuma


Diriwayatkan oleh putranya, Salim, bahwa Ibnu Umar berkata, “Aku telah mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: ‘Jangan kalian larang istri-istri kalian ke masjid bila mereka meminta izin’.”
Salim berkata, “Tiba-tiba Bilal bin Abdullah berkata, ‘Saya, demi Allah, akan melarang mereka’.”
Salim melanjutkan, “Ibnu Umar lalu menghadap kepada Bilal dan mencercanya dengan cercaan yang sangat keras. Saya belum pernah mendengar beliau mencerca seperti itu sama sekali. Beliau berkata, ‘Saya memberitahu kamu dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam, lalu kamu mengatakan, Saya akan melarang mereka’?” (HR. Muslim no. 135)

‘Ubadah bin Ash-Shamit Radhiallahu 'anhu

Diceritakan oleh Abu Makhariq, ‘Ubadah menyebutkan sebuah riwayat dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bahwa beliau Shallallahu 'alaihi wasallam melarang menukar dua dirham dengan satu dirham. Lalu seseorang mengatakan, “Saya berpendapat tidak mengapa, selama yadan bi yadin (secara kontan).” ‘Ubadah serta-merta berkata: “Saya mengatakan, ‘Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda demikian’, dan engkau mengatakan, ‘Saya berpendapat tidak mengapa!’? Demi Allah, jangan sekali-kali aku bersamamu dalam satu atap.” (HR. Ibnu Majah dan Ad-Darimi, disahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani)

Abu Darda’ Radhiallahu 'anhu

Diceritakan oleh ‘Atha’ bin Yasar, seseorang menjual satu pecahan emas atau perak dengan sesuatu yang sejenis namun tidak sama timbangannya. Abu Darda’ lalu berkata kepadanya, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam melarang cara seperti ini, kecuali bila timbangannya sama.” Orang tersebut menjawab, “Saya berpendapat hal ini tidak mengapa.” Abu Darda’ kemudian berkata lagi, “Siapa yang akan mencarikan alasan untukku bagi fulan? Aku menyampaikan kepadanya sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam, lalu dia memberitahukanku tentang pendapatnya. Saya tidak akan menginjak daerah yang kamu berada padanya.” (Al-Ibanah, Ibnu Baththah hlm. 94)

Abu Sa’id al-Khudri Radhiallahu 'anhu

Al-A’raj menceritakan bahwa dia mendengar Abu Sa’id al-Khudri Radhiallahu 'anhu berkata kepada seseorang, “Apakah engkau mendengarku bila aku sampaikan (hadits) dari Rasulullah Shollallahu 'alaihi wasallam, beliau Shollallahu 'alaihi wasallam bersabda, ‘Jangan kalian menukar dinar dengan dinar, dan dirham dengan dirham, kecuali harus sama, serta jangan kalian menjualnya dengan tidak kontan,’ lalu engkau berfatwa seperti ini??! Demi Allah, jangan sampai ada yang menaungiku bersamamu kecuali masjid.” (Al-Ibanah, Ibnu Baththah hlm. 95)

Muhammad bin Sirin Rahimahullah
Qatadah Rahimahullah menceritakan bahwa Ibnu Sirin Rahimahullah menyampaikan hadits Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam kepada seseorang. Orang tersebut lalu berkata, “Fulan berkata demikian dan demikian.” Ibnu Sirin lalu berkata, “Saya menyampaikan dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam, lalu engkau mengatakan fulan berkata demikian demikian??! Saya tidak akan mengajakmu berbicara selama-lamanya.” (Sunan Ad-Darimi no. 441)

Umar bin Abdul Aziz Rahimahullah
Beliau Rahimahullah berkata:

لَا رَأْيَ لِأَحَدٍ مَعَ سُنَّةٍ سَنَّهَا رَسُولُ الله

“Tidak ada hukum akal bagi seseorang di hadapan sunnah yang datang dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam.” (Al-Ibanah 1/246)

Abu Qilabah Rahimahullah

إِذَا حَدَّثْتَ الرَّجُلَ بِالسُّنَّةِ فَقَالَ: دَعْنَا مِنْ هَذَا وَهَاتِ كِتَابَ اللهِ؛ فَاعْلَمْ أَنَّهُ ضَالٌّ

“Apabila kamu menyampaikan hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam kepada seseorang, lalu dia mengatakan: ‘Tinggalkan kami dari yang seperti ini. Datangkan kepadaku kitab Allah subhanahu wata'ala,’ ketahuilah bahwa dia orang yang sesat.” (I’lamul Muwaqqi’in 2/282)

Al-Imam Asy-Syafi’i Rahimahullah

أَجْمَعَ الْمُسْلِمُونَ عَلَى أَنَّ مَنِ اسْتَبَانَ لَهُ سُنَّةُ رَسُولِ اللهِ  لَمْ يَحِلَّ لَهُ أَنْ يَدَعَهَا لِقَوْلِ أَحَدٍ

“Kaum muslimin telah bersepakat, barang siapa yang sudah jelas baginya sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam, tidak halal baginya untuk meninggalkannya karena ucapan seseorang.” (I’lamul Muwaqqi’in 2/282)

Al-Imam Ahmad bin Hanbal Rahimahullah

مَنْ رَدَّ حَدِيثَ النَّبِيِّ n فَهُوَ عَلَى شَفَا هَلَكَةٍ

“Barang siapa menentang satu hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam, dia berada di tepi kehancuran.” (Thabaqat Hanabilah 2/15, Al-Ibanah 1/ 260)

Al-Imam Al-Barbahari Rahimahullah

وَإِذَا سَمِعْتَ الرَّجُلَ يَطْعَنُ فِي الْآثَارِ أَوْ يُرِيدُ غَيْرَ الْآثَارِ فَاتَّهِمْهُ عَلَى الْإِسْلَامِ، وَلَا تَشُكَّ أَنَّهُ صَاحِبُ هَوًى مُبْتَدِعٌ

“Apabila engkau mendengar seseorang mencela hadits, atau menginginkan yang selain hadits, curigailah keislamannya. Janganlah engkau ragu bahwa dia adalah pengikut hawa nafsu dan mubtadi’.” (Syarhus Sunnah hlm. 51)

Abul Qasim al-Ashbahani Rahimahullah

قَالَ أَهْلُ السُّنَّةِ مِنَ السَّلَفِ: إِذَا طَعَنَ الرَّجُلُ عَلَى الْآثَارِ يَنْبَغِي أَنْ يُتَّهَمَ عَلَى الْإِسْلاَمِ

Ahlus Sunnah dari kalangan salaf mengatakan, “Apabila seseorang mencela sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam, pantas untuk dicurigai keislamannya.” (Al-Hujjah fi Bayanil Mahajjah, 2/428)

Dari mana sikap dan ucapan para imam tersebut kalau bukan buah dari ketauhidan yang benar kepada Allah Subhanahu wata'ala ? Oleh karena itu, yang akan mengagungkan dan mengamalkan sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam adalah orang yang memiliki akidah yang benar dan kokoh, karena konsekuensi dari keyakinan yang benar adalah menjunjug tinggi syiar-syiar Allah Subhanahu wata'ala, baik lahir maupun batin. Dengan kata lain, orang yang benar akidahnya, lahiriahnya tidak akan menyelisihi batinnya. Bila hal ini terjadi, perlu diragukan kemurnian akidahnya.

Ucapan mereka menggambarkan bentuk pengagungan yang tinggi terhadap syariat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam. Kita wajib meneladani mereka dalam hal ini. Kemuliaan hidup, kemenangan, kebahagiaan dunia dan akhirat, ada dalam kebersamaan dengan mereka.

Wallahu a‘lam.

Sumber :
Mengagungkan Sunnah Buah Nyata Akidah yang Benar
(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman)

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.”
(HR. Al-Bukhari 6089 & Muslim 46)